
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"250?!" Alisha tidak bisa mempercayai harga yang terlalu mahal itu, dan reaksi serupa juga muncul dari teman-temannya. Mereka mulai berbicara satu sama lain, merasa bahwa harga yang diminta terlalu tinggi. Sementara itu, pedagang tua masih menunggu kesepakatan mereka.
Leo mendekati pedagang itu untuk berbicara lebih dekat. "Kami membutuhkan gulungan itu. Apa tidak ada cara lain untuk membayarnya?"
Pedagang itu berpikir sambil memainkan jenggot panjangnya.
Sementara Leo menunggu jawaban pedagang, ia mulai merasa gelisah. Dia meletakkan tangannya dengan lemas pada pinggangnya dan menghela nafas berat. Tatapannya beralih antara pedagang tua dan teman-temannya, mencoba mencari reaksi yang mendukung dari mereka.
"Ada, tapi mungkin kalian juga tidak akan sanggup melakukannya." Ucap pria tua itu sembari terus memainkan jenggotnya.
"Katakan saja, kami akan mencobanya."
Pedagang itu menggelengkan kepala. "Ini terlalu sulit, anak muda."
Leo yang terus memaksa, membuat pedagang itu akhirnya melunak. "Aku membutuhkan kepala Medusa. Terdengar mustahil, tapi jika kalian bisa mendapatkannya, kalian bisa memilih dua item dari daganganku, apa pun itu. Atau emas, sebanyak 500 keping."
"Baiklah," jawab Leo singkat dan tegas, menerima tantangan tersebut.
Mendengar perkataan leo barusan, alisha langsung menarik tangan leo dan membawanya pergi sedikit lebih jauh, namun masih bisa melihat beberapa orang dibelakang mereka. "Apa maksudmu 'baiklah'? Bahkan kita tidak tahu makhluk apa yang sedang dibicarakan oleh pedagang itu."
"Itu bukan masalah, kita bisa melaluinya." Leo hanya menjawab singkat, lalu bergegas kembali.
"Leo, aku belum selesai." Alisha kembali menarik tangannya, menahannya untuk bertahan disini.
__ADS_1
"Alisha!"
Alisha terkejut oleh reaksinya dan segera melepaskan tangan Leo.
Setelah momen yang tegang, Leo berbicara dengan suara yang halus, merasa menyesal karena telah membentak temannya. "Maafkan aku." Dia meraih tangan Alisha, mencoba meredakan kemarahannya. Dia menatap matanya yang mulai berkaca-kaca. "Inilah kesempatan kita untuk dapat pergi dari sini, kesempatan kita untuk hidup. Kumohon, percayalah padaku."
Alisha menggeleng pelan, dia masih terlihat ragu. "Apa yang Tuan Balfam berikan kepadamu waktu itu?"
Leo segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah benda yang terlihat sangat asing di mata Alisha - sebuah smartphone. Alisha terkejut melihatnya.
"Apakah dia membuatkannya untukmu?" tanyanya dengan rasa penasaran.
"Tidak, tidak ada smartphone di dunia ini, Alisha." Leo menyalakan perangkat itu dan menunjukkan gambar yang ada di layarnya. "Ini milik kakakku, Erala."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana? Apa kita sepakat?" Tanya pedagang itu, yang melihat Leo dan Alisha mendekat. Mereka berdua menatap pedagang itu sejenak, mempertimbangkan konsekuensi dari kesepakatan ini.
Alisha melipat tangannya di belakang Leo. Setelah berbicara dengan Leo tadi, dia mulai menyetujui kesepakatan ini, meskipun tetap memiliki keraguan dan kekhawatiran dalam hatinya.
Leo akhirnya mengangguk, "Ya, kita sepakat," jawabnya dengan mantap. Dia mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan pedagang itu.
"Hore! Mabusa! Mabusa!" Seru Matilda yang tidak bisa menahan kegembiraannya.
Namun Belladonna yang berdiri di sebelahnya menjewer pipinya dengan lembut. "Medusa... bukan Mabusa."
__ADS_1
Sementara itu, Barla menaruh kapaknya di pundak dengan rasa hormat, mengakui keberanian kelompok ini. Di sampingnya, adiknya, Glint, masih bergetar dan menggigil kedinginan setelah mendengar bahwa mereka akan menghadapi Medusa.
"Ini, kalian akan membutuhkannya," kata pedagang tua itu sambil memberikan gulungan pada Leo. Leo menerima gulungan itu, lalu membuka lebar dengan kedua tangannya. Belladona dan Barla yang tertarik, menguntit di belakang Leo.
"Gulungan ini berisi lokasi dimana Medusa sering muncul. Selain itu, terdapat juga berbagai cara untuk melawannya," jelas pedagang tua itu. Leo menutup gulungan itu perlahan, matanya penuh optimis.
"Terima kasih," ucap Leo tulus. "Kalau begitu, kami akan segera berangkat."
Namun, saat mereka hendak pergi, pedagang itu memukul kayu kereta kuda disampingnya. "Bawalah cariole ini bersama kalian, anggap saja sebagai penunjang misi kalian," ucapnya dengan senyuman hangat.
Mereka semua terkejut oleh tindakan murah hati pedagang tua ini, dan rasa terima kasih mereka semakin mendalam. Setelah memastikan bahwa mereka siap untuk berangkat, pedagang tua itu memberikan senyuman tulus.
"Semoga sukses, dan hati-hati di luar sana," ucapnya dengan doa.
Setelah berterima kasih kepada pedagang tua itu, mereka beranjak menuju cariole yang telah disiapkan. Mereka berusaha mencari tempat duduk masing-masing. Leo, sebagai kusir terdepan, naik dan duduk di kursi pengemudi dengan pedangnya yang melekat di pinggang.
Sementara itu, Barla, Belladona, dan Alisha menemukan tempat duduk mereka di bagian belakang cariole. Mereka memilih kursi yang nyaman dan memeriksa senjata serta perlengkapan mereka sekali lagi.
Matilda, dengan semangat yang tak tertahankan, memutuskan untuk berada di belakang Leo. Dia mengeluarkan kepalanya di samping Leo agar bisa melihat pemandangan di depan. Matanya berapi-api karena antusiasme dan semangat petualangan yang membakar dalam dirinya.
Sementara itu, Glint yang pendiam dan pemalu, akhirnya meminta untuk duduk di depan bersama Leo. Alasannya sederhana, karena dia merasa lebih nyaman berada di dekat Leo, satu-satunya laki-laki selain dirinya di dalam kelompok ini. Setelah leo menyambutnya dengan senang hati, Glint segera mengambil tempat di samping Leo.
Mata leo memandang jauh kedepan, memacu kuda didepannya dengan tali kekang yang dia pegang dengan erat. cariole itu mulai melaju perlahan, menghasilkan bunyi gemerisik yang khas dari roda besi yang bergerak di atas tanah berbatu. Mereka merasakan getaran dan guncangan ringan saat cariole melewati bebatuan.
Cahaya matahari yang hangat menyinari setiap rerumputan tinggi di sekitar mereka, rerumputan itu bergoyang dengan lembut oleh hembusan angin yang cukup kencang. Seketika, hembusan itu menerpa wajah mereka, menggerakkan rambut hingga kanopi cariole yang terbuat dari kulit binatang.
__ADS_1