
Barisan entitas hitam yang dikenal sebagai Mowldark terus melangkah sempoyongan menuju Desa Kabut dengan perlahan. Tidak ada percakapan apapun di antara mereka, hanya langkah kaki tegas yang terus berdampingan menginjak jalanan berbatu desa itu, seolah-olah mereka adalah makhluk tanpa hati dan perasaan. Terlihat dalam pandangan mereka yang datar, tanpa ekspresi apapun.
Tiga seringai yang tersembunyi di balik jubah hitam mereka mulai muncul saat cahaya obor dan lampu minyak yang melekat di sepanjang jalan mulai memperlihatkan kegelapan yang mereka sembunyikan. Senyuman lebar ini tidak seperti senyuman biasa, tapi lebih mirip dengan gurat kerakusan yang tampak dari balik kelamnya tubuh mereka.
Namun, yang paling menakutkan bukan hanya berasal dari suara lonceng mereka yang terus berdenting, tetapi bau aneh yang merembes di sekitar mereka. Sebuah aroma yang tak terlupakan, seperti campuran bau bunga yang memikat dan bau busuk yang menyengat, menghantui udara. Aroma itu menyelinap ke dalam hidung orang-orang yang berada di sekitarnya, menyebabkan beberapa dari mereka menutup hidung mereka dengan wajah penuh ketidaknyamanan.
Alisha terlihat meremas busur panah yang dia genggam. Dia merapatkan rahangnya dengan kuat, hingga sebagian gigi gerahamnya terlihat. Tatapannya tajam terlihat dari sela-sela pembatas kayu di atas menara. Leo menyadari perasaan balas dendam yang dirasakan temannya terhadap monster itu, karena dia juga merasakan hal yang sama. Namun, Leo khawatir bahwa Alisha akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.
Sesekali, Leo menatap orang-orang di sekitarnya, sementara tangan kirinya ditekuk dan matanya terpaku pada setiap detik pergerakan jarum jam di jam tangannya. "60 detik."
Suara lonceng semakin terdengar, dan Leo mengintip untuk memastikan pergerakan musuh yang semakin mendekat. "44 detik."
"39 detik."
"31 detik."
Namun, momen itu terganggu oleh tindakan salah seorang pemuda yang bersembunyi di balik semak di tepi jalan. Pemuda itu maju sendirian dengan sebatang tombak kayu di tangannya dan berteriak, "Pergilah dari desaku, dasar monster biadab...!"
__ADS_1
Tindakan ini bisa merusak rencana yang telah mereka susun sebelumnya. Leo merasa tegang dan mencoba mengambil keputusan yang bijaksana.
Balfam, meskipun selalu terlihat optimis dan penuh semangat, dia juga sangat mudah tersulut emosi. Melihat salah satu warganya maju sendirian tanpa menghiraukan rencana yang telah mereka buat, Balfam Gulgar berteriak memaki orang itu dari atas menara. Namun, usahanya tidak berhasil.
Pria dewasa berumur sekitar 40-an tahun itu terus mendorong tombaknya ke depan, hingga berhasil menusuk perut monster itu. Senyum kebanggaan terpancar di wajahnya saat dia merasa telah berhasil melukai monster tersebut. Namun, ekspresi wajahnya berubah drastis saat menyadari bahwa tombaknya tidak bisa ditarik keluar.
"Loh, kok nyangkut?"
Ketakutan mulai merambat di wajahnya. Matanya membesar, dan keringat bercucuran menuruni dahinya. Ia merasa terjebak dalam situasi yang semakin mengerikan karena monster itu masih hidup dan mulai menoleh ke arahnya. Pria itu mencoba dengan keras untuk melepaskan tombaknya, tetapi usahanya sia-sia. Kepanikan yang merajalela membuat celananya basah karena cairan hangat yang barusan dia keluarkan.
Saat monster itu menoleh ke arah pria yang terjebak, wajahnya menyeringai dengan ketiga mulut yang mengerikan. Air liur mengucur dari gigi-gigi tajamnya, membasahi jalanan berbatu dengan bau yang sangat busuk. Lidahnya yang panjang menjulur keluar dari setiap mulutnya, seakan mencicipi mangsanya yang baru.
Monster itu mengangkat kedua tangannya yang selama ini tertutup lengan jubahnya. Tangannya yang kurus memiliki kuku yang panjang dan tajam seperti pedang berwarna hitam. Dalam gelapnya malam, sinar bulan menerangi cakar-cakar itu, menciptakan kilatan yang mengerikan.
Monster itu mengayunkan kedua tangannya dengan kecepatan yang mengagumkan, seolah-olah hendak mencabik tubuh pria yang terjebak dalam ketakutan di hadapannya. Namun, dalam sekejap langkahnya terhenti. Sebuah anak panah meluncur masuk dan menembus kerongkongannya yang terbuka lebar.
Lutut kanannya ambruk ketanah, dan tangannya yang kelam berusaha mencabut anak panah yang masih tertancap dalam. Darah hitam kental mengalir deras dari luka tersebut, dan monster itu mengeluarkan suara teriakan serak yang mengerikan, suaranya sekilas terdengar seperti manusia yang merintih kesakitan.
__ADS_1
Dari ketinggian menara desa, Alisha berdiri tegap dengan tubuh rampingnya. Di tangannya, ia memegang busur panah, senjata yang ia kuasai dengan penuh keahlian. Dengan mata tajam yang terfokus, Alisha memandangi barisan monster yang mendekati desa dengan langkah ganas.
Dalam sekejap, dengan gerakan yang halus dan percaya diri, Alisha menarik tali busur berbahan tendon dengan tangan kanannya yang kuat. Busur panah yang terbuat dari kayu pohon yew, melengkung sempurna saat tegangan mencapai puncaknya. Dia membidik sejenak, matanya terkunci pada targetnya yang berdiri di antara barisan monster lainnya.
Ketika waktu tampaknya berhenti, Alisha melepaskan anak panah keduanya dengan begitu cepat dan tepat sehingga monster itu bahkan tidak sempat mengikuti pergerakan anak panah itu, walaupun mereka tidak bisa melihat, Mowldark memiliki insting yang nyaris sempurna. Anak panah itu melayang ke targetnya dengan presisi yang memukau, menembus kulit monster di bagian dada dengan kekuatan mematikan.
Alisha tidak hanya memancarkan keahliannya dalam menembak, tapi juga sejumput penampilan feminin dalam ketenangannya. Meskipun situasi mencekam, dia adalah sosok yang tetap tenang dan dingin, seperti angin sejuk di malam yang mulai panas, paling tidak, karena dia ingin melindungi Leo sekuat yang dia bisa.
Serangan Alisha mendapatkan respon dari penduduk desa. Dalam satu teriakan yang menggema di antara gemuruh langkah kaki, Tuan Balfam memimpin 'pasukannya' menuju medan pertempuran. Teriakan penuh semangat itu menjadi isyarat bagi seluruh warga desa yang telah bersiap untuk menghadapi ancaman Mowldark.
Seiring dengan teriakan pemimpin mereka, seluruh warga desa menyerbu dengan tekad yang kuat. Sebagian dari mereka menyerang langsung, berani menghadapi monster-monster hitam yang mendekat. Tombak kayu dan pedang pendek digerakkan dengan lihai.
Di atas menara dan gerbang desa, pemanah-pemanah dan penyihir seperti Belladona bersiap dengan busur panah dan tongkat sihir mereka. Mereka siap menyerang dengan serangan jarak jauh, memberikan dukungan dari atas untuk pasukan yang berada di medan pertempuran.
Aura Matilda, gadis yang begitu bersemangat, melompat menerjang musuh-musuhnya dengan tawa gembira. Dia bergerak dengan kecepatan dan kegilaan seorang pejuang yang tak kenal takut.
Leo, dengan gerakan gesit dan tatapan tajam, memainkan pedangnya dengan lincah. Setiap serangannya dipandu oleh keahlian dan ketenangan yang ia miliki, memotong dengan presisi dan mempertahankan barisan warga desa dari serangan monster mowldark yang mengerikan.
__ADS_1
Tak hanya teriakan pemimpin, teriakan semangat dan seruan lainnya juga menggema di medan pertempuran, membangkitkan semangat para pejuang desa untuk melawan ancaman Mowldark yang juga membalas serangan mereka.