
Dalam pertarungan yang semakin intens, Matilda dan Belladona masih saling berhadapan. Belladona mengayunkan tongkatnya dengan gemetaran, mencoba mempertahankan diri dari serangan Matilda yang terus datang dengan kecepatan kilat. "Aku sangat terkesan dengan trik konyolmu, Matilda," cemooh Belladona sambil menghindari serangan Matilda yang berusaha menerkamnya. "Tapi percayalah, kekuatanku jauh melampaui dari apa yang kamu bayangkan."
Matilda tersenyum sinis, bola mata merahnya menyala terang. "Oh, benarkah? Aku rasa manamu sudah mulai menipis, Belladona. Begitu kau kehabisan mana, aku akan mengakhiri ini dengan cepat. Dan dengan begitu, Tuan Leo Demhian akan memberiku pujian yang layak aku dapatkan."
'Mana' adalah istilah umum dalam game dan dunia fantasi yang merujuk pada sumber daya magis atau energi yang digunakan untuk melepaskan sihir atau kemampuan khusus. Ketika seseorang merasa mananya terkuras habis, itu berarti mereka telah menggunakan terlalu banyak energi magis yang ada dalam dirinya dan tidak dapat lagi mengeluarkan sihir atau kemampuan magis mereka.
Belladona terdiam sejenak, dirinya mulai merasakan energi mananya yang memudar. Namun, dia segera mengumpulkan kembali keberaniannya dan melepaskan mantra baru. "Dengan darahku yang mengalir, aku memohon kekuatan, Dewa Talos Yang Agung, dengarkan aku dan bantu aku mengalahkan setan ini!"
Saat mantra itu diucapkan, cahaya merah memancar dari tubuh Belladona, menandakan dia mengorbankan sebagian darahnya untuk mendapatkan tambahan mana. Namun, Matilda tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia menerjang ke arah Belladona, membentuk garis asap kegelapan yang memanjang.
"Setan? Percayalah Belladona, tidak ada doa yang dapat menyelamatkanmu!" Matilda berkata sambil mencoba menghantam Belladona dengan pukulan yang sangat kuat.
Belladona berhasil menghindari pukulan itu dengan susah payah dan dengan sisa-sisa mananya, dia melepaskan serangan sihir terakhirnya. "Jika aku harus pergi, aku akan membawa kamu bersamaku, Matilda!"
"Volaire!" serangan energi merah meluncur menuju Matilda dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Matilda tersenyum dan dengan lembut menggelengkan kepala. "Terlambat, Belladona." Dengan gerakan berputar di udara, Matilda dengan mudahnya menghindari serangan bola api Belladona. Kemudian sebuah cakar hitam raksasa muncul menyelimuti tangan kanan Matilda yang akan melakukan satu serangan mematikan ke arah Belladona.
Namun, sebelum serangan itu mencapai Belladona, cahaya putih kebiruan membelah ruangan seperti sebuah petir yang menyambar, memisahkan Belladona dan Matilda. Sementara keduanya saling memandang dengan penuh ketegangan, suara tindakan yang tegas terdengar dari pintu masuk ruangan yang terbuka dengan paksa.
Sebuah legiun pasukan Kerajaan Thellidia yang terdiri dari prajurit berzirah putih dengan aksen emas memenuhi ruangan. Mereka datang di bawah pimpinan Pangeran Gideon, seorang Pangeran sekaligus Ksatria berpengalaman dan penuh wibawa. Dalam kehadiran mereka, ruangan ini terasa penuh dengan aura yang mencekam.
Belladona melirik Gideon dengan tatapan singkat, meskipun tetap penuh dengan keangkuhan. "Kau pikir aku memerlukan bantuanmu, Gideon? Aku masih bisa menyelesaikan ini sendiri."
Gideon tidak membiarkan celaan Belladona mengganggunya. Dia mengangguk kepada pasukannya, dan dengan sikap yang tegas, para prajurit Kerajaan Thellidia bersiap untuk mengamankan ruangan ini. Yang jelas, keberadaan mereka disini tidak lain hanyalah untuk membunuh Leo Demhian sebagai pemegang kekuatan penerus dari Faksi Nythorian.
Gideon, dengan suara lantang yang memenuhi ruangan, memerintahkan Leo, "Leo Demhian, lepaskan tanganmu dari Menhir dan menyerahlah! Kita tidak ingin melukaimu, tetapi kita tidak akan ragu untuk mengambil tindakan jika kamu tidak mengikuti perintah kami."
Puluhan pasukan Kerajaan Thellidia yang setia pada Gideon bersiap dengan pedang dan perisai mereka, mata mereka yang tajam memandangi Leo, menunggu perintah apapun dari pemimpin mereka. Suasana di ruangan ini menjadi semakin tegang, dan Leo merasakan tekanan besar untuk membuat keputusan yang tepat.
Dalam sekejap, Matilda muncul dari dalam bayangan kegelapan, meluncur dengan kecepatan yang mengagumkan, menuju Gideon yang tengah berbicara dengan Leo. Namun, Gideon samasekali tidak terkejut. Dengan santainya, ia mengeluarkan pedangnya yang gagah dan mewah, dilengkapi dengan hulu berkilauan seperti kilatan petir yang mempesona. Pedang itu memancarkan aura kekuatan yang mempesona.
__ADS_1
Matilda berhasil menghindar dari ayunan pedang Gideon. Namun, Cayden, penyihir pria berkacamata dengan jubah berwarna selaras dengan zirah Gideon, berkata dengan tenang sambil mengucapkan mantra, "Demi Dewa Talos Yang Agung, pakulah langit dan bumi, layaknya gelombang air yang membeku!" sebuah kilatan biru yang berkilauan melesat dari tangannya dan menyentuh kaki Matilda, seketika itu juga, kaki Matilda mulai membeku seperti terkena es.
Matilda merintih kesakitan, "Ahh! Sial!"
Cayden tersenyum dengan dingin, sambil menekan kacamatanya. "Kamu tidak akan pernah bisa menghadang Pangeran Gideon. Kamu hanya menghambat dirimu sendiri."
Gideon menambahkan, "Kau menyerang kami secara tiba-tiba, seperti tikus kecil yang ketakutan."
Matilda mencoba melepaskan diri dari bekuan itu, tetapi tidak berhasil. "Kalian itulah tikusnya! Lepaskan aku!"
Gideon dengan tiba-tiba menghunuskan pedangnya dan mendekati Matilda dengan pedangnya yang berkilat seperti kilat. Matilda merasa tak berdaya, kakinya beku oleh mantra Cayden dan sekarang pedang mematikan Gideon mengancam lehernya. Dia menjerit kesakitan dan ketakutan.
Leo, melihat situasi yang semakin genting, merasa putus asa. "Hentikan! Aku menyerah, tolong jangan lukai Matilda."
"Jangan Tuan Demhian! Aku matipun tidak masalah, kita hanya perlu waktu sedikit lagi."
__ADS_1
Gideon tersenyum puas, tetapi mata dinginnya tetap menatap Leo dengan tajam. "Akhirnya, kamu sadar akan kenyataan, Leo Demhian. Aku tahu kamu lebih pintar dari tikus ini." Dia menekan pedangnya lebih dekat ke leher Matilda, "Sekarang, lepaskan tanganmu dari Menhir Bastion."