Against All Odds

Against All Odds
CH 41 - Mengambil Resiko


__ADS_3

"Aku tidak menyangka, semuanya bakal jadi begini." Ucap Barla, yang sedang duduk di atas kereta kuda yang melaju perlahan, ekspresinya penuh kecemasan.


"ini semua salahku." Glint yang duduk di sampingnya terlihat tertunduk, menyesali perbuatannya. "Seharusnya aku tidak tertidur waktu itu."


Barla tersentuh dengan perkataan adiknya, namun dia berusaha menghibur dengan merangkulnya erat-erat. "Heleh, memangnya kau saja yang tertidur waktu itu." Barla memacu gerak kudanya agar lebih cepat, dia menatap kearah cahaya yang juga bergerak searah dengan kereta kuda. Cahaya itu terlihat sangat terang ditengah gelapnya malam. "Aku yakin, Leo pasti baik-baik saja, jadi kau tidak perlu menyalahkan dirimu."


Glint hanya terdiam, merasakan kenyamanan dalam cengkraman lengan kakaknya yang kuat, meskipun kekhawatirannya masih belum hilang. Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang penuh dengan harapan.


Sementara, cahaya yang bergerak di kegelapan hutan itu berasal dari sebuah lampu minyak yang di bawa oleh Arne. Setelah perdebatan dengan Alisha, akhirnya usahanya untuk memberikan bantuan diterima. Arne telah berjanji kepada Alisha untuk membantu menemukan temannya yang hilang.


"Alisha, tunggu!" Arne berteriak sambil berusaha mengejar dua wanita yang semakin menjauh di dalam hutan yang semakin gelap.


"Leo!"


"Tuan Leo Demhian!"


Kedua wanita itu terus berjalan memasuki hutan sembari menyerukan nama temanya yang hilang. Arne sudah paham betul seberapa bahayanya hutan ini, dia tidak ingin situasi menjadi lebih rumit. "Bisakah, kau menyuruh teman-temanmu untuk berhenti sebentar, bisa bahaya jika kita kehilangan jejak mereka." Arne berbicara kepada seorang wanita yang berjalan di sampingnya.


"Itu tergantung." Jawab Belladona dengan singkat.


"Apa maksudmu?" Arne merasa tidak senang dengan jawaban Belladona yang begitu tajam.


Sejak awal pertemuan mereka, Belladona sudah merasa curiga dengan kehadiran Arne yang tiba-tiba saja muncul dan langsung memberikan mereka pertolongan secara cuma-cuma.

__ADS_1


"Maksudku, apa yang membuatku yakin, Arne? Kau muncul tiba-tiba dan langsung membantu kami tanpa syarat. Kita bahkan tidak tahu siapa kau sebenarnya." Ucap Belladona yang terus menerangi setiap pepohonan di sampingnya dengan tongkat sihir, berharap dapat menemukan temannya.


Arne merasa frustrasi karena ketidakpercayaan Belladona. "Aku lelah menjelaskan padamu berulangkali, kau mungkin benar jika kita belum saling mengenal satu sama lain. Tapi aku juga tidak bisa berpaling saat melihat kalian dalam masalah. Percayalah, aku bukan musuhmu?"


Belladona menatap Arne dengan tatapan penuh kecurigaan. "Oh demi dewa, benarkah? Kau tidak bisa membujukku begitu saja, Arne." -melipat tangannya sambil berjalan- "Selain itu, bagaimana kau bisa membangunkan kami dari sihir Banshee? Itu sangat mencurigakan."


Arne, mulai merasa kesal, akhirnya memutuskan untuk menghentikan langkahnya tiba-tiba. "Cukup!" katanya dengan nada tegas. "Aku tiba di sini dengan niat baik, dan aku tidak akan membuang waktu untuk membuktikannya padamu. Kamu mungkin takut, itu wajar. Tapi jika kita tetap terjebak dalam perdebatan ini, kita semua berisiko."


Belladona hanya menguap, merasa tidak terkejut samasekali saat Arne membentaknya.


Saat Arne mulai membuka mulutnya untuk berbicara, Alisha dan Matilda tiba di tempat itu. Mereka melihat Belladona dan Arne yang saling berhadapan dengan ekspresi yang sangat berbeda.


Sesekali Alisha bertukar pandangan dengan Belladona. Belladona masih sama, dengan ekspresi seakan tidak peduli. Alisha memahami situasi ini, dan dia tidak ingin membuatnya jauh lebih buruk.


Arne tersenyum ramah sambil mengangguk, "Ada banyak hal yang bisa aku lakukan." Dia melirik kearah Belladona.


"Baiklah, tapi pertama-tama kita kembali ke kereta kuda. Aku tidak ingin keputusan diambil secara sepihak, Barla dan Glint juga perlu tahu."


Belladona, yang masih mencurigai Arne, merasa takut bahwa keputusan Alisha mungkin terlalu naif. Dengan ekspresi serius, dia berbisik kepada Alisha, "Kamu yakin, Alisha? Kita tidak tahu apa-apa tentang pria ini."


Alisha mengangkat tangannya dengan penuh keyakinan, mengisyaratkan Belladona untuk percaya kepadanya. Dengan tatapan mantap, dia balik berbisik kepada Belladona, "Kita harus percaya, Belladona. Leo perlu bantuan kita."


Tidak ingin membuang lebih banyak waktu lagi, mereka berempat segera kembali ke kereta kuda. Disana Barla dan Glint sudah menunggu, bukan hasil yang mereka harapkan, tapi mereka juga sudah siap menerimanya, Leo masih belum ditemukan. Walaupun begitu, Barla tetap menyambut kedatangan teman-temannya dengan penuh semangat.

__ADS_1


Alisha, Arne, Belladona, Barla, Glint, dan Matilda berkumpul di samping kereta kuda yang dikelilingi oleh hutan yang gelap.


Arne mengambil sebatang rokok dari dalam jubahnya dan mulai menyalakannya, mengisap sedikit asap sebelum dia memulai penjelasannya. Barla duduk diatas kereta dengan tubuhnya yang tegak, menunjukkan semangat dalam menanggapi setiap pembicaraan tentang rencana tersebut. Glint duduk disebelah Matilda dengan cemas dan agak bingung, mencoba mencerna semua informasi yang diberikan. Sementara Alisha memperhatikan setiap pembicaraan mereka, tetapi pandangannya melayang ke arah kabut hutan yang menyelimuti mereka.


Semuanya mendengarkan penjelasan dari Arne yang memberikan saran untuk pergi ke desa goblin, disana mereka dapat meminta bantuan goblin untuk menemukan Leo.


Arne berbicara, asap rokoknya melingkupinya saat dia menjelaskan, "Saya tahu pendapat banyak orang tentang goblin, tapi kalian harus percaya padaku. Mereka sebenarnya tidak sejahat yang kalian bayangkan. Mereka juga makhluk yang memiliki perasaan dan memahami arti persahabatan."


Barla langsung menolak dengan ekspresi tegas. "Tidak," katanya dengan nada tegas, menggelengkan kepala saat Arne mencoba menjelaskan. "Aku tidak akan mempertaruhkan nyawa kami dengan mengikuti rencana ini. Aku tahu semuanya tentang goblin, mereka pencuri licik dan tidak bisa dipercaya."


Tubuhnya tegak, dan matanya penuh dengan ketegasan. Barla tahu betapa berbahayanya goblin, dan dia tidak akan setuju untuk menjalani petualangan yang menghadirkan risiko yang tidak perlu.


"Sepertinya memang tidak ada satupun wanita yang cocok untukku disini." Pikir Arne saat dia mendengar penolakan tegas dari Barla.


"Aku mengerti kekhawatiran kalian, tetapi ini adalah salah satu cara terbaik untuk menemukan Leo. Desa goblin bukanlah tempat yang buruk, dan aku yakin kita dapat mendapatkan bantuan di sana, aku juga memiliki beberapa teman disana." Dia berbicara dengan tekad yang kuat, mencoba meyakinkan mereka semua.


Setelah mendengar Arne, ada keheningan singkat dalam kelompok. Masing-masing dari mereka merenung tentang resiko yang mungkin terjadi dengan mengikuti rencana Arne. Kecuali Matilda yang tidur lebih dulu.


Tiba-tiba, Belladona berdiri dan memegang pundak Alisha yang sedang melamun. Dengan tegas, dia berkata, "Aku tidak suka ini, tapi kita harus mengambil segala resiko yang ada untuk menemukan Leo. Kita tidak bisa hanya duduk dan menunggu. Leo adalah teman kita, dan kita harus melakukan yang terbaik untuknya."


Glint mencoba berbicara, "Tapi, mungkin ada cara lain? Apakah kita harus benar-benar pergi ke desa goblin?"


Barla kembali merangkul adiknya, Glint, dengan kuat hingga kacamatanya hampir jatuh. Dia mendesah sesaat, "Baiklah, kita pasti akan menemukan Leo, dan semuanya akan baik-baik saja!" Semangat yang membara kembali terpancar dari Barla, menimbulkan senyuman tipis diwajah teman-temannya, termasuk Alisha.

__ADS_1


Alisha mengangkat kepalanya, matanya yang tadinya melamun sekarang penuh dengan tekad. "Baiklah, kita akan berangkat."


__ADS_2