
Setelah beberapa jam berjalan melalui hutan yang menakjubkan dengan laba-laba raksasa didalamnya, Matilda yang selalu peka terhadap sekitarnya, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya yang merah memperhatikan sesuatu yang tidak biasa di kejauhan. "Lihat, ada desa di sana!" serunya, sambil menunjuk dengan penuh semangat.
Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka semua memandang ke arah yang ditunjuk oleh Matilda. Desa tersebut terlihat seperti sebuah oase di tengah hutan yang lebat. Rumah kayu beratap jerami yang berjejer dengan apik menghadirkan sentuhan desain khas Eropa abad pertengahan. Setiap rumah memiliki ciri khasnya sendiri, dengan jendela-jendela kecil dan pintu-pintu kayu yang kokoh. Tampaknya setiap detail arsitektur serta kebersihannya dipelihara dengan sangat baik oleh penduduk desa ini.
Jalanan berbatu terhampar di antara bangunan-bangunan disana. Pohon besar dengan dedaunan yang rimbun menyajikan naungan sejuk di sepanjang jalan, menghadirkan suasana yang nyaman dan sejuk.
Desa ini juga dikelilingi oleh perkebunan luas yang terbentang sejauh mata memandang. Tembok sederhana dari kayu yang kuat melindungi perkebunan dan desa dari ancaman binatang liar atau monster yang mungkin berkeliaran. Di setiap sudut tembok tersebut berdiri menara kayu yang memberikan pandangan tinggi kepada mereka yang berjaga.
Saat mereka mendekati desa, kecemasan mulai menyelinap dalam pikiran Leo. Dia takut akan dikenali oleh prajurit Kerajaan Thellidia sebagai seorang Celestial Nythorian, dan sekarang, Alisha juga merupakan Celestial Ilymeira, kedua faksi yang sudah jelas bertentangan dengan Kerajaan Thellidia. Dia merapatkan jubahnya dengan ketat, berusaha semampunya untuk menyembunyikan identitasnya.
Alisha memperhatikan ketegangan yang terpancar dari Leo dan bertanya dengan cemas, "Leo, apa yang salah?"
Leo menjawab dengan suara lirih, "Aku hanya khawatir, Alisha. Khawatir bahwa mereka akan mengenali kita dan menangkap kita."
Belladona, dengan sikap tenang seperti biasa, "Santai saja. Aku tahu rumor tentang kemunculan Celestial baru telah tersebar luas," kata Belladona, "Namun, sampai sejauh ini, belum ada kabar apapun yang mengatakan bahwa Celestial tersebut berasal dari Faksi Nythorian maupun IIlymeira. Jadi aku rasa tidak masalah jika kita memasuki desa itu, bahkan tanpa mengenakan jubah ini."
Matilda dengan polosnya bertanya, "Tuan, Apa itu Celestial?"
Leo langsung menutup mulut Matilda dengan tangannya dan berkata, "Jangan bicara tentang itu di sini, Matilda. Dan berhenti memanggilku tuan." Dia menutup mulut Matilda dengan cepat, mencegah pertanyaan itu keluar lebih jauh. Dalam hati, Leo merenung, 'Bagaimana bisa Matilda tidak tahu apa itu Celestial? Setelah semua yang kita lalui... Apakah dia hanya mengikuti kita tanpa benar-benar tahu tujuan dan bahayanya?'
__ADS_1
Saat menutup mulut dan menatap Matilda, Leo baru menyadari akan risiko terkait dengan mata merah Matilda yang bisa membuatnya dicurigai sebagai monster atau entitas berbahaya. Dengan cepat, Leo merogoh kantong bajunya dan mengambil sebuah kacamata hitam yang ternyata masih utuh. Dengan perlahan, dia memakaikannya ke Matilda. Matilda merasa senang dengan pemberian Leo, dan tanpa ragu, dia segera berjinjit.
Namun, sebelum dia memakainya. Matilda tiba-tiba mengubah warna matanya yang tadinya merah menjadi hitam seperti mata manusia biasa. Leo terkejut dengan perubahan ini, namun sebelum dia bisa bertanya, Belladona mendekati mereka, lalu berkata, "Aku juga sudah menyadari hal ini sewaktu di Dorston Citadel. Aura Matilda adalah seorang Mimica atau Morphius, makhluk yang memiliki kemampuan luar biasa untuk berubah wujud menyerupai makhluk lain dalam bentuk fisik. Itulah mengapa Matilda bisa menipuku waktu itu."
Matilda tersenyum bangga sambil menjelaskan kepada mereka bahwa dia telah memiliki kemampuan ini sejak kecil.
Tanpa berlama-lama, mereka pun melanjutkan langkah mereka menuju ke desa. Tidak lama kemudian, gerbang utama desa berdiri tegak di depan mereka. Saat memasuki desa, suasananya menjadi terlihat semakin hidup. Aktivitas berlangsung di setiap sudut desa. Anak-anak berlarian sambil tertawa gembira, para wanita sibuk berbicara sambil menjalankan tugas-tugas rumah tangga mereka, dan beberapa pria terlihat berkumpul di depan sebuah bangunan kayu sambil menempa besi dengan palu besar ditangan mereka. Beberapa kuda dengan gerobak berisi tumpukan jerami ataupun sayuran terlihat lalu lalang di jalanan yang berpasir.
Namun, yang paling mencuri perhatian mereka adalah bagaimana sebagian besar penduduk desa tampak memandang mereka, khususnya Leo. Dengan mata terbuka lebar, terutama sekelompok wanita muda tampak terpesona oleh penampilan Leo yang tampan. Mereka saling berbisik satu sama lain dengan tatapan penuh kagum dan terpesona dengan kehadiran Leo di desa mereka.
Leo merasa tidak nyaman oleh perhatian yang dia rasakan, walaupun dia sebenarnya sudah terbiasa dengan reaksi semacam ini. Leo tetap berusaha menjaga wajahnya untuk tenang dan memasuki desa dengan kepala tegak seraya merapatkan jubahnya, seolah tak terpengaruh oleh sorot mata yang penuh decak kagum itu.
Sementara itu, Leo mengangkat tangannya setinggi dada dengan sopan dan menjawab pertanyaan wanita-wanita itu, "Terima kasih atas tawarannya. Kami memang sedang mencari tempat untuk bermalam. Berapa biayanya?"
Salah satu wanita dengan senyum ramah menjawab, "Anda tidak perlu memikirkan itu... datanglah, dan beristirahatlah bersama teman-temanmu."
Leo mengangguk dengan sopan, "Terima kasih atas keramahtamahannya. Kami dengan senang hati menerima tawaran Anda."
Mereka kemudian mengikuti wanita itu menuju rumahnya, yang terletak agak jauh dari pusat desa. Orang-orang desa yang melihat mereka pergi, masih terus berbisik, dan sebagian besar tetap terpesona oleh penampilan Leo yang tampan. Ini adalah kedatangan yang tak terduga di desa mereka, dan kehadiran mereka tampaknya menimbulkan kehebohan di kalangan penduduk desa.
__ADS_1
...-...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari telah berubah menjadi malam yang gelap, dan suasana di dalam kamar yang mereka sewa tampak nyaman, walaupun terlihat sederhana. Belladona duduk di sebuah kursi kecil di dekat jendela yang menampilkan pemandangan malam yang tenang. Sedangkan Alisha berdiri di sampingnya, menatap keluar jendela yang diselubungi oleh kegelapan malam. Mereka berdua terlibat dalam suatu percakapan santai.
Kamar tempat mereka duduk adalah sebuah ruangan yang sederhana dengan dinding yang terbuat dari kayu. Satu-satunya sumber cahaya di kamar berasal dari jamur-lampu setinggi satu meter yang berdiri di sudut ruangan. Cahaya kecil yang dipancarkannya memberikan sentuhan hangat pada kamar itu, menciptakan suasana yang nyaman di tengah malam yang gelap.
Sementara itu, Matilda sudah tertidur pulas di atas kasur besar yang berada di tengah ruangan. Matilda terlihat sedang menikmati tidurnya yang tenang setelah petualangan yang melelahkan. Mungkin, juga karena dia sudah terlalu kenyang akibat jamuan makan malam dari wanita pemilik tempat ini.
"Belladona, aku ingin tahu, mengapa kamu tidak ikut pulang ke Kerajaan Thellidia bersama Gideon? Bukankah kerajaan akan mengkhawatirkanmu?"
Belladona memandang keluar jendela, matanya terfokus pada cahaya rembulan yang menyinari malam. Dia tersenyum lembut sebelum memulai penjelasannya. "Sejak aku kecil, Alisha, aku selalu bermimpi tentang petualangan dan dunia luar. Sebagian besar waktuku dihabiskan dalam kebisuanku di kamar, berlatih sihir dan membaca buku tentang tempat-tempat yang jauh. Lagipula, aku merupakan penyihir yang bertugas untuk mencari Celestial baru untuk Kerajaan Thellidia, jadi memang sudah seharusnya aku hidup diluar seperti ini."
Alisha mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa lebih dekat dengan Belladona melalui cerita masa kecilnya. "Jadi, apakah petualangan seperti ini, yang selama ini kamu impikan?"
Belladona mengangguk, bibirnya terukir dengan senyuman yang penuh makna. "Tentu saja, Alisha. Aku merasa seperti terkurung di dalam dinding istana selama ini. Aku ingin melihat dunia ini dengan mataku sendiri, bukan hanya membacanya dari buku. Selain itu... ," -berdiri di sebelah alisha dan tersenyum- "aku juga merasa bersalah saat ingin melukaimu waktu itu, jadi aku ingin membantu kalian semampuku."
Alisha merasa begitu terhubung dengan Belladona saat mendengar pengakuan dan penyesalan darinya. Namun, sebelum dia bisa merespons dengan tulus, terdengar jeritan tajam yang tiba-tiba memecah suasana hangat di dalam kamar. Suara keras dari luar itu membuat mereka berdua mendongak kaget dengan mata penuh kebingungan. Matilda yang sebelumnya tertidur dengan nyenyak, ikut terbangun karena kaget.
__ADS_1
Suara langkah kaki yang berlari cepat seakan menggema di balik pintu kamar, menyebabkan mereka merasa tegang. Dalam sekejap, pintu terbuka dengan keras dan Leo muncul di ambang pintu, wajahnya penuh kecemasan. "Kita diserang!" serunya tanpa ampun.