Against All Odds

Against All Odds
CH 38 - Banshee 2


__ADS_3

Darah yang mengalir keluar dari lukanya membasahi dedaunan kering yang berserakan di tanah. Leo merasa bahwa lawannya kali ini sepertinya jauh lebih kuat dari Mowldark yang waktu itu. Tentu ada rasa takut yang berkecamuk di dalam dirinya, namun hal itu tidak membuatnya menyerah begitu saja. Leo tahu teman-temannya yang sedang tertidur di kereta kuda itu juga akibat sihir dari makhluk didepannya, dan dia harus menyelamatkan mereka.


Dengan wajah yang penuh semangat, Leo mengepalkan tangan kirinya, meremas dedaunan yang bercampur dengan tanah. Sementara tangan kanannya terus menahan luka di bahunya yang semakin memburuk. Dia tetap menatap tajam ke arah wanita mengerikan yang berdiri di hadapannya.


"Mau menyerah?" Suara wanita itu menggema, seperti suara dari radio yang terdengar keras namun putus-putus.


Leo tersenyum singkat, dia tahu lawannya sudah jelas bukan seorang manusia, tetapi dia tetap mencoba untuk mempertahankan ketenangannya. "Bisa bicara ternyata, aku kira kamu bisu," ledeknya sambil perlahan bangkit.


Aura kegelapan mulai keluar dari tubuh Leo saat dia berusaha berdiri. Deskripsi musuh di depannya tiba-tiba terlihat dengan jelas. Semuanya terpampang jelas di benaknya, seperti kekuatan Nythorian dalam dirinya mengungkap semua kelemahan wanita mengerikan itu.


"Makhluk ini yang disebut Banshee, sial, ternyata hantu ini kuat banget," gumam Leo, sambil terus berpikir tentang cara untuk dapat mengalahkan sosok wanita yang disebut Banshee itu.


Sekilas, Leo mengedarkan pandangannya ke bawah, mencari pedangnya yang tadi terlempar, namun pedang itu telah hilang entah di mana. Dia kemudian meraih dua pisau dari kantong yang melekat di sabuknya.


Saat Leo siap dengan kedua pisau di tangannya, Banshee tidak membuang waktu. Dia meluncur mendekati Leo dengan gerakan yang begitu cepat, seperti bayangan hitam yang mendekati mangsanya. Serangan Banshee datang begitu tiba-tiba, dan Leo hanya punya sepersekian detik untuk bereaksi.

__ADS_1


Dengan ketangkasan dan refleks yang tajam, Leo berhasil menghindari serangan pertama Banshee. Tubuhnya meliuk-luk sambil melompat ke samping, menghindari cakaran tajam yang menghantam tanah dengan keras. Namun, segera setelah dia mendarat, Banshee melancarkan serangan beruntun.


Banshee bergerak begitu cepat sehingga sulit bagi Leo untuk mengikuti gerakannya. Dia terus berusaha menghindari cakaran dan serangan Banshee, menggunakan kedua pisau dalam usahanya untuk bertahan. Serangan Banshee terasa seperti badai, dengan cakaran dan pukulan yang datang begitu cepat dan tiba-tiba.


Leo mencoba berpikir cepat, mencari celah dalam pertarungan ini. Dia mencoba menggertak Banshee dengan gerakan palsu, dan saat Banshee tergoda untuk menyerang, Leo dengan cepat mengambil kesempatan itu untuk meluncurkan serangan balasan. Namun, Banshee dengan gesit menghindar, hanya sedikit tergores oleh serangan Leo.


Pertarungan terus berlanjut, keduanya saling berhadapan dengan refleks dan kecepatan yang luar biasa. Leo mencoba memecahkan kelemahan dari setiap gerakan Banshee, tetapi makhluk itu sepertinya sudah tahu terlebih dahulu dengan setiap gerakan dari Leo.


Setelah sekian lama mereka bertarung, napas Leo mulai terasa berat, dan keringat mengalir deras dari wajahnya. Serangan Banshee terus menghujani, dan Leo mulai merasakan kelelahan yang mendalam merasuki tubuhnya.


Dalam momen singkat di antara serangan Banshee yang mematikan, Leo mencoba untuk berpikir. "Kekuatan ku seperti tertahan, kenapa semua jenis sihir yang ditunjukkan di benakku tidak bisa aku gunakan? Apakah perlu latihan khusus untuk mengeluarkannya?" gumamnya, mencoba memecahkan teka-teki yang tersembunyi dalam dirinya.


Dalam pertarungan yang sengit, Banshee terus membujuk Leo untuk menyerah, suaranya penuh dengan rayuan kematian. "Sudah, menyerah saja. Jangan khawatir, aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit. Ini adalah nasibmu."


Leo hanya tertawa kecil, merasa dianggap remeh oleh makhluk mengerikan ini. Dia mengerahkan seluruh keberaniannya dan menerjang maju dengan kedua pisau di tangannya. Serangan demi serangan dilancarkannya, dengan harapan bisa mengalahkan Banshee.

__ADS_1


Banshee dengan kecepatan yang menakjubkan menghindari setiap serangan datang. Namun, Leo tidak menyerah begitu saja. Dalam sekejap, dia melempar salah satu pisau ke arah Banshee. Banshee dengan lincahnya menghindar, tetapi itu ternyata hanyalah sebuah tipuan. Leo dengan cepat menusukkan pisau satunya ke perut Banshee, membuatnya Banshee terkejut dan mengerahkan tenaganya untuk menghempaskan Leo dengan tangannya. Seketika Leo terlempar cukup jauh hingga punggungnya menghantam sebuah pohon besar di belakangnya.


Akibat serangan Leo, luka di perut Banshee memancurkan asap hitam, tetapi itu justru membuatnya terlihat semakin marah. "Beraninya kau melakukan ini padaku!" teriaknya dengan suara serak yang menggema.


Banshee mendongak, memperlihatkan gigi hitam yang tajam seperti barisan belati di dalam mulutnya. Dia membuka mulutnya lebar-lebar, hingga pipinya mengeluarkan suara gemertak yang mirip dengan kain yang robek secara perlahan. Setiap gerakan bibirnya memperlihatkan goresan hitam memanjang di pipinya.


Kemudian, dengan perlahan, Banshee memasukkan tangannya sendiri ke dalam mulutnya yang terbuka lebar. Dari dalam mulutnya, Banshee menarik sebuah pedang yang tampaknya tak berujung. Pedang itu keluar dengan perlahan, mengkilap saat terpapar sinar bulan.


Banshee melangkah perlahan mendekati Leo yang masih tertunduk lesu, bersandar di bawah pohon. Langkahnya seakan berdenting di antara keheningan hutan yang gelap. Dan pedang panjang yang barusan dia keluarkan, dia seret, meninggalkan garis panjang diatas tanah.


Leo, dalam posisi terduduk lemas, tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Pandangan matanya kabur, dan tatapannya kosong. Cairan hangat terus mengalir melalui luka di bahunya, kini juga keluar dari mulutnya. Dia mencoba berbicara, suaranya terdengar gemetar, "Sial, tubuhku... kenapa... aku tidak boleh mati..."


Dia menatap ke arah Banshee yang berjalan mendekat kearahnya. "Tidak... aku harus menolong... teman-temanku... Alisha..."


Namun pandangannya semakin lama semakin memudar, hingga akhirnya, dia ambruk tak sadarkan diri di bawah bayangan mengerikan Banshee yang berdiri dihadapannya lalu mengayunkan pedangnya keatas.

__ADS_1


__ADS_2