
Ini adalah awal dariku yang terus berusaha untuk mejauhkan dan tidak mengharap adanya kata cinta. Karena aku tau bahwa dengan terus berharap, ku yakin aku tidak akan bisa mendapatkannya.
Tapi kau, selalu saja membuat pertahanan ini hancur. Jadi, jika aku sudah memilihmu jangan pernah tinggalkan aku.
.
.
.
.
.
.
.
~~~
Kriiiiing~~
Suara alarm jam weker yang berbentuk Doraemon menyuarakan suaranya, membuat suaranya itu terdengar nyaring di kamar seorang gadis berusia 20 tahun yang tengah tertidur pulas. Namanya, Azira Freezika. Panggilan Azira.
Gadis yang memiliki rambut sepanjang bahu dan sedikit ikal. Memiliki manik mata berwarna karamel dan sangat indah. Bibir mungil yang berwarna merah muda itu, membuat senyumannya semakin manis.
Azira meraba-raba tangannya asal menelusuri meja yang berisi jam weker itu dan setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Azira memukul-mukul jam alarm itu berharap agar suaranya berhenti. Namun nyatanya, tidak. Tentu saja tidak mau berhenti, itu karena Azira memukulnya asal.
Dengan sangat terpaksa, Azira mencoba membuka matanya. "Ya elah, ni jam alarm kenapa gak mati-mati sih!" gerutunya kesal dan mematikan jam alarm milikinya.
"Akhirnya, tidur gue sekarang bisa lanjut!" ucapnya senang dan hendak menutup mata lagi padahal jam sudah menunjukkan jam 06.15.
Tapi kemudian~~
"Aziraaa!! Bangun Nak, udah pagi!" teriak ibunya dari dapur.
"Iya, iya," sahutnya malas, tadi jamnya yang menganggu sekarang suara ibunya.
Azira menggeliat pelan di tempat tidurnya yang hanya springbad itu, lalu mulai duduk dan mengucek pelan matanya. Setelah itu, ia menuju ke dapur.
Azira memang seperti itu, sehabis bangun tidur ia tak pernah langsung mandi melainkan menuju dapur, untuk sekedar membantu ibunya sedikit atau memakan kue yang biasa ibunya beli di penjual sayur keliling.
Setelah sampai di dapur, pandangan Azira langsung menulusuri atas meja yang sudah berisi kue dan rempah-rempah lainnya.
"Pagi, Bu ..." sapanya.
"Pagi ...."
"Ibu, kok bangunin Azira pagi banget? Padahal kan Azira masih ngantuk," gerutunya sambil memasukkan kue kedalam mulutnya.
"Ya ampun, udah jam 6 lewat masih dibilang pagi. Ini tu udah siang kalau buat anak kuliah," jawab ibu Azira sembari memotong bawang.
"Yaaa tapi kan, Azira masih mau tidur."
Setelah itu Azira membicarakan hal lain hingga jam menunjukkan jam 06:30.
"Udah ya Bu, Azira mau mandi. Ada jam kuliah pagi soalnya."
"Ya, mandi aja sana. Emang seharusnya kayak gitu kan dari tadi?" ledek ibunya.
Azira hanya nyengir lalu segera menuju kamarnya untuk mengambil handuk dan menuju kekamar mandi.
.
.
.
Pukul 07.15
Sekarang Azira telah selesai dengan semuanya, Azira hanya tinggal perlu memakai sepatu dan setelah itu semuanya telah siap.
Setelah memakai sepatu bukannya langsung berangkat ke kampus, ia malah duduk di kursi yang ada di dekatnya dan mulai memainkan HP samsung miliknya itu.
Azira memang seperti itu, ia tidak langsung berangkat. Kadang ia berangkat jam setengah 8, tapi anehnya setiap ia ke kampus, ia tak pernah terlambat dari jam kuliah paginya.
Setelah puas memainkan hp miliknya, Azira langsung menaiki motor dan berangkat ke kampus.
Seperti biasanya, Azira tidak terlambat lagi, buktinya kelasnya masih sepi hanya ada satu orang pria tampan yang sibuk dengan gamenya. Pria itu, memiliki mata yang indah, dan dia juga ceria plus senang bergaul dengan orang lain.
"Hai Azira," sapanya, ketika Azira melewati tempatnya duduk. Anehnya, pandangannya masih pada game yang ada pada pada layar ponselnya itu.
"Hallo," jawabnya acuh. Tapi setelah Azira duduk, ia tersadar akan sesuatu. "Eh, tumben banget lo nyapa gue. Biasanya juga gak pernah."
"Ya iyalah, masa teman sendiri lewat gak disapa."
Azira hanya acuh mendengarkan jawaban teman lelakinya itu.
__ADS_1
"Btw, tumben banget lo datang pagi?" tanya Azira.
"Ini tu namanya strategi."
"Strategi apaan?"
"Buat bisa main game lebih lama. Kalau di rumah mana bisa, jadi gue lebih cepat ke kampus biar bisa main game."
Azira melongo tak percaya. Dia pikir temannya datang pagi, karena dia sudah tobat. Karena biasanya dia datang saat kelas sudah mulai, namun dia selalu datang tepat ketika si dosen belum masuk kelas.
"Ya elah, gue pikir lu udah tobat."
"Buat apa gue tobat? Gue itu udah baik dari sononya, jadi buat apa gue tobat? Kalau gue tobat, berarti gue makin ganteng dong. Secara gue baik-baik gini aja udah ganteng, pa kabar kalau gue tobat? Bisa klepek-klepek lu sama gue ..."
"Serah lu dah!"
Harus Azira akui teman lelakinya itu memang tampan, buktinya saja banyak yang suka pada dirinya. Contohnya ketika dia baru mulai kuliah sudah banyak yang ingin berpacaran dengannya, baik itu seangkatan dengannya atau bahkan kakak seniornya juga.
Sedangkan teman lelakinya itu, menerima semua gadis cantik itu dengan menerima untuk berpacaran dengannya.
Azira masih ingat benar bagaimana dulu dia datang ke kelasnya pertama kali dan membuat kelasnya heboh.
Flasback On
Azira dan beberapa teman lain masih berada di depan kelas yang baru saja selesai dari jam perkenalan. Karena mahasiswi baru, jadi masih perkenalan.
Tak lama datang seorang cowok tampan, seketika semua pandangan mengarah padanya. Kenapa enggak? Wajahnya yang putih bak artis jepang itu membuat semua cewek yang lihat langsung bertanya-tanya.
Sebenarnya jadwal mulai sekolahnya sama, tapi karena suatu dan lain hal. Dia tidak ikut moss selama 3 hari, jadi pakaian kampusnya berbeda dari yang lain.
Akhirnya dia sampai di ambang pintu, sedangkan di ambang pintu ada seorang teman Azira. Dan Azira ada di samping pintu, yang saat itu juga tertarik dengan mahasiswa baru itu.
"Hai kak," sapanya ramah.
"Hallo, btw siapa lo? Tumben banget gue liat lo disini," ucap teman Azira
"Oh iya, sebenarnya dari 3 hari yang lalu udah mulai ngampus. Cuma ya karena ada sesuatu jadi di undur. Ngomong2, saya permisi masuk ya, kak."
Teman Azira itu hanya manggut-manggut saja. Dan si mahasiswa baru itu masuk kelas, tak lama teman Azira tersadar sesuatu.
"Iya."
Seketika semua orang tertawa.
"Gue itu bukan kakak, gue sama sekelas disini. Emang gue kelihatan tua ya?"
"Enggak," jawabnya cepat, "cuman kan pakaian kakak beda dari yang lain. Jadi ya, saya kira kakak ini, kakak kelas."
"Ooo gitu ..."
Lalu mahasiswa baru itu pergi ke tempat duduknya.
"Gila! Tu cowok kece banget!" ucap teman Azira itu ke temannya yang lain.
"Udah punya gebetan atau belum ya? Kalau belum si, gue mau banget sama dia kyaaa ...."
Azira hanya tersenyum mendengar percakapan mereka, karena dalam hatinya ia juga menyukai mahasiswa baru itu.
Flashback Off
Azira selalu senyum-senyum sendiri jika membayangkan itu lagi. Dan semenjak saat itu, mahasiswa baru itu menjadi sasaran para gadis untuk jadi pacarnya.
Hal lain yang Azira akui adalah dulu dia juga menyukai teman lelakinya, tapi ketika melihat dia punya pacar yang banyak membuat Azira mengurungkan harapannya. Azira merasa pasti mahasiswa itu tidak menyukainya, padahal Azira sering melihatnya diam-diam.
Azira tipe cewek yang mudah jatuh hati dengan pria humoris, tapi karena hal itu ia berkali-kali merasakan sakit hati, karena menganggap cintanya tak terbalaskan. Hingga Azira telah menutup pintu hatinya untuk kata Cinta.
Dia, cowok yang paling tampan di angkatan Azira. Namanya Arkyano Stevian. Azira sering memanggilnya, Arkya.
Beberapa waktu ini, Azira merasa dia lebih dekat dengan Arkya. Entah kenapa, tapi itulah yang dirasakan oleh Azira.
Jika saja dulu ia merasa seperti ini pasti jantungnya selalu berdebar, untungnya kini rasa sukanya pada Arkya sudah berkurang atau lebih tepatnya ia menganggap Arkya hanyalah temannya. Jadi, Azira selalu bisa bersikap formal pada Arkya.
Tak lama kemudian mahasiswa lain mulai masuk, dan dosen pun masuk kelas.
"Selamat pagi Anak-anak," sapa dosen itu.
__ADS_1
"Pagi," jawab semuanya.
"Baiklah, kali ini kita tidak belajar tapi akan melakukan test untuk menguji kemampuan kalian dalam mengingat dan memahami materi yang sudah Pak sampaikan sebelum-sebelumnya. Jadi sekarang jangan ada yang buka buku atau handphone, siapkan saja pulpen di atas meja."
Semua mahasiswa/i menuruti apa yang dikatakan si dosen, lalu pak dosen membagikan selembar kertas yang telah berisi soal.
"Sekarang kerjakan! Ingat, jangan ada yang buka hp atau buku materi kalian! Pak akan keluar karena ada rapat, jadi sebentar Pak akan kesini lagi."
"Oke, Pak!" jawab semuanya. Dan si dosen keluar.
1 menit
Kelas masih sepi.
5 menit
Masih sepi.
10 menit.
Mulai bisik sana-sini.
20 menit.
"Woi! No. 4 ini jawabannya apaan?"
"Mana gue tau, gue juga belum selesai ini kampret!"
"Eh ntar kalau udah selesai bagi contekan ya."
"Enak banget lu! Lu kira gue baek kasi lu semua jawaban. Enggak ya kelees!"
Bisikin dan sewotan itu yang dapat ditangkap oleh pendengaran Azira.
"Pssst Arkya! Lu udah selesai belum?" tanya Azira pada Arkya yang duduk di sebelahnya.
"Lo tanya gue? Udah doong, si Arkyano gituloh, yang otaknya kayak komputer bisa nampung semuanya ..." jawabnya sombong.
"Nah bagus! Kalau gitu kasi tau ya ya ya," pinta Azira dengan lembut.
"Untung gue itu orangnya baek, makanya gue bakal kasi tau jawabannya, nih." Arkyano memberikan lembar jawabannya pada Azira.
"Makasi."
"Eh Arkya! Bagi juga dong. Gue juga mau minta tu jawaban," kata seseorang setengah berteriak. Dia Ayito Kumona, panggilan Yito.
"Enak banget lu! Lu kira otak gue otak komputer? Bisa nampung tu semua?!"
"Lah kan tadi lu sendiri bilang sama Azira kalau otak lu kayak komputer."
"Itu kan sama Azira, sama elu ya laen lagi."
"Jahat banget lu jadi temen ya, dasar Dugong!"
"Lu panggil gue dugong?!"
"Iya, emang kenapa?"
"Wajah gue yang kayak artis jepang ini lu bilang Dugong! Dasar Semprol!"
"Kagak peduli gue, gantengan juga wajah gue ketimbang elu."
"Setan lu ya!"
"Iya gue setan, setan terganteng!"
Plak!
"Makan tuh sepatu gue!" Arkya melemparkan sepatu miliknya ke wajah Yito.
"Eh Raja Dugong! Soe emang lu ya! Wajah gue kotor jadinya!"
"Lu kan setan, makan tuh sepatu gue! Tenang aja, itu sepatu mahal kok. Harusnya lu beruntung tu sepatu mendarat di wajah lo, karena sepatu itu gak mau sama orang lain, maunya sama gue aja."
"Dasar temen soe!"
Tbc
__ADS_1