
Salah satu perlindungan dari kekecewaan adalah memiliki kesibukan
Ketika kamu merasa sangat terluka atas sikap orang lain, maka berdoalah kepada Allah agar kamu tidak berbuat seperti apa yang telah mereka lakukan.
Bukan hal yang mudah melepaskan atau mempertahankan apa yang semula baik tiba-tiba berubah drastis menjadi amat buruk.
Tangisan bayi melengking minta untuk di gendong. Arsy tak henti-hentinya menyenandungkan solawat untuk buah hatinya. Mendengar tangisan si kembar mbok Nah segera berlari mendekat Arsy.
"Kenapa nduk, dedeknya?"
"Gak tau mbok nangis terus dedeknya."
"Udah di kasih Asi nduk?"
"Udah Mbok."
Ucap Arsy singkat. Mbok Nah periksa bedong si kembar, ternyata si dede ngompol.
"Dedeknya ngompol nduk, risih dia minta di ganti popoknya"
Ucap Simbok. Arsy meringis malu, karna gadis itu tak terpikir sampai kesana.
Setelah Dedeknya kembali tenang, Arsy kembali mengemas barang-barang yang akan ia bawa. Hari ini gadis itu dan si kembar akan pergi dari kediaman Rama, Arsy tak ingin merepotkan pria baik seperti Rama, apalagi saat ini Rama bukan siapa-siapanya lagi, ikatannya sebagai ibar telah berakhir, setelah Arka sah menalaknya tempo hari.
"Nduk, kamu beneran mau ninggalin simbokmu ini?"
Ucap mbok Nah sedih.
"Maafin Arsy, mbok. Arsy harus pergi, Jika simbok ikut Arsyi kasian Abah Diman mbok"
Jawab Arsy. Arsy memeluk sayang simboknya itu.
"Jaga Rama ya mbok, jangan hawatirin Arsy, Arsy akan baik-baik aja, karna Arsy pergi ketempat yang tepat. Simbok tolong kasihkan surat ini ke rama kalau Rama pulang nanti dan ini foto-foto si kembar saat bersamanya. Untuk kenag-kenangan."
"Arsy pamit ya mbok, mobilnya udah jemput"
Pamit Arsy sedih. Mereka saling berpelukan sembari menumpahkan kesedihannya. Mobil berjalan melaju membelah kota kalimantan. Saat ini Arsy telah sampai di bandara. Saat Ia sedang menunggu jadwal penerbangannya.
Sementara di tempat lain tampak Sarah tengah berang pada putranya.
"Kamu gila Arka, kenapa sebelum menceraikan wanita itu kamu gak cari tau kebenarannya terlebih dahulu, Sekarang cabut gugatanmu di pengadilan agama. Mama gak rela cucu mama di besarkan Oleh mantan wanita malam"
Ucap Sarah meletup-letup.
"Maksud mama apa, Arka gak paham. Tiba-tiba mama marah membahas perceraian Arka dan anak haram itu"
Sarah geram cucunya disebut anak haram. Seketika tangan Sarah mendarat cantik di rahang putranya.
"Aya hacam apa kamu mengatai, darah dagingmu sendiri anak haram. Dia akakmu Arka, cucu mama"
Bentak sarah geram
"Maksud mama?"
Dengan geram Sarah melemparkan amplop putih hasil tes DNA cucunya. Pelan-pelan Arka membuka amplop putih itu. Netranya mulai meneliti tulisan di sana, seketika matanya membulat setelah membaca hasil tes bayi kembar Arsy.
"Ma, apa ini benar?"
"Tentu benar, mama yang melakukan tes DNA anak-anakmu. Saat hari pertama mama menjenguk Rama, ternyata hari itu bertepatan dengan hari persalinan Arsy."
"Tapi ma, Rama bilang itu anak Rama"
Sarah melotot ke arah Arka.
__ADS_1
"Jangan sembarangan kamu, Adikmu mengatakan itu karna dia kesal dengan sikapmu yang tak mengakui kehamilan Arsy"
Ucap Sarah kesal.
"Ya Allah, aku telah berdosa terhadap istriku, Aku telah menzoliminya"
Ucap Arka menyesal hingga pria itu jatuh terduduk di atas sofa. Aya mendekat duduk di samping suaminya.
"Tenangkan fikiranmu mas, semua ada jalan keluarnya. Sekarang kamu tarik ajuan permohonan ceraimu, setelah itu kita kembali ke kalimantan untuk meminta maaf pada Arsy dan membawanya kembali"
Ucap Aya memberi saran pada sang suami.
Arka tersenyum memeluk Ayasa.
"Terima kasih Sayang, kamu istri mas yang paling mengerti kondisi mas"
Ucap Arka lembut.
Rama pulang dari kantor pertambangan. Ia tak sabar ingin segera bertemu kedua keponakannya yang lucu-lucu.
"Assalamualaikum"
Ucap Rama sembari membuka pintu.
"Waalaikumsalam, udah pulang kerja to, mas Rama"
"Iya mbok, mana anak-anak mbok, kok sepi. Apa si kembar masih tidur?"
Tanya Rama heran. Biasanya jam Rama pulang, Atsy dan si kembar pasti sedang bermain di ruang tengah.
"Maaf mas, nduk Arsy sudah pergi bersama si kembar"
Ucap simbok sedih.
"Maksudnya mbok?"
Simbok akhirnya membuka amplop coklat yang di dalam surat itu hasil tulisan tangan Arsy. Rama mulai membaca surat itu dengan menahan kesedihannya. Bagaimana tidak gadis yang sangat ia cintai dan akan ia persunting pergi begitu saja dari hidupnya.
"Assalamualaikum Ram. maafin aku, jika kepergianku bersama anak-anak, membuat kamu kecewa, aku tak pantas merepotkanmu terus menerus. Terima kasih kamu telah menjadi om sekaligus ayah yang baik untuk anak-anakku. Suatu saat jika Allah berbaik hati, pasti kamu akan dipertemukan dengan anak-anak, di lain waktu. Kamu pria yang baik Ram aku doakan semoga Allah akan pertemukanmu dengan jodoh yang baik untukmu. Untuk menjaga fitna. Aku harus pergi bersama anak-anakku. Jaga kesehatanmu.Aku pamit"
Rama terduduk lesu di atas kursinya. Dadanya berdenyut nyeri. Kenapa terlalu banyak penghalangnya untuk mendapatkan cinta kakak iparnya itu. Rama bangkit dari kursinya ia berjalan menuju bekas kamar Arsy. Ia lihat ruangan yang terlihat lengang. Tangan Rama bergerak membuka lemari satu persatu, disana ia lihat semua pakaian Arsy sudah tidak ada. Ia tarik nakas di sebelah tempat tidur disana Rama menemukan bingkai foto yang didalamnya terdapat gambar dirinya yang tengah menggendong Kenzi dan disebelahnya terdapat gambar Arsy tengah menggoda putrinya.
Hari ini Arka, Aya dan Sarah kembali bertolak ke kalimantan. Untuk meluruskan duduk perkara antara Arsy Arka dan Rama. Sat mereka sampai Mereka di sambut mbok Nah dengan ramah.
"Mari masuk bu"
Ucap simbok lembut. Mereka masuk dan duduk di ruang tengah. Sementata Rama tengah tertidur pulas sembari memeluk bingkai foto.
Semenjak kepergian Arsy, Rama tampak murung, Nomor telpon janda muda itu tak lagi aktif.
Mbok Nah mengetuk pintu yang tertutup rapat.
"Mas, mas Rama. Bangun ini ada bu sarah datang"
Rama yang mendengar nama mamanya di sebut seketika bangun dari tidurnya. Pria itu bergegas membuka pintu.
"Ada apa mbok?"
Tanya Rama setengah ngantuk.
"Ada ibunya mas dan mas Arka"
Ucap simbok sopan. Rama keluar menuju ruang tengah.
"Mama, kok datang gak ngabarin"
__ADS_1
Tanya Rama herah. Kemudian pria itu melirik masnya sinis.
"Mana anak mas dek?"
Ucap Arka tak sabar. Rama tertawa sumbang menatap kakanya.
"Terlambat kamu tanyakan anakmu padaku sekatang!"
Ucap Rama sarkas.
"Apa maksudmu?"
"Dia sudah pergi bersama Arsy"
Ucap Rama dingin.
"Pergi"
Ucap mereka bertiga berbarenga.
"Kemana cucu mama perginya Rama"
Ucap Sarah tak percaya.
"Jangan tanya pada Rama, ma! Rama juga gak tau"
Jawab Rama datar.
"Kamu bohong Rama"
Ucap Arka geram sembari mencengram kemeja adiknya.
"Kamu pukulpun aku sampai mati, mas. Jawabanku tetap sama mas, aku gak tau. Heem, aku heran dengan pria sepertimu mas. Setelah kamu hinakan istrimu dengan lisanmu yang tajam itu, sekarang baru mas menyesal. Penyesalanmu sungguh terlambat mas, terimalah takdirmu dengan penyesalanmu itu"
Ucap Rama Sarkas sembari mendorong tubuk kakanya.
"Jaga ucapanmu Rama"
Ucap Sarah mengingatkan putra bungsunya.
"Kenapa ma, kalian semua sama saja piciknya, hanya memanfaatkan Arsy sebagai tumbal kalian. Kalian pikir Arsy induk kucing, yang dengan mudah memberikan anaknya pada manusia tak tau berterima kasih seperti kalian. Menghinanya, merendahkannya sesuka mulut kotor kalian saja. Baguslah Arsy pergi bersama anak-anaknya. Agar kalian semua tau pedihnya kehilangan se sesuatu yang berarti dalam hiduk lalian. Menyesallah, karna penyesalan kalian tak ada gunanya lagi"
Ucap Rama sengit. Setelah itu Rama keluar meninggalkan rumahnya sendiri. Pria itu sakit hati dengan keluarganya. Karna mereka wanita yang ia cintai perg meninggalkannya.
"Rama, mama belum selesai bicara"
Pekik Sarah kesal. Rama tak perduli ia tancap gas mobilnya ia pulang kerumahnya yang baru.
"Ini semua karna kebodohanmu Arka, lihatlah karna ke egoisamu, kamu kehilangan anak kandungmu sendiri"
Ucap Sarah geram.
"Ma, yang sabar. Mungkin dibalik ini semua Allah akan tunjukkan rencananya yang baru. Semua ini tak lepas dari takdir Allah ma!"
Ucap Ayasa mendinginkan hati mertuanya. Sesungguhnya hati Aya hancur, karna ketidak sempurnaannyalah keluarganya jadi sekacau ini.
"Maafkan Aya mas, jika Aya bisa memberikan keturunan untukmu, pastilah keadaanya tidak serumit ini"
Ucap Aya terisak ngilu. Araka terdiam mendengar ucapan Ayasa, bisa-bisanya ia lupa dengan perasaan istri tercintanya itu.
"Maafkan mas, sayang. Sikap mas tadi pasti melukai hatimu!"
Ucap Arka menyesal. Ayasa tersenyum memeluk suaminya.
"Ini sudah menjadi takdirku mas, kamu tak perlu hawatir dengan hatiku. Hatiku sudah kebal dengan takdir hidupku"
Ucap Aya lembut, sembari terus memeluk suaminya.
__ADS_1
Sementara Sarah menatap jengkel pada putra sulungnya itu.