AIR MATA CINTA

AIR MATA CINTA
#Part 10 : Mahasiswi Baru


__ADS_3

Halo guys 😁



Dari judul ceritanya udah ketebak sama alurnya ya πŸ˜†πŸ˜†



Tapi tetep aja, kalian mesti baca. Siapa tau pemikiran kalian sama alur cerita ini beda πŸ˜†



Follow akun author yak 😁



Vote cerita ini juga πŸ˜†



Komen juga kalau perlu πŸ˜‚πŸ˜‚



Happy Reading β€πŸ’™β€πŸ’™








_________________________



Pernahkah ia berpikir bahwa aku terus memikirkannya? Merindukannya? Dan memimpikannya?



Sadarkah ia bahwa gejolak rasa di hati ini membuatku di luar kendaliku sendiri? Membuat hati ini menjadi tak karuan?



Tidak. Aku yakin tidak, karena itu mustahil!



.


.


.


.


.


.


.


.


.



________________




"Eh, Arkya!" Seseorang memanggil Arkya dari pintu gerbang. Arkya yang sudah jalan hampir setengah lapangan itu langsung menoleh ke belakang, asal dari suara itu.



Dilihatnya sahabatnya sedang ada di pintu gerbang melambai-lambaikan tangannya sambil melompat kegirangan. "Woii!"



Arkya pun balas melambai sambil sesekali melompat kegirangan juga.



Siapa lagi kalau bukan Yito. Ia berlari ke arah Arkya, dan langsung merangkul sahabatnya dengan penuh kegembiraan.



"Wohoi! Girang amat Lu pagi ni. Ada apa nih?" tanya Arkya dengan senyuman mengembang di wajahnya.



"Gue ada berita menceter nih, Bro!"



"Apaan?" tanya Arkya antusias.



"Kata temen-temen dari kelas lain, bentar bakal ada mahasiswi baru, lhoo ..."



"Beneran?!"



"Iya, lah. Dan yang lebih menceter lagi, mahasiswi ini dari Korea! Udah cakep, pandai juga, katanya!"



"Buiih, mantap jiwa!" puji Arkya. "Eh btw, emang berita itu udah pasti?"



"Udah, bahkan udah mau nyebar ke seluruh kampus. Gue yakin nih, entar pasti semua cowok bakalan klepek-klepek sama tu cewek!"



"Kira-kira dia pandai bahasa Indonesia gak, ya?"



"Masalah itu, Lo jangan khawatir. Yang gue denger, dia menguasai lima bahasa, termasuk Indonesia! Mantul banget, kan!"



Arkya bertepuk tangan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa takjub dengan mahasiswi dari korea itu. "Tapi, kenapa mahasiswi itu pindah kesini?"



"Yang gue denger, dia pengen ngerasain gimana sekolah di Indonesia. Dia pengen buat perbandingan antara sekolah Indonesia dengan Korea."



"Hmm ... kalau dia pengen buat perbandingan, mungkin kampus kita gak bakalan sebanding dengan kampus di Korea. Secara Lo tau kan, Korea itu negaranya kayak gimana."



"Ya gue sih gak peduli soal itu." Yito mengaitkan kedua tangan di belakang kepalanya. "Yang penting bagi gue adalah gue bisa ketemu sama cewek Korea."



"Haih, Lo mah gitu."



"Btw, semalem Lo dateng ke acara ulang tahun temen satu kelas Lo, gak?"



"Kenapa?"



"Gak papa, harus gue akui acara ulang tahunnya keren abis. Ada acara pesta dansa juga. Pokoknya keren banget, dan Lo tau, gak? Gue semalem dansa ama cewek yang gue gak kenal, tapi gue yakin dia cakep banget!"



Arkya menanggapi ocehan temannya hanya dengan senyum simpul. "Terus ada apa lagi?" tanya Arkya kemudian.



"Oh iya, semalem kalau gak salah ada insiden juga di pesta itu. Kalo gak salah sih ya, kayaknya cuma masalah pakaian pesta cewek."



"Terus?"



"Sebenarnya gak masalah sih itu, cuma ada salah satu cewek yang pengen kasi dia hukuman. Nah Lo tau gak? Ada kejadian romatis pas si cewek itu mau nampar si cewek yang satunya!"



"Kejadian romantis?"



"Iya."



"Pas si cewek mau ditampar, lampu tiba-tiba mati. Terus datang seorang cowok yang pakein dia jas, supaya dia gak terlalu terbuka gitu. Pokoknya tu cowok, bukan cuma caranya aja yang romantis. Tapi pas dia pasangin jas, ada adegan tatap-menatap juga! Ya ampun, kok gue yang gregetan si. Kayaknya gue baper tingkat Dewa nih!"



"Untung cuma ditatap, enggak sampe dicium."

__ADS_1



"Iya juga, ya," sahutnya sambil sedikit menggangguk. "Eh, jawab pertanyaan gue. Semalem Lo dateng gak ke pesta itu?"



Terlihat Arkya seperti memikirkan sesuatu. Tapi sedetik kemudian, "Yito, Lu tas baru, ya?!" tanyanya semangat.



Dan ya, memang benar bahwa Yito menggunakan tas baru. "Oh iya, dong. Gue gitu looh, gak kayak tas Lu yang jelek kek gitu," ujarnya bercanda.



"Yeee ... tas jelek kek gini juga Lu kagak punya!" Arkya menonyor kepala Yito ke depan.



"Aduh, bisa gak sih Lo gak nonyor kepala gue?"



"Kagak."



"Ih Lu, ya ..." Yito hendak memukul Arkya, tapi Arkya malah lari, membuat keduanya terlihat seperti bermain kejar-kejaran.



* * *



Tuk



Tuk



Tuk



Tuk



Tuk



Jari telunjuk dari seorang gadis itu memukul meja yang ada di depannya hingga menimbulkan suara. Pandangannya fokus menatap jari dengan meletakkan dagunya pada tangan kiri yang ada di atas meja. Azira memang menatap jarinya, tapi pikirannya ke arah yang berbeda.



Entah kenapa, tapi pikiran Azira terus men-flashback kilas balik kejadian semalam. Mulai dari dirinya yang berdansa dengan seseorang hingga ada seseorang yang menolongnya. Azira yakin bahwa dua orang yang ia temui adalah orang yang sama. Tapi siapa namanya, dan siapa dia?



Azira menghembuskan nafas berat, entah sudah yang berapa kali Azira melakukan hal yang sama. Sedari tadi dirinya belum menemukan solusi. Azira menggerakkan bola matanya ke atas agar ia bisa melihat apa yang ada di depannya, karena sedari tadi Azira terlihat seperti menunduk. Dapat Azira lihat, bahwa Arkya dan Yito mulai memasuki kelas dengan canda dan tawanya.



"Eh, ada Azira," ujar Yito ketika melihat Azira dan menuju ke tempat duduk temannya diikuti oleh Arkya di belakangnya. "Kok sendiri, Laura mana?" tanya Yito sambil menarik sebuah kursi ke dekat Azira dan mendudukinya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Arkya.



"Kalau Laura gue gak tau, belum datang kali," jawab Azira biasa-biasa saja. Hari ini moodnya berkurang, tapi Azira berusaha agar nada bicaranya tidak berubah. Nyatanya tetap saja terdengar berbeda.



"Eh, Lo udah tau belom? Bakal ada mahasiswi baru lhoo ... dari Korea lagi," ujarnya terlihat semangat.



"Ah gue gak peduli."



"Yeee ... coba aja kalo mahasiswa pasti udah semangat empat lima!" celetuk Yito.



"Mungkin, tapi untuk saat ini, enggak," sahutnya dalam hati. "Sok tau, Lo!"



"Wleee ...."



"Azira, semalem Lo dateng ke pesta, nggak?" tanya Arkya.



"I-iya, kenapa?" tanya Azira takut-takut. Arkya mungkin akan meledeknya dengan kejadian semalam, tapi itu akan terjadi jika Arkya tahu bahwa insiden kemarin yang menjadi korban adalah dirinya. Azira tak ingin berprasangka dulu pada Arkya.




"Insiden? Jam berapa, ya? Kayaknya gue udah pulang, deh." AziraΒ  berpura-pura agar Arkya tak mencurigainya.



"Belum malem banget, si."



"Sayang banget kalo Lo udah pulang, Azira!" sahut Yito tiba-tiba.



"Kenapa emangnya?"



"Ada kejadian roman tau, uuh udah kayak berasa nonton drama."



"Gue udah bukan nonton lagi, tapi gue udah jadi tokoh utamanya!" sahut Azira dalam hati, ia hanya memasang ekpresi datar.



"Wiiih tumben kelas udah rame," ujar seseorang ketika masuk kelas. Dia, Laura. Orang yang biasanya menjadi orang pertama yang berada di kelas, kini malah menjadi orang ke empat.



"Habisnya Lo kesiangan," sahut Azira.



"Udah denger berita, belum?" tanya Laura.



"Berita soal mahasiswi baru?" tanya Yito memastikan.



"Iya!"



"Udah dong, kenapa emangnya? Lo mau cerita lagi? Udahlah gak usah, gue udah bosan dengernya dari tadi."



"Yeee ... gue pengen kasi tau sesuatu, nih."



"Apaan?"



"Lu tau gak orang pertama yang diajak sama mahasiswi itu di sekolah ini?"



"Siapa?" tanya Azira. Sebenarnya ia sedang benar-benar malas saat ini. Tapi tak baik juga jika mengabaikan teman yang sedang berbicara sesemangat itu.



"Bodo amat!" celetuk Yito. Ia benar-benar orang yang jutek jika pada Laura.



"Gue!"



"Jadi, Lo udah ketemu sama cewek dari Korea itu?" tanya Arkya.



"Udah!" jawabnya histeris. "Dan gue orang pertama yang dia kenal di sekolah ini!"



"Ooo seperti itu ..." jawab ketiganya serempak.



"Lah kok kalian gak tepuk tangan buat gue, sih?" Laura menautkan alisnya, memasang ekspresi tak setuju dan bersedekap.



"Oh mesti tepuk tangan, ya?" tanya Azira



"Iyalah!"

__ADS_1



"Waaah kalau gitu selamat buat Lo. Bisa jadi orang pertama yang ketemu sama si cewek Korea ..." ujar Azira sambil bertepuk tangan. Bukan hanya Azira tapi Arkya dan Yito juga ikut bertepuk tangan. Rupanya mereka kompak dalam berdrama.



"Iya dong," jawabnya berlagak keren.



"Udahkan dramanya? Gue mau ke kantin," ujar Arkya sambil beranjak bangun.



"Gue ikut," sahut Yito.



"Eh, woi! Kelas bentar lagi mau mulai. Kalau Lu berdua ke kantin ntar dosen keburu masuk!" teriak Azira.



"Tenang aja, Azira. Emang Lo pernah lihat gue terlambat? Enggak, kan. Jadi, kali ini pun sama gue gak akan ter--"



Bruukk!



"Aduh!"



Belum saja Arkya menyelesaikan perkataannya, ia sudah terpeleset lebih dulu karena lantai yang licin. Pada akhirnya Arkya ditertawakan oleh Yito, Azira dan Laura.



"Ppfffft hahaha... gimana sih, Lo? Masa jalan aja sampe kepleset? Udah lupa cara berjalan Lo?" ledek Yito sambil tertawa lebar.



"Salahin lantainya, kenapa pake licin segala," sahut Arkya sambil mengelus pantatnya yang sakit.



"Arkya, mendingan lain kali Lo gak usah jalan aja, ngesot lebih baik biar gak kepleset. Hahaha ..." tawa Azira setelah meledeki Arkya dari jauh.



"Temen bukannya dibantuin, malah di ledekin. Emang soe Lu semua, ya!" ujar Arkya mulai marah.



"Are You okay?" tanya seorang gadis.



"Haaa?? Siapa tuh?" tanya Azira dan Laura, mereka memiringkan kepala dengan pandangan menuju ke pintu, melihat siapa yang berbicara tadi.



"Gila!" ujar Arkya dan Yito bersamaan.



"Oh, i'm sorry. Kamu gak papa?" tanyanya lagi.



Arkya menggelengkan kepalanya pelan. "I'm fine."



Gadis yang semula berada di ambamg pintu itu berjalan ke arah Arkya dan jongkok di samping Arkya. "Biar saya bantu Kamu berdiri," ujarnya memegang lengan kiri Arkya hendak membantu.



Arkya melepas pegangan gadis itu halus, sembari berkata, "Tidak perlu, aku bisa sendiri."



"Okay."



Arkya berdiri sambil mengusap-ngusap pakaiannya. "Kalau boleh tau, nama Kamu siapa?"



"Saya Anshela Thifera dari Korea, kalian boleh panggil saya, Shera."



"Dari korea?!" tanya Azira, Yito dan Arkya terkejut.



"Yups, hehe ...." jawabnya dengan senyuman yang terukir di bibir pink nan mungilnya.



Azira dan Laura langsung menghampiri Shera.



"Shera, akhirnya Kamu sampe di kelas ini. Siapa yang kasi tau?" tanya Laura semangat.



"Guru."



"Kenalin, Shera. Ini Azira, Yito, dan Arkya." Laura memperkenalkan mereka sambil menunjuk orangnya ketika menyebutkan nama mereka.



"Salam kenal," ujar Shera sedikit membungkuk membuat rambutnya yang berwarna coklat madu yang sudah sampai sepinggul dan ikal itu terurai ke depan.



"Ehehe ... salam kenal juga," ujar ketiganya kikuk.



"Shera, Kamu cantik banget!" puji Yito semangat.



"Thanks."



"Shera, sini aku antar ke tempat Kamu duduk," ajak Yito.



"Oke."



Shera pun diajak ke salah satu bangku. "Disini aja, di samping aku." Yito memberikan sebuah kursi di sebelah kirinya.



Sejenak Shera nampak berfikir, tangannya mengetuk-ngetuk dagunya yang putih dan bersih. "Tidak, saya mau duduk disini saja. Ini membuat saya lebih dekat dengan kalian semua," ujarnya sambil memilih bangku di sebelah kanan Yito.



"Oh okay," jawab Yito pasrah.



"Arkya, Kamu duduk dimana?"



"Aku duduk tepat di sebelah kananmu. Di sebelah kananku ada Azira, lalu di sebelah Azira ada Laura."



"Bagus, dapat duduk disini memang cocok."



"Tentu saja," sahut Arkya.



Shera menanggapi perkataan Arkya dengan menyunggingkan senyuman gembira.




Tbc ....




Maaf kalau namanya Shera gak bagus. Soalnya author bingung mau kasih nama apa, maklum author gak pernah nonton drakor.



Btw, jangan lupa vote, follow dan komen πŸ˜†πŸ˜†



Love you all πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€πŸ’™β€




__ADS_1


__ADS_2