
Maaf yo udah buat kalian nunggu lama sama cerita ini 😣
Bukannya author udah gak peduli dan berhenti 😢 tapi author masih fokus sama satu cerita author yang readersnya udah ribuan. Makanya author lebih sayang cerita itu 😘😘
Jadi, kalau pengen gak nunggu lama. Di vote terus ya ceritanya... 😍
Ikuti terus cerita ini juga 😆😆
Happy reading 😀😀
_______________________________
Kenapa kita terus bersama?
Walau aku tahu kita hanya sahabat, tapi apakah hati ini bisa dikatakan seperti itu?
Tidak!
Semakin hari, hatiku mulai tak bisa aku kendalikan, walau sudah berusaha kukontrol dan kutepis. Tetap tidak bisa.
Aku tahu kita hanya sahabat, dan sampai kapan pun akan tetap seperti itu.
Jadi, tidak ada gunanya bagiku untuk berharap lebih ....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
___
Hari ini, jam kuliah Azira telah selesai. Dan kini, Azira tengah menuju ke pintu gerbang kampus. Raut wajahnya terlihat sendu, terlihat seperti orang yang punya banyak pikiran. Ya, Azira memikirkan perasaannya.
Azira menghembuskan nafas lelah. Apakah yang ia lakukan tadi benar? Membohongi Arkya bahwa bukan dia yang ditatap? Sepertinya itu salah, tapi ia juga tak mau mengakuinya. Azira tahu alasan yang dimilikinya mungkin kurang jelas, tapi ia benar-benar tak bisa mengakuinya.
Setelah sampai di luar sekolah, Azira melihat sekeliling, mencoba mencari taksi ataupun angkutan umum lain. Hari ini Azira malas membawa motor.
Sampai seseorang berhenti di depan Azira, dengan menaiki motor Ninja-nya sudah bisa ditebak siapa pemilik motor itu.
Arkyano Stevian.
Arkya membuka kaca helm agar Azira dapat melihat wajahnya. Sebenarnya walau tidak dibuka, Azira sudah tahu siapa dia. "Azira, pasti lagi cari angkotkan?" tanyanya dari atas motor tanpa mematikan mesin motornya.
"Iya."
"Sini, bonceng sama gue, aja."
"Gak mau."
"Kenapa?"
"Pengennya naik angkot."
"Bagusan juga naik motor gue, angkot kan gak enak baunya."
"Tapi gue kan gak masuk angin kalo naik angkot. Kalau naik motor kan, masuk angin."
"Ya udah kalo gitu Lo peluk aja gue. Kan gak masuk angin."
"Ih makin gak mau gue pulang sama Lo." Azira memalingkan wajahnya kesal dan bersidekap.
"Ya jangan gitu lah, gue kan kasi saran yang baik biar Lo gak masuk angin."
Azira diam tidak menyahuti pernyataan Arkya. "Lo mau gak bareng sama gue?" tanyanya lagi, karena tidak mendapat jawaban.
Awalnya Azira ingin menolak, tapi setelah ia amati sekeliling, sepertinya tidak ada angkot yang lewat. "Iya, iya."
Azira berjalan ke arah Arkya dan menerima pemberian helm yang Arkya berikan, lalu memakainya dan naik ke motor Arkya.
"Udah?" tanya Arkya.
"Udah."
Arkya langsung memasukkan gigi pedalnya dan menarik gas motor perlahan. Motor Arkya pun melaju kencang di jalan raya di tengah ramainya kendaraan.
* * *
Sudah setengah perjalanan, tapi Arkya dan Azira tidak ada yang membuka pembicaraan. Sedari tadi hanya suara kendaraan roda dua dan empat yang membuat bising.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Arkya berharap agar Azira mengakui bahwa dialah yang ia lihat tadi. Namun sepertinya itu tak mungkin, mungkin saja tadi itu memang bukan Azira. Lalu bagaimana dia bisa mengakuinya?
Sedangkan Azira menggigit bibir bawahnya, ia sangat ingin mengatakan sebuah kebenaran. Tapi entah kenapa rasanya sulit sekali.
Tak lama Arkya menepi dan berhenti di sebuah toko. "Kenapa turun disini?" tanya Azira heran, setelah melepas helm di kepalanya.
"Beli sesuatu, Lo tunggu aja disini." Setelah mengatakan itu Arkya langsung masuk, sembari membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Tak lupa dengan helm yang sudah ia letakkan di atas motor.
Setelah lima menit menunggu, akhirnya Arkya keluar dari toko itu.
"Nih." Arkya menyondorkan sebotol minuman buah untuk Azira.
"Buat apa?" Azira menerima pemberian minuman Arkya.
"Buat mandi! Ya buat diminum, lah."
"Gue juga tau! Maksudnya, kenapa Lo beliin gue juga?"
"Emang kenapa?"
"Gue gak bawa duit buat kembaliin duit Lo."
"Ya gak papa kali, lagian harganya juga lima ribuan."
"Ya udah, berarti gue beruntung!" Azira menatap dengan berbinar minuman di tangannya.
"Dapat minuman aja, senangnya kayak dapat berlian," ledek Arkya yang duduk di atas motor, membuka tutupnya dan meneguk minuman itu.
"Ih meskipun hanya minuman, tapi ini berguna juga."
"Ah!" Arkya merasa segar setelah dahaganya hilang berkat minuman buah yang diminumnya. Lalu menyahuti perkataan Azira, "Ya iyalah, selain buat hilangin haus, minuman itu juga pemberian dari gue."
"Ini bukan pemberian dari Lo, ya." Azira mengatakannya untuk mengingatkan, lalu meneguk minuman itu.
"Lu lupa ingatan atau gimana si? Udah nyatanya tadi gue yang nyondorin minuman itu ke Elo. Masih aja Lo bilang itu bukan dari gue."
__ADS_1
"Emang bukan dari Elo, kan."
"Ni anak kayaknya minta kepalanya dijedot ke tembok, nih." Arkya mulai kesal, sepertinya ada masalah dengan otak temannya ini.
"Lah, kenapa?"
"Ya Lo cepet banget lupa ingatannya, baru aja beberapa menit yang lalu gue kasi Lo minuman. Dan sekarang Lo bilang itu bukan dari gue!"
"Emang bener kan, minuman ini bukan pemberian dari Lo."
"Terus dari siapa? Dari pohonnya? Yang langsung memproses sendiri, membuat kemasan botolnya sendiri, dijual sendiri. Sampai tiba ke tangan Lo, gitu?"
"Bukanlah."
"Lah terus dari siapa?"
"Dari pabriknya."
"Kok bisa? Kan gue yang kasi ke Elu."
"Sebelum sampai ke tangan Lo, kan pabriknya yang kasi ke toko ini, terus Lo beli dan Lo kasi ke gue."
"Berarti itu udah gue yang kasi, bukan pabriknya. Karna udah gue beli!" Arkya mengepalkan tangannya greget.
"Tapi kalau bukan pabriknya yang bikin, Lo gak akan bisa beli."
"Auah, males gue ngomonginnya. Udah cepet naik!" Arkya melempar botol minuman yang sudah kosong ke tong sampah.
"Tapi, minuman gue belum habis."
"Di jalan minum."
Mendengar itu Azira kesal dengan memayunkan bibir bawahnya. Dan naik ke atas motor.
____
"Arkya, jalan motor lo emang kayak gini, ya?" tanya Azira. Sudah sekitar sepuluh menit mereka berkendara, tapi Azira merasa aneh dengan motor Arkya.
"Kenapa? Jalannya kayak naik tikar terbang milik aladin, ya?" tanyanya kepedean, karena merasa jalan motornya halus seperti terbang.
"Bukan, tapi kayak di bebatuan."
"Bebatuan dari mana? Wong jalannya mulus kayak gini, kok."
"Ih beneran ini! Emang Lo gak ngerasain, jalan motor lo kayak ada ngeganjal gitu di bannya?"
"Kagak," jawabnya polos.
"Ah masa sih?"
"Lu habis nonton apa tadi? Atau Lo habis liat apa? Sampe ngebayangin ni motor kayak ada yang ngeganjel?"
"Kagak ada."
"Oh! gue tau, Lo pasti habis nonton horor. Terus Lo kira hantu itu yang ngeganjel ban motor gue, makanya Lo rasain aneh. Padahal itu cuma khayalan Lo, aja."
"Ih sumpah, ini beneran! Gue juga gak nonton film horor, kok!"
"Ya udah, gue menepi dulu," jawabnya pasrah. "Lo bisa gak kalau pas ngomong jangan ngegas?"
"Ya Lo si, habisnya udah dibilangin malah ngeyel."
"Iya, Tuan Putri." Raut wajah Arkya menjadi cemberut, ia pasti akan kalah kalau adu mulut dengan gadis ini.
"Tuh kan! Apa yang gue bilang!" pekik Azira hampir histeris, merasa bahwa apa yang dikatakannya tadi benar.
"Emang tadi Lo bilang apa?" tanyanya polos.
"Motor Lo itu ada yang salah."
"Enggak ada."
"Ada."
"Enggak ada, Azira. Tadi Lo cuma bilang ban motor gue kayak ada yang ngeganjel. Nah sekarang, Lo malah bilang kalau motor gue ada yang salah."
"Ih sama aja, kali."
"Beda lah."
Ingin rasanya Azira meledak saat itu juga, lawan bicaranya ini benar-benar memakai logikanya. Jika bisa dilihat, mungkin wajahnya sudah memerah karena amarahnya sudah layaknya air mendidih. Ia benar-benar geram.
"Ish! Gue tonjok kepala lu baru tau!"
"Nanti aja. Jadi, ini motor gue apanya yang salah?"
"Ban motor lo bocor."
"Yah, kok bisa?"
"Mana gue tau."
"Yaudah lah, kita cari tempat tambal aja."
"Di tempat tambal ban yang kemarin, aja. Lokasinya kayaknya di sekitar sini."
"Yaudah, bantuin gue dorong, ya?"
"Karna gue udah Lu bonceng setengah jalan, dan karna Lo udah beliin gue minuman. Jadi, gue gak mau berhutang sama Lo. Karena itu, gue bakal tolongin Lo dorong motor."
"Kalau gue gak lakuin itu semua?"
"Gue bakal tinggalin Lo, dan cari angkot atau taksi, aja."
"Kok Lo jahat banget, si?"
"Gue gak jahat, kok. Gue hanya ngelakuin apa yang harusnya gue lakuin."
"Bla bla bla bla bla ... gue gak peduli! Sekarang bantuin gue dorong ni motor!" Arkya merajuk dan langsung mengambil posisi di depan untuk mendorong motornya
"Dengan senang hati akan saya turuti, Yang Mulia, pffft ...." Azira berusaha menahan tawanya, melihat ekspresi Arkya yang seperti itu.
____
"Aduuuh ... motor lo kok berat banget, si?" keluh Azira di belakang yang sudah nampak kelelahan mendorong motor. Sudah lama mereka mendorong, tapi mereka masih belum menemukan tempat tambal ban.
"Mana gue tau. Lagian ya, beruntung Lo dorongnya sama gue kan gak lebih berat," sahut Arkya yang mendorong dari depan.
"Yeee ... ini motor siapa? Motor Lo. Harusnya gue yang bilang kayak gitu, bukannya Elo."
"Di suruh bantuin dorong aja protes, coba kalau di kasi tumpangan. Langsung bilang, iya. Nggak perlu mikir dua kali."
__ADS_1
"Eh, tadi gue masih ragu ya. Coba aja tadi ada angkot yang lewat, lebih milih angkot gue."
"Alesan Lu."
Azira cemberut. Namun, entah kenapa, hati Azira bersyukur bahwa tidak ada angkot yang lewat sehingga ia bisa bersama Arkya. Walau kini ia harus mendorong motor Arkya, itu bukanlah masalah besar untuknya. Sekarang, bagi Azira kebersamaan yang lebih penting.
Sedangkan Arkya, walau gadis di belakangnya ini terus-terusan protes tentang motor miliknya, ia tidak peduli. Bagi hatinya, itu sangat enak didengar dan membuat hatinya bahagia, sehingga bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan senyum manisnya, meskipun secara diam-diam.
___
Akhirnya mereka sampai di tempat tambal ban. "Pak, tolong tambalin ban motor saya ya, Pak, hah hah ...." ujar Arkya sedikit ngos-ngosan kepada tukang tambal ban.
"Siap, Mas. Ban yang mana?" tanyanya sambil menghampiri Arkya.
"Ban yang di belakang ya, Pak."
"Oh, oke. Mau di tunggu atau?"
"Di tunggu aja, Pak."
"Iya, Mas duduk aja dulu."
Arkya mengangguk, lalu menoleh ke belakang ke tempat Azira berada. Dan memberi isyarat seperti memanggilnya. Azira mengangguk dan berjalan ke arah Arkya. Lalu Arkya mengajaknya untuk duduk.
"Aduuh, perut gue laper," keluh Azira sambil memegangi perutnya setelah mereka duduk.
"Ya udah, kalo gitu habis ini kita cari warung makan, aja."
"Setuju! Tapi, Lo yang traktir, ya? Uang jajan gue habis ...." pintanya memelas.
"Iya, iya."
Setelah itu, tak ada yang berbicara. Keduanya saling diam. Arkya mengketuk-ketukkan kakinya ke lantai, sehingga menimbulkan suara agar tidak terlalu sunyi. Sedangkan Azira bersenandung pelan.
Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya ban motor Arkya telah selesai di tambal. "Mas, udah selesai, nih," ujar tukang tambal memberitahu.
Arkya dan Azira langsung bangun dari duduknya. "Gue duluan ke tempat motor Lo, ya? Lo urus aja pembayarannya," ujar Azira.
"Siap!"
Azira langsung menuju ke tempat motor Arkya berada, sedangkan si pemilik masih membayar ongkos menambal bannya.
Tak lama kemudian, handphone Azira berbunyi.
Azira melihat nama yang tertera di layar handphone-nya, ternyata dari mamanya. Azira menekan gambar telepon berwarna hijau dan menempelkan handphone-nya ke telinga kiri. "Hallo? Kenapa, ma?" tanya Azira kepada orang yang menelfon, yang tak lain adalah mamanya.
"Azira, kamu cepetan pulang, ya? Mama ada acara kumpul-kumpul sama temen mama. Jadi, kamu cepetan pulang."
"Emang kaitannya sama Azira, apa?"
"Mama pengen ajak kamu."
"Ih gak mau ah, males."
"Mama gak terima penolakan, pokoknya kamu harus ikut! Mama tunggu dirumah!"
Tut.
Sambungan terputus.
Azira berdecak sebal karena mamanya begitu memaksanya untuk ikut, padahal itu acara mamanya. Namun, kenapa ia juga disangkut-pautkan. Perasaannya mulai tak enak.
Azira menoleh ke Arkya yang masih mengobrol dengan tukang tambal ban. Azira berjalan menghampiri Arkya berniat memberitahu bahwa ia tidak bisa ikut makan.
"Arkya, sorry ya gue gak bis--"
Pluk!
Saat Azira tiba di belakang Arkya. Secara tak sengaja, Azira tersandung dengan kakinya sendiri, membuatnya hendak jatuh ke depan. Namun, di detik yang sama Arkya berbalik dan menangkap tubuh Azira yang langsing.
Pada akhirnya, posisi mereka saat ini seperti berpelukan. Bukan seperti lagi, melainkan sudah berpelukan.
Azira yang awalnya menunduk takut sambil menutup mata, kini berusaha untuk membuka matanya dan menoleh ke atas.
Deg!
Mata keduanya bertemu, Azira menatap lekat mata Arkya yang hitam pekat, sangat lekat. Sedangkan Arkya yang terkejut tiba-tiba menatap dalam mata Azira, sangat dalam.
Selang beberapa detik keduanya saling tatap menatap, tak peduli dengan sekitarnya.
"Ekhem." Si tukang tambal ban berdehem. Sontak membuat keduanya melepas pelukan dan kikuk seketika.
"Udah selesai kan Mas, urusannya? Saya tinggal dulu," ujar tukang tambal ban.
"O iya, Pak. Makasi," jawab Arkya sedikit menunduk, ia salah tingkah.
Setelah itu, tukang tambal pergi.
"Yuk, pulang," ajak Arkya sambil menggandeng tangan Azira.
"Gue langsung pulang, ya?"
"Loh, gak jadi makan bareng?"
"Enggak, tadi mama gue telfon. Katanya, di suruh cepetan pulang."
"Kenapa?"
"Ada sesuatu."
"Ya udah, gue langsung anterin Lo pulang kalo gitu."
"Oke, kuy!"
"Kuy!"
Dalam benak keduanya tersirat kekecewaan. Kekecewaan yang keduanya tahu, mengapa rasa kecewa itu ada. Meski awalnya jantung Azira berdegup cepat, karena pelukan tadi. Namun kini, rasa kecewa lebih mendominasinya, sehingga ia tidak begitu gugup.
Tidak mengapa, Tuhan pasti akan mengganti waktu makan bersama mereka yang tertunda.
~Tbc~
Entah kenapa pas author baca ulang ni cerita sebelum up, kok malah ngebayangin si Jeki sama Marissa di sinetron Cinta Anak Muda, yak? 😂
Waah author mulai gak bener niih 😂
Jangan lupa kasi votenya yaaa 😍😍
Biar author lebih semangat 😃😃
__ADS_1