
Author kembaliiii ππππ
Membawa cerita yang penuh suka dan duka// eh lebay
Jangan lupa follow π// etdah gak bosen apa ngingetin terus// enggak dong π
Vote dan komen juga yak ππ
Happy reading πβ€πβ€
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bolehkah jika aku merasakan perasaan itu lagi?
Perasaan yang terkadang membuatku merasa senang, perasaan yang mampu membuatku seperti terbang ke langit ke tujuh?
Masalahnya, aku takut jika aku telah terbang. Aku malah terjatuh lagi ....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
________
"Semuanya, jangan ada yang keluar dulu! Gue mau kasi kalian semua sesuatu," ujar seorang gadis. Dia berteriak dengan posisi berdiri itu sesaat setelah si dosen keluar.
"Mau ngapain si?" sahut salah seorang mahasiswa tidak suka.
"Ini penting tau, gak?! Pokoknya Lu semua jangan ada yang keluar dulu," jawab gadis tadi.
"Haduuuh ... cepetan, gue udah laper!"
"Ih heran deh gue, yang lain aja gak sewot kok, kenapa Lu yang sewot?!" protes gadis tadi sembari menuju ke salah satu siswi yang duduk di depan. Dan menyondorkan sebuah kertas, jika dilihat kertas itu seperti kertas undangan. "Nih, buat Lo."
"Apaan, nih?" tanyanya sembari mebolak-balik kertas itu.
"Ini undangan," jawabnya sambil memberikan satu persatu undangan kepada para mahasiswa atau mahasiswi.
Setelah membagikan undangan itu ia berjalan ke depan dan berbalik menghadap semuanya. "Pokoknya kalian semua harus datang ke pesta ulang tahun gue!"
"Jadi ini undangan ulang tahun Lo, gue kira ini undangan nikahan," sahut salah satu mahasiswa lagi.
"Lama-lama bibir Lo gue sumpel pake sepatu gue, ya!"
"Ih galak amat, sih? Gue doain supaya Lo gak nikah-nikah, ya!"
"Iiih udahlah, diem! Ingat Lo semua harus datang! Acaranya malam ini, terus di pesta gue ada acara dansa tapi mukanya ditutup pake topeng. Pokoknya seru, deh!"
"Kalau gue datang gak bawa hadiah gak papa kan, ya?"
"Iya, gak papa. Ya udah sekarang kalian boleh keluar."
"Jadi dari tadi Lo nahan kami cuma buat bagi undangan ini doang?"
"Ya iyalah!"
"Kenapa mesti nahan? Kan bisa di luar jam Lo kasi."
"Gue gak mau keliling-keliling, cari kesana-kemari. Cuma buat kasi undangan aja. Jadi ya sekarang aja gue kasi."
"Ah Lu! Lo udah ngambil waktu gue dua puluh menit!"
"Kalau gue gak ngambil waktu Lo, Lo gak bakal dapat undangan dan Lo juga gak tau kalau gue ulang tahun!"
"I Don't Care!" Setelah berdebat panjang dengan si gadis, mahasiswa itu bangun dan beranjak keluar kelas.
Lalu si gadis beralih melihat teman-teman yang lain, ternyata sedari tadi teman-temannya menjadi penonton di perdebatannya. "Lo semua liat apa?! Kenapa gak keluar, cepet keluar semuanya!"
Dengan polosnya semua orang langsung keluar kelas dan tak berkata apapun, meski si gadis tadi mendengar sedikit bisikan yang berisi umpatan untuknya.
"Azira, nanti Lo dateng, gak?" tanya Arkya, ketika mereka berjalan ke luar kelas.
"Gak tau juga si, gue masih bingung," jawab Azira yang kini berjalan di samping kiri Arkya.
"Kok gitu?"
"Iya, gue gak tau ntar dikasi apa gak sama nyokap gue."
"Ya udah, ntar kalo Lo dikasi. Kabarin gue, ya?"
"Buat apa? Emang kalo gue datang, Lo datang? Terus kalo gue gak datang, Lo gak datang juga?"
Arkya memasang ekspresi pura-pura berpikir. "Bisa jadi," jawabnya setelah beberapa saat.
"Udahlah, Lo jangan ikut-ikutan. Kalo Lo mau datang, ya datang aja."
__ADS_1
"Siapa juga yang ikut-ikutan, gue kan bilang, bisa jadi. Bukan, gue ngikutin Lo. Gimana sih?"
"Udah deh, terserah Lo."
________
Di sinilah Azira sekarang, Azira baru saja keluar dari taksi dan berdiri di depan rumah temannya. Rumah tempat acara ulang tahun temannya berlangsung. Rumah itu terdiri dari dua tingkat dengan beberapa jendela di lantai dua dan lantai bawah. Di lantai dua juga terdapat balkon yang sudah dihias dengan lampu warna-warni. Bukan hanya di balkon, tapi hampir seluruh rumah dihias dengan lampu, balon, bunga, poster ucapan selamat ulang tahun dan berbagai macam hiasan lainnya.
Azira menggunakan baju dress mini selutut yang berlengan pendek, di bagian roknya sedikit mengembang dan terdapat hiasan kain brokat. Warna pakaiannya kini biru tua. Tak lupa dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai.
Azira melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam, sebelum masuk Azira mengambil sebuah topeng yang berwarna senada dengan bajunya. Seperti yang dikatakan temannya, acara kali ini harus menggunakan topeng.
Baru saja Azira masuk ke dalam ruangan, ia sudah disambut dengan pelukan oleh sahabatnya. "Halooo ... Azira!" ujarnya semangat sambil memeluk Azira.
"Haloo ... Selamat ulang tahun, ya!" ujar Azira sambil memberikan sebuah kado pada temannya. "Kok bisa tau kalau gue, Azira?"
"Iya, dong. Masa teman sekelas gak dikenalin si. Teman macam apa gue, ya kan? Haha ..." tawanya lebay dan dibuat-buat. "Oh ya, makasih buat hadiahnya. Yuk, masuk."
"Oke."
Acaranya berlangsung selama beberapa saat kemudian, pesta ulang tahunnya benar-benar meriah. Dapat Azira lihat bahwa temannya itu terlihat sangat gembira.
"Nah, karena acara intinya udah selesai. Sekarang kita masuk ke acara berikutnya. Yaitu acara pesta dansa!"
"Wuuw!" Seketika semua orang bertepuk tangan dan berteriak senang.
"Sekarang, ikuti gue. Kita akan ke lantai dansa."
Mereka semua akhirnya mengikuti gadis yang menjadi pemimpin di acara ini. Dan tibalah mereka di lantai dansa, semua orang membentuk melingkar dengan si gadis ada di tengah lantai dan satu lampu sorot yang mengarah padanya.
"Oke, jadi di acara ini lampunya akan dimatikan. Dan kalian harus memilih pasangan kalian buat diajak berdansa dalam keadaan gelap. Setuju?"
"Setuju!!"
"Oke, siap, ya?"
"Siaaap!!"
"Sip." Gadis itu menjetikkan jarinya dan seketika lampu mati.
Semua orang langsung riuh dan mencari pasangan mereka, sedangkan Azira ia tidak tahu siapa pasangannya. Dirinya bahkan sempat beberapa kali terdorong karena orang-orang tengah berjalan kesana-kemari. Azira linglung, ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan? Haruskah ia mencari pasangan juga? Tapi, siapa?
Bruukk!
"Aah!"
Sedikit lagi, Azira terjatuh ke belakang karena dirinya terdorong. Namun ... seseorang menggenggam tangannya erat. Dirinya bahkan masih di posisi yang sama, di posisi yang sudah hampir jatuh itu.
Orang itu langsung menarik Azira ke dalam dekapannya. Dan ya, mata mereka masih terkunci.
Di saat yang sama, lampu sorot hidup menyinari masing-masing pasangan yang ada di lantai dansa. Dan musik dimainkan.
Orang itu mengajak Azira berdansa mengikuti alunan musik yang pelan. Sejak tadi mata mereka masih terkunci dan belum teralihkan.
"Siapa, Kau?" tanya Azira pelan.
Orang itu tidak berbicara. "Apakah dia tidak bisa bicara?" batin Azira. "Hei, siapa Kau?"
Orang itu tersenyum, ia masih belum menjawab pertanyaan Azira. Namun senyuman itu berhasil meluluhkannya, benar-benar manis. Jantung Azira mulai berdegup kencang. Apa ini? Apakah Azira akan merasakan perasaan itu lagi? Dengan orang yang baru ia temui di mana Azira sendiri belum tahu wajahnya?
Keduanya kembali fokus pada musik yang masih dimainkan. Dan mata mereka masih setia saling tatap, Azira kini juga menyunggingkan sebuah senyuman. Hatinya kini seperti melayang meski jantungnya masih berdegup kencang. Bukan hanya Azira tapi orang itu juga menyunggingkan senyum manisnya. Ditambah dengan alunan musik yang begitu mendukung suasana hatinya saat ini.
Akhirnya musik berhenti dimainkan dan orang itu pergi. "Hei!" panggil Azira. Azira heran kenapa ia tiba-tiba pergi begitu saja. Padahal Azira masih ingin dengannya. Azira bahkan belum mengetahui namanya atau bahkan belum berbicara dengannya.
"Kuharap, kita bertemu lagi ...." gumam Azira senang.
Azira melangkahkan kakinya menuju meja yang berisi makanan, entah kenapa tapi setelah pesta dansa tadi Azira ingin makan sesuatu. Azira terus saja senyum-senyum, Azira merasa dirinya masih terbang ke langit ke tujuh.
Bruukk!!
Tak sengaja Azira menabrak seorang gadis yang memakai topeng merah muda, gadis itu nampak shock setelah minuman yang dibawanya tumpah ke bajunya karena bertabrakan dengan Azira. Azira yang melihatnya juga terkejut, ia benar-benar tak sengaja.
"Oh my God!" ujarnya menahan amarah.
"Sorry, gue gak sengaja," ujar Azira cepat-cepat sebelum orang itu marah besar padanya. Sayangnya, kata maaf Azira sepertinya tidak berkesan pada gadis itu.
"Apa? Maaf? Apa kata maaf Lo itu bisa balikin baju gue seperti semula?"
"Sorry, gue bener-bener gak sengaja tadi." Azira memasang wajah khawatir.
Gadis itu memutar bola matanya sinis. "Sayangnya, gue gak bisa terima maaf Lo itu!" hardiknya sambil mendorong bahu Azira sebelah kiri dengan telunjuknya.
Emosi Azira pun mulai memuncak. "Eh! Gue udah minta maaf baik-baik sama Lo, terus maksud Lo dorong bahu gue itu, apa!? Gue emang salah karena udah nabrak Lo, tapi Lo jangan kek gini, lah. Pengen buat gue takut? Sok banget Lo jadi orang!" Kini giliran Azira yang mendorong bahu kiri gadis itu, bahkan gadis itu hampir saja terjatuh kalau tidak ditangkap oleh teman-temannya.
"Apa Lo dorong-dorong bahu gue!? Harusnya Lo tu tanggung jawab, bukannya ngegas!"
Azira menahan emosinya, jelas-jelas dia yang duluan ngegas dan kini malah Azira yang disalahkan. "Oke, gue bakal tanggung jawab! Cepet bilang, gue mesti tanggung jawab apa?"
"Kalau baju gue kotor, maka baju Lo juga harus kotor!" Dengan segera gadis itu langsung menumpahkan minuman ke dress Azira. Azira menahan emosinya, Azira membiarkan apa yang dilakukan oleh gadis itu. Karena Azira juga tak mau memperpanjang masalah ini.
Untungnya warna dress Azira juga tidak terlalu terang, jadi warna minuman yang tumpah juga tidak terlalu kelihatan.
__ADS_1
"Udah selesai, kan? Gue mau pergi!" Baru saja selangkah Azira berjalan, dirinya sudah ditahan oleh gadis itu lagi.
"Eits, tunggu dulu ...."
"Apa lagi, si?!"
"Keknya minuman itu gak berkesan deh buat Lo. Tuh, warna minumannya gak keliatan di baju Lo. Itu artinya sama aja kayak gak terjadi apa-apa, kan?"
"Ya itu kan karena warna dressΒ yang gue pake, gimana sih?"
"Nah itu dia masalahnya." Gadis itu mulai memutari tubuh Azira. "Kalau minuman yang tumpah itu keliatan banget di baju gue, sedangkan di baju Lo nggak. Berarti Lo harus terima hukuman lain. Dan hukuman itu harus terlihat jelas, kayak noda minuman yang ada di baju gue." Gadis itu berhenti di depan Azira setelah memutari Azira beberapa kali.
"Jadi hukuman, apa?"
Gadis itu tersenyum sinis penuh dengan kelicikan. "Dengan ini!"
Sreeet!
Tangan gadis itu dengan cekatan merobek lengan dress Azira sebelah kiri. Dengan cepat Azira menutupi bahu kirinya dengan tangan. "Maksud Lo apa ngerobek lengan dress gue!?"
"Cuma itu satu-satunya hukuman buat Lo. Dan cuma hukuman itu yang terlihat!"
"Lo ini!!" Azira ingin sekali memukul gadis itu, tapi rekan wanitanya dengan segera menolongnya.
"Lo gak akan bisa nyakitin temen kita!"
"Minggir Lo semua! Ini urusan gue sama dia!"
"Urusan dia urusan kami juga!"
"Heh ... nikmatin aja pesta ini. Dengan baju yang kayak gitu! Hahaha ... yuk guys!" Gadis itu pergi bersama dengan rekannya. Azira menatap nanar kepergian para gadis itu. Teganya mereka! umpat Azira dalam hati. Untung saja mereka tidak sekelas dengannya, karena Azira tidak akan mau punya teman sekelas seperti itu.
Sekarang bagaimana? Lengan kiri dress Azira sudah sobek, jika Azira tidak menutupi bahu kirinya dengan tangan. Maka sama saja ia mengumbar auratnya di pesta itu. Azira memutuskan untuk langsung pulang, tapi ... untuk menuju pintu keluar ada banyak sekali orang di sana, terlebih rata-rata dari mereka adalah laki-laki.
Azira menguatkan mentalnya dengan tetap berjalan, meski kepalanya sedikit menunduk. Azira terus berjalan dengan langkah cepat, berharap orang-orang di sekitarnya tidak ada yang sadar.
Bruuk!!
Seseorang kembali menyenggol bahu kiri Azira hingga dia terdorong, dan membuat bahu kirinya yang tanpa lengan itu terlihat.
"Upps ... sorry ..." ucapnya dengan nada seperti tak ikhlas dan sengaja menabrak Azira.
Azira melihat orang yang menabraknya itu, ternyata dia adalah orang yang merobek lengan kiri Azira bersama rekan-rekannya. "Kaaauu ...!" geram Azira.
"Heh ... Lu mau kemana? Mau keluar? Nikmatin aja dulu pestanya, baru juga mulai."
"Kalau bukan karna Lo, gue juga masih pengen disini!"
"Oh kalau gitu, ayuk ke pesta," ajaknya sambil merangkul Azira mengajaknya ke tengah pesta lagi.
"Gak! Gue mau pulang!" Azira menepis kasar rangkulan gadis itu.
"Kalau Lo yang gak mau ke pesta, biar gue yang panggil orang-orang buat kesini!" Dia tersenyum sinis dan beralih ke orang-orang. "Guys ...! Kesini deeh, ada sesuatu yang mau gue sampein niih!!"
"Apaan sih, Lo? Pake acara manggil orang-orang segala? Kan udah gue bilang gue mau pulang!!"
"Yaa jangan dulu doong ... orang-orang baru aja sampai kesini."
Akhirnya orang-orang yang di pesta itu kini telah berkumpul di sekitar Azira. "Ada apa sih?" tanya salah satunya.
"Gini, gue pengen nanya sama kalian. Kalian pede gak sih ke pesta pakai baju kayak gini?" tanyanya sambil menunjuk pakaian Azira.
"Emang kenapa?" tanya salah satu gadis heran. Pasalnya ia melihat pakaian Azira terlihat biasa-biasa saja.
"Pakaiannya kayak gini lho guys." Gadis itu melepas paksa tangan Azira yang menutupi bahu kirinya.
"Haaaa!" orang-orang yang ada di pesta itu cukup terkejut. "Pakaiannya emang robek kayak gitu atau sengaja dirobek?"
Baru saja Azira akan membuka mulutnya untuk menjawab, tapi si gadis itu sudah lebih dulu menjawabnya. "Ya emang robek lah guys, jadi kalian pede gak ke pesta pake beginian?"
"Ya enggak, lah. Mending pake baju yang lain aja."
"Maka dari itu guys, gimana kalo kita hukum aja dia?" Gadis itu menatap licik Azira.
"Shit!" umpat Azira dalam hati.
"Ini hukuman yang pantes buat Lo!" Gadis itu melayangkan tangan kanannya hendak menampar Azira.
Tapi kemudian ....
Lampu di ruangan itu tiba-tiba saja mati membuat gadis itu berhenti melayangkan tangannya. Azira yang awalnya memejamkan mata karena takut terkena tamparan, perlahan membuka matanya. Azira merasakan sesuatu di punggungnya, sesuatu yang dipasangkan di punggungnya.
Dia ....
Orang yang bertopeng merah itu memakaikan jas-nya pada Azira. Azira menoleh dan mendapati pria asing itu. Pria bertopeng itu juga tengah menatap Azira, membuat mata mereka kembali bertemu.
Meski lampu di ruangan itu sudah dipadamkan, tapi orang-orang bisa melihat samar-samar tindakan yang dilakukan pria bertopeng itu pada Azira membuat mereka semua heran dan terkagum-kagum. Sementara gadis itu langsung pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Dan sekali lagi Azira bertanya, "Siapa, Kau?"
~TBC~
Ada yang ngalamin kayak Azira? Misterius banget yak lelakinya π
Jangan lupa follow, komen dan vote πππππ
__ADS_1