
Terkadang ada kalanya orang sabar itu meninggalkan apa yang membuatnya sabar ketika semua pengorbanan, ketulusan kesetiaan, dan cinta tidak lagi sesuai yang ia harapkan.
Kesetiaan berarti ketulusan untuk menyimpan satu hati didalam hati, dan berjanji untuk tidak akan mengkhianati, namun terkadang karna satu alasan kita rela mengorbankan kesetiaan.
Cahaya terang menyapa awan-awan biru yang bergantung indah membentuk pola-pola yang alami yang indah untuk di nikmati.
Saat ini Ayasa dengan lembutnya merawat tanaman-tanaman hias di taman belakang.
Setelah wanita itu benar-benar sehat ia tak betah untuk berdiam diri.
Arka mendekatti istri tercintanya.
"Kamu lagi apa, Ay?"
"Mas Arka, ini lagi bersihin daun-daun yang udah kering mas, udah lama tamannya gak keurus"
"Jangan capek-capek Ay, ingat kamu baru sembuh, sayang!"
"Iya Mas, Ay ngerti kok"
Arka tersenyum melihat ketelatenan istrinya itu.
"Ya udah, mas ke kantor dulu ya"
Pamit Arka lembut. Sembari mengecup kenig Ayasa.
"Hati-hati, mas. O ya mas, nanti Ay mau keluar. Ada acara arisan ditempat mbak Rosa"
Ucap Ayasa mengingatkan. Sembari meminta izin.
"Iya, tapi inget waktu Ay. Mas pulang, kamu udah harus ada di rumah."
"Iya mas, Insya Allah"
"Ya sudah mas pergi dulu"
Setelah Arka pergi ke kantor Ayasa segera bersiap untuk pergi ke rumah Rosa. Setelah sampai Ayasa disambut hangat oleh sahabat-sahabatnya itu.
"Ya Allah Ay, kamu terlihat lebih kurusan. Kamu baik-baik Ajakan dengan madumu itu? Kami turut prihatin atas musibah yang menimpamu."
Cplos Maya gak pake rem.
"Alhamdulillah, baik My. Lagipula Arsyi gadis yang baik kok"
Bela Ayasa pada madunya.
"Halah, sebaik-baiknya pelakor tetap aja pelakor Ay."
Timpal Rosa ikut emosi.
"Astagfirullah mbak, Arsyi bukan pelakor. Aya yang menyetujui Arsyi untuk menjadi makmum kedua mas Arka, atas kekuranganku"
"Ah, kamu itu ya Ay. Jadi orang terlalu baik. Lihat aja nanti, kamu pegang omongan mbak,
Sekarang iya Ay, Arka bisa berbagi tapi nanti setelah madumu itu hamil, pasti dia menyita waktu suamimu.
Kenapa kamu menutup matamu Ay, kamu keguguran sampai kehilangan buah hati kalian, itu karna madumu. Coba jika Arka hari itu gak nginap di rumah madumu itu, pastilah kamu gak akan ke guguran."
Ayasa terdiam, ia cerna ucapan sahabatnya itu. Jika dipikir-pikir ada benarnaya ucapan mbak Rosa.
"Sudahlah mbak, itu semua sudah jalannya Allah"
Ucap Ayasa menenagkan sahabatnya.
__ADS_1
"Terserah kamu aja lah Ay"
Ayasa tersenyum, namun senyuman itu hanya senyuman yang tak sempurna. Fikiranya terus berkelana, sedikit banyaknya Ayasa mulai termakan ocehan sahabatnya.
Hampir setengah harian Aya di luar rumah, berkumpul dengan temat pengajian sekaligus teman arisan Ayasa.
Jam dua belas tiga puluh Arka baru sampai rumah. Ayasa juga ternyata baru sampai.
"Udah pulang mas"
"Iya Ay. Mas pengen makan siang di rumah bareng kamu"
Seketika Ayasa pucat, ia lupa jika ia belum masak, karna tadi selesai Arisan wanita itu langsung makan siang di cafe bareng teman pengajiannya.
"Ya Allah mas, maaf Ay belum masak" Ucap Ayasa jujur. Arka meraih pergelangan tangan Aya. Kemudian mendudukan wanita itu di sebelahnya.
"Kok bisa belum masak, sayang, ini udah lewat tengah hari lo Ay"
"Maaf mas, tadi Ay keasikan ngobrol bareng teman pengajian, udah lama gak ketemu soalnya."
"Ya udah gak papa, hari ini kita makan siang di luar aja ya"
"Maafin Ay, ya mas."
"Iya gak papa lain kali jangan di ulang lagi"
Aya mengangguk lembut, kemudian mereka berjalan aya memeluk lengan kekar suaminya. Setelah tiba di depan pintu mereka di kejutkan dengan kehadiran Arsyi.
"Loh mbak Ay sama mas Arka mau kemana?"
Tanya Arsyi lembut.
"Kami mau makan siang di luar, dek Atsyi mau ikut?"
"Tapi ini Arsi udah masak lauk loh untuk mas dan mbak Aya."
"Wah kebetulan banget ini namanya"
Jawab Arka antusias, sementara Ayasa hanya terdiam. Batinnya mulai berperang. wanita itu kembali terngiang atas ucapan sahabatnya.
"Apa ini kebetulan, atau ini siasat Arsyi untuk menjerat perhatian suamiku, untuk menguasai mas Arka. Makanya dia menjatuhkan nilaiku di mata mas Arka!"
Batin Aya mulai terusik.
"Ay, kok diam. Ini Arsyi udah bawain makan siang untuk kita"
Ucap Arka memberi tahu.
"Ya udah kita makan di rumah aja mas"
Jawab Aya setengah tak rela.
"Yuk, masuk dek"
Ajak Ayasa.
Akhirnya mereka menyantap masakan Arsyi di meja makan. Ayasa makan hanya sebagai isyarat saja. Beda dengan suaminya, Arka cukup lahap hingga pria itu menghabiskan dua porsi.
Hari ini Ayasa banyak diam, entah karna apa Wanita yang baik hati itu tak sehangat biasanya dengan Arsyi. Usai makan siang Arka menuju kamar Aya untuk beristirahat siang.
Sementara Ayasa dan Arsi berbincang di teras belakang.
"Gimana keadaan mbak udah enakan kan mbak?
__ADS_1
"Iya Alhamdulillah. Oya kenapa kamu antar makanan, ada acara apa emangnya? "
Tanya Ayasa tanpa basa-basi.
"Oh kebetulan mbak, Arsyi tadi masak banyak sekalian untuk antar lauk ke panti anak yatim. Karna masak banyak jadi sengaja Arsyi siapin untuk mbak dan mas Arka sekalian."
ucap Arsyi yang sebenarnya.
Aya menahan nafasnya sejenak, sembari istigfar dalam hati. untuk menghilangkan pikiran piciknya, terhadap madunya yang memang berhati baik.
"Mbak kenapa, Mbak sakit?"
"Tanya Arsyi"
Hawatir.
"Mbak gak sakit Sy. Hanya saja mbak, keingat anak mbak, Coba waktu itu mas Arka gak nginap di rumahmu, pastilah semuanya gak akan kayak gini."
"Maafin Sy, mbak. Sy gak bermaksud seperti itu.
"Iya mbak tau, tapi tetap aja mbak kehilangan anak mbak. Mbak mohon Sy, jika nanti kamu hamil, jangan ambil waktu mas Arka hanya untuk memperhatikamu. Mbak juga ingin diperhatikan oleh suami mbak"
"Astagfirullah mbak, kenapa mbak mikirnya sampai kesana?"
"Mbak takut Sy, mas Arka ninggalin mbak, secara mbak bukan wanita sempurna seperti kamu, mbak udah gak bisa mempunyai keturunan. Mbak minta, jika nanti mas Arka yang abai dengan mbak, tolong ingatkan dia."
Pinta Aya pada madunya sungguhan.
"Insya Allah, mbak. Tapi kenapa mbak ngomomg kayak gitu.?"
Tanya Arsyi heran.
"Jujur Sy. Mbak takut kalah dalam permainan"
"Udah, mbak gak usah mikir yang aneh-aneh. Jangan hancurkan hubungan kita hanya karna takut kehilangan mas arka mbak. Bagi Sy hanya mbak satu-satunya saudari Sy.
Demi saudara Sy satu-satunya, Sy rela lakuin papa aja untuk mbak Aya, mbak taukan, Sy gak punya siapa-siapa lagi mbak, orang tua Sy udah lama pergi. Sementara tante yang si punya dia tega jual si ke tempat prestitusi. Kalian orang yang baik yang mau mungut Arsyi dari tempat hina"
Ucap Arsy sedih saat igat kisah pilunya.
"Maafin mbak dek, terkadang memang sulit berbuat ikhlas dan tulus. Selalu saja hati dan fikiran dinodai rasa iri dan dengki. Padahal mbak tau larangan tentang sifat iri dandengki seperti yang disebut dalam hadits. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لا تَحاسدُوا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
“Jangan kalian saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
"Mbak itu wanita hebat, yang Arsyi kenal, mbak selalu cepat menyadari kekeliruan diri"
"Makasih dek, tapi mbak gak sebaik itu"
Ucap Aya lembut. Akhirnya mereka tersenyum, sembari saling memeluk.
Usai ngobrol bareng Aya, akhirnya Arsyi pamit pulang tanpa harus menunggu suaminya bangun.
"Mbak, Sy pulang ya. Sampaikan aja ke mas kalau Sy, ada kerjaan"
"Iya dek, nanti mbak sampaikan. Hati-hati lo"
Ucap Aya tak lupa mengingatkan.
Arsyi tersenyum sembari memencet klakson.
Setelah kepulangan Arsyi, Ayasa duduk di ruang TV, hatinya mulai tenag setelah kegelisahannya ia utarakan pada madunya. Tapi hati kecilnya merasa bersalah pada madunya itu.
"Apa benar tindakanku itu? Dulu aku yang menyetujui dia menjadi makmum kedua mas Arka, tapi kenapa sekarang aku yang egois, bahkan dari segi waktu saja, Arsyi sudah cukup banyak mengalah.
__ADS_1
Mas Arka hanya satu kali dalam seminggu untuk mendatangi rumah Arsyi. Bahkan tak sekalipun dia protes, tapi Ya sudahlah. Mungkun memang harus begitu aturannya menjadi istri kedua, harus ikhlas di nomor duakan"
Ucap Aya dalam hati. Ia terus mengsugesti hati dan fikirannya agar tak memiliki rasa cemburu dan curiga yang berlebihan, terhadap madunya itu.