
Yeay bisa up lagi!
Jangan lupa Vote dan komennya 😉
Masa udah baca gak mau komen sama up, apalagi follow 😱😱
Makanya komen dan vota ya 😆
Happy reading 😍😍💙❤
_____________________________
Orang bilang, kalau sudah jodoh enggak akan kemana.
Namun, jika boleh jujur aku meragukan ungkapan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
________
Di sinilah Azira sekarang, di sebuah cafe tempat kawan-kawan mamanya berkumpul. Azira tidak mengerti, menapa dia harus ikut? Padahal ini acara ibu-ibu. Lalu apa kaitannya dengan dirinya?
Kali ini mama Azira memintanya menggunakan pakaian yang berbeda. Pakaian yang bagi Azira cukup terbuka. Azira memakai baju singlet berwarna hitam, yang ditutupi dengan jaket jeansnya. Azira juga memakai celana jeans mini yang panjangnya hanya sampai setengah pahanya.
Jujur Azira merasa risih dengan pakaiannya, sebelum-sebelumnya Azira tak pernah memakai yang seperti ini. Namun, mamanya memaksanya memakai pakaian seperti itu.
Azira juga merasa kikuk saat bersama dengan teman-teman mamanya. Ibunya asik mengobrol dengan rekannya, tapi ia sendiri malah menjadi salah tingkah. Antara risih, malu dan tidak terbiasa, itulah yang dirasakannya saat ini.
Azira menggaruk tengkuknya yang tak gatal beberapa kali, setidaknya hal itu bisa membuatnya tidak begitu gugup.
"Oh ya, Jeng. Kenalin ini anak aku," ujar mama Azira memperkenalkan anaknya pada rekannya.
Akhirnya kini Azira punya sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan sedikit rasa gugupnya. Teman-teman mamanya melihat Azira dengan sorot mata terkejut, kagum dan tidak percaya. Azira tersenyum simpul menanggapi berbagai ekspresi yang ditunjukkan padanya dari teman-teman mamanya.
"Oooh ini, cantik dan manis banget, ya!"
"Kenapa dari tadi diem, aja?"
"Waaah udah gede ya ternyata."
"Cantik bangeeet!"
Azira hanya bisa tersenyum menanggapi segala pertanyaan dan pernyataan yang diberikan oleh teman-teman mamanya.
"Siapa nama Kamu?" tanya salah seorang teman mamanya.
"Azira," jawabnya singkat.
"Nama panjang?"
"Azira Freezika."
"Waah nama yang bagus."
Azira tersenyum malu. "Terima kasih."
"Udah punya pacar belum?"
Azira terkesiap saat mendapat pertanyaan seperti itu. Azira pikir mungkin ia harus sedikit berbohong, karena biasanya ibu-ibu seperti ini akan memperkenalkan anak lelaki mereka untuk jadi pertimbangan. "Sebenernya su--"
"Belum, Jeng," sahut mama Azira tiba-tiba. Dan ya, mamanya mengatakan sesuai fakta.
"Beneran, Jeng?"
"Iya, lagi cari calon, katanya."
"Mati, gue! Pasti bakal ditawarin sama anak-anak mereka buat jadi pasangannya. Gue kan gak suka!" batin Azira kesal.
"Bagus, dong! Kebetulan banget anak aku lagi jomblo, coba pdkt-an sama dia, aja."
"Tuh, kan!" rutuk Azira dalam hati.
"Anak yang keberapa ya, Jeng?"
"Yang kedua."
"Waa bagus, mereka mungkin cocok," ujar mama Azira setuju.
"Baru juga mungkin, Ma," batinnya jenuh.
"Gimana, Azira? Mau pdkt-an gak sama anak Tante?"
"Azira pikir-pikir dulu, deh," jawabnya sambil tersenyum kikuk.
"Oh ya, Jeng. Anak-anak kalian gimana? Udah nikah semua? Udah punya anak, belum?" tanya mama Azira.
__ADS_1
"Udah dong," jawab salah satu temannya. Dapat Azira lihat ia berlagak seikit sombong.
"Kalau anak aku baru nikah," ucapnya sambil memakan makanan yang ada di meja.
"Kalau anakku udah punya dua anak kecil lagi."
"Kalau Kamu gimana, Jeng?" tanya salah satu temannya pada mama Azira.
"Gimana mau punya anak, Jeng. Nikah aja belum. Terus gimana mau nikah? Pacar aja belum punya," jawab mama Azira yang seperti menyinggung Azira.
Bukan seperti lagi tapi sudah pasti. Hah ... sudahlah, Azira menerima segala ledekan yang dilontarkan oleh mamanya itu. Mau bagaimana lagi, ia juga tak berani menyangkalnya.
"Cariin dong, Jeng anak aku pasangan. Kasi saran gitu? Biar cepet pacaran terus nikah," pinta mama Azira.
Kalau yang itu Azira tak bisa terima. Ia mendekatkan wajah ke mamanya dan membisikkan sesuatu. "Ih Mama, apaan sih? Azira gak perlu sampe di cariin kayak gitu. Azira gak suka." Meski sudah berbisik, namun tetap bisa terdengar.
"Ya gak papalah, biar kamu bisa cepet nikah," jawab mamanya.
"Tapi Azira gak mau cepet-cepet nikah, Azira pengen kerja dulu habis kuliah."
"Kerja kan bisa juga habis nikah."
"Gak bisa lah, Ma. Ntar kalau Azira kerja anak sama suami Azira siapa yang urus, dong?"
"Ya udah lah, terserah Kamu."
"Kenapa sama anakmu, Jeng?"
"Gak mau cepet-cepet nikah, katanya."
"Biarin aja, Jeng. Sekarang dia masih jomblo emang bilang kayak gitu. Ntar aja kalau udah punya pacar, kepengen cepet nikah, hehehe ... iya, gak?" tanyanya pada teman-temannya yang lain sambil menoleh ke samping kanan dan kiri tempat teman-temannya berada.
"Iya, bener tuh."
"Hu'um. Tenang aja, Jeng," ucapnya pada mama Azira.
"Gini aja deh, Nak Azira. Mending sekarang kamu pergi deh, keliling-keliling. Kemana gitu? Siapa tau ketemu cogan, terus bisa pdkt-an," saran salah satu teman mama Azira.
"Nah itu didengerin, mending sekarang pergi, deh," perintah mamanya halus.
Azira menghembuskan nafas pelan, lalu beranjak bangun. Azira melihat sekelilingnya, berfikir kemanakah ia harus pergi?
"Kemana gue harus pergi, ya? Mana gue gak pernah ke sini lagi," Batinnya bertanya-tanya.
"Kenapa masih disini? Ayo keliling-keliling," perintah mamanya lagi.
Tidak mau mendengar perintah mamanya lagi, Azira beranjak berjalan ke belakang. Ia tidak tahu mau pergi kemana, intinya dia pergi dari tempat mamanya duduk.
Azira tak peduli akan pikiran dan tanggapan orang, ia baru pertama kali ke sini. Jadi wajar saja jika ia kebingungan. Orang-orang mungkin boleh membicarakannya, tapi mereka tidak tahu kebenarannya.
Azira menaiki tangga, berbelok, lalu menaiki tangga lagi. Sampai, ia tiba di lantai atas. Azira berjalan ke depan menuju pintu kaca yang menutupi ruangan lantai atas itu. Lalu membukanya dan ia sampai di balkon.
Balkon itu memiliki pembatas, di atas pembatas itu ada beberapa pot bunga yang diletakkan. Di pembatas itu juga ada lampu hias yang berkelap-kelip. Dan satu hal yang paling Azira sukai yaitu di balkon itu hanya dia yang ada.
Dari balkon itu Azira bisa melihat pemandangan kota. Pemandangan kota jika dilihat dari atas ternyata sangat indah.
Azira menumpukkan tangan di atas pembatas balkon, lalu menutup matanya. Menikmati angin malam yang saat itu berhembus cukup keras, hingga membuat rambutnya yang baru sampai sebahu itu terbang. Azira berusaha menikmati kedamaian dan ketenangan, membiarkan angin malam menghampiri dirinya, dingin yang mulai menyeruak bisa di rasakan oleh Azira di bagian lehernya. Azira mempererat jaket yang ia pakai, jadi ia tidak terlalu merasakan dingin itu.
Entah bisikan dari mana, ketika Azira menikmati suasana malam itu. Terlintas dalam pikirannya wajah Arkya. Seketika Azira membuka matanya. Ia berfikir, kenapa ia membayangkan wajah Arkya?
Azira menarik nafas dan menghembuskannya, lalu kembali menutup mata. Namun lagi-lagi wajah Arkya yang terlintas, dan lagi Azira membuka matanya.
"Kok gue malah mikirin dia terus, sih? Gimana ceritanya coba?" pikir Azira.
Azira menutup matanya untuk ketiga kalinya, dan lagi wajah Arkya yang terlintas. Azira menghembuskan nafas lelah, dia tidak membuka matanya. Azira berusaha menepis dan menghilangkan bayangan wajah Arkya. Namun apa dayanya, bayangan wajah Arkya tak bisa ia tepis, tak bisa ia hilangkan.
Azira terus berfikir, kenapa wajah Arkya tak mau hilang dari pikirannya?
Apa Arkya memikirkannya juga? Atau hanya dia saja yang memikirkan Arkya? Rasanya tak mungkin jika Arkya memikirkan Azira. Itu tak mungkin. Walau kadang hatinya mengatakan, bisa jadi. Tapi logikanya berusaha menyangkal itu.
Jika saja Azira tidak ikut bersama mamanya kesini, mungkin sekarang ia tengah makan malam dengan Arkya. Hah ... Azira kini hanya bisa membayangkan. Membayangkan jika ia makan malam dengan Arkya. Apakah akan canggung? Romantis? Menyenangkan? Atau sebaliknya?
Perlahan Azira membuka matanya, dan melihat ke bawah. Tempat pintu masuk cafe. Dapat Azira lihat ada segerombolan cogan yang baru masuk. Ya, mereka tampan. Namun bagi Azira hanya Arkya yang paling tampan, tentu saja Azira akan membela Arkya.
Karena mereka sahabat.
* * *
Di sebuah ruang tamu, seorang pemuda bernama Arkya menonton tv dengan snack keripik kentang di tangannya. Tv itu menyalakan sebuah tayangan animasi. Animasi yang ia sukai. Sedangkan tangannya, akan spontan mengambil keripik kentang dari bungkusannya dan memasukkan ke dalam mulut Arkya jika kripik kentang yang ada di mulutnya sudah habis.
Anehnya, tangan Arkya terlihat sangat malas memasukkan kripik itu ke dalam mulutnya. Selain tangan, matanya juga terlihat malas untuk menonton tv. Ia terlihat seperti orang yang kehilangan jiwa.
Setelah acara animasinya selesai, Arkya bangun dari duduknya dengan malas dan menuju balkon. Pemandangan kota dengan lampu di setiap rumah itu terlihat menakjubkan di malam hari. Arkya menutup matanya perlahan dan merasakan angin malam yang saat itu berhembus. Tebersit dalam ingatannya tentang rencana makan malamnya dengan Azira. Ah, Arkya jadi teringat soal gadis itu.
"Coba aja Azira gak ikut sama mamanya, pasti sekarang dia lagi sama gue makan malam," batin Arkya nelangsa.
Arkya tersentak. Ada apa ini? Kenapa ia malah memikirkan Azira? Apakah ia merindukannya? Tidak, tidak, tidak.
Itu tak mungkin.
Karena mereka hanya sahabat.
Tapi, apakah salah jika sepasang sahabat saling merindukan?
__ADS_1
Tidak salah.
Haruskah Arkya menelfon Azira? Untuk sekedar menanyakan kabarnya?
Sepertinya, tidak masalah.
Arkya merogoh kantung baju samping kirinya untuk mengambil handphone dan mulai menekan tombol. Lalu menempelkan handphone miliknya di telinga kiri.
"Hallo?"
"Hallo? Kenapa?"
"Gak papa, lo lagi sama mama lo, ya?"
"Iya, tapi mama gue di dalem cafe. Gue lagi di balkon."
Azira. Adalah orang yang Arkya saat ini telfon.
"Kenapa lo gak sama mama lo?"
"Males, ah. Mereka lagi gosip, yang menurut gue gak jelas."
"Bukan gak jelas. Tapi lo gak ngerti."
"Au ah."
Hening sesaat. Arkya ingin berbicara tapi ia tak punya topik. Ingin mengakhiri, tapi tak rela.
"Gue punya cerita, nih."
Baru saja Arkya akan membuka suaranya, Azira sudah lebih dulu menyuarakannya.
"Cerita, apa?"
"Tadi kan, masa gue di suruh pdkt-an sama anaknya temen-temen mama gue?"
Arkya sedikit terkejut, tapi ia berusaha agar suaranya formal. "Terus? Lo mau?"
"Ya enggak lah. Gue emang jomblo, tapi gue gak mau kalo di suruh-suruh kek gitu."
Mendengar jawaban Azira, Arkya bernafas lega. "Bagus, tuh. Keputusan yang tepat!"
"Iya, dong. Azira gitu loh, hehehe ...."
Arkya hanya tertawa pelan.
Azira yang berada di cafe merasa sedikit senang saat ditelfon oleh Arkya. Inilah yang dinanti-nantikannya. Sepertinya memang benar bahwa Azira merindukan Arkya.
Walau mereka hanya sahabat, tapi apakah hati mereka berpendapat sama? Siapa yang tahu?
Azira terkejut saat menyadari ada yang memegang pundaknya. Ternyata itu salah satu teman mamanya.
Azira menjauhkan handphone dari telinganya. "Ada apa ya, Tante?"
"Mama kamu suruh ke dalam. Soalnya kita mau makan malam."
"Oh gitu, ya? Ya udah, ntar Azira nyusul. Tente duluan aja ke dalam."
"Tante duluan, ya."
"Iya."
Lalu Azira kembali mendekatkan handphone ke telinganya.
"Ada apa, Azira?"
"Telfonannya sampai sini aja, ya? Gue mau ke dalam ke tempat mama gue."
"Oh ya udah. Bye."
"Bye."
Tit.
Entah kenapa, tapi di hati keduanya tersirat kekecewaan dan kesedihan. Merasa waktu yang mereka dapat terlalu singkat.
"Aku ingin bersamanya lebih lama."
___________
Tbc
Siapa yang pernah kayak Azira dan Arkya?
Mungkin pernah ya, cuma kita gak tau dia sama atau nggak? 😂
Terima kasih udah mau baca jangan lupa vote dan komen 😍
Follow apalagi... 😈
Oke, sampai jumpa 😁
__ADS_1