
Assalamualaikum pembaca "AIR MATA CINTA" yuk baca terus ceritanya.jangan lupa, like,komen dan votenya ya. Karna dukungan kalian sangat berarti untuk saya.๐๐๐
Ketika takdir telah berkata. Manusia hanya bisa berpasrah dan berdoa. Karan kita tau semua milik Allah dan akan kembali pula pada Allah.
Ayasa dengan sekuat tenaga menahan kesakitannya. Keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
Tangan gemetar itu ia paksakan untuk meraih henponnya. Ayasa berniat menghubungi Suaminya. Namun sayang sambungnya tak kunjung mendapat jawaban.
"Ya Allah jika engkau hendak mengambil nyawaku, tunggulah hingga suamiku pulang. Hamba ingin meninggal dalam pelukannya"
Bibir Ayasa terus bergumam ngelantur, akibat rasa sakit yang ia rasakan.
Ayasa terus mencoba menghubungi suaminya, akhirnya panggilan itu diangkat juga oleh Arka.
"Assalamualaikum mas. Tolongin Aya, mas"
"Iya-iya kamu kenapa sayang?"
"Perutku mas sakit banget"
"Oke. Tunggu mas, mas akan segera pulang"
Arka begitu hawatir hingga pria itu tak menjawab salam istrinya. Dengan tergesa Arka mematikan sambungan telpon dan memanggil Arsyi.
"Dek mas harus pulang. Mbakmu Ayasa sedang sakit. Maaf mas buru-buru."
"Aku ikut mas." Ucap Arsyi ikut hawatir dengan keadaan Ayasa.
Mobil melaju kencang membelah jalasn yang padat kendaraan. Dengan beringas Arka memencet klakson mobilnya. Sesekali pria itu memukul setir mobilnya untuk sekedar meghalau kecemasan.
"Istigfar mas. Tenangkan pikiran mas, agar kita sampai dengan selamat dan semoga mbak Ayasa dan kandungannya bsik-bsik aja."
Ucap Arsyi mencoba menenangkan sang suami.
"Iya maaf. Mas terlalu hawatir dek"
Setelah sampai di pelataran rumah mereka. Arka dengan buru-buru membuka pintu mobilnya. Tanpa ia sadari pria itu langsung berlari tanpa memarkirkan mobilnya dengan benar. Akhirnya Arsyi yang mengambil alih kemudi untuk memasukkan mobil ke garasi.
Arka berlari sembari memanggil Ayasa.
"Dek. Kamu di mana?" Panggil Arka panik.
Arka mencari istri tuanya kesetiap sudut ruangan namun tidak ia temukan. Kemudian Arka lari ke taman belakang. Di sana istri tercintanya tengah terkulai lemah dengan gamis yang bersimbah darah.
"Ya Allah. Ayasa kamu kenapa?" Dengan tergopoh pria itu membopong istrinya menuju mobil.
"Arsyi. Tolong mas, dek. Bawa mobilnya kemari!"
Pinta Arka pada istri keduanya.
"Iya mas"
Setelah mereka memasuki mobil. Arsyi dengan gesit membawa mobil suaminya menuju rumah sakit.
__ADS_1
Sampai di UGD, Ayasa segera mendapat penanganan. Hampir setengah jam. Barulah Dokter keluar menemui keluarga Ayasa.
"Keluarga ibu Ayasa"
Panggil seorang suster. Arka dan Arsyi mendekat berbarengan mendekati pintu UGD.
"Saya suaminya sus"
"Baiklah. Bapak tenang ya. Bapak di tunggu dokter di ruangannya!"
"Baik sus. Terima kadih"
Arka dengan langkah lebarnya menuju ruangan dokter yang di tunjukan oleh suster tadi.
"Silahkan duduk pak Arka."
"Dok. Bagaimana keadaan istri dan anak saya?"
"Baiklah, begini pak Arka. Karna memang kondisi kehamilan rahim buk Ayasa yang lemah, Jadi janinnya tidak bisa diselamatkan. Buk Ayasa melahirkan bayi prematur. Janinnya masih sangat lemah diusia kandungan lima bulan. Kami sudah berusaha namun Allah berkehendak lain. Saya harap pak Arka sabar"
Mendengar penuturan dokter seketika tubuh Arka lemas. Harapannya untuk mendapat keturunan dari wanita yang sangat iya cintai sirna. Dengan langkah lemas pria itu meninggalkan ruangan dokter.
"Terima kadih dok. Saya permisi"
"Iya sama-sama pak Arka."
Arka dengan wajah frustasinya berjalan menuju ruang rawat Ayasa. Disana terlihat Arsyi tengah duduk di sebelah brankar Ayasa, sembari menggenggam erat jemari Ayasa.
"Bangun mbak. Mbak harus kuat melewati ini semua, lihatlah mas Arka tampak sedih melihat kondisi mbak yang seperti ini. Bangun mbak, Syi tau mbak wanita kuat"
Dengan tulus Arsyi berucap untuk memberi semangat istri tua suaminya. Arka duduk di sebelah kanan brankar, tangan kekar itu dengan sayang mengusap puncak kepala istri tuanya yang tertutupi hijab. Sesekali pria itu mengecup lembut kening Ayasa.
Araka mengecup kenig Ayasa sembari menitikkan air mata.Perlahan mata indah itu tercelang.
"Mas. Kamu sudah datang?"
"Iya sayang. Mas ada di sini bersamamu"
"Mas. Apa anak kita baik-baik aja?"
Mendengar pertanyaan Ayasa. Serasa runtuh langit detik itu juga.
"Maaf sayang. Anak kita tidak bisa diselamatkan"
Ucap Arka sebari terpejam untuk sekedar menahan air matanya. Mendengar ucapan suaminya Ayasa terdiam tak mampu berucap apapun. Bahkan ia tak sedikitpun menitikkan air matanya. Ia tak ingin membuat suaminya semakin terluka.
"Dek. Jangan diam aja. Kamu berhak menyalahkan mas"
Mendengar ucapan suaminya. Ayasa tersenyum manis sembari meraih jemari suaminya.
"Gak ada yang harus dipersalahkan mas. Ini semua takdir dari Allah. Kita hanya diminta untuk bersabar seperti perintah Allah dalam surah Ali Imran"
ููุชูุจูููููููู ููู ุฃูู ูููุงููููู ู ููุฃูููููุณูููู ู ููููุชูุณูู ูุนูููู ู ููู ุงูููุฐูููู ุฃููุชููุง ุงููููุชูุงุจู ู ููู ููุจูููููู ู ููู ููู ุงูููุฐูููู ุฃูุดูุฑููููุง ุฃูุฐูู ููุซููุฑูุง ููุฅููู ุชูุตูุจูุฑููุง ููุชูุชูููููุง ููุฅูููู ุฐููููู ู ููู ุนูุฒูู ู ุงููุฃูู ููุฑู
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [รli โImrรขn/3 : 186]
"Ikhlaskan semuanya mas. Jika Aya gak bisa memberi mas keturunan. Masih ada Arsyi yang bisa memberi mas keturunan. Anak dari Arsyi atau anak dari Aya itu sama aja. Sama-sama anak kitakan mas?"
__ADS_1
Arka tak tahan melihat ketabahan istrinya. Dengan sayang pria itu menangis dalam pelukan Ayasa.
"Terima kasih. Sungguh kamu wanita hebat Sayang mas punya" Ucap Arka tersedu.
"Masyaallah mbak. Mbak sungguh wanita pilihan yang Arsyi pernah temui" Puji Arsyi kagum. Ayasa dengan lembut meraih tangan Arsyi.
"Maafkan mbak dek. Mbak gak sebaik yang kamu pikirkan. Mbak pernah egois padamu. Mbak pernah senpat meminta mas Arka untuk menceraikanmu. Mbak anggap kepergian anak mbak ini. Adalah hasil dari sifat egois mbak. Sehingga Allah tak meridhai mbak untuk memiliki keturunan. Mbak ikhlas atas cobaan ini"
"Hus. Mbak gak boleh ngomong kayak gitu. Allah telah menetapkan sesuatu cobaan berdasarkan keimanan seseorang. Mbak gak salah, Arsyi paham akan perasaan mbak"
"Makasi dek."
"Sama-sama mbak. Harusnya Arsyi yang berterima kasih sama mbak. Karna mbak, Arsyi memiliki imam yang Shaleh dan sekaligus, Arsyi memiliki saudari perempuan yang hebat seperti mbak Ayasa.
Melihat ketulusan kedua istrinya Arka tersenyum. Dalam hatinya iya bersyukur memiliki dua bidadari yang sempurna.
Setelah seminggu di rawat di rumah sakit. Akhirnya Ayasa sudah diperbolehkan pulang.
Selama masa pemulihan akhirnya Arsyi mengalah. Ia tinggal bersama Ayasa dan Arka untuk merawat Ayasa.
Setiap pagi Arsyi bangun lebih awal. Untuk menyiapkan sarapan mereka bertiga.
Dengan lembut Arsyi mengetuk kamar suaminya dan Ayasa.
"Mas, mbak. Ayo sarapan" Ucap Arsyi lembut.
"Iya dek sebentar lagi kami nyusul." Ucap Ayasa lembut.
"Mas, Ayo bangun. Maskan harus ngantor. Tu kasihan Arsyi udah manggilin kita dari tadi"
Arka bergegas bangun, membersihkan diri. Setelah itu Pria itu membopong Ayasa untuk duduk di kursi roda.
Mereka sudah berkumpul di meja makan. Arsyi dengan telaten mengisi piring- piring yang masih kosong dihadapan Arka dan Ayasa, kemudian ia tuang air di dalam gelas mereka masing-masing.
Arsyi dan Ayasa duduk di sebelah suaminya.
Arka dengan telaten menyuapi Ayasa.Arsyi yang melihat itu tersenyum.entah senyum apa yang terpatri di bibirnya itu. Hanya Arsyi yang tau arti senyuman itu.
Tanpa mereka sadari,Arsyi terus menatap kearah suaminya dan Ayasa. Air mata gadis itu setitik membasahi sudut matanya. Setelah tersadar akan dirinya. akhirnya Arsyi menyudahi makannya. Arsyi bangkit dari kursi. Arka menoleh menatap istri mudanya.
"Loh. Mau kemana dek, makanmu belum habis" Ucap Arka lembut.
"Maaf mas. Syi sudah kenyang."
"gak. Kamu baru makan sedikit dek. Duduklah!"
Pinta Arka lembut, sembari meraih tangan Arsyi. Gadis itu menuruti perintah suaminya. Ia kembali duduk disamping Arka.
Arka mengusap puncak kepala istri mudanya dengan lembut.
"Maafkan mas. Seharusnya mas tidak mengacuhkanmu."
"Tidak. Syi tidak merasa diacuhkan kok mas"
"Jangasn bohongi mas sayang. Mas bisa lihat dari sorot matamu." Arsyi tertunduk malu.
"Aaa. Buka mulutmu" Pinta Arka lembut. Arsyi menuruti membuka mulutnya. Dengan telaten akhirnya Arka menyuapi kedua istrinya. Mereka akhirnya makan bertiga dalam satu piring.
__ADS_1
Sungguh Arsyi merasa bahagia begitupun Ayasa. Meskipun terkadang rasa cemburu itu hadir di hati mereka berdua namun cemburu mereka masih dalam batas kewajaran.
Tapi akankah mereka akan terus terlihat sempurna dengan pernikahan poligami Arka. Ikuti terus kelanjutannya di episod selanjutnya ya. Salam author untuk pembacaku tercinta๐๐๐