AIR MATA CINTA

AIR MATA CINTA
#3. Hasrat


__ADS_3

Apa kau tau, bahwa aku selalu merindukan dirimu? Selalu menginginkanmu? Ingin mengikatmu dalam ikatanku? Selalu memikirkanmu? Selalu menantimu setiap saat? Tidak. Ku yakin kau tidak tau....



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



_____



Hari ini Azira pulang ke rumahnya setelah dari kampus. Azira menuju parkiran dan menjalankan mesin motornya. Baru beberapa meter Azira menjalankan motornya, ia merasakan sesuatu.



"Kenapa gue ngerasa nih motor jalannya aneh, ya?" gumam Azira. Ia merasa bannya seperti goyang.



Lalu Azira memutuskan untuk berhenti dan mengecek motornya. "Yaah ... ban belakangnya bocor ternyata." Azira melihat sekeliling mencari tempat tambal ban terdekat. "Gak ada tukang tambal bal lagi disini," gerutunya.



Azira memutuskan untuk mendorong motornya saja.



"Woi Azira! Kenapa tu motor Lo dorong?" teriak seseorang dari belakang, membuat Azira yang baru berjalan beberapa meter menoleh kebelakang.



"Eh, ada Arkya," ucap Azira ketika menoleh ke belakang. Sudah Azira tebak dari awal bahwa yang memanggilnya adalah Arkya.



"Motornya kenapa didorong?"



"Bannya bocor, ini lagi mau dibawa ke tempat tambal ban."



"Ya udah sini, biar gue bantuin." Arkya turun dari motornya dan mengambil alih motor Azira. Lalu Azira menepi kesamping.



"Terus motor Lo?"



"Lo yang bawa, gue bawa motor Lo."



"Gimana caranya Lo bawa motor gue, kan bannya bocor."



Arkya menaiki motor milik Azira dan menghidupkan mesinnya. "Udah pokoknya Lo bawa aja motor gue sampe kita nemuin tempat tambal ban." Setelah mengatakan itu, Arkya langsung menjalankan motor Azira.



Azira yang melihat itu langsung panik. "Eh Dugong! Ban motor gue tambah gede bocornya, kampret!" Dengan cepat Azira menaiki motor Arkya dan menjalankannya agar bisa menyusul Arkya.



"Eh dasar Dugong ya, kenapa Lo malah naikin motor gue!? Ntar bocornya makin gede!" protes Azira saat ia telah berhasil menyusul Arkya.



"Bomat! Lagian juga sama aja ntar ditambal," jawabnya sekenanya.



"Ditambal ya ditambal, tapi gue bayarnya makin banyak, soe!"



"Lu kok hemat amat sih? Nikmatin hidup dooong ...."



"Ini bukan nikmatin hidup namanya, tapi bikin kantong uang jajan gue menipis!"



"Gak papa lah, yang penting gue happy! Nih gue tunjukkin yang lebih seru sama Elo." Seketika Arkya menarik gas tiba-tiba membuat ban motor depannya menjadi terangkat. Motor Azira adalah jenis motor yang memiliki gigi.



Brum! Brum! Brum! Brum!



"Huwuu'huuuw ...!" Arkya terus menarik gas tinggi membuat ban depan motor terus terangkat.



"Eh soe ya, Lo! Lo jadiin motor gue motor balap!"



Arkya tak peduli dengan celotehan temannya, ia malah terus meninggikan gasnya dan meninggalkan Azira.



"Woy! Dasar temen tersoe!!" Kali ini Azira benar-benar marah.



.


.


.


.


.


.



Akhirnya Azira berhasil mengejar Arkya hingga sampai di tempat tambal ban.



"Kutu kupret Lu, ya! Cepet amat bawa motornya ..." gerutu Azira. Karena ia tadi tertinggal jauh dibelakang.



"Kan udah gue bilang, yang penting gue happy."



"Tapi kan jangan kayak gitu juga kali."



"Yaudah, gue minta maaf. Kalau motor Lo ada yang rusak, marah aja sama jalan jangan sama gue. Gue kan gak bersalah."



"Ya kali gue marah sama jalan. Udah pasti gue marah sama Lo, lah!"



"Kenapa sama gue?!" Arkya membuat nada bicaranya seolah-olah dia tak bersalah.



"Kan Lo yang bawa motor gue!"



"Tapi gue bawanya kan di jalan!"



"Tapi Lo yang ngendarain!"



"Tapi gue gak ngerusak, jalannya yang ngerusak!"



"Tetep Lo yang bersalah, karena udah ngelintas diatasnya!"



"Itu kan emang tugasnya jalan, jadi bahan pelintasan!"



"Berarti Lo yang salah!"



"Kenapa gue?! Jalannya lah!"



"Tapi Lo--"



"Mas sama Neng ini mau ngapain ke tempat tambal ban saya?" tanya tukang tambal ban, yang berhasil membuat perdebatan Arkya dan Azira berhenti. Pandangan keduanya langsung menuju ke sumber suara.



"Eh anu ... maaf Pak, kami sebenarnya mau tambal ban buat motor yang itu," jawab Arkya yang tiba-tiba nada bicaranya menjadi halus.

__ADS_1



"Buset nih Arkya, pandai banget ngerubah nada bicara. Gue harus hati-hati nih, ntar gue klepek-klepek lagi sama dia," batin Azira.



"Oooh, motor yang mana?" tanya tukang tambal ban.



"Yang itu." Arkya menunjukkan motor Azira. "Ban yang di belakang ya, Pak. Bisa gak Pak, selesaiinnya sekarang?"



"Bisa, tapi nunggunya agak lama. Gak papa?"



"Enggak."



"Yaudah kalau gitu, kalian duduk aja disana." Tukang tambal ban menunjuk sebuah bangku.



"Iya, makasih Pak. Yuk." Arkya mengajak Azira duduk, dan Azira pun setuju.



"Awas aja kalau motor gue rusak parah, sampe masuk UGD," protes Azira ketika sudah duduk.



"Ih tenang aja kali, gue ini profesional kalo bawa motor."



"Siapa tau kan, Lo sengaja ngerusak motor gue."



"Kalau gue ngerusak motor Lo. Lo gak bisa kuliah dong."



"Nah itu Lo tau, secara jarak rumah gue sama kampus jauh."



"Dan karna itu gue gak ngerusak motor Lo, biar Lo bisa ngampus terus dan gue bisa ketemu terus sama Elo."



"Emang kenapa kalau gue terus ketemu sama Lo?"



"Ada deh, kepo Lo."



"Ya kepo lah, secara ini menyangkut martabat dan keselamatan hidup gue."



"Lebay amat sih Lo." Arkya langsung mengacak-acak rambut Azira.



"Tadi motor, sekarang rambut gue yang Lo rusak. Besok apa?!"



"Besok ...." Terlihat Arkya mulai berfikir. "Besok gak ada."



"Baguslah, gue bisa tidur dengan tenang nanti malem. Enggak perlu mikirin nasib gue besok."



"Idih, takut amat sih Lo."



"Ya iyalah gue takut. Ini tuh menyangkut keselamatan gue!"



"Keselamatan dari mananya?" gumamnya.



"Dari Elo!" ucap Azira di telinga Arkya membuat pria itu sedikit meringis.



"Gila! kuping gue sakit. Lo mau operasi kuping gue, kalo rusak?"



"Gak!"



"Makanya jangan bikin kuping gue sakit, ntar gue kepret Lu!"




.


.


.


.


.


.


.



30 menit kemudian



"Ini Mas ban motornya udah ditambal," ujar seorang tukang tambal ban.



"Pak, motor saya ada rusak gak, Pak? Lecet gitu ada gak, Pak?" tanya Azira.



"Enggak ada Neng, cuma bannya aja yang bocor."



"Bocornya gede gak, Pak?"



"Lumayan, Neng."



Seketika Azira melirik tajam Arkya, sedangkan Arkya yang dilirik, pura-pura tak bersalah.



"Apa? Udah gue bilangkan, salahin jalannya bukan gue," tolak Arkya.



"Is! Lama-lama gue gibeng lu!" greget Azira. Lalu beralih ke tukang tambal ban. "Berapa, Pak?"



"10 ribu, aja."



"Tuh kan gue bilang juga apa, gak mahal kok bayarnya. Lo aja yang posesifnya tingkat dewa!" cerocos Arkya.



"Diem!" Azira menempelkan sebuah lakban pada bibir Arkya, membuat lelaki itu menggerutu tak jelas. Sedangkan Azira memberikan selembaran uang bernominal sepuluh ribu. "Nih Pak, uangnya. Makasih ya, Pak."



"Iya, sama-sama."



Azira langsung menuju ke motornya dan menghidupkan mesin. Tapi kemudian, ia melihat pada Arkya yang masih pada posisinya.



"Eh Aqua! Ngapain Lo disitu?" tanya Azira yang sudah agak jengkel dengan Arkya.



Arkya pura-pura ngambek pada Azira dengan memalingkan wajahnya dan melipat tangan di depan dada.



Azira makin greget dengan si Arkya, lalu ia memutuskan untuk turun dari motor dan melepaskan lakban pada bibir Arkya dengan kasar.



"Aduh, bibir gue copot Azira!" kesal Arkya sambil menutup bibirnya yang terasa sakit.



"Oh ya?! awasin tangan Lo, mau lihat bibir Lo yang copot."



"Ih, janganlah."



"Udahlah, jangan lebay! Kuy pulang!"



Arkya menuruti perintah Azira, tapi bibirnya tak berhenti komak kamik seperti mengucapkan sesuatu.


__ADS_1


"Eh Lo lagi ngumpatin gue, ya?" tebak Azira yang mungkin itu benar.



"Kagak, lagi ngucapin mantra buat Lo," jawabnya sekenanya.



"Mantra buat apa?"



"Biar Lo gak cepet marah-marah, kalo Lo marah ntar Lo cepet tua. Kasihan wajah cantik Lo gak bertahan lama, padahal Lo masih perawan."



Semburat merah muncul dipipi Azira ketika mendengar kata-kata Arkya. Entah angin dari mana tapi ia merasa dadanya mengalami sebuah desiran angin. Desiran yang mampu membuat dirinya merasakan sesuatu, desiran yang mampu membuatnya mati gaya dan desiran yang membuatnya hampir merasakan rasa itu lagi dan berhasil membuat dirinya gugup seketika.



Kata-kata Arkya tadi, berhasil meluluhkan kekesalan dan kejengkelan yang ada di dalam hati Azira.



"Sssst diem! Mendingan pulang aja deh," ujar Azira tak mau membuat dirinya terlibat dalam percakapan, yang mungkin akan membuat dirinya semakin gugup.



"Gue pake motor Lo lagi, ya?" tanyanya polos.



"Enak aja, gak! Gak boleh. Baru aja habis ditambal, ntar bocor lagi gimana? Lo mau bayarin?"



"Nggak lah! Kan bukan gue yang bersalah."



"Terus siapa?"



"Pertama, jalannya yang bikin ban Lo bocor. Kedua, ketebalan ban luar yang ada pada ban motor lo itu minim."



Bug!



Azira meninju lengan kiri Arkya. "Banyak alesan Lo, udah Lo yang salah. Pake acara nyalahin jalan, sama ketebelan ban motor gue."



"Gue bukan nyalahin jalan sama ban lo, tapi itu emang faktanya."



"Fakta fakta, fakta dari hongkong!"



"Bukan, tapi fakta dari otak gue, dari pikiran gue. Gimana cerita dari hongkong, sih?"



"Iiiih bete gue sama Lo! Udah ah gue mau pulang, bye!"



Azira langsung menjalankan motornya dan meninggalkan Arkya.



"Yah ... cogan kayak gue malah ditinggal." Dengan segera Arkya menghidupkan mesin motornya dan menyusul Azira yang sudah duluan.



.


.


.


.


.


.



"Azira! Lo ngambek sama gue, ya?" tanya Arkya setengah berteriak. Pasalnya, sekarang ia masih mengendarai sepeda motornya di tengah jalan raya ketika ia telah berhasil menyusul Azira.



"Iya, gue ngambek!" jawab Azira di sebelah kanannya.



"Eleh kagak percaya gue, besok juga Lo biasa lagi sama gue. Lo kan gak bisa lama-lama marah sama cogan kayak gue ini."



"Kok lo pede banget sih?!"



"Yaiyalah, masak cogan kayak gue kagak pede. Gak keren lah!"



"Idiiih ...."



Lalu percakapan mereka terhenti beberapa saat, tapi Azira melihat Arkya yang berada disampingnya sesekali. Sampai Arkya berhasil melihat bahwa Azira memandanginya diam-diam.



"Kenapa Lo liat-liat gue? Gue ganteng, ya? Iyalah, gue ganteng! Masa enggak, sih."



"Siapa bilang?"



"Semua orang juga bilang kalau gue itu  ganteng!"



"Gue nggak, ya!"



"Huh, kagak percaya!"



"Gak percaya, ya udah."



Awal pertemuan antara Azira dan Arkya, memang Azira akui bahwa Arkya adalah lelaki yang tampan. Meski kadang bibirnya mengelak akan hal itu, tapi hatinya selalu berkata, Ya.



"See you tomorrow, Azira ..." kata Arkya sambil melambai tangan. Karena Azira akan berbelok di persimpangan jalan.



"See you too, Arkya ...." Dan mereka berpisah.



.


.


.


.


.


.



"Hah ...."



Azira langsung menghempaskan dirinya di tempat tidur. Hari ini, kepalanya kembali memutarkan kejadiannya hari ini bersama Arkya. Mulai dari bagaimana Arkya membawa motor milik Azira, meski tindakan Arkya itu sebenarnya ingin membuatnya tertawa. Lalu, bagaimana Arkya membuat dirinya merasa blushing lagi.



Azira mengusap kepalanya lelah. "Gak! Gue gak boleh jatuh cinta lagi sama Arkya. Gue yakin dia gak suka sama gue, ntar ujung-ujungnya gue lagi yang sakit hati. Gue gak mau itu, udah cukup hati gue hancur. Pokoknya gue gak boleh jatuh cinta atau ngerasain apapun kalau sama Arkya. Gak boleh!" batinnya bertekad.



Jujur saja, Azira sudah lelah sendiri. Sudah lama sekali, Azira tak punya seorang kekasih. Azira sangat ingin punya seseorang. Selain untuk dirinya, hatinya juga butuh pendamping.



Tapi ... Azira takut sakit hati lagi dan lagi. Ia takut akan hal itu. Karena itulah, sebesar apapun hasratnya ingin jatuh cinta, Azira akan berusaha menahannya. Akan berusaha menepisnya, agar tak tumbuh menjadi bunga cinta, yang gugur secara perlahan.



Tak sadar air matanya turun, membasahi pipinya yang mulus, membuat matanya yang indah itu menjadi mata yang memerah. Hati Azira terasa perih, sakiiit. Ketika ia melihat teman-temannya membicarakan pacar mereka, mengatakan tingkah laku pacar mereka. Azira ingin seperti mereka, bukan untuk membicarakannya tapi untuk membuatnya bahagia.



Tapi, kapan? Kapan hal itu akan terjadi? Kini Azira punya prinsip, Azira hanya perlu menunggu waktu. Waktu yang akan mempertemukannya dengan seseorang, Azira yakin bahwa yang dikirimkan oleh Tuhan, entah cepat atau lambat. Itulah yang terbaik. Ya! Ia yakin akan hal itu.



Kini Azira membiarkan matanya turun, biarkan ... biarkan segala rasa yang ada di hatinya turun melalui air mata. Hanya air mata ....





Tbc




__ADS_1



__ADS_2