
Gerimis halus mulai membasahi bumi, sapuan angin menambah ketenangan jiwa. Arka duduk manis di teras rumahnya ditemani sang istri. Pria itu menyeruput kopi buatan tangan Ayasa. Ayasa duduk manis di sebelahnya.
"Mas hujannya romantis ya"
Bisik Aya manja.
"Iya, jadi ingat dulu semasa kita kuliah. Gerimis-gerimis makan es cream.
"Iya, dulu indah ya mas"
Arka tersenyum.
"Sekarang juga indah, kamu selalu ada disamping mas saat mas membutuhkan atau tidak kamu selalu ada untuk mas"
"Mas, jika nanti Aya gak bisa temani mas hingga tua. Apa mas bersedia mengenang Aya melalui doa-doa, mas?"
Arka seketika menoleh menatap pilu kearah wanitanya.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, sayang. Mas gak suka."
Aya meraih jemari suaminya denhan lembut.
wanita itu tersenyum manis.
"Suka atau tidak, nyatanya Aya hanya tinggal menunggu waktu, mas"
Jemari Arka bergerak menutup bibir pucat bidadarinya.
"Jangan berucap seperti itu sayang"
Aya tersenyum hambar menatap manik hitam suaminya.
"Kenapa mas, bukankah jika Aya gak ada masih ada Arsy yang akan menggantikan Aya, dia baik, lembut bahkan dia sehat tak seperti Aya yang selalu merepotkan mas"
"Cukup, Ay. Bagi mas kamu tetap wanita pertama di hati mas. Meskipun mas Sama-sama mencintai kalian, Tapi tetap saja dalam porsi dan cara yang berbeda, Ay. Jangan minta mas untuk memilih kalian, karna kalian sama-sama wanita terbaik dalam hidup mas"
Aya tertunduk pilu. Ia lupa cinta suaminya bukan hanya miliknya saja. Ada hati yang lain yang harus suaminya jaga pula.
"Hey, kok diam?."
Aya tersenyum getir dalam hatinya.
"Aku mulai lupa mas, jika ada hati yang lain yang tengah merindukanmu, beberapa bulan ini kamu sudah mengabaikannya karnaku"
Arka tersenyum mendengar ucapan istri tuanya.
"Bukankah kamu yang meminta mas, untuk tetap di sisimu? kenapa kamu berubah pikiran Ay. Ada Apa?"
"Maafim Aya, akhir-akhir ini emosi Aya mudah tak terkontrol, bahkan Ay pernah meminta Arsy untuk tidak datang kerumah ini.
Entak kenapa, saat itu rasa cemburu Aya tak terkontrol.
Pergilah mas, temui Arsy. Sampaikan maafku untuknya. Aya berdosa padanya, mas. Karna telah dengan sengaja memanfaatkan penyakit ini untuk menahan mas tetap berada di sisi Aya"
Arka menatap istrinya lekat-lekat, pria itu tersenyum. Sembari membawa kekasih hati dalam dekapannya.
"Kalian gak salah Ay, mas yang telampau serakah, hidup dengan dua wanita sekaligus. Maafkan atas keserakahan dan kekurangan mas"
Ucap Arka sembari menatap gerimis yang berjatuhan.
"Mas gak salah, mas melakukan itu karna kekurangan Aya. Aya bukan wanita sempurna mas, yang bisa memberikan mas keturunan. Harusnua Aya bersyukur, Arsy mau menjadi istri kedua mas, yang haknya pun kita nomor duakan."
Aya terisak dalam setiap ucapannya. Aya bukanlah wanita pendendam sebenarnya, terkadang terlampau seringnya hasutan orang lain, yang membuat hatinya goyah dan egois.
Dengan penyakitnya saat ini, ia tak ingin mati dalam keadaan membawa dendam dan hati yang kotor karna permasalahan dunia.
Ia ingin menghabiskan waktunya untuk berserah diri pada Allah, ia ikhlas apapun yang terjadi pada dirinya kelak.
Arka merasa tertampar dengan ucapan istrinya.
"Maafkan mas, mas tak akan menuntut kalian soal anak. Biarlah kita hidup bertiga bahagia tanpa harus ada keturunan. bagi mas anak saat ini ibarat bonus, jika dapat Alhamdulillah, jika tidak tak jadi masalah."
ucap Arka sungguhan.
Sungguh Aya beruntung, memiliki suami seperti Arka. Hari semakin dingin, gerimis mulai deras turun ke bumi.
__ADS_1
"Sayang, masuk yuk. Udaranya semakin dingin, gak baik untuk tubuhmu"
Aya nurut akhirnya mereka masuk dan nonton TV di ruang tengah.
Sementara di sana Arsy termenung sendiri, tanpa ada yang ia ajak bicara. Sudah hampir dua bulan Arka benar-benar tak menjenguknya. Gadis itupun tak ingin menghubungi suaminya, biarlah jika suamunya ingat, pasti pria itu akan mengunjunginya tanpa harus mengemis waktu yang sebentar untuknya.
Setiap malam gadis itu selalu mengenakan ligery terbaiknya, berhias cantik, beharap suaminya datang menemuinya untuk bisa melepas rindu. Saat telah pukul sembilan malam lewat, suaminya tak juga datang, gadis itu kembali mengganti bajunya dengan baju tidur biasa, seperti itulah yang ia lakukan hampir dua bulan belakangan ini.
"Mas, gak kerumah Arsy, mumpung masih sore mas"
Ucap Aya mengingatkan. Arka semakin memperketat pelukannya pada tubuh ringkih istrinya.
"Besok aja, hari ini mas ingin menghabiskan waktu denganmu, sayang"
"Tapi mas"
Arka menggeleng meminta bidadari hatinya untuk tidak melanjutkan ucapannya. Meskipun Arka merindukan Arsy, ia harus bisa menahanya, karna Arka tau Aya pasti sedih jika ia menuruti kemauanya. Bagi Arka itu hanya basa-basi saja.
Aya tersenyum membalas pelukan hangat suaminya. Akhirnya Arka membopong istri tuanya ke kamar, ia menginginkan sesuatu untuk ia lepaskan.
Mereka berdua saling membelai manja di atas ranjang, dengan segenap kelembutan Arka memperlakukan Aya, agar wanitanya tak tersakiti.
"Maaas"
Bisik Aya lembut.
"Iya, Ay"
"Pinggang Aya sakit mas,"
Seketika Arka menghentikan kegiatan liarnya. Matanya terpejam untuk menghilangkan rasa yang mulai merayap ke ubun-ubunnya.
Aya terisak batinnya pedih, melihat wajah suaminya yang frustasi, karna menahan sesuatu yang Aya tau itu Apa.
"Maafkan Aya mas, Aya gak bisa memenuhi kebutuhan, mas"
Wanita ayu itu terus terisak dalam dekapan Arka.
"Huus, sudah mas gak papa. Tidurlah maskan menemanimu"
Jarum jam menunjukkan pukul dua puluh satu, Arka mencoba memejamkan matannya namun tak kunjung terpejam, tubuhnua menolak untuk dibawa tidur, gejolak dalam dirinya terus membumbung.
Akhirnya Arka keluar dari kamarnya, ia Raih henpon di atas nakas. Ia telpon adiknya.
"Iya mas, ada apa?"
"Dek bisa temani mbakmu sebentar, mas ada perlu"
Ucap Arka minta bantuan.
"Iya mas bisa."
Rama datang dengan berjalan kaki dari rumah sebelah.
"Mau kemana mas?"
Tanya Rama heran.
"Ada urusan di luar senentar. Mas minta tungguin mbakmu sampai mas pulang ya"
Pinta Arka pada Rama.
"Sip. Hati-hati"
Ucap Rama mengingatkan. Arka menancap mobilnya, setelah enpat puluh lima menit waktu perjalanan, akhirnya Arka sampai rumah megah bergaya minimali itu.
Ia buka pintunya dengan kunci cadangan miliknya. Pria itu berjalan menyusuri ruangan yang temaram. Disana di meja makan terlihat sosok gadis yang kepalanya telungkup dengan ditopan lengannya di atas meja.
Arka mengecup kepala yang tertutup hijab itu, perlahan kepala itu terbangun, tampak disana mata sembab milik istrinya.
"Mas Arka,"
Panggilnya lirih.
__ADS_1
"Iya ini mas dek."
Ucap Arsy
"Kenapa semalam ini baru datang?"
cicit Arsy lirih.
"Maaf, mas baru bisa datang sekarang, mas gak tega ninggalin mbakmu"
"Kenapa kamu tidur di meja makan?"
Tanya Arka penasaran.
"Arsy nunggu mas datang. Arsy kangen sama mas"
Ucapnya sungguhan.
"Mas juga kangen dek"
Arka merunduk kemudian membopon istri mudanya menuju kamar.
Arsi sungguh bahagia ia lampiaskan semua kerinduannya yang dua bulan tertunda.
Gadis itu. Memberikan pelayanan erbaik untuk suaminya. Arka terpejam meresapi setiap sentuhan jemari lentik Arsy, terkadang sesekali ia rasakan hisapan lembut dikulitnya.
mereka sudah sama sama tak tahan ingin segera mencampai kenukmatan.
Arka baringkan Arsyi dengan lembut, Arka mulai melancarkan pergerakan.
Arsy terpejam tangannya mencekram sprai berwarna putih polos. Arka mengejang melenguh panjang. suaranya tersengal mendesahkan nama sang istri dengan mesra.
"Sayaaang Ayaaaa...!!"
Desahnya panjang.
Seketika Arsy menatap nanar wajah suaminya yang tengah tak sadar, nama siapa yang ia desahkan. Wajahnya ia buang ke kanan, ia tahan desakan yang memabas dari matanya. dadanya terasa sempit.
Inikah yang ia tunggu selama hampir dua bulan. Aryi terpaku di atas ranjang, gadis itu tak bergeming saat tangan besar itu memeluknya dan menutupkan tubuhnya dengan selimut.
Dengan lembut Arka berbisik.
"Terima kasih dek. Mas mandi dulu ya"
Arsy tak menjawab, gadis itu bungkam hingga suaminya selesai mandi posisinya masih sama, netranya menatap nanar langit langit kamarnya.
Seleasi berpakaian rapi Arka duduk di tepi ranjang mengelus sayang kepala Arsy. "Kenapa kok diam, kamu gak suka dengan permainan kita tadi?"
Tanya arka tak berdosa.
Arsy menggeleng. Arsy tak ingin protes semua sudah terjadi.
"Mas minta maaf, mas gak bisa nginap bersamamu sekarang, mas harus pulang malam ini juga"
Arsy hanya mengangguk mengiyakan.
"Mas pulang dulu ya. Pintu langsung mas kunci."
Arka kembali mengecup kening putih istri mudanya. Setelah itu Arka pulang tanpa Arsy mengantarnya ke depan pintu.
Monil melaju meninggalkan kediaman Arsyi.
Sementara yang di tinggal menangis tergugu.
"Ya Allah, kenapa sesakit ini rasanya. Meski kamu menjamahku,hatimu tidak bersamaku mas"
Tangisnya pecah hingga ranjang itu bergoyang.
"Mbak Ay, kamu menag mbak. Tanpa harus bersaingpun kamu sudah memenangkan hati mas Arka mbak"
Ucapnya lirih terdengar pilu. Hingga kepedihan itu terbawa mimpi buruk Arsy.
__ADS_1
Kehidupan ini dipenuhi dengan seribu macam kemanisan, tetapi untuk mencapainya perlu seribu macam kesakitan dan pengorbanan.