AIR MATA CINTA

AIR MATA CINTA
#4. Don't Let


__ADS_3

Sebelum baca, jangan lupa buat like, dan komen :):)



______________




Apa kau tau bahwa aku dulu menyukaimu? Apa kau tau bahwa aku dulu menginginkanmu? Dan apa kau tau, bahwa senyumku selalu terukir hanya dengan memandang wajahmu?


Tidak! Ku yakin kau tidak tau.



Kalaupun kini kau tau tentang perasaanku, semua sudah terlambat.


Karena perasaanku sudah hilang.


Kau sudah tidak memberiku pengaruh apapun lagi.



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



________




Hari ini Azira memutuskan untuk ke perpustakaan, Azira sangat suka membaca komik atau novel. Sayangnya, perpustakaan di kampusnya jarang sekali atau mungkin tidak ada buku komik atau novel. Kadang, semua orang juga bisa bosan membaca buku pelajaran.



"Hai Azira," sapa Yito. Ketika Azira sedang dalam perjalanan ke perpustakaan.



"Hallo, mau kemana?"



"Mau ke kantin."



Jalan antara ke perpustakaan dan ke kantin memang searah. Kadang hal itu menjadi keuntungan bagi beberapa siswa, yang kadang alasan mereka ke perpustakaan tapi malah ke kantin.



"Arkya mana? Tumben gak sama dia?" tanya Azira.



"Gak tau, bomat gue."



"Emang belum baikkan?"



"Belum, sakit hati gue di kayak gituin. Biarin aja deh sampe dia sadar."



"Sadar kalo dia salah?"



"Bukan, tapi sadar kalo gue itu sahabat terbaiknya. Jadi, ntar dia bakal ngerasa kehilangan banget."



"Kalo nggak?"



"Ya gue bakal tetep ngambek."



"Emang bisa?" Azira meragukan perkataan temannya yang satu ini, karena Yito dan Arkya adalah sahabat. Mereka berdua tak akan bisa berlama-lama saling marahan.



"Yakin lah! Gue buktiin ya sama lo."



"Oke, kita lihat berapa hari lo gak bicara sama Arkya."



Akhirnya Azira sampai di depan pintu perpustakaan. "Ya udah, gue duluan, ya." Azira melambai-lambaikan tangannya.



"Oke," balas Yito.



Azira pun masuk ke dalam perpustakaan, dan langsung memilih-milih buku. Entah buku apa itu, asalkan memiliki kisah yang menarik, Azira akan membacanya. Karena bagi Azira buku pelajaran terlalu membosankan, apalagi jika dalam contoh soalnya tidak ada sebuah cerita yang dijadikan contoh.



Azira mengambil sebuah buku yang tidak terlalu tebal, tak disangka ternyata di sebelah lemari itu ada Arkya yang tengah mengambil buku di tempat yang sama dengan buku yang akan diambil Azira.



Mereka berdua pun bisa saling melihat satu sama lain melalui celah buku. Dan disaat yang sama mata mereka bertemu. Manik mata hitam Arkya yang indah itu menatap manik mata Azira yang berwarna coklat yang tak kalah indah juga.



Tak ada yang bicara satu sama lain, keduanya menulusuri lebih dalam apa makna yang terkandung dari tatapan lawannya.


Tatapan mata itu membuat keduanya terbuai sehingga tak ada yang ingin memalingkan duluan, membuat keduanya sama-sama terkunci dalam sebuah tatapan.



"Lo liat apa, Azira?" tanya Selestia yang saat itu kebetulan lewat disana.


__ADS_1


Azira langsung tersentak. "Eh. Nggak, nggak ada."



Selestia menyipitkan matanya curiga. "Hmm ... gue nggak percaya."



Selestia berusaha melihat apa yang dilihat oleh Azira dengan cara mendongak-dongakan kepalanya dari samping Azira.



"Eh eh, apa-apaan sih, Lo?" Azira dengan cepat menggeser buku di sebelahnya agar Selestia tidak dapat melihat wajah Arkya melalui celah buku.



"Lo naksir sama buku, ya?" tanya Selestia. Karena ia hanya melihat buku bukan wajah Arkya melalui celah buku.



"Eh?" Azira sempat bingung. Tapi dengan cepat otaknya memproses kalimat yang baru saja dilontarkan oleh temannya. "Oh iya, gue naksir sama buku. Kenapa?"



"Betulan ini ..." rengeknya, "nggak percaya, gue."



"Ya udah kalo gak percaya. Mungkin kalo gue kasih undangan pernikahannya baru lo percaya, kali ya?"



"Mantul. Tapi gue berani bersumpah, itu enggak akan terjadi."



"Kalo beneran terjadi?"



"Gue siap lompat ke lumpur hisap, biar gue gak lihat pernikahan lo yang nggak masuk akal itu."



"Beneran?" tanyanya antusias.



"Eh kutukupret! Lu kok semangat amat sih? Pengen banget ya liat gue nyemplung ke lumpur hisap?"



"Iyalah, kan jarang tuh ada adegan kayak gitu. Ntar gue rekam, terus gue upload di semua sosmed gue."



"Emang jahat lu jadi temen, ya."



"Enggak, gue gak jahat. Gue itu hanya melihat adegan yang akan terjadi sebelum hari pernikahan gue. Karna ngerasa pernikahan gue gak masuk akal."



"Ih greget gue sama lu!" geram Selestia sambil mengacak-acak rambut Azira.



"Aduuh ... rambut gue yang bagusnya kayak Ratu jadi rusak," rengeknya.



"Lebay."




"Pede amat lu! Siapa bilang coba?"



"Gue lah, lo kagak denger tadi gue bilang, rambut gue bagusnya kayak Ratu."



"Eeeerrgghh ..." geram Selestia, sambil mengacak-acak rambut Azira lebih keras.



"Selestiaaaaa!"



"Apa? Gue di depan lo. Bukan di kutub!"



"Rambut gue tambah rusaaakk!"



"Ya lo rapiin lah. Udah lah gue mau pergi. Tata ...."



"Eeerrghh gue kepret lu!" umpatnya.



"Wleeee ...."



"Ck!" decak Azira sebal.



Azira berjalan menuju meja tempat baca buku, dengan tangan kanan berusaha merapikan rambutnya. Sedangkan tangan kiri memegang buku yang tadi sempat diambil.



"Hah ..." keluh Azira sambil duduk di kursi dan meletakkan bukunya di meja.



Lalu tangannya merapikan rambutnya yang sempat diacak-acak tadi. Azira tidak marah atau kesal, baginya itu hal biasa yang dilakukan oleh Selestia. Dan bagi Azira itu membuat persahabatan mereka semakin erat.



Entah angin dari mana, tapi ingatan Azira memutarkan kejadiannya tadi dengan Arkya. Sungguh, Azira tak menyangka jika mata mereka akan bertemu dan terkunci satu sama lain.



Tak sadar, bibir Azira yang mungil dan manis itu menyunggingkan senyuman. Senyuman yang Azira sadari bahwa senyuman itu muncul karena memikirkan Arkya.



Senyumannya semakin lebar ketika Azira merasakan sebuah desiran di dadanya, jantungnya berdegup kencang dan pikirannya tak henti mengingatkan dirinya dengan mata indah Arkya.



Hal itu ... membuat Azira merasakan sebuah kebahagiaan dan kedamaian. Azira merasakan perasaan itu lagi.



Azira tersentak ketika merasakan rambutnya disentuh oleh seseorang. Dan dia adalah Arkya.

__ADS_1



"Rambut lo kok acak-acakan gini?" tanya Arkya yang sudah duduk di samping Azira.



"Anu ... tadi sempat di berantakin sama Selestia."



"Waaah gak bener nih, kasihan rambut lo yang udah rapi, indah, bagus, enak di pandang mata. Malah dirusak sama Selestia."



"Gak papa, lagian udah biasa di gituin."



"Ya tetep gak bisa lah, coba kalo dia yang di gituin, emangnya mau? Pasti enggak."



"Bentar-bentar, kok lo yang protes? Kan gue korbannya kenapa lo yang sewot?"



"Gue nggak sewot. Gue cuma menerangkan keberatan yang ada di hati gue, karena lo yang sebagai korban di perlakukan seperti ini."



"Itu versi panjangnya?"



"Bukan, itu versi singkatnya. Dan satu lagi, gue kan temen lo, ya jelaslah gue sewot."



Azira memutar bola matanya malas. "Aduuuh lo berlebihan banget."



"Biarin. Btw, tadi beneran lo kan yang gue lihat dari celah buku tadi?"



"Bu-bukan, bukan gue. Gue dari tadi di sini."



"Ah masa sih? Perasaan tadi mirip elo deh. Gue yakin, kok. Coba deh lo inget-inget."



Azira pura-pura berfikir. "Tadi gue masuk perpus, gue langsung duduk disini. Terus, yang cariin buku ini temen gue. Gue gak ke rak-rak buku buat cari buku ini."



"Ih lo jangan bercanda! Gue yakin seratus persen kalau yang gue lihat itu, Azira temen gue."



Entah kenapa, tapi hati Azira merasa sedikit tergores ketika mendengar Arkya mengucapkam kata teman. Ya, kami hanya teman, batin Azira. "Gue gak bercanda, Arkya. Palingan dia mirip aja sama gue."



Arkya masih tidak bisa percaya pada temannya ini, karena ia yakin hanya Azira yang memiliki manik mata coklat yang indah itu. Tak mungkin yang ia lihat tadi orang lain.



"Lo beneran gak ke rak buku tadi?" tanya Arkya.



"Enggak Arkya," kekeh Azira.



"Ya udah deh, gue pergi dulu." Arkya beranjak bangun dan pergi, walau masih banyak pertanyaan di pikirannya dan keraguan di hatinya.



"Maaf karena gue udah bohongin lo, Arkya. Gue cuma gak mau, lo ngerayu gue tadi. Dan ngebuat hati gue makin suka sama lo, karena gue tau, kalau lo gak bakal suka sama gue, dan gue juga tau, kalau ujung-ujungnya yang sakit hati itu gue, bukan lo."



Azira dengan sengaja membohongi Arkya, ia tak mau agar Arkya lebih menggombalinya dan membuat Azira semakin gugup. Ia takut itu akan membuat hubungan mereka menjadi canggung, tapi tak bisa Azira pungkiri kalau ia juga ingin memiliki kekasih. Azira hanya takut kalau kelak bunga cinta yang tumbuh dalam hatinya akan hancur begitu saja.



Sekali lagi, Azira merasakan sebuah kepedihan. Disaat tadi, ia sudah merasakan sebuah kebahagiaan.



Padahal jikalau saja tadi Azira jujur, mungkin saja, Arkya akan menyukainya.



___



Sedangkan Arkya, ia duduk di tempat lain dan memikirkan kejadian tadi. Arkya yakin bahwa yang dilihatnya tadi adalah Azira.



Mata itu, tatapan itu, Arkya yakin itu adalah milik Azira. Tapi Azira bilang tadi bahwa bukan dirinya.



Logika Arkya berusaha untuk mempercayai hal itu tapi hatinya selalu mengatakan bahwa tadi yang ia lihat adalah Azira. Andai saja jika tadi benar Azira, mungkin Arkya akan membiarkan pikirannya memutarkan ulang kejadian tatap-menatapnya tadi.



Tapi, itu bukan Azira. Arkya berusaha menepis ingatan itu, ia tak mau membayangkan terus tatapan gadis tadi yang mungkin akan membuat dirinya merasakan sesuatu.


Tidak, Arkya tidak mau merasakan sesuatu untuk gadis lain. Entah kenapa, tapi itulah tekadnya.



"Aaarrgghh!" Arkya mengerang pelan.



Arkya tak bisa menepis atau bahkan menghentikan pikirannya untuk tidak membayangkan dirinya mengenai tatapan itu.



Arkya ingin menghentikannya, tapi tak bisa.



Padahal tadi, sebelum ia menanyakan kebenaran pada Azira soal kejadian di rak buku tadi. Arkya sempat senyum-senyum sendiri, Arkya sempat merasakan sesuatu di hatinya ketika membayangkan mata itu. Tapi kini Arkya berusaha menepis bayangan itu. Sekarang apa yang harus Arkya lakukan, membiarkan bayangan itu terus terlintas di pikirannya atau tidak?



Tapi, Arkya ingin sekali melihat mata itu dalam ingatannya. Meski Azira bilang itu bukan tatapannya, namun Arkya ingin melihat mata itu, Arkya ingin membayangkan terus bayangan mata itu.



Arkya tak peduli entah itu tatapan Azira atau bukan, tapi Arkya menyukai mata itu. Arkya membiarkan bayangannya terus melintas dalam pikirannya.



Tbc


__ADS_1



__ADS_2