AIR MATA CINTA

AIR MATA CINTA
#Part 7 : Dasar Arkya


__ADS_3

Hai guys, welcome to my story...



Don't forget to click star and comment for this story//etdah dah kayak mampir ke youtube aja 😂😂



Jangan lupa Komen sama vote ya 😍



Happy reading 💙❤💙❤




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~




Kenapa? Kenapa tingkahmu selalu membuat aku luluh, selalu membuat hati ini terasa mencair?



Apa kau tahu? Bahwa tingkahmu membuat aku bimbang, bahwa tingkahmu selalu membuat aku bertanya-tanya, kenapa kau lakukan itu padaku?



Kumohon, jangan buat hati ini berharap lagi. Kumohon jangan buat bunga cinta ini tumbuh lagi.



Karena aku tak kuat untuk merasakan sakit hati.



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



_____________



Siang hari ini, mata Azira sangat mengantuk. Bagaimana tidak? Semalam ia pulang jam satu subuh. Azira heran kenapa ibu-ibu banyak sekali gosipnya.


Mungkin bagi beberapa orang jam satu subuh tidaklah larut, tapi bagi Azira jam seperti itu sudah terlalu larut. Jika saja Azira sudah tidur, mungkin ia sudah terbang ke langit ke tujuh.



Bahkan ketika ia belajar di jam kuliah pertama, mata Azira sangat berat untuk dibuka. Andaikan ini tidak menyangkut soal masa depan dan pelajaran maka Azira sudah pasti tertidur pulas. Dan kali ini, matanya semakin berat.



Azira pun berusaha menghilangkan kantuknya dengan berjalan-jalan di koridor, Azira melirik jam tangannya sudah jam dua belas lewat. Pantas saja matanya mengantuk. Karena lelah berjalan dan sama sekali tak menghilangkan kantuknya, Azira duduk di kursi yang ada di koridor.



Azira meletakkan sikunya pada pegangan kursi yang ada di ujung, lalu menyandarkan kepalanya pada telapak tangannya dan berusaha memejamkan mata. Meski kadang kepalanya terhuyun-huyung ke depan, tapi itu tak masalah bagi Azira. Setidaknya biarkan matanya terpejam sebentar, karena tiga puluh menit lagi ia akan mengikuti kelas sore. Dan waktu tiga puluh menit itu sangat berharga untuk tidur.



Tanpa Azira sadari, seseorang datang menuju ke tempat duduk Azira. Ia sengaja membuat langkah kakinya tidak menimbulkan suara ketika berjalan agar tak ketahuan.



Karena terlalu mengantuk Azira tak menyadari orang itu, hingga ....



"DAAARRR!!"



"Waaabjkagsjdbdkmab ....!"



Azira terkejut bukan main, ia langsung membuka matanya dan terlonjak kaget. Sekaligus mengucapkan bahasa planet. Ia langsung melirik ke samping kirinya dan mendapati Arkya. Orang yang baru saja membuatnya terkejut dan membuat jantungnya kini berdetak tak karuan akibat terkejut tadi.



Sedangkan yang bersalah hanya memasang wajah tidak berdosanya sembari tersenyum bangga.



Plak!!



Azira memukul lengan Arkya dengan keras.



"Aduuuhh!" Arkya mengelus lengannya yang sakit akibat dipukul oleh Azira.



"Itu gak seberapa sama rasa terkejut yang gue rasain. Kalo gue serangan jantung tadi, gimana? Lo mau tanggung jawab?!" Azira menatap Arkya dengan wajah garangnya.



"Mau," jawabnya enteng.



"Enteng banget Lo jawab, ya."



"Iyalah, apa susahnya coba? Lo pingsan tinggal gue gendong bawa ke UKS, kan lumayan gue dapat gendong Lo."



"Iiiiiii!! Greget gue sama Lo!"



"Iya, dong. Gue kan comel."



Azira yang mendengar itu pura-pura jijik dengan berlagak orang yang mau muntah.



"Udahlah, jangan ganggu gue. Gue ngantuk."



"Ih jangan tidur, lah. Kan dua puluh menit lagi, Lo ada kelas."



"Dua puluh menit itu lumayan, bat."



Azira mendudukkan dirinya di kursi, dan kembali ke posisi awalnya yaitu bertumpuan pada telapak tangannya dan dan mulai memejamkan mata.


Namun sedetik kemudian, Arkya ikut duduk di sampingnya.



"Eh, jangan tidur. Ntar Lo ketinggalan kelas." Arkya memukul-mukul pelan lengan Azira



"Cuma sebentar, kok." Azira menjawab tanpa membuka matanya.



Arkya hanya bisa mendesah pelan dan membiarkan Azira tidur dengan posisi seperti itu. Sampai ia melihat, Azira yang terhuyung-huyung ke depan. Jika seperti ini, maka Azira tak akan dapat tidur. Lalu Arkya membawa kepala Azira ke pundaknya dan menyandarkan kepala Azira untuk tidur di sana.



*  *  *



"Azira, bangun, Azira. Lima menit lagi Lo masuk kelas." Arkya berusaha membangunkan Azira dengan


berbicara padanya, tapi sepertinya gadis itu terlalu nyenyak tidur hingga ia tidak bergerak atau bersuara sedikit pun.

__ADS_1



"Aduuh ... gimana, nih? Bangunin gak, ya? Kalau gak dibangunin, ntar pasti gue juga yang dimarahin. Tapi kalo dibangunin, susah amat." Arkya berfikir, bagaimana caranya ia membawa Azira ke kelasnya?



Arkya membulatkan mata senang, ketika mendapati ide di kepalanya. Jika Azira sulit untuk dibangunkan, maka Arkya tak perlu membangunkannya. Arkya hanya perlu membawa Azira ke kelasnya bagaimana pun caranya agar Azira tak terlambat.



Dengan perlahan, Arkya mengangkat kepala Azira dan menggeser tubuhnya ke samping dengan cepat. Lalu menggendong Azira dengan cepat ala bridal style. Dan Ya, Arkya kini berhasil menggendong Azira.



Tidak peduli dengan pandangan dan pikiran orang-orang yang melihatnya ketika menggendong Azira di koridor, bahkan ia juga tak peduli bagaimana dengan pandangan dosen dan mahasiswa/mahasiswi di kelasnya Azira nanti. Karena pada akhirnya, Azira-lah yang akan ditanyai bukan dirinya. Dan dia-lah yang akan diledeki oleh teman-temannya bukan si Arkya.



Sesekali Arkya melirik Azira. Arkya tersenyum manis ketika melihat Azira yang tertidur, wajahnya benar-benar terlihat polos.



Karena keasikan memandang wajah Azira tak sadar Arkya tak melihat adanya tanda lantai basah di lantai. Dengan santainya Arkya terus melangkah dan secara tak sengaja kakinya terpeleset, membuatnya terjungkal.



Bruukk!!



"Aduuuuh ...!" pekik Arkya yang merasa pinggangnya sakit. Bukan hanya itu dirinya juga ditindih oleh Azira.



Si Azira yang ada di gendongannya juga ikut terjatuh dan jatuh di atas dada bidang Arkya. Jatuhnya dirinya, membuat Azira terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Dia merasa di mimpinya seperti jatuh dari tempat tidur dan kali ini jantungnya kembali berdetak tak karuan.



"Aduuuh bangun Azira!"



Azira yang mendengar itu menoleh ke samping dan mendapati Arkya sedang tiduran dengan merintih kesakitan.



"Untung aja ada Lo sebagai alas gue jatoh, jadi gue kan gak kesakitan." Azira pun bangun, duduk sejenak dan berdiri.



"Lo enak, tapi pinggang gue kek retak rasanya ... aduuuh ..." rintihnya sembari duduk, wajahnya memasang ekspresi kesakitan dan memelus pinggang.



"Ya elah, siapa juga nyuruh Lo gendong gue. Kan gak ada."



"Eh, seharusnya Lo berterima kasih ama gue! Niat gue itu baek pengen gendong Lo ke kelas, supaya Lo gak telat. Ini jangankan bilang terima kasih, tolong bangunin aja kagak."



"Iya, iya, gue minta maaf." Azira langsung membangunkan diri Arkya dengan cepat, tanpa peduli dengan rengekan yang keluar dari mulut Arkya.



"Aduh, aduh. Pelan-pelan woy, pinggang gue sakit tau, gak!?"



"Enggak, tadi minta tolong dibangunin. Sekarang udah ditolong malah ngeluh mulu."



"Ya, gimana gue gak ngeluh? Lo nolongin gue kayak terpaksa banget, hati-hati gitu kek, apa kek?"



"Yaudah, kalo gitu replay aja."



Azira dengan cepat mendorong tubuh Arkya. Sedangkan Arkya yang masih mencoba mencerna makna replay yang diucapkan Azira spontan langsung terbaring.



"Eeh eh, bentar-bentar. Maksudnya apaan, nih?"



"Kan kita mau replay adegan tadi. Gimana sih, Lo?"



"Replay?" gumamnya. Akhirnya Arkya mengerti, dan spontan Arkya langsung beranjak bangun dan berdiri.




"Gue gak mau replay."



"Kenapa?"



"Gak mau aja. Capek tau, gak?"



"Kagak," jawabnya polos.



Arkya malah gregetan sendiri ketika Azira menjawab begitu polosnya. "Udah deh, mendingan sekarang Lo ke kelas daripada ngurusin replay adegan gue jatoh. Ntar Lo terlambat."



Azira menepuk jidatnya. "O iya."



Azira langsung meninggalkan Arkya disana, yang sedang mengusap-ngusap pakaiannya.



*  *  * 




Azira keluar dari kelas dengan wajah yang berseri, jam kuliahnya baru saja selesai. Senyuman lebar senantiasa terukir di wajahnya. Kali ini, kakinya membawanya ke kelas Arkya.



Namun, sebelum Azira sampai di kelas Arkya. Arkya sudah lebih dulu menuju ke kelas Azira, tanpa Azira ketahui Arkya melihatnya dari jauh. Sedangkan Azira tidak tahu jika ia sedang di perhatikan oleh Arkya dan terus berjalan.



Arkya langsung masuk ke kelas orang lain dan bersembunyi di balik tembok.



'Si Azira tumben banget tu senyum lebar, biasanya kagak pernah. Udah gitu lama banget lagi senyumannya, kayak cat yang kagak bisa luntur. Jangan-jangan dia habis menang olimpiade kali, ya? Atau jangan-jangan habis ketemu cogan? Atau bisa jadi ada mahasiswa ganteng pindah ke kelasnya?' batin Arkya menebak-nebak dari balik tembok.



Membiarkan Azira melalui dirinya, karena Azira tak tahu jika disana ada Arkya.



Lalu Arkya menghampiri Azira dari belakang. "Azira, tumben tu senyum lebar terpampang di wajah Lo? Udah gitu lama banget lagi. Kenapa?"



Azira menoleh ke belakang. Seketika Azira langsung memeluknya erat. "Kyaaa ... Arkyaaaa ...!" jeritnya yang hampir histeris namun suaranya tidak terlalu besar.



"Kenapa, nih?" Arkya bingung sehingga ia tidak membalas pelukan Azira.



Azira melepas pelukannya. "Makasiiih, bangeeet. Berkat Lo gue gak terlambat masuk kelas."



"Jadi?"



"Jadi gue gak kena hukuman. Karna tadi yang ngajar di kelas gue dosennya galak. Dan gue beruntung gak kena hukumannya dia."



"Gitu, aja?"



"Iya, dong. Meski menurut Lo itu gak seberapa tapi bagi gue itu tu luar biasa. Tau, gak?"



"Kalo gitu, Lo mesti kasi gue hadiah, dong."



"Oke," jawabnya enteng.

__ADS_1



'Ini nih, kalo hatinya lagi bersemi-semi dimintain duit satu miliyar aja, gak papa. Giliran hatinya lagi panes kayak larva, dimintain duit seribu aja susahnya kayak cari permata,' batin Arkya meledek.



"Kuy," ajak Azira.



"Kuy!"





*  *  *




"Buk, pesan satu porsi mie goreng isi dua extra pedas ya, Bu!" teriak Azira di ambang pintu kantin. Lalu Azira masuk ke dalam dengan Arkya di belakangnya yang senantiasa mengikutinya.



"Azira, Lo yakin mie ekstra pedas? Sanggup Lo makan ntar?"



"Kan gue makannya sama Lo," jawab Azira sambil mendudukan dirinya di kursi.



"WHAT!?" Arkya yang awalnya akan duduk jadi batal.



"Lo gak tau, ya? Kan gue pesan mie itu emang untuk kita berdua."



"Ta-tapi ya jangan yang ekstra pedas, lah."



"Udah lah, gak papa. Sekali-sekali. Untuk merayakan bahagianya hati gue saat ini."



'Lo bahagia, gue apes,' rutuk Arkya dalam hati. Lalu mulai duduk.



Tak lama pesanan mereka datang. "Ini, Neng. Minumannya, apa?"



"Gak usah, Bu. Ntar kalo mienya udah habis baru Azira kasi tau minuman apa."



"Oke." Ibu kantin manggut-manggut dan pergi dari tempat duduk Azira.



"Nah, sekarang ayo dimakan," perintah Azira halus.



Sebelum Arkya memakan mie di depannya, Arkya menelan ludah takut. 'Buset, ni mie goreng atau mie setan?' batinnya takut.



Azira sudah duluan memakan mie yang ada di depannya.



"Gimana?" tanya Arkya waswas.



"Emmm ...." Azira menggeleng-gelengkan kepalanya seperti kekaguman. "Pedes, banget!"



Arkya semakin kesulitan menelan ludahnya.



"Eh, Arkya. Ayo, dimakan."



Arkya menghembuskan nafas dan mengangguk. Perlahan ia melilitkan mie pada sendok garpu yang ia bawa dan memasukkan ke dalam mulutnya.



Bagaikan seratus cabai yang Arkya makan, mie itu sangat pedas. Benar-benar pedas!



Arkya langsung kepedasan. "Ya ampun ... pedes banget!"



"Belom seberapa, baru juga sesendok."



"Ya tapi makanan kayak gini gak baik buat dimakan. Ntar sakit perut."



"Tenang aja, Arkya. Kalo sama gue Lo aman."



'Aman darimananya!?' rutuk Arkya dalam hati.



Perlahan Arkya makan mie sedikit demi sedikit. Tak luput di setiap sendoknya, ia memasang ekspresi seperti menahan sesuatu. Bukan hanya Arkya tapi Azira pun sama.



Masalahnya Azira ingin terlihat kuat di depan lelaki itu, Azira ingin agar ia bisa kuat memakan mie sepedas apa pun. Namun, Azira selalu ingin tertawa di kala melihat ekspresi Arkya yang memakan mie disetiap sendoknya.



'Aduuh ... kayaknya gue harus pesen minuman deh ini. Gak baik juga kalo gue makan mie sepedas ini, terus malah ngelibatin anak orang lagi. Lagian juga gue udah gak kuat,' batin Azira.



Di tengah-tengah keputus asaan Arkya, Azira tiba-tiba berteriak,



"Buk! Minuman dingin rasa coklat dua! Cepetan!" teriaknya dengan cepat.



Di saat itu juga Arkya merasa lega akhirnya ia akan meminum minuman dingin yang akan menghilangkan rasa pedasnya atau mungkin sebaliknya(?)



Tak lama kemudian pesanan minuman Azira datang. Kedua insan itu langsung menyedot minuman mereka. Benar-benar nikmat.



"Aaaah segernyaaaa ...." Arkya mengatakan itu dengan suara yang seperti mendapatkan banyak hikmah dan anugrah dari sang kuasa.



"Bener bangeeeet huaaaah ...."



"Udah ah, gue gak mau makan lagi. Gue lebih milih beli makanan yang lain daripada makan ini," ujar Arkya.



"Bener, gue setuju sama Lo," sahut Azira mengiyakan.




Tbc~~




Ada yang pernah kayak Azira dan Arkya? 😂



Pasti pernah dong ya, pesen mie yang pedesnya kek makan seribu cabe, cuma mungkin gak sama temen laki-laki 😂



Kalau ada yang sama temen laki-lakinya, kuy komen 😉



Jangan lupa vote and komen 😍


__ADS_1



__ADS_2