
Udara panas semakin mencekam, saat ini ruang tengah Rumah Rama terasa sedang kebakaran, emosi Sarah yang berkobar semakin, membuat Rama hawatir. Sarah menatap nyalang pada putranya.
"Jelasin Rama, jangan diam saja. Apa perlu mulutmu mama robek terlebih dahulu baru kamu mau ngomong hem?"
Ucap Sarah geram. Rama menarik nafasnya dalam. Ia raih tapak tangan mamanya kemudian ia genggam erat jemari putih yang mulai keriput itu.
"Sebelumnya Rama minta maaf ma, Rama sudah buat mama kecewa. Mama jangan hawatir anak mama ini masih perjaka kok. Rama belum menikah. Solal perlengkapan bayi. Itu milik keponakan Rama dan itu cucu mama"
Jawab Rama jujur.
"Maksud kamu apa Rama? jangan bikin mama bingung. Kamu gak menghamili anak orangkan?"
Tuduh Sarah syok.
"Demi Allah ma, Rama masih waras gak mungkin Rama lakuin itu ke perempuan yang belum halal untuk Rama."
Sarah makin penasaran.
"Jadi pakaian bayi siapa itu?"
"Bayi Arsyi ma!"
Ucap Rama tegas.
"Arsy. Jadi perempuan murahan itu hamil? Heem bisa-bisanya kabur dari rumah tau-tau sudah hamil saja!"
"Ma!"
Tegur Rama tak suka. Sarah tetap tak perduli dengan peringatan putranya.
"Siapa ayah dari bayi itu rama, jangan bilang itu anak hasil gotong royong"
Ucap Sarah keterlaluan.
"Ma, Rama gak suka mama ngomong kayak gitu. Dia anak mas Arka ma"
Sarah tersenyum mengejek.
"Kenapa kamu bisa yakin?"
Tanya Sarah tak suka.
"Karna Arsy sudah menjelaskan proses terjadinya kehamilannya, di depan Rama, mas Arka dan mbak Aya"
Terang Rama pada Sarah.
"Terus kenapa dia pake acara kabur? kalau memang itu anak Rama?"
Ejek Sarah makin tajam.
"Mama gak kenal Arsy dengan baik, jadi mama tidak akan bisa melihat ketulusan Arsy, jadi percuma Rama jelasin panjang lebar ke mama, tapi jika mama ragu dengan cucu mama, ya terserah. Maaf ma, Rama harus kerumah sakit untuk membantu Arsy."
Ucap Rama.
"Mama ikut"
Sahut sarah cepay. Saat ini mereka berada di ruangan rawat Atsy. Arsy tersenyum ramah pada ibu mertuanya.
"Mama apa kabar?"
Ucap Atsy ramah sembari mengulurkan tangannya. Sara menatap Arsy dengan angkuh tanpa menjawab ucapan menantunya dan mengabaikan uluran tangan gadis itu.
Rama yang melihat itu meringis, ia bisa rasakan sakitnya hati gadis di hadapannya.
"Duduk ma, capek berdiri"
Ucap Arsy lagi. Sarah tak menjawab wanita paruh baya itu mendekat kearah boks bayi Arsy. Sarah terbengong ternyata wanita ini memiliki bayi kembar yang lucu-lucu. Hatinya bahagia namun ia gengsi untuk mengakuinya. Bahkan bayi-bayi itu mirip sekali dengan Arka. Sara percaya jika bayi-bayi Arsy memang cucunya dari Arka. Namun Sarah harus melakukan sesuatu agar Arka tidak menyesal nantinya.
Sarah mendekat seolah tengah melihat cucunya. Namun tanpa sepengetahuan Arsy dan Rama, Sara menggunting rambut bayi Arsy. Setelah dapat potongan rambut itu ia simpan dengan apik dalam plastik putih dan ia taruh dalam tasnya. Selesai dengan rencananya.
__ADS_1
Sarah mendekat kearah Branker menantunya. Tanpa bertanya kondisi Arsy wanita yang berstatus mertua itu dengan sadisnya berucap pada Arsy.
"Hebat kamu ya, setelah mendapatkan Arka, sekarang kamu menggoda Rama yang notabennya adik iparmu sendiri. Ingat Arsy jangan coba-coba sedikitpun berniat untuk, jadikan Rama tumbal ke duamu."
Bisik Sarah tajam, Arsy meringis ngilu dalam hatinya, mendengar ucapan Sarah.
"Ram, ayo antar mama pulang. Mama capek ingin istirahat"
Pinta Sarah pada putranya.
"Sy, aku antar mama dulu nanti aku kesini lagi. Ayo ma!"
Pamit Rama pada Arsy.
"Iya ram hati-hati. Gak usah balik kesini Ram, ada mbok Nah kok yang bantu jagain dedeknya. Rama tersenyum menatap kakak iparnya.
Sampai di rumah Sara kembali bertanya pada Rama.
"Apa masmu tau jika perempuan itu sudah melahirkan?"
"Belum ma, Arsy tidak ingin memberi tahunya. Lagipula setelah selesai nifas mas Arka akan ceraikan Arsy."
Ucap Rama berkata yang sebenarnya. Sarah mulai takut, wanita itu takut kehilangan cucunya.
"Mama gak salah dengar Ram?"
"Gak ma, mas Arka sendiri yang berkata seperti itu di depan Arsy, Rama dan mbak Aya. Tapi menurut Rama, bercerai itu jalan yang terbaik ma. Agar tidak ada lagi yang tersakiti"
Ucap Rama pada mamanya, Sarah terdiam.
"Jika mereka bercerai bagaimana dengan anak-anak Arsy?"
Tanya Sarah mulai gelisah.
"Jangan hawatir ma. Ada Rama yang membantu membesarkannya. Lagipula mas Arka tidak mengakui darah dagingnya sendiri."
Jawab Rama getir. Sedikit banyaknya Rama merasa bersalah karna malam kepargian Arsy, Ramalah yang menjemputnya. Sehingga terjadi salah paham antara Arsy dan masnya. Sebenarnya Rama ingin menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya namun Arsy tak mengizinkan Rama untuk berterus terang.
Setelah sebulan lebih Sarah kembali ke kalimantan untuk menjengik cucu-cucunya. Sementara Arka binggung mencari keberadaan Arsy, pria itu ingin menuntaskan masalahnya dengan istri keduanya itu. Semua berkas perceraian sudah ia ajukan ke pengadilan agama. Saat ini ia ingin meminta tanda tangan Arsy untuk persetujuan cerai.
Aya menatap lekat wajah suaminya. Ia raih tapak tangan besar Arka ia kecup jemari itu penuh kelembutan.
"Mas apa kamu udah yakin dengan keputusanmu, mas? mas kenapa tidak di bicarakan baik-baik, setidaknya kamu dengarkan dulu penjelasan dek Arsy, mas! jujur mas, Aya tidak mengharapkan perceraian kalian, bagaimanapun Aya sudah menyayangi Arsy seperti adek Aya sendiri."
Ucap Aya untuk menikirkan ulang keputusan suaminya.
"Ini yang terbaik sayang"
"Terbaik untuk sapa mas, untuk kamu? Kamu lupa mas, kamu yang membawa dek Arsy ke dalam rumah tangga kita, kamu yang memberi harapan pada gadis yatim piatu itu, sekarang kamu yang menghancurkannya, setelah aku ikhlas menerima takdir ini, dengan mudahnya kamu menghancurkannya"
Arka membisu menatap Ayasa.
"Maafkan mas, mas gak mau terlalu dalam menyakitimu"
Ucap Arka lemah.
"Jika kamu mengatakan itu sekarang, sudah terlambat mas. Saat ini yang sedang tersakiti bukan Aya, tapi Arsy. Entahlah, Aya gak tau cara berpikir Mas"
Ucap Ayasa kecewa. Kemudian wanita itu bangkit dari duduknya menyisakan Arka yang termenung.
Seminggu berlalu akhirnya Arka mendapat kabar bahwa Arsy berada di kalimantan bersama Rama. Mendengar berita itu darah Arka mendidih. Bagaimana bisa ternyata istrinya dibawa kabur adiknya sendiri. Tanpa nunggu waktu lama Pria itu dan istri tercinta terbang ke kalimantan untuk memastikan kabar burung.
Sampai di kediaman Rama, rumah itu tampak sepi. Disana hanya ada seorang gadis dan seorang pria yang cukup ia kenal, yang tengah berbain dengan bayi kembar berumur sekitar tujuj minggu. Arsy terkejut menatap dua tamu yang tak ia undang.
Arka mendekat tanpa berucap pria itu dengan bringasnya menghajar adiknya sendiri.
"Adik macam apa kamu, membawa kabur istri kakakmu sendiri"
Bentak Arka tajam.
"Mas"
Pekik Aya mengingatkan namun pria itu tak menghiraukan.
__ADS_1
"Kamu juga, istri macam apa kamu, kabur dengan adik iparmu, jangan-jangan anak ini anak hasil hubungan gelapmu dengan Rama, menjijikkan kalian"
Uap Arka sembari menunjuk wajah Arsy dan Rama, Tak lama mbok nah masuk dari belakang, wanita tua itu tergopoh sembari membawa keranjang baju.
"Ada apa ini, mas Rama. Kok ribut-ribut? Mari duduk dulu mas Arka, kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin."
Bujuk mbok Nah mengingatkan. Arka menurut tangannya digandeng Oleh Ayasa, menuju kursi.
"Mbok, tolong bawa anak-anak masuk kamar"
Pinta Arsy lembut. Arsi duduk di sebelah Rama.
"Jelaskan sama mas Ram, kenapa kamu bawa kabur mbakmu dan ada hubungan apa kamu dengan bayi itu, apa kamu juga ikut andil menyumbangkan benihmu untuk anak itu?"
Tuduh Arka tajam. Arsy yang mendengar itu, tangannya mengepal kuat. Rama berdehem untuk mengontrol suaranya.
"Iya, dia anakku mas!"
Jawab Rama mantap. Seketika Arsy menatap rama tak percaya. Begitupun dengan Arka dan Ayasa.
"Ram..!"
Panggil Arsy bergetar. Rama memberi isyarat melalui anggukan kepala. Rama sengaja mengiyakan tuduhan Arka. Agar kakanya itu mencerikan Arsy. Arka bangkit dari duduknya seketika menyambar teh hangat yang barusan mbok rum bawa, dengan hitungan detik air teh itu tandas oleh Arka ia siramkan ke wajah Arsy.
"Mas kamu keterlaluan"
Bentak Aya tak suka, suaminya berbuat kasar pada wanita. Arka melirik sekilas Aya. Kemudian pria itu dengan sinis berucap.
"Heem perempuan pezina sepertimu tak layak menjadi istriku, Hari ini juga kulepas kamu Arsy sebagai istri sahku dan mulai detik ini ikatan kita sebagai suami isyri telah terputus. Silahlan kamu tanda-tangani surat persetujuan cerai itu"
Ucap Arka sarkas sembari melempar amplop coklat ke wajah Arsy. Sungguh Arka kecewa dengan pengakuan Rama.
Gadis itu tak menjawab sedikitpu, atas hinaan yang dilontarkan Arka, ia buka amplop coklat itu dengan cepat ia bubuhkan tanda tangannya di atas kertas putih. Setelah itu gadis itu measuk kedalam kamar. Melihat itu hati Aya terasa teriris ngilu. Aya membuntuti Arsy.
Ia peluk tubuh adiknya dengan penuh cinta.
"Maafkan mas Arka dek, dia sedang emosi, mbak tetap gak percaya atas tuduhan mas arka dan pengakuan Rama, katakan dek kalau itu bohong"
Arsy menggeleng.
"Aku perempuan hina di mata kalian, aku pernah menjadi perempuan malam. Hal seperti itu sudah biasa aku lakukan, pulanglah mbak, jaga mas arka. Arsi minta maaf atas kekacaun yang Sy buat dalam rumah tangga mbak. Demi Allah mbak, Sy sangat menyayangi mbak."
"Kamu gak salah dek, keadaan yang membuat kita seperti ini"
Ucap Aya terus terisak. Saat mereka masih berpelukan Arka nyusul menarik tubuh Ayasa.
"Kamu gak perlu, mengotori tubuhmu dengan memeluk perempuan kotor seperti dia"
Ucap Arka tajam. Sembari meyeret istrinya keluar rumah Rama.
"Ingat Rama, mas tidak pernah memaafkan perbuatamu itu"
Puas menumpahkan Amarahnya Arka pergi bersama Ayasa.
Melihat kejadian itu mbok Nah tak kuasa menahan tangisnya.
"Kenapa mas Rama ngomong kayak gitu, lihat kasihan nduk Arsy, mas"
Ucap mbom Nah.
"Ini yang terbaikbok"
Ucap Rama tegas.
Rama masuk ke kamar Arsy di temani mbok Nah. Di atas ranjang tampak Arsy tengah tertunduk sedang menggendong kedua bsyinya, sembari terisak menatap dua buah hatinya.
"Maafkan aku Sy, terpaksa aku harus berbohong."
"Gak papa Ram, Aku yang berterima kasih. Dengan kamu mengatakan ini anakmu, dengan begitu mas Arka tidak akan mengambil mereka dariku."
Ucap Arsy sembari menghapus pulir bening yang terus mengalir deras.
__ADS_1