
Aku bisa bersembunyi dari kesalahanku, tapi tidak dari penyesalanku. Dan mungkin aku dapat bermain dengan dramaku tetapi tidak dengan karmaku. Sejumlah tetes air matanya berkali-kali lipat penyesalanku untuknya.
Seandainya aku terlahir kembali, akan kuperbaiki kesalahan dan penyesalanku di masa-masa itu. Namun semua telah terlambat, dia telah pergi bersama jejak luka yang aku ciptakan.
Arka terus menyesal dengan apa yang telah ia perbuat pada istri keduanya. Aya mendekat kearah suaminya.
"Mau sampaikapan kamu kayak gini terus mas? Arsy dan anak-anakmu tidakakan kembali lagi, Coba dulu mas tidak mengedepankan ego mas, pasti gak akan seperti ini jadinya. Batin Aya saja merasa sakit saat mas merendahkannya, menuduhnya bahkan dengan kejam kamu siram dia dengan air teh. Kamu cukup keterlaluan mas. Dia seorang perempuan, sama seperti Aya mas. Tapi kamu begitu kentara membandingkan antara aku dan Arsy. Kami sama-sama istrimu, mas. Biarkan dia tenang menjalani hidupnya, anggap saja ini karma untukmu. Bukankah ini yang mas mau. Hidup bersama wanita yang tak mampu memberimu keturunan, seperti Aya. Bangunlah tata hatimu kembali, belajarlah dari kesalahanmu mas"
Ucap Aya lembut namun menusuk jantung Arka.
"Kamu nyalahin mas dek?"
Ucap Arka kecewa.
"Bukan nyalahin kamu mas, tepatnya Aya mengingatkan, gak ada yang perlu mas sesali, semua sudah terjadi."
Arka tak menjawab, pria itu tersenyum getir menatap punggung Aya yang mulai menjauh meninggalkanya di atas sofa sendirian. Hatinya makin kosong, kenangan manis bersama Arsy tiba-tiba hadir merasuk di benaknya. Ia raup mukanya dengan kasar sembari menghela nafas panjang.
Sementara Aya kembali membereskan taman mawarnya yang mulai semak.
Disini di pesantren Al-Mutazam Arsy kembali menapakkan kakinya ditempat yang dulu pernah mengubah takdir hidupnya, dari wanita malam hingga menjadi seorang hamil quran. Atas bimbingan Nyai Fatimah dan kiayi Ansyori. Di tempat ini dimana ia banyak belajar sehingga bisa menjadi wanita hebat dan mandiri.
Dengan hati bahagia saat ini Arsy tengaah membantu nyai Fatimah menyiapkan masakan untuk para santri.
"Nyai, Arsy senang bisa kembali di pesantren ini, disini banyak yang bisa Sy ajak ngobrol tentang hal kecil namun bermanfaat"
Ucap Arsy lembut. Nyai Fatimah tersenyum
"Jangan panggil nya ndok, panggil ummi saja"
Pinta Fatimah pada Arsy.
"Benarkah Arsy boleh panggil ummi?"
Ucap Arsy senang. Fatimah tersenyum.
"Tentu sayang, ummi salut padamu. Kamu putri ummi yang paling tegar. Cobaan yang Allah berikan untukmu terlalu berat, namun kamu mampu menghadapinya dengan tenang."
Arsy terdiam. Membayangkan nasipnya yang terlalu buruk.
"Ini sudah menjadi takdir Arsy ummi"
Ucap Arsy dengan air mata yang berlinag.
__ADS_1
Fatimah meraih tubuh Arsy penuh kasih sayang.
"Jangan sedih ada Ummi bersamamu."
"Terima kasih ummi"
Fatimah kembali tersenyum. Tangan tuanya ia gunakan untuk membelai wajah ayu Arsy.
"Bagaimana hafalan quranmu nduk, apa masih kamu ulang-ulang.?"
Tanya Fatimah ingin tau.
"Alhamdulillah, masih ummi. Berkat bimbingan ummi enam tahun silam, Arsy bisa menjadi seorang hamil quran. Itu hadiah terbesar untuk Arsy. Allah maha sempurna menuliskan takdir Sy, dulu Arsy sempat dijadikan wanita malam oleh bibi Sy sendiri, itu takdir terburuk Arsy yang sangat sulit Arsy jalani, hingga Arsy dititpkan ke pesantren ini dan bertemu ummi dan Abah Ansori, namun sekarang Arsy kembali ke pesantren ini dengan takdir yang berbeda, ummi!"
Ucap Arsy sembari terisak.
"Yang sabar nduk, di balik kisah pahitmu Allah sedang menyusun takdirmu yang baru, insya Allah kisah yang lebih baik."
Ucap Fatimah lembut, sembari mengelus kepala Arsy yang tertutup hijab.
"Aamiin, terima kasih ummi!"
Saat aryik ngobrol, Nuning memanggil Arsy.
Mbak Arsy si kembar nangis, sepertinya mau minta Asi"
Ucap Nuning memberi tahu.
"Gak papa, nduk. Pergilah beri asi bayimu"
Ucap Fatimah lembut.
Selesai memberi asi, Arsy dukuk di kursi depan. Binirnya tersenyum menatap para santri hilir mudik dengan kesibukannya.
Di tempat lain Sara mendebat putra bungsunya. Lama-lama Rama penat dengan ocehan dan omelan sang mama. Sehingga tanpa sadar pria itu membantah ucapan sang mama.
"Mama heran lihat kamu ya, Ram! makin kesini, kamu makin gak perduli dengan perasaan mama. Kamu taukan Ram, belasan tahun mama menanti ke hadiran cucu, sekarang saat impian itu datang, kamu malah cuex aja, gak mau bantuin mama untuk dapetin cucu mama kembali."
Ucap Sarah seenak hatinya saja. Rama menatap mamanya tak percaya.
"Ma, tolonglah jangan kehendak mama aja yang mau mama turuti, Arsy itu punya hati ma, mama tega mau rampas si kembar dari tangan Arsy? dimana mama saat Arsy minta dukungan moral dari mama, bahkan mama gak perduli ma, hanya sekedar menjabat tangannya saja mama gak sudi. Saat itu mama gak lihat luka yang terpancar di matanya. Rama gak setuju jika mama ingin merebut si kembar dari Arsy"
Ucap Rama tajam.
"Bukan begitu maksud mama Ram. Cari Arsy bujuk dia untuk kembali pada masmu, dengan begitu cucu mama akan berada di dekat mama"
Ucap Sarah menjelaskan maksudnya. Rama yang mendengar itu seketika berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Gak, sampaikapanpun Rama gak akan bantu mas Arka untuk balikan dengan Arsy!"
Tentang Rama tegas.
"Kenapa begitu Ram, kamu gak kasihan dengan masmu?"
Bentak sarah tajam.
"Apa mas Arka ada rasa kasihan dengan Arsy? Gak ada ma, bahkan Rama yang bolak-balik ngurusi Arsy masuk rumah sakit karna kehamilannya."
"Itukan salah Arsy sendiri ngapa pake acara kabur, wanita itu saja yang terlalu manja"
Ejek Sarah tak suka.
"Ma. Rama gak suka mama terus mojokin Arsy"
Ucap Rama sengit.
"Kamu, mama perhatiin dari awal kita bicara, kamu belain wanita itu terus, kenapa Rama? ada apa dengan kamu sebenarnya. Padahal dulu kamu juga tidak menyukai kehadirannya di keluarga kita, jangan bilang kalau kamu ada hati dengan kakak iparmu sendiri, Ram"
Ucap Sarah makin tak suka.
"Ya, mama benar, Rama jatuh cinta dengan kakak ipar Rama. Rama jatuh cinta dengan ketulusannya dan kebaikannya. Ma!"
Ucap Rama tegas. Sarah melotot menatap putra bubgsunya.
"Kamu gila Rama!"
Pekik Sarah kesal
"Mungkin orang akan mengatakan hal yang sama, tapi Rama gak perduli ma, setuju atau tidak, Rama akan tetap menikahi Arsy jika nanti kami bertemu!"
Sarah tak menjawab, wanita itu dengan sekejap saja sudah mendaratkan lima jarinya ke rahang Rama.
"Kamu sadar dengan spa yang kamu ucapkan Rama? kamu gak pikirin perasaan masmu, kamu gak pikirin perasaan mama? Mau mama taruh mana muka mama jika kamu menikahi wanita itu, heem?"
Bentak Sarah sembari mendudukan bokongnya di sofa.
"Mama gak perlu hawatir, setelah menikah Rama akan pergi jauh dari kalian.Agar keliarga gak menanggung malu dengan keputusan Rama"
Ucap Rama kesal. Sarah tak bersuara isakannya terdengar jelas di telinga putranya. Rama tak tega melihat mamanya menangis.
"Maafkan Rama ma, Rama sudah keterlaluan"
Sarah tak menjawab wanita itu menatap putranya tak percaya, dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
Rama