
Manusia hebat adalah manusia yang bisa mengendalikan diri disaat dikuasai amarah, tenang saat dipermalukan, tersenyum saat diremehkan. Bersabar saat menemui cobaan dan bersyukur untuk semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.
Allah tiupkan kekuatan melalui ujia-ujian yang datang. Allah tangguhkan sesuatu untuk didik sabar. Allah ambil sesuatu untuk didik ridha. Sampai, Allah akn beri sesuatu sebagai ganjaran.Saat itu, kamu akan bagitu bersyukur dengan apa yang Allah aturkan. Sungguh, Allah menyukai orang yang senantiasa sabar.
Itulah yang selalu Arsy tanamkan pada dirinya selama enpat tahun terakhir, sehingga gadis itu mampu menjalani pahitnya kehidupan dengan ringan tanpa merasa terbebani.
Mentari pagi memancarkan sinarnya yang cerah, Arsy berlari mengejar putra putrinya di taman bermain, bocah kembar berusia empat tahun itu tengah bahagia bermain dengan bundanya.
"Bunda mau balon itu, nda"
Pinta Kenzi manja.
"Yang mana sayang?"
Tanya Arsy pada buah hatinya.
"Itu nda, yang merah"
Tunjuk Kenzi tak sabar sembari melompat-lompat manja. Melihat Kenzi, memegang balon, Keza juga gak mau kalah.
"Nda, buat Eza mana?"
Pintanya sambil manyun.
"Anak bunda Eza mau juga?"
Ledek Arsy bahagia.
"Iya nda yang merah juga"
Ucap Eza kegirangan. Setelah keduanya memegang balon, bocah cilik itu kembali berlari bahagia di taman, dan duduk di atas rumput.
Arsyi duduk di kursi sembari menatap putra putrinya. Ia tak menyangka jika dirinya mampu mengurus dan membesarkan kedua anaknya tanpa campur tangan sedikitpun dari mantan suaminya.
Air mata bahagianya menitik, melihat pertumbuhan buah hatinya yang sempurna. Fatimah mendekat, menghapus air mata putri angkatnya itu.
"Apa yang kamu tangisi nduk?"
Ucap Fatimah lembut. Arsy tersenyum pada umminya.
"Sy, Bahagia ummi, Kenzi dan Keza tumbuh dengan sempurna. Mereka sungguh pengertian sekalipun mereka tak pernah mertanya prihal ayahnya."
Ucap Arsy terisak.
"Anak-anakmu itu, anak yang hebat. Mereka sekecil itu saja sudah bisa hafal juz tiga puluh. Nduk! ummi turut bahagia bisa punya cucu sehebat mereka"
Fatimah dengan sayang memeluk Arsy.
"Terima kasih ummi, semua ini juga karna campur tangan ummi dan abah."
Puji Arsy pada Fatimah.
"O ya nduk, abah ingin Bicar penting padamu, ada yang ingin beliau sampaikan"
Ucap Fatimah menyampaikan pesan suaminya.
__ADS_1
"Ada apa ya ummi?"
Tanya Arsy penasaran.
"Ummi juga gak tau nduk, lebih baik kamu temui abah sekarang, beliau ada di pendopo belakang."
Ucap Fatimah lembut.
"Baik ummi"
Arsy memanggil anak-anaknya pulang, sampai di rumah tak lupa Arsy meminta anak-anaknya untuk bersih-bersih, cuci tangan dan kakinya. Setelah itu bocah cilik itu istirahat semnari murojaah didampingi Nuning. Sementara Arsy menuju pendopo menemui abahnya bersama Fatimah.
"Duduk sini, dekat abah. Ada yang ingin abah sampaikan padamu nduk! tapi sebelumnya abah minta kamu tidak tersinggung!"
Ucap abah pada Arsy.
"Insya Allah, tidak abah"
Jawab Arsy sopan
"Begini nduk, ada seorang pemuda yang akhlaknya baik, ibadahnya juga baik dia tengah mencari seorang wanita untuk ia khitbah menjadi istrinya. Kamu gak perlu hawatir, dia pria baik salah satu mantan santri dari pondok kita ini, dulu dia santri kesayangan abah saat MTS dan MA dia anak yang pintar dan baik budi. Dia sama sepertimu nduk, sama-sama seorang hamil quran."
Ucap Abah menjelaskan maksudnya. Arsy terdiam.
"Tapi bah, Arsy seorang janda beranak dua. Sementara dia pria lajang, apa dia mau menerima kondisiku yang seperti ini?"
Ucap Arsy menolak secara halus.
"Dia tidak mempermasalahkan soal itu nduk, dia mencari istri yang salehah sepertimu"
Arsy tertunduk ia mulai gelisah, tak mungkin Arsy menolak tawaran orang yang telah baik kepadanya, abah dan ummi sudah Arsy anggap orang tuanya sendiri.
"Maaf abah, Arsy belum bisa jawab sekarang. Arsy butuh petunjuk, beri waktu Arsy tiga hari untuk menunaikan shalat istiqarah terlebih dahulu"
"Iya nduk, memang begitu semestinya, mintalah petunjuk pada Allah. Berarti hari Rabu, kamu sudah beri jawaban pada abah ya nduk, biar abah bisa memberi kabar padanya"
Ucap Abah lembut.
"Insya Allah, abah"
Ucap Arsy sopan.
Usai berbincang pada abah. Arsy kembali masuk rumah, untuk melihat anak-anaknya.
Sementara di lain tempat, Ayasa tengan menggendong bayi munggil yang di beri nama Nazla. Sarah menatap tak suka pada bayi mungil itu.
"Mama sudah bilang, mama gak setuju kalian adopsi anak itu. Tapi kalian masih saja ngeyel, apa kalian tau asal usul dari bayi itu. Mama gak mau Ay, punya cucu gak jelas asal udulnya. "
Ucap Sarah tajam. Aya menaruh putrinya di dalam boks, kemudian ia bawa wanita paruh baya itu untuk duduk. Ia genggam jemari keripit mertuanya.
"Ma, Aya minta maaf atas kelancangan Aya, karna telah mengadopsi putri kami tanpa persetujuan mama. Mama jangan hawatir, Nazla anak dari keturunan orang baik-baik, Nazla anak yatim piatu ma, orang tuanya meninggal kecelakaan, orang tua Nazla itu teman mas Arka, sebelum meninggal ia titipkan putrinya pada kami."
Jelas Aya pada mertuannya. Sarah menatap lekat pada menantunya.
"Maafkan mama Aya, mama hanya hawatir saja"
"Iya ma, gak papa. Aya paham, maafkan Aya ma, karna kekurangan Aya mama gak bisa nimang cucu dari Aya dan mas Arka. Mama taukan sampai kapanpun Aya tak bisa memberi mas Arka dan mama keturunan dari rahim Aya"
Ucap Aya lembut namun serat dengan kesedihan. Sarah memeluk erat menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Yang sabar sayang, semua sudah kehendak Allah"
Ucap Sarah mulai melunak.
Tepat tiga hari, Arsy akhirnya memberikan jawaban pada abah.
"Jadi gimana nduk, apa sudah ada gambaran mengenai keputusanmu?"
Tanya Abah menuntut jawaban Arsy.
"Insya Allah, Arsy siap abah"
Ucap Arsy mantap.
"Alhamdulillah nduk. Abah senang mendengarnya. Abah akan sampaikan kabar bahagia ini ke padanya, agar kalian nantinya bisa langsung taaruf."
Ucap Abah bahagia. Sementara Arsy biasa saja, karna wanita itu lebih senang menjadi
single parent, sebenarnya ia masih takut dengan bayangan ke gagalan.
Tepat hari jum'at bakda asar tamu abah datang. Yang katanya ingin bertaaruf dengan Arsy. Abah tengah berbincang dengan pemuda itu, tiba-tiba Kenzi menerabas masuk
dan duduk di pangkuan yai ansori.
"Eyang kakung, simak hafalanku dulu ya."
Pinta Kenzi manja.
"Eyang sedang ada tamu cah ayu!"
Ucap Abah sembari membawa cucunya dalam pangkuan.
"Gak papa yai"
Ucap Pria itu sopan. Kenzi mulai setoran surah Al muluk juz dua puluh sembilan. Usai setoran bocah itu kembali berlari mencari sang bunda. Sementara pria itu terkagum melihat kecerdasan bocsh cilik tadi.
"Bunda, Kenzi udah hafalan sama eyang kakung, kenzi dapat lima bintang, baca surah Al muluk"
Ucap Kenzi girang, lalu menunjukkan tapak tangannya yang diberi gambar bintang oleh abah dengan pena."
"Wah, anak bunda pintar."
Puji Arsy lembut.
"Nda kenzi udah boleh main?"
Tanya bocah cilik itu sembari menarik gamis bundanya.
"Iya boleh sayang, ajak bulek Nuning ya nak"
Ucap Arsy lembut.
Tak lama Fatimah mendekat pada sang putri.
"Nduk, pria yang ingin taaruf dengan mu sudah datang sekarang mereka tengah menunggumu di pendopo belakang bersama abah, yuk umi antar"
Arsy dan Fatimah berjalan menuju pendopo, Arsy menunduk ia malu. Sementara pria itu menoleh kesuara tapak sandal yang semakin mendekst. Pria itu tertegun menatap wanita cantik itu.
__ADS_1
"Ya Allah, mimpi apa aku semalam"
Batin pria itu sembari menelan salivanya serat.