
Suamiku, aku akan tersenyum seolah tidak ada yang salah, berpura-pura semuanya baik-baik saja, bertingkah seolah semuanya sempurna, meskipun di dalamnya sangat tersiksa dan menyakitkan.
Aku akan meresapi semua makna di balik kenangan pahit yang kau berikan itu, dan akan kujadikan pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik.
Arsy duduk di taman belakang, sembari sembari murojaah hafalannya yang sudah lama tak ia ulang. Bibirnya terus bergekak memutkinkan bacaannya.
"Ndok diminum dulu susunya, biar bayinya sehat"
Ucap mbok Nah mengingatkan.
"Iya mbok, makasih nanti saya minum"
Mbok Nah tersenyum melihat Majikannya itu begitu tekun murojaahnya, semenjak mereka pindah.
Namun di tempat yang berbeda Ayasa tengah duduk termenung, menatap awan biru yang menggambarkan ketenangan. Arka mendekat ikut duduk di samping sang istri.
"Sedang melamuni apa? daritadi mas perhatiin lamunanmu jauh."
Aya tersenyum menatap suaminya, dengan menampilkan wajah teduhnya.
"Mas apa kamu gak ada niat, mencari Arsyi?"
Tanya Aya penuh kehati-hatian agar suaminya itu tak tersinggung.
"Dia sudah pergi berarti dia sudah tak menginginkan bertahan menjadi istri mas"
Jawab Arka lembut, namun penuh luka dalam setiap ucapannya. Aya meraih jemari suaminya, ia elus lembut tangan besar itu.
"Mas, Arsy itu masih bocah, egonya masih tinggi. Harusnya kamu yang mengalah mas! Apa mas gak kasihan dengan Arsy, dia tengah mengandung anakmu mas"
Arka terdiam mencerna ucapan istri tercinta.
Arka mulai meraup udara dengan kasar.
"Maaf, jika mas meragukan anak dalam kandungannya. Istri yang baik itu tidak akan meninggalkan rumah, apapun alasannya tanpa seizin suaminya. Apa lagi dia sempat pergi bersama pria lain."
Ucap Arka tegas.
"Jadi mas masih kekeh dengan argumen mas sendiri? Baiklah kalau memang itu keputusan mas. Tapi kalau menurut Aya, Arsy tidak mungkin berzina dengan pria lain, karna Aya bisa liht cinta yang Arsy punya begitu besar untuk mas, apa kamu sedikitpun tidak bisa melihat itu mas?"
"Mas sedang tak ingin membahas tentang, Arsy, sayang"
Aya menarik nafasnya perlahan.
"Tapi Aya gak bisa melihat kezaliman suami Aya. Bagaimanapun mas masih punya tanggung jawab atas diri Arsy mas"
Seketika Arka menatap tajam tepat di manik bening Ayasa.
"Kamu harus bisa bedakan Aya.Tanggung jawab yang bagai mana yang harus diberikan pada istri. Jika aku yang meninggalkan dia maka aku wajib menafkahinya. Sekarang posisinya berbeda Aya, dia yang ninggalin mas, dia yang pergi dari rumah"
Terang Arka kesal.
__ADS_1
"Tapi dia pergi, itu karna kamu mas. kamu yang sudah melukai perasaannya! ditambah lagi dengan niatmu yang ingik lakukan tes DNA, itu sangat menyakitinya"
Ucap Aya terus membela Arsy.
"Cukup. Lama-lama mas pusing lihat kamu membela dia terus"
Arka bangkit dari duduknya lalu masuk ke rumah. Aya yang melihat itu hanya terdiam. Ia tak habis pikir melihat keegoisan suaminya.
Aya bangkit dari duduknya ia bergegas menyusul sang suami.
Aya memeluk tubuh kekar Arka dari belakang.
"Masfkan Aya, mas. Telah membuat mas mara"
Arka membalik badan. Ia pegang kedua bahu istrinya, dengan penuh kelembutan.
"Mas sangat mencintai kamu Aya, saat ini mas hanya ingin hidup berdua denganmu, Mas tidak peduli lagi dengan soal keturunan. Mas ingin menghabiskan sisa umur mas hanya denganmu, hanya kamu yang mas butuhkan, bukan yang lain. Bukan juga Arsy"
Aya bahagia sekaligus sedih mendengar ucapan suaminya.
"Terimakasih mas, tapi bagaimana dengan nasib Arsy dan anaknya kelak?"
"Sesuaai keputusan mas, mas akan tetap ceraikan dia. Mas gak bisa memiliki istri yang tidak mematuhi aturan suami. Jika aturan dari suami saja di langgar bagaimana denhan perintah Allah, sayang!"
Aya mengangguk, tanda wanita ayu itu paham. Dengan penuh cinta Arka mengecup kening istrinya.
"Maafkan mas, mas telah menyakiti kamu dengan menjadikan Arsy sebagai madumu. Karna dulu mas begitu berambisi ingin memiliki keturunan. Setelah melihat perjuanganmu ingin memberikan keturunan untuk mas, hingga kamu harus menjalani serangkaian pengobatan bahkan kamu sampai melakukan transplantasi ginjal. Itu terjadi karna kebodohan mas"
"Huuuus. Jangan ngomong kayak gitu, ini semua sudah kehendak Allah "
Setelah waktu berlalu hampir tujuh bulan saat ini mereka hanya nidup berdua. Sementara Arsyi saat ini tengah mempersiapkam diri untuk menghadapi proses persalinan. Gadis itu juga bahagia menanti kelahiran buah cintanya dengan Arka, suami yang teramat ia cintai. Saat ini ia tengah duduk santai bertiga bersama Rama dan bok Nah.
"Sy, jadi kamu beli perlengkapan dedek bayinya?"
Tanya Rama lembut.
"Jadi dong Ram. kalau gak beli sekarang nati keburu lahir dedek bayinya, solnya aku baru beli beberapa saja popok bayinya."
Ucap Arsyi sembari tersenyum pada rama. Pria baik yang selalu membantunnya. Ya selama ini ramalah yang membantu kepergia Arsy malam itu. Awalnya dia ingin menjauhkan Arsy dari rumah tangga kakanya.
Namun seiring berjalannya waktu, Rama melihat sisi bakik gadis itu yang luar biasa. Tanpa sepengetahuan Arsyi, Adik iparnya itu memendam rasa cinta yang amat besar untuk dirinya. Rama sangat mencintai Istri kedua kakanya itu, Rama tau ini salah, tapi rasa cinta yang timbul begitu saja tak dapat ia cegah.
Di sini dikota ditempat Rama bekerja yaitu kota kalimantan, mereka tinggal. Arsy tinggal bertiga dengan mbok Nah dan mang Diman. Sementara Rama tinggal di Rumah yang baru ia beli. Rama tau jika mereka tinggal satu rumah pastilah akan menimbulkan fitnah. Hari ini Rama dan mbok Nah, menghabiskan waktunya menemani Arsy belanja perlengkapan bayi.
Selama kepergian Arsy, selama itu pulalah Rama tak pulang ke Jakarta. Hingga Sarah merasa Rindu dengan anak bontotnya itu.
Akhirnya Sarah melakukan penerbangan menuju kalimantan. Sekaligus melihat pertambangan batu bara yang dipegang oleh Rama.
Sarah sampai di Rumah Rama, tapi rumah itu sangat sepi. Hanya ada Sopir putranya. Yaitu mang Diman. Ia tak tau jika Rama tak tinggal di rumah ini lagi.
"Loh mang, kok rumah sepi, Rama di mana mang? "
Mang diman bingung ingin menjawab apa. Akhirnya ia berbohong.
"Mas Rama, sedang ada di lahan pertambangan, buk."
__ADS_1
Ucap mang Diman berdusta.
"Oo ya sudah kalau gitu saya istirahat dulu ya mang"
"Monggo bu, silahkan"
Setelah Sarah masuk kedalam kamarnya, mang Diman buru-buru menghubungi Rama.
"Iya mang, ada apa?"
"Begimi mas, ibu Sarah datang. Sekarang beliau ada di rumah."
Seketika Rama pucat pasih, ia cemas karna Rama tau ibunya itu tidak menyukai Arsy.
Rama masuk keruang rawat Arsyi, Untuk memberi tahunya, agar gadis itu tak hawatir.
Ya. Saat ini mereka tengah berada di rumah sakit bersalin, saat mereka usai belanja tadi, Arsy mengalami kontraksi. Gadis itu akhirnya melahirkan anak kembar, yang sangat lucu.
Sebelum pulang Rama menggendong keponakannya yang lucu-lucu.
"Sy, Aku harus pulang. Mama datang dari jakarta. Sekarang mama ada di rumah yang kamu tinggali. Kamu gak papakan ditemani mbok Nah untuk sementara?"
Ucap Rama lembut. Arsy tersenyum. Ia pasrah apapun yang terjadi nanti ia akan terima.
"Iya gak papa, gak usah hawatirin aku Ram, ada mbok Nah di sini"
Jawah Arsy lembut, serat dengan kesedihan.
"Baiklah, Aku pulang dulu ya! mbok nitip Arsy ya"
"Iya mas Rama, gak usah hawatir"
Setelah kepulangan Rama Arsy menangis, entah apa yang membuatnya menangis.
Ia gendong kedua anaknya denhan penuh kasih sayang.
"Sayang, bunda bahagia memiliki kalian. Bunda tidak perduli dengan anggapan orang tentang kita nantinya, tenanglah sayang. Bunda akan berjuang membesarkan kalian, tanpa harus meminta ayahmu untuk mengakui kalian. Jangan hawatir, Nak!"
Air mata Arsy terus berlinang jatuh tepat di pipi buah hatinya. Mbok nah mendekat, mengusap lembut air mata majikannya, yang telah ia anggap anaknya sendiri.
"Jangan nagis nduk, gak baik perempuan habis melahirkan banyak nangis. Ucap mbok Nah sayang.
"Makasih mbok, mbok udah perduli denhan Arsyi"
Mbbok nah tersenyum sembari mengambil alih bayinya untuk diletakkan di boks.
Sementara Rama pulang, kerumah lamanya untuk menemui sang mama. Sampai ruamah Rama buka pintu perlahan. Tepat di depan pintu Rama disambut garang oleh mamanya. Sarah melotot ke arah putranya.
"Jelasin ke mama Rama, ini apa? Kamu nikah diam-diam di belakang mama? Pantas saja kamu gak pulang-pulang. Tega kamu Rama sama mama."
Sarah lempar perlengkapan bayi itu ke lantai"
Rama terdiam, mau tak mau ia harus jujur pada mamanya, agar tak terjadi kesalah pahaman.
__ADS_1