
Bukan menuntut pengorbanan untuk dihargai, tapi meminta agar tidak disepelekan.
Ketika kerja keras kita tidak dihargai, maka saat itu kita sedang belajar tentang ketulusan. Dan ketika hati kita terluka sangat dalam karena tidak dihargai, maka saat itu kita sedang belajar memaafkan.
Di ruang sunyi yang bernuansa putih, dipadu dengan terang cahaya lampu sorot terpancar yang terlihat hanya tim dokter yang berpakaian hijau-hijau. Derap langkah setiap tim medis begitu menggema di pendengaran Arka.
Nyawanya serasa putus saat melihat bidadarinya tengah berjuang melawan kematiannya. Arsy benar-benar tidak datang, Arka tampak semakin kesal. Sarah yang melihat hal itu geram.
"Apa yang kamu harapkan dari wanita seperti Arsy itu, sudah mama bilang, wanita kotor akan tetap kotor selamanya!"
Ucap Sarah tajam
"Ma. Dia istri Arka, baik buruknya Arsy hanya Arka yang bisa Menilainy"
"Kamu itu, sudah dibutakan dengan benda secomotnya dia itu"
Dengan kesal Sarah membanting pantatnya di kursi tunggu. Arka diam ia tak menjawab lagi ocehan mamanya.
"Dimana adekmu, jam segini belum datang juga" Omel sarah tak menentu.
"Ma, daripada mama ngomel terus mending mama bantu Arka buat doain Aya"
Ucap Arka mengingatkan mamanya.
Setelah berjam-jam mereka menunggu dengan hati yang gelisah akhirnya pintu ruang oprasi terbuka lebar. Tampak sosok dokter berpakaian hijau dengan penutup kepalanya.
Arka mendekat kearah dokter yunus .
"Dok gimana oprasinya?"
"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar"
"alhamdulillah"
Ucap mereka kompak.
Setelah satu minggu pasca oprasi, akhirnya Aya sudah boleh pulang, wanita itu tinggal kontrol rutin yang telah dijadwalkan oleh dokter Yunus.
"Mas, Arsy kemana kok belum ada kesini?"
"Mas juga gak tau Ay, dia pergi sehari sebelum kamu dioprasi"
Ucap Arka jujur pada akhirnya, ia tak ingin terus-terusan berbohong.
Aya terdiam, dihatinya timbul penyesalan yang amat dalam, ini semua karna ucapannya.
"Maafkan Aya, mas.! Ini semua karna Aya."
"Gak Ay, ini bukan karnamu. Dia pergi atas kemauannya sendiri"
"Gak, ini karna ucapan Aya yang terlampau menyakitinya"
"Jangan salahkan dirimu, atas kepergian Arsy, itu kemauannya. Dia pergi dengan laki-laki lain, Ay!"
Aya menatap suaminya tak percaya.
"Gak. Aya gak percaya. Arsy tidak seperti itu mas"
Arka tertawa getir.
"Kamu lupa Ay, dia asalnya dari mana?"
"Cukup mas, jangan hinakan Arsy seperti itu"
Arka terdiam.
"Kamu suaminya mas, harusnya kamu bisa menjaga harga dirinya, bukan sebaliknya, membuka aibnya di depan Aya."
Arka terdiam ia alihkan pandangannya kearah jendela. Kemudian Arka keluar meninggalkan Aya. Pria itu gamang dengan hatinya saat ini.
Arka tak terima jika istrinya pergi dengan pria lain.
Arsy tau bawasannya pergi tanpa berpamitan pada suami hukumnya seperti apa. tetai kenapa masih ia lakukan. Dengan rasa geram yang memuncah, Arka mencoba menghubungi nomer istri mudanya itu, tapi tetap nomor istrinya itu tak aktif juga.
Arka duduk di teras rumah. Ia raup wajahnya dengan kasar. Rama datang ikut duduk menemani masnya.
"Kenapa mas kok mukanya kusut banget?"
Arka melirik adiknya sekils.
"Mas heran, kemana perginya mbakmu itu. Ada apa sebenarnya? kok tiba-tiba dia pergi"
"Mas udah coba telpon?"
Tanya Rama ingin tau.
"Nomornya gak aktif, Ram"
__ADS_1
Ucap Arka lemah.
"Apa mungkin mas melakukan kesalahan?
Tanya Rama hati-hati.
"Sepertinga gak ada. terakhir mas nemuin mbakmu, sebelum Aya oprasi, Arsy gak begitu respon sama mas, saat mas pulangpun dia gak antar mas, biasanya dia ngantar mas sampai depan pintu, tapi hari itu gak dia lakukan"
Rama menelisik wajah masnya sejenak.
Kemudian adiknya itu tersenyum hambar, sembari menatap langit yang tampak cerah karna cahaya rembulan. Kemudian Rama bangkit dari kursi.
"Mau kemana?"
tanya Arka ingin tau.
"Cari angin mas, sumpek di rumah terus, sekalian mau lihat perkembangan cafe yang baru aku rintis."
Arka hanya membulatkan bibirnya.
"Ooo."
ucapnya singkat. Rama masuk kemobilnya ia bawa mobilnya kemana ia mau.
Sementara Arsy tengah asyik dengan kegiatan barunya, Ia asyik bermain dengan kucin baru yang di belikan oleh pria baik hati itu. Kehadiran cemong sungguh sangat menghibur hari-hari sunyinya.
Pria itu tersenyum melihat senyum Arsy yang tetkembang.
"Udah makan, ini aku bawin ayam geprek"
Arsy menatap pria itu haru.
"Makasih, Kamu baik banget?"
Ucap Arsy sembari meraih bungkusan yang pria itu bawa.
"Aku perduli sama kamu, makanya aku bawain ini. Makanlah"
Arsy makan dengan lahap.
"Gimana enak gak?"
"Heeem, enak banget, sini cobain deh."
Pria itu ikut menyendok nasi di piring Arsy.
"O iya, sebaiknya kamu jangan sering kesini, gak baik di lihat orang, takut jadi fitnah.
"Gak papa, lagian kita gak berdua ada mok Nah sama mang Diman, yakan mbok?"
"Iya mas, orang gak ngapa-ngapain ini. Mbok siap jadi saksi"
Ucap Mbok Nah sembari tertawa.
"Saksi apa to bu, saksi cinta kita?"
Timpal mang Diman sembari tertawa. Mbok Nah tersipu malu mendengar penuturan suaminya.
"Aku pulang dulu ya udah malam, oya gimana pekerjaanmu udah siap?"
Ucap pria itu sembari tegak.
"Alhamdulillah siap. Udahku kirim juga tadi lewat gojek."
"Syukurlah kalau udah kelar. Mbom, mang, nitip Arsy ya"
"Siap mas, gak usah hawatir"
Pria itu masuk ke mobil menuju kediamannya.
Hampir dua bulan setelah kepergian Arsyi.
Arka dan Ayasa tampak hidup bahagia, bahkan kehidupan mereka seperti pengantin baru.
Sementara Arsy tengah menderita karna ngidamny, gadis itu terlihat semakin tampak pucat.
"Sy, Apa gak sebaiknya kamu terus terang dengan kehamilanmu?"
Ucap pria baik itu,memberi saran.
"Aku takut, mas Arka gak nerima kehamilanku, apa lagi dengan keadaanku. Yang pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan."
Ucap Arsy sedih.
"Menurutku, yang penting kamu beritahu dulu, soal diterima atau tidaknya itu urusan belakangan. Jika nanti mereka tidak menerima anak dalam kandungamu, aku siap menjadi ayah dari bayimu, jangan bersedih, Allah maha tau atas apa yang telah kamu perbuat"
Ucap pria itu memberi semangat. Arsy terisak menahan air matanya. Ia tak tau jika tak ada pria di hadapannya ini.
"Baiklah aku akan menemui mereka"
Pria itu tersenyum lembut.
Pagi itu juga Arsy pulang kerumah suaminya.
__ADS_1
Dengan diantar sopirnya, mang diaman. Karna kondisinya yang tidak memungkinkan untuk mengendarai mobl sendiri.
Saat sampai di depan teras Arsy di sambut oleh Aya, karna kebetulan wanita itu tengah merawat tanamannya. Saat ini Aya terlihat lebih cantik dan sehat.
"Arsy"
Pekik Aya bahagia.
"Mas, Arsy pulang mas, Mas Arka..!"
Saat Aya hendak memanggil suaminya lagi ternyata Arka sudah berdiri di depan pintu.
Arka menatap gadis itu sinis.
"Ingat pulang kamu?"
Ucap Arka sarkas.
"Assalamualaikum mas"
Ucap Arsy dengan tubuh gemetar. Arsy mendekat kearah suaminya, ia salim tangan suaminya dengan takzim, namun pria itu buru-buru menarik tangannya, saat itu juga hati Arsy berdesir ngilu serasa dicubit.
"Kamu kemana aja dek, mbak kangen sama kamu, maafin mbak ya dek, atas segala ucapan mbak yang nyakiti hati kamu. Tunggi dulu, kenapa kamu terlihat pucat dan kurusan, kamu sakit. dek?"
Arsy tersenyum getir, menatap Ayasa.
"Aku hamil mbak"
Mendengar berita itu Ayasa bukan main bahagianya.
"Alhamdulillah ya Allah, Ayuk masuk"
Dengan hati-hati Ayasa membimbing tubuh kurus Arsy. Mereka duduk di kursi ruang tamu.
"Mas kamu dengarkan tadi yang dibilang Arsy, dia hamil mas. Dia hamil anakmu mas"
Arka tersenyum sinis menatap istri mudanya.
"Kamu yakin itu anakku?"
Ucap Arka datar, seketika Arsy mengangkat wajahnya tegas.
"Ini anakmu mas"
"Kamu pikir mas percaya?"
ucap Arka keras.
"Aku gak mintamu percaya mas,"
Arsy yang dihakimi suaminya bersuara getir.
"Lihatlah kelakuannya, pergi selama hampir dua bulan, pulang-pulang ngaku hamil. Suamimu ini tidak bodoh Sy, malam itu kamu pergi dengan seorang pria, pak RT yang menyampaikan itu dengan mas, apa kamu mau menyangkal. Eeem?"
"Benar mas aku memang pergi dengan laki-laki, tapi aku tidak berzina dengannya mas, ini anak mas, aku gak pernah melakukannya selain dengan kamu mas!"
Arka kembali tersenyum sinis.
"Maaf, Aku gak bisa nerima anak yang gak jelas dalam rahimmu itu. Kami memang butuh keturunan, tapi bukan anak hasil bersama. Jika kamu masih ngotot setelah lahir kita akan tes DNA. Jika terbukti itu bukan anakku. Mas akan ceraikan kamu setelah anak itu lahir"
"Mas, kamu sadar dengan ucapamu?"
Ucap Aya tetkejut mendengar ucapan suaminya.
Seketika Arsy bangkit dari kursinya, tanpa basa-basi jemari lentik itu mendarat di rahang kokoh Arka, hingga tamparan itu terdengar nyaring.
"Ini sungguh anakmu mas, benih ini kamu tanam saat seminggu sebelum mbak Aya dioprasi, aku pergi karna batinku terluka, karna batinku yang tak kuat menamggung beban. Harga diriku hancur saat aku memilih menjadi istri keduamu, tapi lebih hancur lagi saat suamiku menyebut nama wanita lain saat melepasan sahwatnya. Tapi tak apa jika kamu tak mengakuinya. Aku ikhlas jika mas melepasku, tak perlu tes DNA"
Arka terpaku mematung mendengar ucapan isteti mudanya. Arsy membalik badan ia pergi begitu saja dari hadapa mereka semua.
"Jalan mang"
Ucap Arsy cepat.
Aya menagis di kursinya, ia merasa bersalah atas apa yang menimpa gadis itu.
"Tega kamu mas, jadi malam itu kamu menuntaskanya dengan Arsy, Sampai hati kamu mas, sampai kamu salah mendesahkan namaku. Dia juga istrimu mas, bukan wanita yang kamu bayar untuk memuaskan nafsu setanmu itu.
Aya meraup wajahnya kasar. Kemudian wanita itu masuk kedalam kamar.
Saat ini Rama menatap masnya itu tak percaya.
"Heem, Aku tunggu waktu sembilan bulan kehamilan Arsy, Aku ingin kamu memenuhi ucapanmu itu mas, lepaskan dia, Arsy juga pantas bahagia."
Ucap Rama datar, setelah itu Rama pergi entah kemana.
Arsy sampai di kontrakan selama dua bulan ini ia tempati.
"Mbok Ayo bantu Arsy berkemas, kita pindah dari sini mbok"
"Hari ini juga nduk,"
"Iya mbok"
__ADS_1
Setelah Selesai Akhirnya Mereka bertiga pergi meninggalkan kota penuh kenangan ini.