AIR MATA CINTA

AIR MATA CINTA
BAB 19


__ADS_3


Hadirmu yang aku tunggu seakan-akan aku merasakan waktu yang berabad-abad. Dan jika engkau juga seperti itu merasakan hal yang sama denganku maka kamu dan aku saat ini merindukan yang namanya cinta.


Terlambat untuk aku sesali terlambat untuk aku tangisi dan kini dalam penyesalanku membiarkanmu larut dalam waktu. Sesalku adalah, tak bisa mengulang waktu untuk memperbaiki segalanya.


Selama Ini, aku bukan menangisi dan menyesali takdir cinta kita. Aku menangisi kamu yang kini telah berbeda.


Aya menatap nanar langi-langit kamar rawatnya, disini di rumah sakit kembali Ayasa harus di rawat karna satu penyakit yang ia derita.


Sarah merutuk tak berkesudahan kepada putra sulungnya.


"Mama itu heran ya Ay, kok bisa gitu Arka sekarang, lebih mentingin bocah sialan itu. Mama yakin, ini semua karna bujuk rayu si Arsy itu. Makanya Arka bisa manut. Mama itu gak percaya kalau Arsy itu sakit beneran."


Sarah teru mendumel gak berhenti-berhenti.


Aya meraih jemari mertuanya.


"Ma, mungkin Arsy memang sakit, gak mungkin mas Arka bohongin Aya"


Ucap Aya lembut menenangkan sang mertua.



"Kamu itu ya Ay, gak habis pikir mama lihat kamu, Arsy itu bekas perempuan gak bener, merayu laki-laki itu udah jadi ke ahliannya. Gitu kamu masih percaya aja sama mulut manisnya. Kamu mau kayak di sinetron-sinetron itu. Jangan sampelah Ay"


Cerocos Sarah naik pitam.


"Ma, Aya percaya sama mas Arka"


Lirih Aya lembut. Sarah tersenyum lembut pada Aya.


"Mama beruntung punya mantu sekuat kamu."


"Jangan berlebihan muji Aya, ma. Aya gak sebaik itu."


Degan sayang Sarah mencium menantunya.


"Mama sayang sama kamu nak, mama selalu ada untuk kamu, biarkan saat ini suamimu gak mendampingimu saat kamu di rawat seoerti ini. Ada mama, ada Rama. Jadi kamu jangan sedih"


Aya tersenyum sembari menggenggam jemari mama mertuannya. Setelah tiga hari di rawat akhirnya Ayasa sudah diperbolehkan pulang, begitupun dengan Arsy.


Saat di per jalanan, Arka ajak Arsy singgah sebentar ke mall, untuk mencari kebutuhan dapur Arsy, agar gadis itu nantinya tidak kesulitan saat Arka pulang ke rumah Aya.


"Dek kita mampir sebentar ya ke mall, gak papakan?"Tanya Arka lembut.


"Buat apa, mas? "


Tanya Arsy.


"Kita cari stok makanan untuk kamu, mas lihat kemarin kulkas dirumah kosong gak ada isinya"


My tetsenyum, ternyata suaminya memperhatikan kebutuhannya hingga seteliti itu.


"Maaf, jadi ngerepotin kamu mas, kemarin Sy gak sempat belanja karna badan Sy yang gak vit."


Ucap Arsy jujur. arka tersenyum tanda paham atas kondisi istri mudanya itu.


Mereka memilih semua kebutuhan Arsy, Mereka saat ini tengah memilih buah dan sayur, mereka berjalan beriringan, tangan Arka dengan cantiknya meramgkul bahu sang istri. Sesekali mereka tertawa dan bercanda manja.


Di tempat yang sama dan jam yang sama Ayasa juga memasuki mall dimana Arka dan Arsy berbelanja.


"Mas mau jeruk yang segar ya dek, sekalian kurmanya juga jangan lupa"


Ucap Arka lembut.


"Iya mas"


Jawab Arsy manja, sembari tersenyum.


"Ma, kita cari daging segar ya, Aya pengen sup daging di campur jamur tiram."


Pimta Aya lembut. Udah kamu gak usah capek-capek biar mama yang milih."


"Makasi ma"


"Sama-sama, sayang"


Saat mereka menuju bagian tempat sayur, mata Ayasa menyipit, menatas sepasang manusia yang tengah bercengrama manja sembari memelih buah.


Seketika mata Ayasa memanas. Dadanya sesak menahan kegetiran.


"Tega kamu mas"


"Loh ay, kenapa? apa pinggangmu sakit lagi?"

__ADS_1


Aya menggeleng, namun pandangannya lurus menatap suami dan madunya yang tengah bercengkrama.


Sara mengikuti pandangan menantunya. Seketika darahnya mendidih.


"Dasar, perempuan gak tau malu, tunggu di sini biar mama kasih pelajaran mereka"


Ucap Sarah menggebu. Baru satu langkah


Sarah bergerak, Aya dengan cepat meraih tangan sang mertua.


"Jangan ma, ini tempat umum. Aya gak mau mas Arka malu."


Sara menarik nafasnya kasar.


"Biar aja, mama gak tahan lagi nak"


"Aya mohon ma, kita pulang sekarang"


Pita Aya lirih.


Sara membalik badan akhirnya mereka tak jadi belanja. Setelah pulang sampai rumah. Ayasa dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Sementara sarah pulang ke rumah.


Tak lama Arka pulang kerumah Ayasa.



"Assalamualaikum"


Ucap Arka namun sayang tak ada jawaban dari sang istri tercinta, tak biasanya Aya tak menyambutnya pulang, batin Arka.


Arka berjalan Ke kamar disana Aya tengah termenug di jendela. Arka langsung menubruk tubuh Ayasa dari belakang.


"Sayang mas kangen."


Aya membalik badan, ia tagkup wajah suaminya dengan jemari-jemarinya yang lentik. Ia tersenyum ke arah Arka hanya untuk menyenagkan hati suami.


"Mas udah pulang, gimana Arsy udah sembu?


Tanya Aya menahan kegetiran di dadanya.


"Alhamdulillah, udah sayang"


"Mas kangen"


"Kamu bohong mas, kamu berubah"


Batin Aya menjerit tertahan. Arak tak menunggu jawaban langsung membawa Aya ke atas ranjang, disana Arka melampiaskan kerinduannya. Tanpa melihat kepedihan hati Aya yang ia tutupi.


"Sayang, kok diam, gak enak main sendiri"


Bisik Arka menggoda. Aya tersentak dari lamunannya. Maaf mas. akhirnya dengan setengah hati Aya ikut mengimbangi permainan Arka.


"Makasih sayang"Bisik Arka setelah pelepasan. Aya tersenyum. Ia merasa berdosa terhadap suaminya, karna melayani suami tak sepenuh hati. Usai pertempuran, Mereka mandi bersama.


"Gimana sakit pinggangnya udah enakan?"


atanya Arka perduli.


"Udah dah enak kok mas"


Jawab Aya singkat. Ia sengaja tak menceritakan soal penyakitnnya, Aya tak ingin membebani suaminya terus meneru.


Mendengar pertanyaan suaminya tadi, seketika melintas di benaknya kemesraan suaminya dan Arsy. Entah saytan dari mana timbul rasa benci yang memuncah. Aya merasa dibohongi manusia berdua itu.


Saat suaminya ke kantor, timbul niat dihati Aya untuk menghubungi Arsy. Ia raih henponnya ia tekan kontak Arsy.


"Assalamualaikum mbak, ada apa?"


Tanya Arsy lembut.


"Kamu bisa kerumah sekarang?"


"Iya mbk, selesai antar seketsa di kantor Arsy langsung ke rumah mbk"


"Mbak tunggu jawab Aya ketus"


Arsy menyipit, mendengar suara Aya yang tak seperti biasa. Akhirnya gadis itu datang menyambangi kediaman suaminya atas permintaan Ayasa.


"Masuklah"


Dengan rasa hati tak enak Arsy akhirnya masuk. Belum apa apa Aya langsung menghakimi Arsyi. Hingga Arsy tertegu menatap Ayasa.



"Mbak tau kamu bohong tentang sakitmu yang empat hari ini, tega kamu ya Sy sama mbak. Tega kamu sakiti perasaan mbak.

__ADS_1


Ucap Aya sembari memukul dadanya,



tanpa pertanya ia langsung menuduh. Gadis belia itu.


"Maksud mbak apa? Sy gak bohong mbak demi Allah, Sy sakit"


"Heeeh"


Seyum Aya meremehkan.


"Ada ya, orang sakit berkeliaran di mall?"


"Mbak, mbak salah faham, Aya beneran sakit, buat apa Sy bohongi mbak. Sy mohon percaya sama Sy."


Ucap Arsy menghiba.


"Halah, jangan percaya Ay sama perempuan gak bener seperti dia."


Sarah berbicara lantang sambil menunjuk muka Arsy.


"Eh dengar ya, kamu itu bekas perempuan gak baik. Sampai kapanpun saya gak bakal percaya dengan ucapan perempuan sepertimu. kami lihat kalian berdua di mall mesra-mesraan. Sementara Aya terbaring di rumah sakit, dimana hati kamu hah?"


Bentak sarah geram, wanita paruh baya itu tak sabar saat mendengar percakapan menantunya, sehingga ia langsung nyamber seperti bengsin


"Tspi bu, saya.."


"Sudah cukup, apapun alasanmu kami kecewa padamu, asal kamu tau, menantu kesayannganku ini, sekarang tengah terkena gagal ginjal, dia banya butuh istirahat, pikirannya gak bisa setres. Saya minta sama kamu, segera beri keturunan Arka dan setelah itu kamu pergi dari kehidupan anak dan menantu saya."


Arsy tertunduk ia tertegun medengar makian ibu mertuannya. Air matanya ia tahan agar tak tumpah. Arsy tak ingin terlihat lemah di mata mereka. Rama yang menyaksikan halitu, iba melihat Arsy. Sebenarnya Rama tak tega, karna keadaan pria itu ikut memusuhi Arsy. Tapi lambat laun rasa benci itu terkikis, karna Rams bisa lihat ketulusan gadis itu.


"Jangan diam aja, kamu dengar ucapan say?"


"Iya bu saya dengar"


Jawab Arsy lemah.


"Maaf Sy, mbak gak percaya lagi sama kamu. Mbak minta ini terakhir kalinya kamu menginjakkan kaki kamu di rumah mbak, kita boleh bersaing untuk mendapatkan hati suami kita, dengan cara kita masing-masing."


Pinta Aya tegas. Seketika wajah sendu Arsy mendongak menatap Ayasa, rasa tak percsya gadis itu mendapat ucapan sepedih ini dari orang yang sangat ia sayangi. Dengan suara bergetar Arsy menjawab.


"Baik mbak. Kalau begitu Sy pamit, maafkan Arsy, atas waktu mas Arka yang tersita berapa hari kemarin"


Arsy bangkit dari kursinya meninggalkan ruang keluarga.


"Ingat, Jangaan ngadu kamu sama Arka"


Ancam Sarah sarkas.


"Ma, udah"


Pinta Aya. sembari nengelus punggung mertuannya.


Saat Arsy keluar dari rumah suaminya, ia berpapasan dengan Rama di teras rumah. Pria itu melihat istri muda masnya terisak sambil berlalu. Timbul rasa kasihan di hati Rama.


Akhirnya Rara mendekat mengetuk kaca mobil Arsy.


"Jangan diambil hati, mama lagi emosi"


Arsyi menoleh ke Rama ia tersenyum hambar


"Terima kasih kamu udah peduli"


Rama tersenyum manis.


"hati-hati di jalan, gak usah ngebut ngebut"


Ucap Rama lembut. Arsy mulai menancap gas mobilnya.


Hatinya hancur, tak ada lagi yang benar tulus menyayanginya. Aya yang ia sayang sudah tak percaya, bahkan Aya tampak mulai membencinya dan mengibarkan bendera perang. Sungguh batinya ngilu serasa dicubit.


Arsy tau dirinya salah telah lancang masuk dalam kehidupan mereka.



Isakan terus terdengar di telingannya sendiri. Arsi terus menguatkan hatinya atas hinaan ibu mertuannya dengan banyak istigfar seperti Allah perintahkan dalam


surah Al-Hijr: 97-99.


وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَفَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَوَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ


“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal.” (QS. Al-Hijr: 97-99)


Sementara Ayasa merasa puas telah melampiaskan uneg-unegnya. Ia tak ingin banyak pikiran, hatinya ingin bahagi dengan caranya senduri. Saat ini kebahagiaan hatinya lebih penting dari apapun. Aya ingin belajar menjadi wanita egois, yang tak lemah karna rasa sakit hatinya. Berubah. sunghuh Ayasa berubah.

__ADS_1


__ADS_2