
Arka dan Ayasa
Arsy
Aku cemburu pada mereka yang selalu dapat dekat denganmu, tertawa bersamamu, dan selalu ada saat kamu butuhkan.
Meskipun aku tau kamu memiliki hak yang sama atas diri suamiku namun aku tetap tak bisa menahan rasa cemburuku. Aku cemburu karena aku takut dia yang akan membuatmu merasa lebih bahagia dibanding aku.
Aku merasa cemburu terhadap kamu yang lebih dekat dengannya dan mengetahui semuanya tentang diri suamiku dibanding aku.
Tangisanku itu hanaya cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini.
Jangan bertanya kenapa aku dingin terhadapmu. Aku hanya sedang berusaha dan berharap, aku mampu mengendalikan lukaku.
Ayasa menapakkan kakinya menuruni anak tanngga, Kesunyian tanpa kehadiran suami menbuat fikirannya selalu di kuasai syaitan.
Kemarin waktu berkunjung Mas Arka ke rumah Arsyi. Namun biasanya menjelang mangrib suaminya itu sudah sampai ke rumahnya lagi. Namun hari ini beda suaminya itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Jika Arka dirumah Arsy, Aya tidak mau menggangu waktu mereka, ia akan telpon jika darurat. Karna Aya tak ingin egois, mengambil waktu yang sedikit untuk Arsyi dengan gangguan telpinnya. Dari itu Aya hanya mampu menunggu telpon dari sang suaminya.
Tak lama henponnya berdering, di layar pipih itu terpampang nama suaminya. Dengan semangat Aya menarik tombol hijau ke atas.
"Assalamualaikum mas"
Ucap Aya bahagia. Baru satu hari namun Aya sidah terlampau rindu dengan suaminya.
"Waalaikumsalam, sayang. Bagini Ay, mas mau kasih tau jika beberapa hari ini mas akan menginap di rumah dek Arsyi.
Seketika wajah Aya berubah drastis, senyusn lebar nan manis itu sirna seketika.
"Kenapa mas?"
"Dek Arsyi sakit sayang. Jadi mas harus tungguin dia sampai sembuh."
Ucap Arka sungguhan.
Mendengar ucapan mas Arka, Aya lesu tak berdarah.
"Sampai kapan?"
Tanya Aya kurang puas.
"Mas gak tau batas waktunya Ay, mas minta keikhlasanmu dek!"
Ucap Arka lembut dan berharap.
"Ya udah kalau udah sembuh Arsyinya, biruan pulang ya mas, Aya kangen!"
Arka tersenyum mendengar rengekan manja istri tercintannya.
Setelah sambungan terputus, akhirnya Aya terduduk lesu di kursi santai taman belakang.
Entah kenapa hari ini Aya begitu merindukan suamimya, tak biasanya seperti ini, naluri ingin dimanja suami tiba-tiba banhkit.
Hatinya uring-uringan, karna tak ada objek yang mampu meredamkan rasa itu kecuali suaminya. Sungguh menahan semuaitu amat menyakitkan, seperti itulah yang Arsyi rasakan, pikir Aya.
Aya ambil satu majalah ia coba baca, namun yang berkeliaran di benaknya, bayangan suaminya yang tengah bergairah bersama sang madu, Aya ber diri dari kursi santai dengan kesal ia hempaskan Majalah itu ke atas meja.
"Benarkah gadis itu sakit, jangan-jangan hanya akal-akalannya saja"
Ucap Aya kesal. Namun ia buru-buru mengucap istigfar .
Kemudian wanita berhijab syar'i itu masuk kedalam rumah, Saat menaiki tangga pinggangnya entah kenapa terasa nyeri dan panas.
"Ya Allah, kenapa denhan pinggangku"
Aya berbicara sendiri. Dengan segera wanita itu mengoleskan minyak Varash herbal di pinggangnya hingga ke perut, setelah itu Aya mulai mapan tidur.
Matanya masih sulit untuk di manjakan, akhirnya Aya meraih tasbih dari bawah bantalnya. Ia terus berzikir hingga terlelap.
Jam menunjukkan pukul dua puluh satu, Arsyi heran menatap suaminya, yang baru masuk kamar mereka.
"Loh mas. Kok mas belum pulang, kasihan mbak Aya, nungguin mas dari tadi"
Ucap Arsyi tak enak hati, merasa bersalah pada mbak Ayanya, karna telah merampas waktu suaminya. Karna jatah Mas Arka hanya satu hari saja meng habiskan waktu bersama dirinya. Yaitu hari minggu.
Malam ini mas gak pulang sayang, mas mau temenin istri mas, lihatlah bibirmu tampak pucat"
__ADS_1
Ucap Arka lembut sembari ******* bibir pucat mulik Arsyi.
"Tapi masss..!"
"Tidurlah mas akan temanimu"
"Heem,"
Gumam Arsyi manca dalam pelukan suaminya. Araka terus mendepak tubuh Arsyi yang terasa panas.
Tengah malam Atsyi terjaga, ia merasa haus, kepalanya terasa pusing hebat, namun melihat suaminya yang tidur lelap, akhirnya Arsyi tak tega untuk membangunkan.
Gadis itu turun peln-pelan menuju nakas, tangan mungilnya meraih satu gelas air putih yang langsung ia tennggak, saat Arsi hendak mengembalikan ke atas nakas, pandangannya buram tubuh Arsyi terperosok ke lantai bersama gelas yang pecah mengenai tangannya.
Arka terbangun, mendengar suara dentingan kaca yang terjatuh ke lantai.
"Ya Allah, dek Aarsy. Kamu kenapa?"
pekik Arka panik, saat tubuh itu diangkat tangan Arsyi bersimbah darah akibat robekan kaca. Arsyi tak sadarkan diri.
Jam satu dini hari akhirnya, Arka melarikan Arsyi ke rumah sakit terdekat.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan Arsyi terkena DBD.
Jadi Arsyi harus dirawat intensif, karna trombositnya yang jauh menurun
Waktu subuh tiba Arsi terjaga dari tidurnya.
Mata cantiknya berkedip meneliti sekeliling ruangan. Tampak di lantai putih itu imamnya tengah khusuk di atas hamparan sajadah, melaksanakan kewajibannya kepada sang khaliq.
Setelah selesai Arka mendekati ranjang istrinya.
"Mas"
Panggil Arsy lembut.
"Kamu udah bangun, dek?"
Arsyi tersenyum menanggapi ucapan sang suami.
"Kenapa Sy, ada di sini, mas?"
"Tadi malam kamu pingsan, dek"
"Maaf Sy jadi ngerepotin mas"
Lirihnya sembari menitikkan air matannya.
"Huus. Jangan ngomong gitu"
Ucap Arka sembari menutup bibir istrinya dengan satu telunjuk.
Sungguh gadis itu tak ingin merepotkan Arka dan Ayasa, sebenarnya gadis itu sudah demam empat hari yang lalu, namun ia tak memberi tau Arka dan Aya. Arsy tak ingin merusak hari Mbak Ayanya hanya karna urusan dirinya.
Ia sudah cukup menyakiti Aaya, dengan menjadi wanita kedua suaminya. Ia sangat beruntung memiliki keluarga seperti mbak Aya dan mas Arka. Meski Arsy tau ibu mertuanya dan Rama tak pernah bisa menerima kehadirannya. Untuknya penerimaan Ayasa itu sudah cukup melebihi apapun.
"Sy mau shalat, mas. Bisa tolong antar Sy ambil air wudhu"
Pinta Arsy pada suaminya.
"Kata dokter kamu gak boleh banyak gerak dek. Bahaya untuk lukamu, karna pasien DBD itu sangat berbahaya jika terluka, bisa mengakibatkan pendarahan yang sulit untuk dihentikan."
"Gak usah wudu, tayamum aja gak papa, Allah membolehkan kita bertayamum jika dalam keadaan tertentu. Jangan hawatir dan ragu tayammum sudah disyari’atkan didalam islam dengan berdasarkan dalil al-Qur’an, dan sunnah,
Allah SWT, memerintahksnkita dalam surah Al Maidah ayat 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.
(QS. Al Maidah : 6).
"Sekarang letakkan tapak tanganmu di tembok itu, ambil debu lalu tebiskan"
Ucap Arka lembut. Arsyi terus melakukannya hingga selesai.
Usai shalat Arsy kembali rebahan, karna kepalanya terasa pusing.
"Pagi ini mas udah telpon mbak Aya, kasihan dia nanti kepikiran. Tolong jangan kasih tau mbak Aya, kalau Arsy di rawat. Sy gak mau buat mbak Ay cemas"
Pinta Arsy pada sang suami.
__ADS_1
"Iya nanti mas telpon mbak Ayamu. Sekarang kamu istirahat agar cepat pulih trombositnya, sekarang minum sari kurmanya dudu ya!"
Pinta Arka Pada sang istri. Arsy manut dengan apa yang suaminya perintahkan. Setelah Arsy rebahan kembali, Arka keluar ruangan untuk menghubungi Ayasa.
"Assalamualaikum sayang. Udah shalat subuh?"
Tanya Arka penuh kelembutan.
"waalaikumsalam mas. Alhamdulillah, udah mas. Gimana Arsy apa belum baikan? "
Yanya Aya hati-hati.
"Belum, sayang. Kamu yang sabar ya, kalau dek Arsyi sudah sehat, mas pasti langsung pulang, mas gak tahan jauh-jauh dari kamu, rasanya kangen banget sayang"
Ayasa tersenyum manis, ternyata apa yang ia rasakan sama. Karna memang mereka jarang berpisah lama, paling lama satu hari, itupun jika Arka menginap di tempat madunya.
"Aya juga kangen banget sama mas, Aya boleh nyusulin mas ke rumah dek Arsy? "
Yanya Aya hati-hati. Arka berpikir sejenak. Kemudian ia teringat permintaan Arsy untuk tidak memberi tahu kondisi Arsyi. Arka akhirnya tak mengizinkan.
"Gak usah sayang, lebih baik kamu di rumah aja ya! kalau kamu bosan kamu boleh bawa sahabatmu main ke rumah"
Bujuk Arka pada istri tercintanya.
"Baiklah mas, salam kangen untuk mas Arka, muuuh..! itu kecupan pagi Aya untuk mas"
Arka tertawa mendengar kecupan jarak jauh istrinya. Sungguh Aya itu istri yang menggemaskan"
Setelah henponnya mati, Aya kembali merasakan pinggangnya sakit. hingga wanita itu mengeluarkan keringat sebesar besar biji jagung.
"Ya Allah, kenapa aku ini? "
Batin Aya sembari merintih kesakitan.
Sementara di rumah sakit Arsy tengah melewati masa-masa kritis DBD, saat ini Arka diminta untuk menemui dokter di ruangannya.
"Begini pak Arka, saat ini ibu Arsy tengah menjalani masa kritis DBD, karna ini demam ibu hari ke empat. Fase kritis dapat terjadi 3-7 hari sejak demam dan berlangsung selama 24-48 jam. Pada fase ini, cairan tubuh ibu Arsy harus dipantau ketat. Ibu Arsy tidak boleh kekurangan maupun kelebihan cairan.
Karna itu sangat berbahaya, pasien dapat mengalami syok atau penurunan tekanan darah yang drastis, serta perdarahan pada kulit, hidung, dan gusi. Apabila tidak ditangani dan dipantau dengan baik, kondisi ini dapat berujung pada kematian.
Jadi kami dari pihak rumah sakit, minta kerja samanya, untuk ikut memantau perkembangan ibu Arsy, dalam pase kritis ini ibu Arsy jangan di tinggal, tolong selalu cek, bagian pergelangan kaki, jika terasa dingin berlebihan segera temui tim dokter.
Pantau juga saat buk Arsy BAB, jika warnanya menghitam dan ada pendarahan mohon segera hubungi kami. karna saat ini trombosit ibu Arsy dibawah 100.000/mikroliter darah. trom bosit ibu hanya 58.000 mikroliter darah.
Apa ada yang mau ditanyakan pak Arka?"
"Alhamdulillah, saya paham. Terima kasih pak. Permisi"
Arka keluar dari ruang dokter, baru sampai pintu henponnya berdering. Ternyata istrinya Ayasa yang memanggil.
"Assalamualaikum, sayang. Ada apa?"
Tanya Arka lembut.
"Mas pinggang Aya saki banget."
Rengek Aya, sembari meringis menahan sakit.
"Kamu tenag ya? kan mas udah bilang jangan capek-capek, coba kamu oles dulu Pake minyak Herbal varash. mudah-mudahan nanti hilang sakitnya"
Ucap Arka lembut.
"Tapi mas, ini sakit banget lo, apa mas gak bisa pulang sekarang?"
Pinta Aya pada suaminya, sebari berharap suaminya itu pulang.
"Maaf sayang, mas belum bisa pulang untuk tiga hari kedepan!"
Ucap Arka tegas. Aya memejamkan matannya, untuk menahan tangisnya. Ia sedih, sekaligus menahan rasa sakit yang terlampau.
"Ya udah kalau gitu, Aya coba bawa isti rahat aja, sama dioles minyak varash. Barang kali nanti hilang sakit pi ggangnya"
Ucap Ayasa pelan tak bersemangat.
"Terima kasih ya sayang, kamu mau ngertiin kondosi mas"
Ucap Arka bangga pada istri tuannya itu.
Ayasa terduduk airmatanya mengalir, atas kegetiran hidup yang ia jalani, Ia harus ikhlas saat suaminya tak ada waktu untuknya. Meski itu dalam kondisi sama-sama membutuhkan keberadaan suami. Aya terisak, keringat dinginnya semakin membasahi keningnya.
Akhirnya ia meminta bantuan Rama, adik iparnya. Saat ini Aya tengah dirawat di rumah sakit tak jauh dari kediamannya, ditemani Rama dan ibu mertua.
__ADS_1
Sungguh seadil-adilnya seorang suami pada kedua istrinya tetap saja ada yang merasa tersakiti. Seikhlas-ikhlasnya hati wanita tetap saja ia merasa terzolimi. Cinta itu butuh iman, pengorbanan, keikhlasan dan pengertian, Sisaya biar Allah yang menentukan.