
Cinta melahirkan pengorbanan, entah itu perasaan ataupun fisik dan akan selalu minta pengorbanan, karena cinta penuh dengan rintangan.
Malam yang sunyi menyibak luka yang terpendam. Arsy duduk termangu menatap bulan yang mulai tertutup awan. Lukanya masih sama kecil namun dalam. Menjadi istri kedua ternyata tak seringan yang ia pikirkan. Setulus apapun tetap saja orang memandangnya sebelah mata.
Ia terus memikirkan ucapan, orang yang barusan menghubunginya. Arsy harus pergi malam ini juga. Tak lama henponnya kembali brdering nyaring. Di dalam layar itu tertera nama suaminya.
Dering henpon terus menjerit dari benda pipih yang berkedip. Namun tak sedikitpun hatinya tergerak untuk mengangkat benda pipih itu.
Setelah puluhankali benda pipih itu berkedip, akhirnya dengan hati yang enggan ia tekan tombol hijau yang ada pada layar.
"Iya mas, ada ap?"
"Kemana saja kamu? sengaja kamu gak angkat telpon mas?"
Bentak Arka sarkas. Arsy terjengit kaget. Melihat suaminya semarah itu.
"Maaf mas. Sy gak dengar"
Ucap Arsy dingin.
"Mbak mu Aya sakit, dia ingin bertemu dengamu"
"Maaf mas, Arsy gak bisa"
Tolak Arsy tegas.
"Kenapa, apa alasanya kamu gak bisa ketemu Aya?"
"Arsy gak bisa mas Arsy sibu"
"Mas tau itu hanya alasanmu saja, ada masalah apa kalian sebenarnya? mas mohon. Singkirkan egomu sebentar saja. Aya drop, saat ini Aya sedang di ICU, Sebelum Aya tak sadarkan diri, dia terus memanggil-manggil kamu. Mas takut dek. mas butuh kamu sekarang, begitupun Aya. "
Arsy diam tak bergeming. Batinnya mulai dilanda kebimbangan. Iblis dan malaikat mulai berperang dihatinya.
"Kamu dengar maskan?"
"Sy dengar, tapi maaf. Arsy tetap tidak bisa"
Arka menarik nafasnya dalam, sungguh ia kecewa pada Arsy.
"Baiklah"
Dengan kasar Arka memutus sambungannya.
Arsy meringis menatap henponnya, Ia terduduk dengan hati merasa bersalah.
"Maaf mas, Aku juga ingin membahagiakanmu dengan caraku sendiri. Biarkan kalian mengutukku, biar orang menilaiku tak berhati. Aku lelah, aku kalah. Bukan aku yang kamu butuhkan, bukan. Bukan Aku, mas!"
Arsyi terus berkata menatap wajahnya di pantulan cermin.
Ia raih gawainya. Ia tekan tombol hijau. Taklama sambungan itu diangkat oleh pemiliknya.
"Bantu aku, antar aku kesuatu tempat"
Ucap Arsy pada orang yang satu-satunya yang bisa melihat ketulusanya.
"Kamu mau kabur?"
__ADS_1
Tanya pria yang bersuara lembut itu.
"Mungkin?"
Jawab Arsy tertawa, karna lucu mendengar ucapan pria baik hati itu.
Setelah pria itu datang Arsy segera membawa perlengkapan dirinya mulai dari baju handuk dan sebagainya, ia bawa seperlunya saja.
"Kamu mau kemana bawa travel bag?"
"Sesuai yang kamu ucap tadi, aku mau kabur beberapa minggu atau bulan mungkin"
Ucap Arsy tertawa.
"Kamu gila Sy! "
Arsy kembali tertawa, menatap pria di sebelahnya.
"Lebih baik gila, jadi orang waraspun tak ada yang menyukaiku"
"Ucapanmu mulai ngelantur, bocah!"
Ejek pria berkemeja putih itu."
"Memang benarkan, gak ada yang menginginkanku dengan tulus, baik mbak Aya, mertuaku bahkan suasuamiku sendiri. Dulu juga adik iparku tak menyukai kehadiranku di keluarganya.
Jadi jika aku pergi bahkan mati sekalipun tidak ada yang merasa kehilanganku, karna aku memang tak memiliki keluarga. Beda dengan mbak Ayasa, banyak orang yang membutuhkannya, banyak orang mencintainya, terutama mas Arka."
Pria itu melirik kearah Arsy. Hatinya terasa di tonjok, mendengar keluhan bocah gadis itu.
"Kamu terlalu jujur dengan keluhanmu. Jujur jika saja aku tak terlambat mengenalmu, pasti aku akan menjadikanmu bidadari di hatiku, sayang aku kalah sepuluh langkah untuk mendapatkanmu.
Ucap pria itu sungguhan.
"Kamu yakin dengan keputusammu ini, apa sebaiknya tidak kamu pikirkan lag?"
Arsy menggelang mantap.
"Ini yang terbaik"
Ucap Arsyi lirih.
"Baiklah, semoga ini menjadi keputusan terbaik untukmu, Aya dan suami kalian"
Aya mengangguk mantap.
"Terima kasih"
Saat ini mereka sampai ketempat yang Arsy tuju. Ia mulai memasuki ruangan yang telah di sediakan, Arsy langsung istirahat. Sungguh ia dimanjakan di ruangan ini di layani bagaikan ratu.
"Aku pamit dulu, jika ada yang kamu butuhkan hubungi saja aku, insya Allah henponku aktif dua puluh empat jam."
"Terima kasih, hati-hati di jalan"
Setelah kepergian pria itu Arsy terisak pilu.
Sementara di ruang ICU Aya sudah mulai sadar. Dokter mengabarkan jika besok pagi Aya akan melakukan transplantasi ginjal. Sudah ada pendonor untuk Aya yang cocok. Arka bahagia begitupun Aya dan Sarah.
"Mas mana Ars, kok belum datang?"
Tanya Aya lemah.
__ADS_1
"Dia gak bisa datang, dia sedang sibuk ada kerja diluar kota"
Ucap Arka dusta. Ia tak ingin mengecewakan hati istrinya, dengan mengatakan yang sebenarnya jika Arsy tak ingin menjenguknya.
Mendengar Ucapan suaminya, Aya tampak kecewa.
"Dia masih marah padaku mas"
"Gak sayang, jangan berpikir seperti itu."
Aya menggeleng.
"Aku tau dari matanya, Arsy sangat menyayangiku, saat aku mengatakan aku tak percaya padannya. Aku lihat matanya sangat terluka, bujuk adikku untuk datang ke sini mas, Aya ingin saat Aya tersadar pasca oprasi. Arsy ada di samping Aya!"
Ucapnya memelas.
Arka terpejam. Akhirnya Arka keluar dari ruang Ayasa, untuk menghubungi nomor Arsy namun sayang nomor itu tak aktif. Rama yang baru datang mendekati kearah masnya, yang gelisah dengan henpon di tangan.
"Ada apa mas?"
"Aku baru saja menghubungi mbakmu Arsy, tapi nomornya gak aktif. Tolong kamu tunggu mbakmu sebentar, mas pergi dulu."
Pinta Arka pada sang adik. Arka berjalan keluar rumah sakit menuju parkiran.
Ia tancap mobilnya menuju kediaman istri mudanya. Demi kemauan istri tercinta Arka rela melakukan apapun. Sampai di rumah istri mudanya rumah tampak gelap, tak ada kehidupan di dalamnya.
"Kemana kamu Arsy, apa maksudmu dengan semua ini"
Ucap Arka kesal. Ia tutup kembali pintu rumahnya. Saat Arka hendak memasuki mobil, pak RT menghampiri Arka.
"Nyari mbak Arsy pak?"
Tanya pak RT itu ramah.
"Iya pak"
Ucap Arka sopan.
"Oo tadi sebelum pergi mbak Arsy, sempat nitip untuk lihat-lihatin rumahnya selama mbak Arsy pergi. Sepertinya mbak Arsy, mau pergi lama soalnya dia membawa dua koper."
Ucap pak RT apa adanya.
"Pergi?"
Ucap Arka tak percaya.
"Bapak tau Arsy perginya dengan siapa?"
Tanya Arka penasaran.
"Gak tau dengan siapanya, tapi mbak Arsy pergi dengan laki-laki, saya pikir tadi pak Arka"
Seketika wajah Arka memerah menahan amarahnya.
"Terima kasih pak"
"Sama-sama pak Arka"
Arka kembali ke rumah sakit hatinya mengutuk istri mudanya itu.
__ADS_1
"Heem, wanita yang dipungut dari lumpur hitam, dia akan kembali ke asalnya. Sial! "
Geram Arka, sembari tersenyum merendahkan.