
Dalam hidup, kita harus berani mengambil keputusan tentang apa yang pantas diperjuangkan dan apa yang tak pantas diperbaiki.Kita harus bisa memperkirakan mana keputusan yang berdampak baik atau justru berdampak buruk pada diri kita dan orang terdahulu. Jangan sesekali kita mendasarkan keputusan pada nasihat dari mereka yang tidak ikut andil dalam kehidupanmu.
Keputusan yang baik datang dari pengalaman, bukan hanya dari sekedar nasehat.
Sampai di pendopo, Arsy menatap pria yang tak asing itu. postur tubuhnya fameliar, namun wanita itu tak ingin menduga duga.
Saat wanita itu menaiki anak tangga di pendopo Arsy tertegun menatap pria di hadapannya, pria itu kembali mengulik kisaknya kembali.
"Rama..!"
"Mbak Arsy...?"
Balas Rama lirih. Arsy duduk di sebelah ummi, Abah dan ummi saling pandang.
"Kalian sudah saling mengenal..?"
Tanya abah pada keduanya. Mereka mengangguk bersamaan. sembari berucap.
"Iya Yai..! Mbak Arsy adalah kaka ipar saya, istri dari mas Arka"
Sahut Rama jujur.
"Astagfirullah..maafkan abah, Abah benar benar tidak mengetahui kebenaran ini...!"
Ucap Yai Ansori.
"Tidak apa Yai...! semua ini di luar digaan kita.
Abah mangut-mangut.
"Jadi bagai mana keputusanmu nduk...?"
Tanya abah menyelidik.
"Maaf abah, jika yang dimaksut adalah Rama, Arsy tidak bisa, melanjutkan taaruf ini..!"
__ADS_1
Arsy berkata jujur di hadapan semuannya.
"Tapi mbk, kan kalian sudah berpisah dengan mas Arka...!"
"Gak bisa Ram, saya tidak ingin menghancurkan keluarga kamu untuk yang kedua kalinya.. Maaf saya gak ingin kembali di kehidupan keluarga kalian..!"
"Tapi mbak...Rama sangat mencintai mbak Arsy..!"
Arsy menggeleng sembari tersenyum getir dihadapan rama.
"Maaf,saya gak bisa..! saya minta kubur dalam perasaanmu, masih banyak perempuan lain yang pantas mendampingimu. Saya tidak ingin dan tidak bisa. Sekali lagi maaf..!"
Ucap Arsy tegas. lalu gadis itu pamit undur diri.
"Abah maafkan Arsy. Arsy gak bisa memenuhi keinginan abah kali ini...! Arsy pamit undur diri..!"
Arsy berucap dengan suara bergetar, Arsy tau abahnya itu tengah bersedih atas peristiwa di hadapannya.
"Ya, silahkan nduk..!"
Sahut Abah. Rama menatap sendu kepergian Arsy.
Ucap Yai Ansori mengingatkan Rama. Rama tak sedikitpun membantah ucapan abah yai.
"Baik yai, Insya Sllah Rama ikhlas atas keputusan mbak Arsy.."
"Alhamdulillah, saya lega mendengarnya..!"
Rama tersenyum, ia mengapit tangan abah yai lamu menciumnnya dengan hormat.
"Kalau begitu saya pamit abah yai, namun sebelum pamit apakah saya boleh bertemu dengan si kembar terlebih dahulu..?"
"Tentu saja boleh nak..!"
Abah yai dan Rama berjalan menuju taman. Di sana terlihat Kenzi dan Keza tengah bermain dengan riang.
__ADS_1
"Halo sayang..boleh om ikut bermain..!"
Sapa Rama pada keponakannya.Mendengar sapaan itu, bocah cilik itupun mendekat sembari memberikan bola pada Rama.
"Kit Main bola bareng ya om..!"
"Oke anak pintar...!"
Rama dan si kembar tampak bahagia bermain di taman. Sementara Arsy hanya menatap kosong ke arah langit.
Rama mendekat ketempat Arsy duduk.
"Sayang kalian main berdua dulu ya..!"
"Oke om...!"
Sahut si kembar kompak. Lalu Rama meminta izin pada wanita berhijab syar'i di hadapannya.
"Maaf Mbak..! Apa mbak masih membenci mas Arka?"
Tanya Rama hati hati.
Arsy tersenyum mendengar pertanyaan Rama.
"Saya sudah iklas atas apa yang terjadi pada diri saya. Kebencian hanya menimbulkan kelukaan, saya tak ingin memelihara luka dalam diri saya.!"
Jawab Arsy bijak. Rama tertegun mendengar jawaban wanita di hadapannya itu.
"Terima kasih mbak, mbak sudah ikhlas memaafkan mas Arka..!"
Arsy mengangguk.
"Jika ada waktu luang bawalah si kembar bertemu ayahnya Ram..!, saya gak bisa membawanya, karna banyak hati yang akan terluka nantinya.."
Ucap Arsy sembari memejamkan matanya. Bukan hal mudah baginya untuk mengambil keputusan, sebenarnya sudah lama Arsy ingin mempertemukan anak anak pada ayahnya. Namun banyak pertimbangan yang harus ia ambil.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi mbak..!"
Arsy mengangguk lalu menatap kepergian Rama dengan hati yang tak menentu.