
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Tapi ... bolehkah kali ini aku berharap agar tidak ada perpisahan di antara kita? Karena, aku tau perpisahan bisa datang kapan saja. Tapi aku ... tak mau berpisah denganmu.
.
.
.
.
.
_____
"Makasi ya Arkya, berkat Lo gue bisa jawab semua soal waktu test tadi," ujar Azira saat keluar kelas. Kini test mereka telah selesai, dan sekarang adalah jam istirahat.
"Sama-sama. Kan udah gue bilang, gue itu orangnya baek."
"Yaudah. Kalau gitu, gue mau kekantin. Lo ikut, gak?"
"Enggak ah, ntar aja."
"Oke, papay ...."
Selama perjalanan ke kantin, Azira memikirkan kejadian tadi. Kejadian ketika test berlangsung. Bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan senyum. Orang mungkin berfikir, ia sudah mulai gila. Tapi apakah salah jika Azira bahagia dengan dunianya sendiri?
Semenjak mulai masuk semester baru, entah kenapa, tapi Arkya selalu memilih tempat duduk di sampingnya. Mungkin saja, si Arkya mau minta contekan pada Azira jika giliran dia tidak tau.
Arkya adalah lelaki yang memiliki kata-kata manis, logat yang bagus, jika ingin merayu perempuan atau mungkin tidak. Tapi, selalu saja perempuan yang ada di dekatnya akan menyukainya jika berhadapan dengan kata-kata manis Arkya. Untungnya, Azira sudah kebal dengan kata-kata Arkya.
Selain kata-kata Arkya yang manis, wajahnya yang tampan bak artis jepang itu, menjadi faktor utama juga.
Tapi jika dilihat, Azira juga gadis yang cantik, wajahnya juga terlihat seperti gadis jepang jika rambutnya dibuat seperti model gadis jepang biasanya. Walau begitu, sudah lama sekali Azira jomblo. Ah itu tak masalah bagi Azira, ia sudah terbiasa sendiri.
"Bu, baksonya satu ya," ujar Azira memesan makanan ketika ia sudah memasuki kantin.
"Oke," sahut ibu kantin.
Azira memilih tempat duduk yang masih kosong dan duduk sendiri, sebenarnya Azira suka duduk bersama teman-temannya. Hanya saja, kalau ia sudah terlanjur sendiri ke kantin, ia tak mau bergabung dengan teman-temannya.
Akhirnya pesanannya datang. "Ini Neng pesanannya," ucap ibu kantin.
"Makasi, Bu," jawab Azira.
Azira mengambil kecap dan sambal, lalu menuangkannya ke bakso miliknya itu dan mulai makan satu persatu pentol baksonya.
"Hmmm ..." gumam Azira karena rasa bakso miliknya sangat enak.
Azira sangat menyukai makanan yang bersifat pedas, tapi tidak juga terlalu pedas.
"Wuih, enak banget nih makan bakso, gak bagi-bagi lagi Lo!" ujar Arkya lalu menarik mangkok bakso milik Azira plus dengan sendok yang masih Azira pegang.
"Enak banget juga Lo ambil mangkok bakso gue, terus lo makan lagi! Sini-in," pinta Azira menarik mangkok baksonya plus dengan sendoknya.
"Ya kan bagi-bagi, gimana sih Lo."
"Bagi-bagi bagi-bagi, yang namanya bagi-bagi itu ya Lo ikut kumpul uang buat beli! Bukannya ambil punya orang. Pesen aja sana, sama Buk kantin."
"Yeee sewot amat, sih," gerutunya kesal.
"Yaiyalah, gue sewot. Bakso ini kan punya gue."
"Yaudah deh. Bu, pesan satu mangkok bakso sama satu minuman dingin rasa coklat, ya," kata Arkya sedikit berteriak pada bu kantin dari tempat duduknya.
"Iya," jawab bu kantin.
Tak lama datanglah pesanan Arkya. "Makasi, Bu," ucapnya lembut.
"Sama-sama."
"Lo liat Azira, gue udah punya makanan gue sendiri plus dengan minumannya lagi," kata Arkya berusaha memamerkan makanan miliknya itu.
"Terus? Gue harus bilang wow, gitu?"
"Emang Lo gak mau minta makanan gue?"
"Buat apa? Gue udah punya kali."
"Tadi gue kan udah main ambil makanan punya Lo."
"Gue gak kayak gitu, ya. Yang penting Lo gak habisin makanan punya gue, gak papa. Tapi ya kalau tadi, Lo habisin makanan punya gue, gue habisin juga makanan lo."
"Bagus kalau gitu." Arkya mulai memakan pentol baksonya satu demi satu. "Ngomong-ngomong, kenapa Lo sendiri? Padahal kan ada temen-temen lo dimeja sana," ucap Arkya sebelum memasukkan satu pentol bakso ke dalam mulutnya.
"Males, udah biasa sendiri juga makannya."
'Tenang, gue kan ada, Arkya si cowok terganteng haha," katanya bangga sambil tertawa bangga juga.
"Idih pede banget Lo."
"Iyalah gue pede. Gue kan ganteng, makanya gue pede."
"Lo juga kenapa gak gabung sama Yito? Tuh lihat, dia makan sendiri di meja itu." Ariza menunjuk meja Yito dengan gerakan matanya. Membuat Arkya menoleh ke meja Yito.
"Kagak mau ditemenin sama cowok ganteng dia, tadi udah kesana. Tapi malah di usir," ucap Arkya malas.
"Lo juga. Kenapa pake nimpok wajah dia pake sepatu, kan marah jadinya."
"Eh itu sepatu mahal, belinya dari Amerika. Harusnya dia beruntung dong, sepatu dari Amerika mendarat di wajah dia."
"Beruntung dari mana? Mau lo bawa sepatu dari kutub utara juga pasti bakal marah lah. Yang namanya sepatu, kalau udah dipakai, udah pasti kotor."
"Eleh ntar juga hilang marahnya."
"Gue doain," jawab Azira asal.
__ADS_1
* * *
"Akhirnya ... kelas selesai juga."
Dosen yang baru saja masuk mengisi kelas terakhir Azira kini telah keluar. Dan itu tandanya, Azira sudah boleh pulang.
"Eh Azira, besok ada test, gak?" tanya Arkya yang tiba-tiba duduk di depan Azira.
"Enggak ada kayaknya," jawab Azira. Dan melanjutkan memasukkan alat tulisnya kedalam tas.
"Beneran ini ..." pintanya khawatir.
"Iya beneran, tapi gue gak tau juga. Siapa tau ada test dadakan. Belajar aja dirumah buat persiapan."
"Ih, kalau kayak gini gue gak bisa tenang main game."
"Kalau gitu jangan main game."
"Ya gak bisa lah. Game itu ibarat pewarna dalam hidup gue. Kalau gak ada game, sama aja kayak buka fb tapi gak ada notif apapun, kan bosan jadinya."
"Serah Lu dah." Azira kembali melanjutkan memasukkan alat tulisnya, tak lama kemudian dia seperti mencari sesuatu. "Mana lagi penghapus gue ..." gumamnya pelan. Azira jongkok untuk melihat bagian bawah meja dan kursi.
"Cari apaan, Lu?" tanya Arkya.
"Cari penghapus, coba liat di bawah kursi lu. Mana tau disana," jawab Azira. Tapi pandangannya mencari-cari penghapus.
Arkya bangun dari duduknya dan jongkok, lalu ikut mencari penghapus. "Kagak ada, udahlah beli aja yang baru."
"Enak banget Lu nyuruh orang, meskipun harganya murah. Tapi ntu penghapus jarang gue pakek, masih seperti baru. Kalau hilang gue pake apa dong?"
"Makanya gue suruh beli." Tak lama kemudian Arkya melihat Yito menuju ke pintu. "Eh Yito, pulang bareng kuy!" Arkya langsung menghampiri Yito dan meninggalkan Azira yang masih sibuk mencari penghapus.
"Pulang aja sendiri sono, sama sepatu dari Amerika Lo itu," jawabnya jutek.
"Ih gue minta maaf, beneran gak sengaja tadi."
"Lo bilang gak sengaja? Yang gerakin tangan Lo buat ambil sepatu, kan otak. Dan Lo ngikutin yang diperintahin sama otak, berarti Lo masih sadar buat ambil sepatu sendiri. Dan Lo bilang gak sengaja?"
"Maksud gue spontan gitu ngambilnya."
"Alah gue gak percaya, emang muka gue tong sampah apa. Lo jadiin tempat buat lempar sepatu?"
"Ok ok gue salah. Gue akui! But please forgive me friend, i'm so sorry. Only you're my best friend."
"Give me time to think."
"Jangan gitu doong," rengek Arkya.
"Udahlah, gue mau pulang." Yito berlalu meninggalkan Arkya, sedangkan Arkya berusaha mengejar Yito.
"Yito! Gue janji, gue traktir Lo besok!"
"Bomat!"
"Aduuuh mana lagi itu penghapus ... mana kelas mulai sepi lagi," gumam Azira.
"Cari apaan, Azira?" tanya Laura. Teman Azira yang diajaknya sekelas.
"Cari penghapus," jawabnya.
"Emang tadi simpan dimana?"
"Dimeja, tadi waktu ngobrol sama Arkya masih ada. Terus pas di cek ulang malah gak ada."
"Ooo~~" Laura menundukkan kepalanya melihat kelantai hendak membantu mencari penghapus. Tapi hanya sebentar saja. "Enggak ada di bawah."
"Ada, pasti itu. Cuma pasti jatuhnya jauh."
Laura mengendikan bahu tak tahu, dan lanjut memainkan handphonenya. Tak lama datang salah satu teman Azira juga.
"Cari apaan, Azira?" tanya Selestia.
"Cari penghapus."
"Emang tadi taroh dimana?"
"Di meja. Udah gue masukin ke tas, tapi pas di cek ulang gak ada."
"Makanya kalo simpan barang teliti dulu. Btw, gue duluan pulang, ya."
"Iya, pergi aja sana."
Selestia pergi menuju pintu dan keluar.
.
.
5 menit kemudian
.
.
"Eh! Kunci motor gue mana, ya?" tanya Selestia, yang tiba-tiba saja muncul dari ambang pintu.
"Mana gue tau," jawabnya acuh.
"Aduh mana, ya ...." Selestia meraba pakaiannya, berharap kuncinya ada disana.
"Makanya kalo simpan barang teliti dulu." Kini giliran Azira yang meledek.
Selestia tidak peduli dengan ledekan temannya, yang terpenting sekarang adalah kunci motornya. Selestia masuk ke kelas dan mengecek tempat duduknya semula, lalu melihat-lihat lantai.
Pada akhirnya, Selestia dan Azira sama-sama mencari sesuatu.
__ADS_1
10 menit kemudian
"Sebenarnya Lo berdua cari apaan, sih?" tanya Laura yang masih di kelas main hp, dan bertanya pada Azira.
"Udah dibilang cari penghapus, masih aja nanya!" kesalnya.
"Lalu si Selestia cari apaan?"
"Kunci motor," sahut Selestia, "eh, Laura. Bantuin napa? Tega banget Lo sama temen, temen lagi kesusahan, Lo malah enak-enakkan. Pada gak bantuin kita."
"Yaudah." Laura ikut mencari kunci motor atau penghapus. Intinya, yang penting dia melihat salah satu barang itu.
.
.
.
"Enggak ada," kata Laura pasrah. Sudah lama sekali mereka mencari penghapus atau kunci motor, tapi tidak satupun yang ditemukan.
Azira berdiri, merenggangkan tubuhnya yang sedari tadi berjongkok. "Iya enggak ada. Yaudahlah, relain aja, mungkin penghapus gue udah berada di dunia lain," kata Azira pasrah.
Lalu Azira mengambil tasnya dan beranjak keluar kelas. Tapi ia tersadar sesuatu. "Eh, Selestia. Enggak pulang, lo?"
"Masih cari kunci motor."
"Udahlah biarin aja, mending sekarang Lo pulang."
"Eh, Situ pikir ane pulang pe terbang? kalau kunci motor gak ada, gimana mau pulang?" protesnya.
"O iya ya." Azira pun berbalik dan ikut mencari kunci motor temannya.
.
.
5 menit berlalu
.
.
"Enggak ada, Selestia."
"Aduuuh gimana nih ...."
"Emang tadi simpan dimana?"
"Di saku ba--" Selestia menghentikan perkataannya ketika disaat bersamaan ia meraba kantong bajunya dan menemukan kunci motornya disana. "Eh kutu kupret! Disini Lu rupanya!" gerutunya pada kunci motor.
Azira hanya memandangnya datar. "Yaudahlah, kan udah ketemu. Mending balik sekarang."
"Yuk ah."
* * *
Esok Harinya
"Aduuh penghapus gue beneran hilang, Laura," kata Azira, yang baru masuk kelas sudah curhat pada temannya.
"Udahlah relain aja, mungkin dia udah pergi ke dunia penghapus," ujar Laura.
"Huwaahaa tapi gue gak relaaa ..." rengek Azira dengan nada manja.
"Gue kan masih punya penghapus, ntar Lo pake itu aja dulu."
"Oke, makasi. Btw, penghapus Lo udah berapa lama?"
"Udah sejak SMA, sampe sekarang masih ada. Ini tuh penghapus legend."
"Wuih hebat."
Karena penghapus Azira sudah hilang, jadi sekarang ia meminjam penghapus Laura ketika ingin menggambar. Entah kenapa, tapi kali ini banyak yang menggunakan penghapus dan meminjam milik Laura. Mengingat orang-orangnya di kelas hanya tau bahwa selain Azira, Laura juga punya penghapus.
"Azira pinjam penghapus," ucap Arkya.
Azira mengambilkan penghapus milik Laura. "Nih. Itu penghapus Laura, bukan punya gue. Punya gue udah hilang."
"Jadi beneran hilang?"
"Iyalah," jawabnya sedih.
.
.
.
.
Jam istirahat~~
"Penghapus gue mana Azira?"
"Mana gue tau, kan tadi udah gue kasi ke Elu."
"O iya. Mana, ya?" Kini giliran Laura yang mencari penghapus.
"Ketemu?" tanya Azira.
"Kagak."
"Udah lah relain aja, palingan juga udah di dunia penghapus."
"Huwaaahaa gue gak rela. Baru aja gue bilang, itu penghapus legend sekarang udah hilang huwaaahaaa ...."
"Sabar Nak sabar ..." Azira mencoba menenangkan teman sebangkunya itu dengan nada agak alay. Meski dalam hatinya ingin tertawa, karena temannya bernasib sama dengannya.
Tbc
__ADS_1