
Bagi yang akan mulai baca silahkan vote, dan komen juga 😁😍
Untuk komen ntar author bales kalo punya jawabannya. 😆
Dan yang kasi vote ntar author sayang. 😍
Happy reading 💙❤
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Orang-orang selalu berpikir, bahwa mereka yang selalu dekat pasti punya hubungan khusus.
Itu pasti.
Hanya satu atau mungkin tidak ada dari mereka yang percaya bahwa mereka hanya sahabat.
Karena mereka lebih percaya gosip orang daripada mendengar langsung dari orang tersebut.
Karena sejatinya, walau Bulan dan Bintang berdekatan mereka tidak bersama.
__________
Pagi ini Arkya sudah datang ke sekolah karena ia punya jam masuk pagi. Namun, sebelum Arkya sampai di kelas ia ingin ke kantin. Dalam perjalanan ke kantin Arkya melewati beberapa kelas lainnya yang berada di sebelah kiri sedangkan sebelah kanannya ada pembatas, yang membatasi agar tidak ada yang jatuh. Dari atas sana Arkya bisa melihat halaman depan milik sekolahnya yang luas.
Hembusan angin pagi menghantam rambut Arkya yang memiliki potongan panjang di bagian atasnya, hantaman angin yang dari depan itu membuat rambut Arkya sedikit berterbangan.
Wajahnya yang seperti artis Jepang, kulitnya yang tidak terlalu putih dan tidak terlalu hitam membuat dirinya terlihat sempurna. Arkya juga memakai jaket, dan angin itu membuat kedua ujung jaket Arkya tersibak ke belakang, di saat yang sama Arkya mengelus rambutnya ke belakang. Tindakannya yang pas dan bersamaan membuatnya terlihat cool.
Bagaikan malaikat yang turun dari langit, seperti itulah julukan yang selalu diberikan pada Arkya oleh semua gadis.
Banyak gadis yang terkagum-kagum ketika melihat Arkya lewat. Dan Arkya membalas itu dengan senyuman, bukan bermaksud sombong, tapi Arkya hanya ingin menghormati para gadis itu saja.
Arkya bisa melihat bahwa karena tindakannya itu, para gadis menjadi memekik histeris. Hal itu membuat Arkya ingin tertawa, namun Arkya berusaha menahannya dan hanya tertawa kecil. Lagi-lagi tindakannya hampir membuat lima puluh persen gadis-gadis pingsan.
'Kayaknya gue ganteng banget, deh. Sampe-sampe para gadis tergila-gila sama gue,' batinnya senang yang tertahan. 'Huuufft ... tenang, Arkya. Tenang. Lo gak boleh sombong, ini adalah anugrah buat lo karna udah terlahir dengan wajah ganteng. Jadi lo gak boleh sombong,' ucap Arkya dalam hati menasehati dirinya.
Arkya masih lanjut berjalan ke kantin, senyuman bangga dan sedikit malu terukir di wajahnya. Arkya tak menyangka jika hari ini ia akan menjadi pusat perhatian lagi. Terkadang hari-hari Arkya memang diawali dengan seperti ini.
"Woi!!" Seseorang tiba-tiba merangkul Arkya dari sebelah kanan dengan semangat. Dan itu membuat Arkya mengendikkan bahu karena terkejut.
"E buseett! Lo bikin gue terkena serangan jantung tau, gak?!"
"Tau," jawabnya sekenanya. Dia, Yito. Masih ingat, kan?
Arkya dan Yito dulu sempat bermusuhan, akibat Arkya yang melempar sepatu miliknya ke wajah Yito. Hal itu membuat Yito marah selama berhari-hari. Awalnya Arkya tidak begitu peduli, tapi ternyata Arkya tidak bisa jika tidak bergaul dengan Yito sehari-harinya.
Jadi, Arkya berusaha agar Yito berhenti marah padanya. Setelah memohon-mohon, mengikuti Yito ke sana-ke mari, akhirnya Arkya akan dimaafkan tapi dengan satu syarat. Yaitu, sepatu Arkya yang dari Amerika itu harus menjadi milik Yito.
Arkya sempat menolak awalnya, tapi Arkya juga ingin agar pertengkaran mereka berakhir. Arkya juga sempat menanyakan kenapa Yito ingin sepatu mahal miliknya itu.
Namun, Arkya malah mendapatkan jawaban yang tidak logis dari mulut Yito. Yito bilang, saat sepatu Arkya dilempar ke wajahnya, sepatu Arkya juga sempat bersentuhan dengan bibirnya meskipun hanya sekejap. Itu artinya, sepatu Arkya dan Yito sempat berciuman meskipun tak lama. Jadi, dengan ciuman itu berarti sepatu Arkya telah menjadi milik Yito sepenuhnya.
Pada akhirnya, setelah seribu kali berfikir Arkya rela memberikan sepatunya. Saat pemberian Arkya menahan sepatunya ketika ditarik oleh Yito. Hal itu membuat terjadi adegan tarik-menarik. Yito bahkan hampir terjungkal ketika Arkya melepas pegangannya tiba-tiba. Dan akhirnya mereka berbaikan sampai sekarang.
"Mau ke kantin, ya?" tanya Yito yang merangkul Arkya di sampingnya.
"Nggak. Mau ke kuburan."
Yito mendorong kepala Arkya ke depan karena kesal, tapi di balik kekesalannya juga ada kesenangan. "Apaan sih, lo."
"Lo juga, udah tau mau ke kantin masih aja nanya."
"Kan buat memastikan, gimana sih, Lo?"
"Wewewewe, nggak peduli." Arkya meledeki temannya.
__ADS_1
Yito memajukan bibirnya karena kesal. Lalu Arkya menoleh dan tersenyum. Tak lama mereka tertawa bersama.
Sedangkan di tempat lain Azira sudah menuju ke kelasnya, ketika masuk kelas Azira sudah mendapati Laura di tempat duduknya. Dimana lagi kalau bukan di deretan kedua. Laura memang menjadi orang pertama yang ada di kelas. Dan Laura juga terkenal dengan kepandaiannya.
"Hmm ... si Laura, seperti biasa udah jadi orang pertama di kelas," ujar Azira ketika memasuki kelas dan menuju ke tempat duduk di samping Laura dan duduk di sampingnya.
"Hehehe udah biasa soalnya."
"Ada tugas, gak?"
"Gak ada, tenang aja."
"Huuuffft ...."
"Eh btw, Lo sama Azira jadian, ya?" tanya Yito, yang kini situasinya kembali ke kantin. Di mana sebenarnya Laura menanyakan hal yang sama pada Azira di kelas.
"Enggak, siapa bilang?" jawab Arkya.
"Orang-orang," jawab Laura.
"Jadi Lo lebih percaya orang-orang ketimbang gue?" tanya Azira.
"Lima puluh persen, iya sih. Soalnya didukung dari apa yang gue lihat juga. Lo sering banget deket ma dia, jadi gimana gue gak kepikiran soal dia coba," jawab Yito.
"Iya, gue juga ngerasa kek gitu juga sih. Akhir-akhir ini gue ngerasa agak deket sama dia," jawab Azira.
"Gini ya, kalau Lo suka sama dia mending Lo ungkapin deh. Setau gue juga kalau si Azira itu masih jomblo, dan Lo juga sama. Jadi tunggu apa lagi?" saran Yito.
"Yee Lo pikir mudah ungkapin kayak gitu?!" tanya Arkya.
"Lah emang terus susahnya dimana? Bilang aja kayak gini, ekhem Azira gue suka sama Lo. Lo mau kan jadi pacar gue?" Yito mempraktekkan cara untuk melamar seorang gadis.
"Menurut Lo si Arkya suka sama gue, Laura?" tanya Azira.
"Gak ada orangnya Lo mudah aja bilang, lah ini beda bro!" sergah Arkya. 'Karena perasaan yang sesungguhnya sulit untuk diutarakan dengan perkataan, itu sangat sulit. Lain halnya jika perasaan itu tidak sepenuhnya, itu mungkin akan cukup mudah,' batin Arkya nelangsa.
"Jadi intinya sekarang Lo suka gak sama dia?" tanya Laura dan Yito.
"Gue gak tau, gue bingung," jawab Arkya dan Azira. Mereka belum pasti dengan perasaannya.
Akhirnya Arkya dan Yito memasuki area kantin dan memilih tempat duduk. Setelah itu mereka memesan makanan dan melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda tadi.
"Gimana sih, Lo? Sama perasaan sendiri bingung," ujar Yito heran.
"Is, Lo pikir mudah?!"
"Iya, lah. Gini ya, Lo kalau sama dia gimana perasaan Lo?"
"Perasaan gue biasa aja, sih," jawab Azira.
"Ada deg-degan atau kayak rasa nyaman sama dia, gak?" tanya Laura.
"Aduuh gue gak tau. Intinya kalau gue sama dia seneng gitu," jawab Arkya dan Azira.
"Mungkin Lo suka sama dia," ujar Yito dan Laura.
"Masa, sih?"
"Bisa aja."
Arkya dan Azira sama-sama merenung memikirkan perasaan mereka yang sesungguhnya. Jika Azira, kalian tentu tahu bahwa dia pernah menyukai Arkya. Namun, akankah Azira merasakan perasaan itu lagi? Apakah Azira membiarkan perasaan itu bersemi kembali?
Jika Arkya, ia sendiri masih bingung akan perasaannya. Arkya sendiri akan merasa senang jika dekat dengan Azira, kadang Arkya juga merasakan sedikit canggung. Namun, mungkinkah? Atau ini hanyalah perasaan seorang sahabat saja?
'Jangan-jangan bener lagi kalau gue itu suka sama dia,' batin keduanya.
__________
__ADS_1
"Azira!" panggil seseorang dari belakang. Azira yang sedang berjalan di koridor sekolah dengan menggendong tas mininya sembari memegang kedua tali tasnya, menoleh ke belakang.
Arkya, dia lah yang memanggil Azira. Akhirnya Arkya berhasil tiba di samping kanan Azira. Entah desiran angin darimana tapi Arkya merasa hatinya senang, senyum di wajahnya pun semakin mengembang ceria.
Sedangkan Azira baru kali ini, ia merasakan perasaan itu kembali. Perasaan dimana ia sedikit canggung, sedikit deg-degan.
"Apa?" jawab Azira. Menjawab panggilan Arkya tadi.
"Gak papa. Pulang bareng, yuk?"
"Tapi gue bawa motor, jadi gue gak bisa boncengan sama Lo."
"Tapi gue gak bawa motor, jadi gue bisa boncengan sama Lo," ujar Arkya yang mengatakan hal yang hampir sama dengan Azira.
"Kok Lo gak bawa motor?"
"Gak tau," jawab Arkya sambil mengendikkan bahu. "Mungkin hari ini gue emang ditakdirkan buat boncengan sama Lo." Arkya sadar mengatakan itu, meski sejujurnya ia sedikit malu. Perkataan itu yang tebersit dalam kepalanya dan ia langsung mengatakannya begitu saja.
Azira tak menjawab, itu karena dalam hatinya Azira merasa tertahan. Tertahan oleh rasa malu. Azira hanya bisa senyum dan sedikit salah tingkah. Kenapa? Kenapa Azira seperti ini lagi.
Azira mengontrol perasaanya dengan menarik nafas, Azira tahu ini pasti karena perkataan Laura yang mengira bahwa ia menyukai Arkya. Sehingga ia merasakan seperti ini lagi. Padahal menurut Azira lebih baik jika ia bersahabat saja dengan Arkya agar mereka tidak terpisahkan daripada berpacaran, namun kelak bisa saja terpisahkan.
Tetapi, perkataan itu sangat sulit untuk tidak dilakukan. Karena pada dasarnya, semua orang ingin memiliki sahabat yang bisa menjadi kekasihnya.
"Ya udah kalo gitu, entar Lo yang bawa motor gue. Gue boncengan ama Lo," ujar Azira setelah bisa mengontrol perasaannya.
"Oke."
______
Akhirnya setelah cukup lama, kini mereka sampai di parkiran. Selama perjalanan tadi, Azira dan Arkya saling diam. Tak ada yang berbicara atau memulai topik lebih dulu, keduanya bisa merasakan kecanggungan di antara mereka. Sehingga Arkya sesekali bersiul dan Azira bernyanyi pelan.
"Lo tau motor gue kan? Nih kuncinya." Azira memberikan sebuah kunci dengan gantungan kunci berbentuk Boboiboy.
"Oke." Arkya menerima kunci motor Azira dan menuju ke motor milik Azira, menghidupkannya dan menarik gas motor lalu menuju ke tempat Azira berdiri. "Yok, gas!" ujarnya semangat ketika Arkya telah berada di depan Azira.
"Gila! Tu cowok ganteng banget!" ujar Azira yang kini fokusnya pada seorang pemuda yang baru saja keluar gerbang kampus.
Arkya yang merasa diacuhkan ikut mengalihkan pandangannya pada cowok tadi. Entah kenapa, hati Arkya langsung waswas. Perasaannya kini berubah takut, takut bahwa ia akan kehilangan Azira dan takut bahwa jika Azira menyukai cowok itu.
Dengan cekatan, Arkya turun dari motor dan menutup mata Azira. "Idih, tu mata jelalatan banget sih!" protes Arkya yang tangan kanannya sudah menempel pada dua mata Azira.
"Ih apaan si Lo nutupin mata gue?!" protes Azira yang tak kalah marah.
Arkya melepas tangannya dari mata Azira. "Habisnya mata Lo itu kemana-mana."
"Terus apa hubungannya sama Lo? Gue kan jomblo. Mau lihat Malaikat kek, mau lihat Dewa kek. Kan terserah gue."
"Lo kok gak ngerti, sih?"
"Harusnya gue yang bilang kayak gitu."
"Udahlah, cepetan naik!" Arkya yang kesal langsung menaiki motor Azira. Azira pun menyusul duduk di belakang Arkya. Dengan memegang sedikit jaket Arkya, agar Arkya tidak merasa bahwa dia sedang dipegangi.
Dalam perjalanan keduanya saling diam, Arkya masih dengan kekesalannya. Sedangkan Azira dengan sedikit rasa bersalahnya dan berbagai pertanyaannya. Azira bingung kenapa Arkya begitu kesal ketika ia melihat lelaki lain. Padahal Arkya hanyalah sahabatnya.
'Kenapa Arkya kesel pas gue lihat cowok lain? Dia cemburu? Apa jangan-jangan dia suka lagi sama gue?!' batin Azira menebak-nebak.
Tbc~~
Hayoloooh ada yang bingung sama perasaannya sendiri? 😂
Jangan lupa vote dan komen
Da da 😘😘
__ADS_1