Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Part 10


__ADS_3

"Argh! Gagal lagi!'' pria yang lagi menggebu-gebu hasrat kelelakian nya itu meninju angin, menyugar kasar rambutnya, menatap Tasya sebentar, lalu berlalu dengan perasaan teramat kesal.


Keluar Rama dari dalam kamar, langkah kakinya tergesa-gesa menuruni satu persatu anak tangga, ia tahu siapa yang berseru memanggil namanya, ia kenal betul dengan pemilik suara itu.


Dan begitu tiba di lantai bawah, Rama melihat Juwita sudah berdiri di ruang tamu, dengan tatapan mengedar ke seluruh ruangan. Juwita bersikap begitu lancang, ia masuk ke dalam rumah tanpa dibukakan pintu oleh sang pemilik rumah, tanpa permisi terlebih dahulu, seakan-akan rumah itu merupakan rumah milik nya sendiri.


''Sayang, kamu ngapain ke sini? Kenapa tidak mengabari dulu?'' Rama bertanya sembari mendekatkan dirinya kepada sang kekasih.


''Aku tadi habis nganter undangan untuk teman aku, kebetulan rumahnya di daerah sini juga, makanya aku mampir ke sini, aku kangen sama kamu, seharian saja tak bertemu rasa setahun, selain itu aku juga ingin melihat-lihat rumah kamu,'' Juwita bergelayut manja di lengan kekar Rama.


''Oh, ayo duduk,'' Rama mempersilahkan Juwita agar duduk di sofa ruang tamu. Mereka pun duduk berdampingan dengan tak berjarak.


''Kamu habis ngapain aja? Kenapa penampilan kamu begitu berantakan dan sedikit berkeringat? Mana Si Tasya?'' cerca Juwita dengan beberapa pertanyaan. Tangannya bergerak menghapus keringat yang membasahi kening Rama.


''Tadi Mas habis olahraga. Tasya ada di kamar,'' Rama berusaha bersikap biasa saja.


''Hm, pagi-pagi sudah ngamar aja, dasar wanita pemalas!'' Juwita berkata sinis.


"Sudah, kamu mau minum apa? Biar Mas buatkan minum untuk mu?''


''Kok kamu sih?! Mending kamu panggil Si Tasya itu, suruh dia buatkan minum untukku, tamu dateng itu di sambut dan dilayani dengan baik, ini malah nyantai nyantai aja di kamar,'' Juwita berkata dengan wajah cemberut.


''Sudah, tidak apa-apa. Mas saja yang bikin minum untukmu, karena hari ini Tasya lagi tidak enak badan,''

__ADS_1


''Baiklah, kalau begitu aku akan menemani kamu kebelakang, sekalian juga aku ingin melihat-lihat isi rumah ini.''


Juwita dan Rama lalu berjalan berdampingan menuju dapur. Selama berjalan ke dapur, tatapan mata Juwita terus mengedar keseluruhan ruangan yang ia lewati, ia merasa iri karena Tasya tinggal di rumah yang mewah dengan fasilitas yang lengkap dan tentunya furniture yang bagus dan mahal.


''Mas, besok kalau kita sudah menikah kamu belikan rumah yang lebih gede dan lebih bagus dari rumah ini, ya. Besok kan kita akan punya anak, jadi rumah kita haruslah lebih besar supaya anak kita nyaman berada di rumah,'' bujuk Juwita dengan nada suara terdengar begitu manja.


Rama sedang membuatkan minuman coklat untuk Juwita, sesuai dengan apa yang Juwita inginkan.


''Iya, Sayang. Yang penting kamu jaga kandungan kamu itu dengan baik, pokoknya besok setelah anak kita lahir, Mas akan berikan apapun yang kamu inginkan.'' Rama meletakkan minuman coklat yang masih menguar asap nya itu di atas meja di depan Juwita, mendengar apa yang dikatakan oleh sang calon suami, membuat Juwita merasa begitu bahagia, karena ia merasa Rama lebih memprioritaskan dirinya di bandingkan Tasya.


Rama duduk di sebelah Juwita, ia lalu mengelus pelan perut Juwita yang sudah mulai membuncit. Hasrat kelelakian nya yang begitu membuncah tadi tiba-tiba berangsur berkurang, karena fokusnya kini sudah tertuju kepada kandungan Juwita. Sejenak Rama melupakan tentang Tasya.


Di dalam kamar, cepat-cepat Tasya mengganti piyamanya dengan celana jeans panjang, di padukan dengan atasan rajut berlengan panjang. Rambut nya yang panjang sepunggung ia ikat tinggi. Ia memakai sepatu, mengambil tas, lalu yang lebih utama, ia memasukkan beberapa pakaian nya serta barang-barang berharga miliknya ke dalam koper. Termasuk sertifikat rumah dan perhiasan milik.


Tasya akan segera meninggalkan rumah, rasanya tak aman lagi kalau ia tetap tinggal serumah dengan Rama, sudah pasti Rama akan terus menuntut agar dilayani, sedangkan itu sungguh mustahil bagi Tasya, karena ia sudah terlanjur jijik dengan sosok pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Sosok pria yang tega menghadirkan wanita lain diantara mereka.


Begitu sudah tiba di lantai bawah, Tasya merasa begitu lega, karena tak ia lihat keberadaan Rama.


Tanpa membuang waktu lagi, berjalan dirinya ke arah pintu utama, lalu.


Brak!


Tasya melempar batu sebesar buku tangan ke arah pigura foto pernikahan dirinya dan Rama. Batu yang ia ambil di dalam pot tanaman hias yang ada di ruang tamu. Foto besar yang tergantung di dinding ruang keluarga itu pecah, hingga mengeluarkan suara yang cukup bising.

__ADS_1


Tasya sengaja melakukan itu, supaya Rama sadar, kalau pernikahan mereka tak mungkin dilanjutkan lagi, seperti kaca yang telah pecah hancur berderai, tak mungkin kembali utuh seperti semula walau dibenahi sebaik apapun. Begitu juga dengan hati dan perasaan nya, tak akan sama seperti dulu lagi, dan takkan mungkin dirinya sudi berbagi suami dengan wanita manapun.


Tasya berlari menuju mobilnya yang ada di garasi depan.


Sedangkan Rama dan Juwita, begitu mereka mendengar suara sesuatu yang pecah, mereka langsung menuju ke arah sumber suara.


''Ada apa ini?'' Rama kaget melihat foto pernikahan dia dan Tasya sudah pecah. Begitu juga dengan Juwita, ia juga merasa kaget melihat apa yang terjadi.


Setelah itu, mereka semakin bertambah kaget ketika mendengar deru mobil yang semakin jauh meninggalkan halaman rumah.


''Tasya, kembalilah . . .'' Rama mengejar mobil Tasya dari belakang, tapi sayangnya usahanya itu tak membuahkan hasil, karena mobil yang dikendarai oleh Tasya sudah melaju jauh.


Rama berdiri di ambang pagar dengan perasaan begitu hancur ketika ia tahu sang istri telah meninggalkan dirinya saat hasratnya belum tersalurkan.


Di saat Rama lagi bersedih, Juwita malah tersenyum penuh kemenangan.


''Hah . . . Tanpa aku harus bersusah-susah payah turun tangan, akhirnya kamu menyerah juga Tasya. Ah ... Senangnya, akhir nya rumah ini menjadi rumah ku, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku mau selama ini.'' Juwita berkata di dalam hati dengan senyum miring yang terbit di wajahnya.


Lalu ia menghampiri Rama, meminta agar Rama masuk kembali ke dalam rumah.


***


Tasya melajukan kendaraan roda empat miliknya ke sebuah Apartemen. Apartemen yang ia beli menggunakan uangnya sendiri, dan Apartemen itu tidak di ketahui oleh Rama.

__ADS_1


Untuk sementara waktu, Tasya akan tinggal di Apartemen, menjelang surat gugatan cerainya datang dan menjelang persidangan selesai, maka bisa ia pastikan, kalau dirinya akan memenangkan semuanya. Rumah beserta aset-aset berharga yang pernah ia beli selama menjadi istri Rama.


Bersambung.


__ADS_2