Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Part 6


__ADS_3

Rama masih berusaha mencari kunci serep yang ada di gudang, setelah mengobrak-abrik beberapa barang dan memeriksa laci serta lemari yang ada di gudang, tetap saja ia tidak mendapatkan apa yang ia cari.


''Argh! Di mana sih? Padahal seingat aku, aku sudah menyimpan kunci kamar tamu di dalam gudang waktu itu,'' gumam Rama dengan tangan memegang kepala. Lalu setelah itu ia lanjut mencari lagi. Namun setelah lima belas menit berlalu, tetap saja ia tidak mendapatkan kunci kamar tamu. Akhir nya Rama memutuskan untuk menghentikan pencariannya. Ia berjalan menuju kamar tamu, setibanya di depan pintu kamar, Rama kembali berteriak memanggil nama Tasya.


''Tasya Sayang, buka pintunya, ini Mas. Mas sangat merindukan kamu, Mas ingin tidur dengan mu malam ini!'' seru Rama dengan wajah penuh harap.


Lagi lagi Tasya tak menyahut penggilan Rama, hingga Rama semakin kuat menggedor pintu, bahkan ia juga menendang nya.


Setelah hampir setengah jam lamanya, akhir nya Rama menyerah juga, ia lalu berjalan ke kamar utama dengan langkah kaki gontai. Benda pusaka miliknya masih tetap berdiri tegak, hingga membuat dirinya resah gelisah tak menentu.


Setibanya di dalam kamar, Rama menghubungi Juwita, Rama mengatakan keluhan yang tengah ia rasakan sekarang kepada sang kekasih.


''Duh, kamu main sendiri saja dulu, Sayang. Bagaimana sih tuh Si Tasya, suami lagi kepengen tapi tidak dihiraukan, dasar tidak becus. Besok, kalau aku sudah menjadi istri kamu, aku akan melayani kamu dengan sebaik mungkin, sepuas kamu, hingga kamu kewalahan Mas,'' tutur Juwita dari seberang sana. Mendengar itu, membuat sebuah senyum simpul terbit di wajah Rama. Rasanya Rama sudah tidak sabar lagi ingin menikah dengan Juwita.


''Ya sudah, kalau begitu Mas main sendiri saja dulu di kamar mandi. Tersiksa Mas kalau begini, bisa-bisa Mas tidak bisa tidur malam ini. Mas rasanya sudah tidak sabar lagi ingin di layani sama kamu Sayang,''


''Iya, kamu bayangkan saja wajah aku yang cantik ini, supaya cepat keluar,'' sahut Juwita, lalu terkekeh kecil. Setelah itu sambungan telepon terputus. Rama membuka pakaian yang membaluti tubuhnya, lalu ia berjalan ke kamar mandi. Malam ini ia hanya bisa bermain menggunakan tangan dan sabun.

__ADS_1


Di dalam kamar tamu, Tasya merasa begitu kesal karena ulah Rama, ia yang tadi sudah tidur jadi bangun karena mendengar suara gedoran di pintu dan suara teriakkan Rama.


Tasya sudah bisa menduga apa yang diinginkan oleh sang suami, untungnya dirinya sudah berjaga-jaga terlebih dahulu sebelum tidur, dan . . . Kunci kamar tamu sengaja ia ambil dari gudang, supaya ia bisa melindungi dirinya dari sentuhan sang suami yang dzolim. Tasya bukannya mau jadi istri durhaka, tapi mengingat apa yang telah dilakukan oleh Rama dibelakang dirinya, membuat ia merasa jijik.


***


Keesokan paginya, Tasya berdandan secantik mungkin, ia memoles wajah cantiknya dengan makeup tipis, gaun bewarna putih yang ia pakai semakin menambah kesan kecantikan nya, cocok sekali dengan kulit nya yang putih cerah. Rambut panjang sepunggung nya ia urai, Tasya terlihat seperti masih ABG saja.


''Maaf, hari ini aku tidak masak, Mas,'' Tasya berucap saat Rama menghampiri dirinya di meja makan. Tasya hanya membuat dua gelas susu putih untuk dirinya dan juga untuk Rama. Setelah mendengar perkataan Tasya, Rama tampak kecewa, wajahnya mendadak lesu dengan hembusan nafas kasar, ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Tasya. Rama juga tak berniat membahas kejadian semalam, ia takut dirinya dan Tasya bertengkar. Meskipun Rama sudah mendua, tetapi ia merasa masih sangat mencintai Tasya, dirinya begitu takut kalau Tasya meninggalkan nya.


''Ke mana lagi? Aku mau ke butik,'' jawab Tasya dengan wajah datar nya.


''Kamu cantik,''


''Hm,''


''Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik ya, kalau ada lelaki nakal menggoda kamu, kamu hubungi saja Mas,'' tutur Rama, lalu ia meneguk susu nya. Tasya hanya mencebik mendengar perkataan sang suami.

__ADS_1


''Mas seperti nya akan telat pulang hari ini, soalnya Mas ingin mengurus semua persiapan pernikahan Mas dan Juwita,''


''Baiklah, terserah kamu saja,''


''Kamu masih marah?''


''Tidak!''


''Oh ya, nanti Mas dan Juwita juga akan berkunjung ke butik milik kamu, kami akan melihat gaun pengantin di sana,'' terang Rama yang berhasil membuat Tasya menatap nya lekat dengan mata menyipit. Butik milik Tasya memang menjual semua jenis kain dan pakaian. Termasuk kain dan baju pengantin juga.


''Kenapa harus ke butik aku? Nanti apa kata karyawan ku saat mereka mengetahui kamu akan menikah lagi dengan wanita lain. Mau di taruh di mana muka dan harga diriku,''


''Juwita begitu keukeh ingin melihat gaun pengantin di butik mu dan Mas tidak bisa melarangnya,''


''Terserah kamu saja!'' Tasya menggebrak meja, lalu ia pergi meninggalkan Rama yang kaget dan dibuat menganga oleh sikapnya.


''Ternyata pikiran mu masih kekanak-kanakan sekali Tasya. Lagian aku ingin menikah lagi juga karena kamu, karena aku kasihan dengan diri mu dan supaya kamu juga bisa mempunyai anak dari aku, meskipun bukan kamu yang mengandung nya,'' gumam Rama seraya mengelus dada.

__ADS_1


__ADS_2