Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Part 13


__ADS_3

Di saat Rama dan Juwita tengah menandatangani beberapa berkas usai ijab kabul, Tasya berdiri, lalu berjalan menghampiri mereka. Orang-orang merasa penasaran apa yang akan dilakukan oleh Tasya.


''Maaf Mbak, acaranya belum selesai, harap kembali duduk di tempat semula,'' kata Pak penghulu yang sama herannya melihat Tasya yang sudah duduk di depan meja akad.


Juwita tersenyum sinis melihat Tasya.


''Idiih, ngapain kamu dekat-dekat kita, lagi mimpi ya? Sana kembali kebelakang,'' ucap Juwita tersenyum sinis menatap Tasya.


Jack dan Rama pun sama mereka heran melihat Tasya yang sudah mendudukkan dirinya tepat di sebelah Jack, dengan tetap menjaga jarak. Jack merasa begitu grogi, wangi farpum Tasya bisa ia cium hingga membuat dirinya berulangkali mencoba menetralkan detak jantungnya yang rasanya hendak terlepas dari tempatnya.


''Maaf Pak penghulu, ada yang harus saya bicarakan sekarang juga dengan suami saya. Saya bukannya mau merusak acara, tapi saya mohon beri saya waktu beberapa menit saja, dan saya ingin kalian semua menjadi saksinya,'' ucap Tasya sopan sembari tersenyum simpul. Melihat senyum Tasya yang begitu manis melebihi gula membuat Jack hendak pingsan saja. Jack menyeka keringat yang sudah membanjiri keningnya karena terlalu grogi.


''Baiklah kalau begitu Mbak. Silahkan selesaikan urusan kalian, bicaralah, dan kami akan menjadi saksinya,'' ujar Pak penghulu ramah. Tasya mengangguk kecil, ia lalu menyodorkan kertas ke atas meja akad, tepat di depan Rama.


''Em ini, Mas. Kamu tanda tangani surat ini,'' ucap Tasya tenang.


''Apa ini, Tasya?'' tanya Rama, ia menatap kertas tersebut lalu menatap Tasya.


''Kamu bisa baca, 'kan?''


Rama lalu membaca surat tersebut dengan teliti, lalu kagetlah dirinya saat tahu apa isi surat tersebut. Mendadak wajahnya menjadi pucat pasi, ia sungguh tidak menyangka ternyata Tasya sudah mengurus perihal perceraian mereka. Rama tidak mau kehilangan istri cantik nya itu.


''Apa-apaan ini Tasya? Mas tidak akan menandatangani surat cerai ini!'' ucap Rama lantang seraya memukul meja, hingga mengeluarkan bunyi yang cukup bising. Para tamu fokus mendengarkan dan melihat apa yang terjadi. Mereka kagum dengan keberanian Tasya dan mereka merasa kaget mendengar suara Rama yang keras.


''Pak penghulu, dan yang lainnya, maaf karena saya telah membuat keributan kecil di sini. Tapi saya hanya ingin meminta tanda tangan suami saya, saya sungguh tidak tahan lagi menjadi istrinya, saya tidak mau di madu. Suami saya tidak mau menceraikan saya, padahal saya sudah berulangkali meminta agar dirinya menjatuhkan talak kepada saya, tetapi tetap saja ia meminta agar diri saya bertahan di dalam pernikahan yang sungguh menyiksa saya. Saya mengurus surat cerai sendiri di pengadilan, karena saya sungguh tak bisa melihat suami saya bermesraan dengan wanita lain, apalagi wanita itu sekarang tengah mengandung, pastinya setelah ini suami saya akan mengabaikan saya. Saya sudah capek, sakit hati saya. Saya ingin mencari seorang pria yang bisa membuat saya bahagia, pria yang setia. Hiks . . .'' Tasya berkata panjang lebar dengan dibuat-buat sedih. Tasya sengaja menunggu momen seperti saat ini, agar Rama tak dapat berkilah dan agar semua orang tahu kalau Juwita hamil diluar nikah.


Para tamu yang mendengarkan penjelasan Tasya ikut sedih, kecuali anggota keluarga Rama dan Juwita, mereka sungguh marah karena Tasya telah membuka aib Juwita dan Rama. Sampai-sampai Dira dan Papanya berdiri.


''Pak Rama, sepertinya istri pertama anda sungguh tersiksa dengan pernikahan yang tak bahagia, lebih baik sekarang juga anda tanda tangani surat cerai tersebut. Biarkan dia mencari kebahagiaan nya sendiri. Maaf, bukan nya saya mau ikut campur, tetapi kalau pihak wanita sudah mengajukan surat gugatan cerai ke pengadilan, maka pihak pria tak bisa berkilah lagi, proses perceraian kalian pasti akan tetap dilanjutkan di pengadilan agama, meskipun tanpa tanda tangan anda sekali pun. Mungkin, Mbak Tasya ingin berbicara di sini, karena ia ingin anda menjatuhkan talak kepada dirinya sekarang juga,'' Pak penghulu berkata menengahi.


''Udah, talak aja wanita mandul itu Rama. Enggak usah banyak drama! Bikin malu saja.'' seru Dira lantang.


''Iya, buang-buang waktu saja.'' Kali ini Santi mamanya Juwita yang berucap.


''Iya, Mas. Cepetan!'' desak Juwita.

__ADS_1


''Aku tidak mau! Aku masih mencintai kamu Tasya!'' Rama menatap Tasya dengan tatapan mengiba.


''Huuuuu . . .'' sorak para tamu yang lain.


''Kalau cinta tak akan mendua, sampai hamil diluar nikah pula,'' sambung seorang Ibu yang menjadi saksi.


''Baiklah kalau kamu tetap tidak mau menjatuhkan talak kepada aku sekarang. Kalau begitu aku tunggu kamu di pengadilan.'' Tasya berdiri dari duduknya, ia rasa sudah cukup. Ia akan segera pergi.


''Mas!'' Juwita menyikut Rama dengan siku nya, memberi kode agar Rama segera menalak Tasya.


''Oke!'' Rama akhir nya ikutan berdiri.


''Cepetan Rama!'' desak Suseno, Papa nya Rama.


''Tasya, kenapa?'' bukannya berucap talak, Rama malah bertanya dengan wajahnya yang begitu sedih. Ia ingin menyentuh pipi Tasya tapi dengan cepat Tasya menepis tangan Rama.


Sakit hati Rama sekarang, ternyata Tasya bertindak diluar dugaan. Rasanya Rama ingin memeluk Tasya, melepaskan rasa rindu setelah beberapa tak bertemu, tapi Rama tak berani melakukan itu, karena semua orang tengah menatap nya dengan tatapan begitu tajam.


''Rama!'' Jeni sungguh geram dengan drama yang Rama buat semakin lama.


Rama menarik nafas dalam lalu ia berkata dengan suara bergetar. Mendadak suasana menjadi hening, semua orang yang ada di ruangan itu menunggu Rama mengucapkan kata talak untuk Tasya.


''Anastasya, istriku. Sekarang aku, Rama Mahendra, suami mu. Dengan sadar telah menjatuhkan talak satu kepada mu, aku menalak mu Tasya. Mulai saat ini kamu bukan lagi istri ku, bukan lagi tanggung jawabku.'' Rama menahan tangis, sedangkan Tasya tersenyum tipis.


''Terimakasih. Aku terima dengan senang hati talak mu untuk diri ku. Berbahagia lah dengan istri baru mu.'' Balas Tasya berusaha bersikap tegar. Sakit, dia juga merasa sakit, karena sejati nya perpisahan pasti akan menyisakan rasa sakit. Akhir nya pernikahan yang sudah berjalan lima tahun kandas karena hadirnya orang ketiga.


Keluarga Rama dan keluarga Juwita tersenyum lega.


Jack, kakaknya Juwita pun ikutan lega, karena dia berpikir jadi punya kesempatan untuk mendekati Tasya setelah ini.


Setelah itu Tasya berjalan meninggalkan Rama, tamu-tamu yang lain memberi jalan untuk nya. Mereka bahkan mengelus lengan bahkan punggung Tasya, memberi semangat untuk Tasya.


Jack pun berdiri, ia mengikuti Tasya dari belakang.


Sedangkan Rama langsung terduduk, akhir nya tangis Rama pecah dihadapan penghulu. Sakit tapi tak berdarah, tak pernah terbayangkan olehnya kalau pernikahan nya dan Tasya akan berakhir. Juwita sungguh benci melihat Rama menangis hanya karena seorang Tasya.

__ADS_1


***


"Biar aku antar kamu pulang,'' tawar Jack saat Tasya hendak membuka pintu mobil. Tasya menoleh kebelakang, ia menatap Jack dengan kening berkerut.


''Siapa kamu? Ngapain kamu mengikuti aku? Kembalilah. Aku bisa pulang sendiri.'' Tolak Tasya.


''Aku tahu, saat ini kamu tidak baik-baik saja, nantinya takut terjadi hal yang tak diinginkan saat di dalam perjalanan.'' Jack menatap Tasya lekat.


"Aku baik, dan aku tak butuh belas kasihan mu.'' Tasya masuk ke dalam mobil, lalu ia menutup pintu mobil.


''Tapi Tasya . . .'' Jack mengetuk kaca mobil.


''Apaan sih! Sok kenal banget!'' Tasya menggeleng kecil, lalu ia melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Jack.


Jack hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Tasya.


***


Sepanjang pesta pernikahan berlangsung, Rama sama sekali tidak bersemangat menyambut tamu undangan yang merupakan kerabat dekat dan rekan kerjanya. Pikirannya selalu tertuju kepada Tasya. Sakit kepalanya karena terus kepikiran dengan Tasya.


Juwita merasa sangat kesal melihat sikap sang suami. Alhasil dari tadi mereka hanya diam-diaman.


***


Malam harinya, Tasya duduk di dalam mobil dengan tatapan tertuju ke arah rumah lantai tiga yang ada di hadapannya. Kini, mobilnya telah berhenti tepat di depan gerbang rumah itu. Gerbang tinggi menjulang.


''Mama, Papa, maafkan aku,'' lirih Tasya menatap bangunan bertingkat tersebut dengan netra berkaca-kaca.


Ternyata rumah itu adalah rumah orangtuanya, rumah yang tak pernah ia injak lagi selama lima tahun lamanya, selama ia memutuskan untuk menikah dengan Rama.


Iya, Mama dan Papa Tasya tak pernah menyetujui hubungan Rama dan Tasya. Karena Papa Tasya dan Papa Rama pernah terlibat cekcok karena urusan bisnis. Hubungan mereka tak baik-baik saja. Maka dari itu Suseno sangat membenci Tasya. Mereka menikah tanpa restu orang tua.


Setelah hampir satu jam Tasya menatap bangunan tiga lantai tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke Apartemen. Tasya masih belum punya keberanian untuk menemui Mama dan Papa nya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2