Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Pulang


__ADS_3

POV Rama


Aku tak langsung pergi meninggalkan area parkiran, tapi aku masih tetap diam di dalam mobil. Aku menunggu, menunggu mantan terindah ku kembali. Menunggu dirinya keluar dari gedung bertingkat yang ada di hadapan ku.


Aku masih ingin melihat betapa indahnya senyuman yang terbit di bibir nya dan melihat parasnya yang sungguh ayu serta menenangkan.


Aku menyesal karena telah membuang berlian yang begitu berkilau hanya karena lebih memilih batu kerikil yang penuh tipu daya.


Entah sampai kapan penyesalan ku akan berakhir, mungkin penyesalan akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya hidup ku.


Setelah hampir setengah jam lamanya aku menunggu, akhirnya Tasya dan Sean keluar dari rumah sakit. Rumah sakit swasta di Jakarta yang memiliki pelayanan terbaik dan terpercaya.


Senyum Tasya masih terbit di bibir nya yang ranum. Sepertinya hidup bersama Sean membuat dirinya jauh lebih bahagia dibandingkan saat dirinya hidup dengan ku.


Semakin lama, langkah kaki mereka semakin mendekat ke arah aku. Dan saat Tasya sudah berdiri tepat di samping mobil ku, aku mencuri kesempatan untuk melihat nya dari jarak cukup dekat. Bergeser aku dari dudukku.


Dan lagi-lagi aku bisa mendengar dia dan Sean saat tengah berbicara.

__ADS_1


''Setelah ini kamu mau aku temani ke mana lagi, Yang?'' tanya Sean lembut.


''Kita mampir di butik sebentar ya, Mas. Aku ingin lihat lihat pakaian untuk anak kita,''


''Oke. Habis itu ke mana lagi?''


''Pulang aja,''


''Tidak cari makan dulu, Yang?''


''Tidak Mas. Kita makan di rumah saja. Aku ingin makan makanan yang kamu masak,''


Aku pun melajukan kendaraan roda empat milikku menuju rumah. Aku harus membuat perhitungan kepada Juwita, hari ini juga aku akan mengusir dia dan anaknya yang entah dengan siapa dari rumah ku.


Sesampainya di rumah, aku masih berusaha untuk menahan emosiku, aku tidak ingin emosi sesaat membuat aku kehilangan kebebasanku.


Juwita dan anaknya menyambut kepulangan ku dengan senyum mengembang. Bahkan Cio berceloteh kecil minta aku gendong, kedua tangannya ia angkat. Tapi aku sama sekali tidak menggubris nya. Karena kini aku sudah tahu kalau dia bukanlah keturunan ku, bukan darah daging ku.

__ADS_1


Juwita menatap ku heran, lalu berucap.


''Mas, kamu kenapa? Tidak biasanya kamu mengabaikan anak kita,'' ucapnya. Rasa nya aku ingin muntah mendengar itu. Tangan Juwita terangkat hendak menyentuh pundak ku. Tapi aku tepis dengan kasar.


Aku berjalan meninggalkan Juwita dan Cio yang masih berdiri di depan pintu.


Juwita mengikuti langkah ku dari belakang dengan Cio masih di gendongan nya.


Setibanya di dalam kamar, akhirnya aku bersuara.


''Kasih Cio ke baby sitter dulu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu,'' kata ku datar.


''Mas, sebenarnya ada apa sih?''


''Sudah! Kamu jangan banyak omong. Sekarang kasih Cio ke baby sitter dulu!'' bentak ku yang tak dapat menahan emosi dan amarah yang sedari tadi berusaha aku tahan.


Bayi berusia enam bulan tersebut menangis mendengar bentakan ku. Wajar saja, karena ini merupakan kali pertama aku berkata dengan nada tinggi.

__ADS_1


Dengan langkah tergesa-gesa Juwita membawa Cio keluar dari kamar, aku bisa melihat wajah Juwita yang mendadak menjadi pucat pasi. Apakah Juwita sudah menyadari kesalahannya? Atau apakah sekarang dia lagi ketar ketir takut dengan apa yang akan aku bicarakan.


Bersambung.


__ADS_2