
Di saat Rama sedang berada di kantor, diam-diam Juwita ketemuan dengan seseorang, sambil membawa baby Cio.
Dia diantar oleh sopir pribadi di rumah nya ke sebuah kafe yang ada di pinggir kota. Sengaja Juwita janjian ketemu di sana, karena tempat itu lumayan jauh dan sepi. Juwita tidak ingin ada satupun orang yang mengenal nya, melihat dia ketemuan dengan pria lain.
Saat sudah tiba di kafe, Juwita memilih duduk di area belakang kafe, area belakang yang sepi dan menghadap ke sebuah danau kecil. Tempatnya begitu asri, karena pohon-pohon rindang berjejeran di sekitaran danau.
Juwita duduk di atas bangku kayu, dengan Cio berada di dalam gendongan nya. Dia merasa sedikit gelisah, karena orang yang dia tunggu belum juga datang, padahal dia sudah menunggu sekitar lima belas menit lamanya.
Tidak lama setelah itu, akhirnya orang yang ia tunggu menampakkan diri. Pria itu langsung saja mengambil alih tubuh mungil Cio, lalu mengecup nya dengan penuh kasih sayang.
''Udah, sini, enggak usah lama-lama kamu gendong Cio,'' Juwita berucap ketus. Kini, Juwita dan pria itu duduk di bangku yang sama. Mereka seperti sebuah keluarga bahagia.
''Anak kita ternyata mirip sekali dengan Papa nya ini,'' ujar pria itu dengan senyum mengembang.
''Udah, tidak usah banyak omong kamu. Aku mau ketemuan sama kamu karena aku ingin memperingati kamu, jangan pernah kamu menghubungi aku lagi, apalagi memeras aku dengan jumlah uang yang lumayan banyak yang kamu pinta. Bisa-bisa suami aku jadi curiga,'' tekan Juwita.
__ADS_1
''Tapi kamu harus janji, Juwita. Saat Cio sudah dewasa dan sudah mendapatkan semua harta suami mu itu, kamu harus membagi harta tersebut kepada aku. Karena kalau tidak, aku akan membongkar tentang jati diri Cio kepada Rama,'' ancam Surya, Papa kandung Cio. Dia tersenyum miring menatap wajah Juwita yang memerah.
''Iya, iya. Tapi untuk saat ini, kamu jangan ganggu aku lagi! Dasar jelek!'' ucap Juwita ketus.
''Jelek jelek tapi aku mirip sama anak mu itu, jelek jelek, kenapa dulu kamu mau berhubungan badan dengan aku, ck!'' ledek Surya.
''Itu karena aku terpaksa dan kepepet. Karena cuma kamu yang bersedia tidur dengan ku dan memberikan aku anak!'' Juwita menepuk bahu Surya dengan keras, hingga Surya mengaduh kecil. Untungnya baby Cio tidak rewel.
Surya merupakan tukang ojek yang biasa mangkal di dekat pertigaan jalan di dekat kantor Rama. Dia memiliki tubuh tinggi tegap, kulit hitam, serta wajahnya yang biasa saja, tidak tampan dan tidak terlalu jelek juga. Tapi kalau dibandingkan sama Rama atau Sean, Surya sangat lah jauh di bawah mereka.
''Jangan kurang ajar kamu, ya!'' Juwita semakin marah.
''Eits . . . Tidak usah marah-marah gitu. Santai dong, aku hanya bercanda,''
''Ya sudah kalau begitu aku pulang,''
__ADS_1
''Kok buru-buru amat?''
''Aku takut ketahuan sama suami aku. bisa-bisa kita tidak dapat apa-apa kalau sampai ketahuan,''
''Ya sudah, hati-hati Sayang. Aku akan selalu memantau perkembangan anak kita dari jarak jauh,''
''Hm, terserah kamu saja! Asalkan kamu harus selalu tutup mulut!''
''Siap Bos!'' balas Surya.
Setelah itu Juwita berlalu, dia sudah merasa sedikit lega karena sudah bernegosiasi dengan Surya.
Bersambung.
Next, pernikahan Sean dan Tasya.
__ADS_1