Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Rindu


__ADS_3

...Rindu Dalam Diam...


*Hanya Karena seseorang tidak lagi berbicara dengan mu, bukan berarti dia telah berhenti merindukan mu. Hanya karena orang tersebut terlalu sibuk dengan hari-hari nya, bukan berarti kau tak lagi muncul di pikiran nya*.


Dalam bisunya seseorang di luar sana sangat peduli pada mu, namun dia tahu bahwa kau sedang baik-baik saja dan bahagia.


Setiap harinya, orang itu berusaha mengirimkan pesan batin padamu bahwa di saat saat harimu sedang buruk atau di kala kau sedang bersedih, dan tidak ada lagi orang yang hadir untuk mu, dia akan selalu ada, menunggu dengan setia sebagai pilihan terakhir untuk mengukir senyum kecil di wajah mu.


Duduk Tasya dengan diam di ruangannya sembari menikmati alunan puisi yang sangat merdu di pendengaran, sangat menyentuh di hatinya. Ia mendengar puisi yang di ucapkan oleh seseorang lewat radio yang ada di ruang kerjanya. Iya, Tasya masih sering mendengar radio saat dirinya tengah sibuk mendesign dress ataupun pakaian lain.


Semakin hari, Tasya merasa Sean semakin menjauhi dirinya, menjaga jarak dengan nya, bahkan semenjak pesan hari itu, Sean tak pernah lagi mengirim pesan lain atau pun menghubungi dirinya.


Rindu?


Kehilangan?


Tasya berusaha untuk menyanggah rasa yang tak biasa itu, rasa aneh yang selalu mengganggu hari-harinya, membuat ia sulit untuk tidur dan membuat nya gelisah.


Bayang-bayang wajah tampan Sean selalu hadir di ingatan.


Bahkan, Tasya merasa dirinya lebih kehilangan sosok Sean dibandingkan sosok Rama.


*


*


*

__ADS_1


Siang itu, Tasya masuk ke Restoran yang ada di depan Butik milik nya. Ia duduk sendirian, ingin di temani seseorang, tapi ia sungkan untuk menghubungi orang itu.


Setelah berpikir cukup lama dengan ponsel terus ia bolak balik di tangan, akhirnya ia memberanikan diri untuk menghubungi sosok pria yang sudah sangat ia rindukan. Iya, ini kali pertamanya ia akan menghubungi Sean secara duluan, karena biasanya Sean akan datang dan menghubungi dirinya setiap saat dan Tasya selalu merasa terganggu dengan pesan dan panggilan tersebut, tapi kali ini ia sangat merindukan momen seperti itu.


Sekali panggilan tak di angkat, dua kali panggilan tetap tidak di angkat, hingga panggilan ke tiga, baru lah panggilan nya di respon.


''Sean!'' seru Tasya.


''Iya, ada apa? Maaf, Sean sedang berada di toilet,'' ternyata bukan Sean yang menjawab, tetapi seorang wanita.


''Maaf, kalau begitu nanti saja aku hubungi lagi,'' kata Tasya.


''Oke baiklah,'' terdengar jawaban dari seberang sana. Lalu panggilan terputus.


Tasya meletakkan ponselnya di atas meja dengan perasaan tak menentu. Ada sakit yang ia rasa di sudut hatinya begitu tahu saat ini Sean tengah berduaan dengan wanita lain, tapi ada juga rasa senang, karena Sean sudah menemukan tambatan hatinya.


*


*


*


Di tempat berbeda, Juwita dan Rama telah pindah ke rumah lain. Semenjak sidang putusan waktu itu, mereka langsung saja pindah, kini mereka sudah menempati rumah yang lebih besar. Sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Juwita.


Juwita duduk bersantai di balkon kamarnya, lalu tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Ia ragu untuk mengangkat panggilan tersebut, karena panggilan tersebut merupakan panggilan dari nomor yang tak di kenalnya.

__ADS_1


Karena orang tersebut terus menghubungi dirinya berulangkali, akhirnya Juwita mengangkat juga.


''Siapa sih?!'' gerutu nya sebel.


''Hallo, siapa ini?'' tanya Juwita.


''Hey Juwita. Apakah kamu masih ingat sama suaraku yang khas ini?'' Juwita begitu kaget mendengar suara seorang pria dari seberang sana.


''Ka-kamu, Alvino?'' tanya Juwita.


''Iya, benar sekali Juwita,''


''Mau apa kamu menghubungi aku?''


''Aku ingin kamu mengirimkan uang sebanyak 10 juta ke rekening ku sekarang juga,''


''Apa-apaan kamu Vino! Setelah lama menghilang, bisa-bisanya kamu menghubungi aku hanya karena ingin meminta uang. Sorry, aku tidak bisa mengirimkan uang untuk mu!''


''Jangan banyak bacot, Juwita! Cepat kamu kirimkan uang itu sekarang juga, kalau tidak akan aku katakan yang sebenarnya kepada suami mu, Mama mu dan Kakak mu, karena aku mengenal mereka. Akan aku tunjukkan semua bukti nya, karena aku masih menyimpan semua foto serta vidio saat kita sedang membuat anak malam itu. Hahahaha . . .'' ucap pria yang bernama Vino disertai tawa melengking.


Mendengar itu, mendadak wajah Juwita menjadi pucat pasi.


Tak ada pilihan lain lagi, akhirnya ia bersedia mengirimkan uang yang Alvino minta.


Saat ini Rama sedang tidak berada di rumah, ia sedang bekerja.


Perut Juwita sudah membesar, diperkirakan dua bulan lagi ia akan melahirkan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2