
''Sean?''
Begitu tiba di depan Apartemen, Tasya sedikit terkejut melihat kehadiran Sean. Sean tampak sangat tampan dengan pakaian yang begitu pas membaluti tubuh tegap nya.
''Hey, kamu ke mana saja Tasya? Kamu tidak apa-apa, 'kan? Aku hubungi kamu dari tadi tapi tak kunjung kamu angkat, aku mencemaskan mu,'' Sean memegang kedua pundak Tasya, ia menatap Tasya lekat. Bisa ia lihat, mata sayu Tasya seperti tengah menyimpan kesedihan mendalam. Iya, Tasya memang lagi sedih, tapi bukan karena Rama, tapi karena ia merindukan sosok kedua orang tuanya.
''Oh ya? Sorry, ponsel aku ada di dalam tas, dan aku diam kan. Ayo masuk,'' Tasya menyingkirkan tangan Sean dari bahunya, lalu membuka pintu Apartemen, ia masuk dengan diikuti oleh Sean.
''Kamu baik-baik saja, 'kan?''
''Tentu. Kamu bisa lihat sendiri kan. Mau minum apa?'' tawar Tasya, Sean sudah duduk di sofa sedangkan Tasya berlalu kebelakang.
''Tidak usah. Aku datang ke sini hanya ingin memastikan keadaan mu.''
''Aku sudah dewasa Sean, aku sudah bisa berpikir secara jernih dan aku akan tetap baik-baik saja jangan mencemaskan aku lagi,'' tegas Tasya memaksa senyum agar terlihat baik-baik saja. Kini, dirinya sudah duduk di sofa yang sama dengan Sean.
''Dari dulu kamu memang selalu berusaha agar terlihat tegar. Tapi sayang nya mata mu tak bisa berbohong. Kamu lagi sedih, dan aku tahu itu.''
''Idih, okelah yang paling sok tahu,'' Tasya memajukan bibirnya ke depan.
''Kamu sudah bercerai dari Rama?'' tanya Sean memastikan langsung kepada orang nya. Meskipun tadi ia sudah mendengar dari beberapa temannya tentang apa yang terjadi di acara pernikahan Rama dan Juwita.
''Hu'um. Semuanya sudah berakhir, dia sudah menjatuhkan talaknya kepada ku.'' Tasya mengangguk kecil. Ia hendak membuka minuman kaleng yang ia suguhkan untuk Sean. Tapi Sean mengambil alih membuka minuman kaleng tersebut.
''Yes! Alhamdulillah!'' Sean berseru kesenangan dengan raut bahagia, ia meneguk minuman kaleng lalu meletakkan lagi di atas meja. Melihat tingkah Sean, Tasya hanya menggeleng kecil.
''Apaan sih! Norak benget. Kamu kok seneng banget mengetahui teman mu ini sudah jadi janda.''
''Tasya, aku pastikan kamu tidak akan lama menyandang status janda,''
__ADS_1
''Maksud kamu?'' Kini, Tasya dan Sean sudah saling berhadapan, mereka saling memandang lekat.
''Ayolah Tasya, kamu pasti sudah tahu perihal perasaan aku. Aku mencintaimu dan saat ini juga kalau boleh, aku bersedia menikahi kamu,'' ucap Sean sungguh sungguh dengan wajah penuh harap. Berharap Tasya akan menerima cinta nya.
''Udah ah Sean. Kita berteman. Sampai kapanpun hanya sebatas itu hubungan kita. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Kamu tampan dan kaya raya, jadi untuk apa kamu berharap sama janda menyedihkan seperti aku, janda banyak kurangnya, tak ada yang istimewa dari aku.''
''Aku tak peduli. Yang aku tahu aku sangat mencintaimu.'' Lagi-lagi Sean berusaha meyakinkan Tasya.
"Pulang!'' tegas Tasya.
''What?''
Sean menatap Tasya heran, lalu Tasya mendorong tubuh nya meminta agar dirinya segera keluar.
''Aku pengen istirahat. Pernyataan kamu itu semakin menambah beban pikiran aku aja!'' ucap Tasya.
''Bilang tunggu aku kek, sabar dulu kek. Setidaknya beri aku kepastian. Ais . . . Tasya, lama-lama rasa cinta ku ini bisa membuat aku gila. Aku sangat mencintaimu.'' Racau Sean saat dirinya sudah berada di dalam mobil sport miliknya. Lalu ia melajukan kendaraan roda empat miliknya tersebut dengan kecepatan sedang.
Setelah kepergian Sean, Tasya duduk bersandar di daun pintu.
''Maaf, maafkan aku Sean. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.'' Gumam Tasya dengan kepala menengadah melihat langit-langit Apartemen. Di langit-langit itu, ia seakan melihat bayang-bayang wajah Sean yang dari dulu selalu mengharapkan cintainya.
Saat Tasya tengah melamun, tiba-tiba saja terdengar bel Apartemen berbunyi.
''Siapa, ya?'' Tasya bertanya-tanya sendiri.
Akhir nya Tasya memutuskan untuk membuka pintu Apartemen, begitu pintu terbuka, ia melihat seorang pria tinggi tegap dengan seragam bewarna hitam tengah berdiri menghadap nya.
''Kamu siapa?''
__ADS_1
''Non Tasya, saya datang ke sini di tugaskan untuk menjemput anda. Mama dan Papa Non sudah menunggu Non di rumah. Papa Non tengah sakit keras, dan beliau selalu menyebut nama Non, beliau begitu merindukan Non,'' jelas pria tersebut dengan lancar.
''Apa? Papa sakit! Oke, baiklah, kalau begitu aku akan mengambil tas aku dulu. Tunggu sebentar,'' Tasya berjalan tergesa-gesa mengambil tas nya yang baru ia taruh di atas meja tadi.
Tidak lama setelah itu, Tasya berjalan berdampingan dengan seorang pria yang mengaku kalau dirinya adalah asisten pribadi Papa nya.
Mereka memasuki mobil yang begitu mengkilap, mobil mahal milik orang tua Tasya.
Mobil melesat membelah jalanan malam, selama dalam perjalanan, Tasya begitu cemas memikirkan keadaan sang papa.
***
Di tempat berbeda, kalau biasanya pengantin baru akan menghabiskan malam panjang dengan pasangan nya, berbeda dengan Rama. Rama sama sekali tidak berselera melihat Juwita, karena pikirannya selalu tertuju kepada Tasya.
Rama meninggalkan Juwita sendiri di dalam kamar hotel, iya, malam pertama mereka, mereka memutuskan untuk menginap di hotel.
Juwita menangis melihat sikap dingin yang di tunjukkan oleh Rama. Ia mengacak-acak tempat tidur yang di atas nya terdapat kelopak bunga mawar merah.
''Arg! Masih saja memikirkan Tasya. Padahal sekarang aku lah satu-satunya istri mu Mas!'' jerit Juwita kesal dengan air mata berderai.
''Padahal aku sudah rela melakukan apapun untuk mendapatkan kamu, termasuk . . . Ah, kamu ngeselin Mas!'' teriak Juwita lagi. Ia mengelus pelan perutnya yang mulai membuncit.
Saat Juwita tengah menangis, Rama malah pulang ke rumahnya, rumah dirinya dan Tasya.
Di dalam kamar, Rama mengambil sehelai piyama Tasya yang tersisa di dalam lemari, lalu Rama memeluk dan mengendus aroma tubuh Tasya yang tertinggal di sana. Rindu. Ia merasa sangat merindukan cinta pertama nya itu. Berbaring Rama meringkuk di atas ranjang, dengan mulut yang terus bergumam, ''Aku merindukan kamu Sayang. Sangat. Saat kau sudah pergi dari hidup ku, kini baru aku sadari kalau hadir mu sungguh lah berarti,'' gumam Rama dengan air mata mulai keluar dari netra. Lalu perlahan-lahan netra nya itu terpejam, ada rasa nyaman yang ia rasa saat ia bisa mengendus aroma tubuh sang istri lewat sehelai piyama yang selalu Tasya pakai saat berada di rumah. Rama tertidur, berharap esok ia akan bangun lalu mendapati sang istri berada di sisinya, seperti dulu. Sebelum ia meminta izin kepada sang istri untuk menikah lagi, karena sebelum itu, hubungan nya dan sang istri sangat lah harmonis. Kini semuanya hanya tinggal kenangan.
Bersambung.
Rindu itu berat ya manteman. Makanya jangan berulah, sudah tiada baru terasa.
__ADS_1