
Suasana yang tadi cukup meriah, kini mendadak menjadi sunyi karena kehadiran Rama. Para karyawan Tasya lalu permisi, mereka akan mulai bekerja melayani pembeli.
Rama menatap ke arah Tasya dengan tatapan penuh harap, ia harap Tasya mau memaafkan dirinya dan memulai semuanya dari awal lagi.
Langkah kaki nya perlahan berjalan menghampiri Tasya, lalu saat dirinya sudah berdiri berhadapan dengan Tasya, ia berucap.
''Sayang, ayo kita pulang. Mas mau menunjukkan sesuatu untuk mu di rumah,'' ucap Rama lembut. Rama tak memperdulikan keberadaan Sean dan Jonas yang ada di samping Tasya. Karena menurutnya Tasya hanya pantas untuk dirinya seorang.
''Sayang? Kamu mimpi? Bukankah kemarin kamu sudah menjatuhkan talak mu kepada aku. Apa kamu tidak punya rasa malu?'' Tasya menggeleng kecil.
''Mas tidak jadi menalak mu!''
''Emang bisa gitu?'' tanya Tasya, lalu tersenyum kecil. Ia tersenyum mendengar perkataan Rama yang terlalu ngaco.
''I-iya bisa lah. Udah, ayo kita pulang,'' Rama menarik tangan Tasya, ia sedikit memaksa. Tetapi Tasya malah menepis dengan kuat, hingga pegangan tangan Rama pada tangan nya terlepas. Sean dan Jonas hanya diam menyaksikan.
''Jangan pernah sentuh aku lagi! Karena aku bukan lagi milik mu setelah kau menalak aku kemarin, kita sudah bercerai secara agama,'' ucap Tasya dengan jari telunjuk terangkat menunjuk wajah songong Rama. Lalu ia berucap lagi.
''Aku benar-benar muak melihat wajah dan tingkah mu itu! Bukankah kau sudah memiliki apa yang kau inginkan selama ini? Bukankah sekarang kau sudah menikah dengan wanita yang menjadi selingkuhan mu selama ini?! Wanita yang tengah mengandung anak mu! Lalu apa lagi yang kau inginkan dari aku? Jangan ganggu aku lagi, karena semua tentang kita telah selesai. Aku tidak mencintai mu lagi. Dan ingat, seminggu lagi, kita akan bertemu di pengadilan, biar jelas dan berakhir semuanya di sana!'' Tasya berkata panjang lebar, ia merasa sangat geram melihat sikap plin-plan Rama.
''Tapi, Mas janji akan meninggalkan Juwita setelah Juwita melahirkan. Setelah itu kita yang akan merawat dan membesarkan anak yang dilahirkan nya itu. Kita akan kembali menjadi keluarga kecil yang bahagia. Mas menyesal waktu itu telah meminta izin kepada mu untuk menikah lagi. Kalau tahu akan begini akhirnya, Mas tidak akan pernah mengatakan itu. Kini baru Mas sadari, kehadiran mu di hidup Mas sungguh lah berarti,'' ucap Rama lembut. Wajahnya mengiba, berharap Tasya akan merasa kasihan setelah mendengar apa yang ia kata.
''Ah, hentikan omong kosong mu itu! Karena aku tak mau mendengarkan nya dan aku tak peduli lagi semua tentang mu! Sekarang juga silahkan angkat kaki mu dari butik ku!'' ucap Tasya penuh penekanan.
Tetapi Rama tetap tidak mau pergi, ia malah mencoba menarik tangan Tasya lagi agar Tasya bersedia ikut dengannya.
__ADS_1
Melihat itu, akhir nya Jonas dan Sean bertindak. Mereka mengangkat paksa tubuh Rama, Sean mengangkat bagian kaki sementara Jonas mengangkat bagian kepala, mereka membawa tubuh Rama keluar dari butik. Melihat apa yang dilakukan oleh Sean dan Jonas kepada Rama, membuat Tasya tersenyum. Tasya memilih bersikap tak peduli, ia masih tetap berada di lantai atas, ia mulai membuka satu persatu kotak kado yang di berikan oleh para karyawan, selain itu ada juga kado dari Sean.
Rama terus saja berteriak minta dilepaskan, dan akhir nya teriakan nya itu tak terdengar lagi saat Sean dan Jonas sudah melepaskan tubuhnya di luar. Beberapa orang pengunjung butik menatap heran ke arah Rama.
Rama merasa amat marah kepada Sean dan Jonas, ia tidak terima diperlakukan sebegitu hina.
''Awas saja kalian, aku akan membalas perbuatan kurang ajar kalian!'' Rama menatap Sean dan Jonas secara bergantian, wajahnya memerah menahan amarah. Sementara itu, Sean dan Jonas sama sekali tidak merasa takut mendengar ancaman Rama, karena menurut mereka Rama bukanlah tandingan mereka. Karena tubuh Rama sedikit lebih kecil dari mereka.
Dengan perasaan teramat kesal, akhirnya Rama memacu kendaraan roda empat miliknya meninggalkan halaman butik. Rama akan kembali ke rumah.
Setelah tiba di rumah, Rama mengamuk, ia menghancurkan semua dekorasi dan kejutan yang telah ia persiapkan untuk Tasya. Tadi pagi Rama telah membayar orang untuk menyiapkan itu semua.
''Argh! Kenapa semuanya jadi begini? Aku menyesal. Aku kira Tasya sama dengan wanita wanita lain yang rela berbagi suami dengan wanita lain, tetapi ternyata tidak! Dari dulu Tasya memang memiliki harga diri yang tinggi, kenapa aku baru mengingat itu!'' Rama menonjok dinding, hingga buku tangan nya terluka dan sedikit mengeluarkan darah. Ia lalu duduk di atas sofa, punggungnya ia sandarkan. Tangannya memijit pelipis.
''Secepat itukah rasa cinta itu pudar?'' gumam Rama lirih.
Dan tidak lama setelah itu, seorang wanita masuk ke dalam rumah. Saat Rama menyadari ada yang masuk ke dalam rumah, ia tersenyum kecil, ia kira Tasya yang datang menyusul dirinya.
''Tasya . . .'' lirih Rama.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Rama, ternyata yang datang itu adalah Juwita. Mendengar Rama menyebut nama Tasya, membuat Juwita merasa amat murka, hingga tangannya mendarat dengan keras di pipi Rama. Rama mengelus pipinya yang terasa perih.
''Juwita,'' lirih Rama dengan wajah mendadak pias.
__ADS_1
''Tega kamu Mas!'' teriak Juwita dengan netra berkaca-kaca.
''Mas kira yang datang tadi adalah Tasya, maaf,''
''Tasya, Tasya, Tasya terus! Sakit hati ku ketika aku mendengar kau menyebut nama wanita itu. Istri kamu sekarang itu adalah aku Mas. Tidak bisakah kau menjaga perasaan ku!'' teriak Juwita lagi. Kini, air matanya telah jatuh membasahi pipi.
''Maafkan Mas Juwita!'' Rama menangkup kan kedua tangannya di depan dada.
''Aku benar-benar muak dengan tingkah mu itu! Aku benci sama kamu! Kalau kamu masih tidak bisa melupakan Tasya, lebih baik aku singkirkan saja anak yang ada di delam kandungan aku!'' Juwita memukul-mukul perutnya dengan kedua tangan. Tangisnya terdengar begitu menyedihkan.
Melihat itu, Rama mencegahnya cepat. Rama memegang kedua tangan Juwita, lalu membawa tubuh Juwita ke dalam dekapannya. Ia mencoba menenangkan Juwita. Rama merasa bersalah terhadap Juwita.
''Maafkan Mas. Jangan pukul anak yang ada di dalam kandungan mu, karena dia tidak bersalah, ia tidak tahu apa-apa. Mas berjanji, setelah ini Mas akan belajar untuk melupakan Tasya,'' ucap Rama dengan berat hati.
''Janji,'' Juwita bertanya.
''Iya,''
''Kamu jangan tinggalkan aku sendiri lagi, ya.'' Kata Juwita lagi, kini tangisnya sudah reda.
''Iya, Sayang,'' balas Rama, lalu mereka berpelukan lagi dengan begitu erat.
Bersambung.
Aduh. Plin-plan banget ya tuh Si Rama.
__ADS_1