Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Mual


__ADS_3

Tiga bulan berlalu.


Di sebuah rumah mewah berlantai tiga sedang gempar dengan peristiwa Tasya yang tiba-tiba mual serta pusing di pagi hari.


Saat Tasya tengah menikmati sarapan paginya, mendadak saja dia merasa ingin memuntahkan semua makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam perutnya.


Berlari dia menuju kamar mandi yang paling dekat dengan ruang makan, setibanya di dalam kamar mandi, dia muntah muntah serta mengatakan kalau kepalanya mendadak menjadi begitu pusing.


Sean begitu panik melihat keadaan sang istri, dengan cepat dia menggendong tubuh lemas Tasya, membawa ke kamar mereka.


Mama dan Papa Tasya ikut ke kamar, mereka juga begitu mencemaskan keadaan Tasya, karena belum pernah sebelumnya Tasya seperti ini.


Wajah Tasya tampak pucat, Bella membaluri perut Tasya dengan minyak kayu putih.


''Ma, mual, pusing,'' lirih Tasya dengan mata terpejam. Dia menutup mulutnya dengan tangan.


''Iya Sayang. Bertahanlah,'' kata Bella panik.


''Sean, cepat kamu hubungi Dokter,'' sambung Bella.

__ADS_1


''Iya Ma,'' sahut Sean cepat. Lalu Sean mengeluarkan ponselnya dari saku celana, dia mulai menghubungi sang dokter langganan keluarga.


Sean dan Andi tidak jadi berangkat ke kantor pagi ini, karena mereka tidak bisa meninggalkan Tasya begitu saja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Tasya.


Setelah menghubungi Dokter, Sean juga menghubungi Mama nya, dan tidak lama setelah itu Mama dan Papa Sean tiba di rumah orang tua Tasya.


Mereka begitu mengkhawatirkan keadaan menantu kesayangan mereka.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu datang.


Dokter perempuan yang nampak masih muda dengan kaca mata bertengger di mata mulai memeriksa keadaan Tasya.


"Em, Tasya, apakah kamu sanggup berdiri?'' tanya Dokter Tari. Iya, nama dokter tersebut adalah Tari.


''Ya sudah, mari saya bimbing kamu ke kamar mandi,''


''Emang mau ngapain Dok?'' tanya Sean repleks. Dia merasa heran, ngapain Dokter Tari mengajak Tasya ke kamar mandi, sementara kondisi Tasya terlihat begitu lemas.


''Saya harus memastikan sesuatu yang saya duga Pak Sean,'' balas Dokter Tari dengan senyum simpul.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu,'' kata Sean lagi.


''Kalian tunggu di sini dulu, ya,'' ujar Dokter Tari mengatakan kepada orangtua Tasya serta orangtua Sean dan Sean sendiri. Lalu Dokter Tari dan Tasya berjalan ke kamar mandi. Setibanya di kamar mandi, Dokter Tari meminta Tasya untuk pipis. Awalnya Tasya menolak karena merasa malu. Tapi setelah Dokter Tari menjelaskan, akhirnya dia mengerti.


Dokter Tari memberikan testpack kepada Tasya, lalu Tasya mulai mencelupkan ujung testpack tersebut ke dalam urin yang dia tampung menggunakan wadah yang kecil.


Tasya harap harap cemas menunggu testpack tersebut berubah.


Setelah beberapa detik berlalu, Tasya menyerahkan tespeck tersebut kepada Dokter Tari. Dia tidak berani melihat langsung hasil tes tersebut.


Lalu setelah itu mereka berjalan lagi menuju tempat tidur, dan Tasya berbaring lagi di atas kasur.


''Bagaiman Dok?'' tanya Bella penasaran.


''Em, alhamdulillah, ternyata Tasya tengah hamil muda.'' Kata Dokter Tari sembari memperlihatkan hasil testpack kepada semua orang yang ada di sana.


''Selamat ya untuk kalian semua,'' sambung Dokter Tari dengan senyum mengembang.


Tergugu Tasya menangis, dia tidak menyangka, akhirnya penantian panjangnya berbuah manis juga. Akhirnya dia mengandung buah cintanya bersama Sean. Lelaki terakhir yang insya Allah akan menemani nya hingga menua bersama.

__ADS_1


Semua orang yang ada di kamar tersebut merasa begitu terharu, mata mereka berkaca-kaca, mereka menangis bahagia.


Bersambung.


__ADS_2