
Jeni menoleh sebentar ke arah samping, memandang Tasya dengan wajah tak bersahabat.
''Datang juga ternyata,'' sindir nya yang hanya dia dan Tasya yang mendengar.
Tasya tak mengindahkan perkataan sang mertua, paras nya yang ayu tampak tenang. Tak ada amarah, apalagi air mata.
Tasya belajar untuk mengikhlaskan semua yang terjadi pada dirinya. Belajar berdamai dengan hal yang membuat dia sakit ataupun bahagia. Dengan begitu, dirinya merasa jauh lebih baik. Ia yakin akan ada hikmah setiap kejadian yang dialami di dalam hidup.
''Terimakasih.'' Rama memandang ke arah Tasya, Tasya pun mengangguk kecil dengan senyum simpul.
Mungkin Rama berterimakasih karena ia menganggap Tasya sudah memberi izin kepadanya untuk menikahi Juwita, tapi sayang, sepertinya dugaan nya itu salah besar.
Para tamu yang menjadi saksi mendadak mengagumi sosok Tasya, mereka menganggap kalau Tasya adalah wanita yang kuat, wanita yang rela melakukan apapun demi kebahagiaan sang suami. Tapi sebagian para tamu wanita ada juga yang merasa kasihan, mereka tak bisa membayangkannya kalau hal itu terjadi kepada diri mereka. Mereka mungkin tak akan pernah rela melihat suami mereka menikah lagi dengan wanita lain.
Pak penghulu bertanya lagi apakah acara sudah bisa di mulai, dan serentak semua orang yang ada di ruangan itu mengatakan sudah, termasuk Tasya.
__ADS_1
Rama bersiap hendak mengucapkan kata ijab qobul, ia menarik nafas dalam, lalu.
''Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Rama Mahendra bin Suseno dengan adik saya Juwita lestari bin Hasannudin dengan mahar seperangkat alat sholat beserta uang tunai sebanyak 50 juta rupiah dibayar tunai.'' Jack berkata dengan lancar. Tangannya dan tangan Rama saling menjabat. Rama menghentak pelan tangannya lalu kini giliran dirinya yang bersuara.
''Saya terima nikah dan kawinnya Juwita lestari bin Hasannudin dengan mahar seperangkat alat sholat beserta uang tunai sebanyak 50 juta rupiah di bayar tuunaaiii.'' Rama pun berucap lancar hanya dengan satu tarikan nafas.
''Bagaimana para saksi?'' tanya penghulu seraya mengedarkan pandangannya keseluruhan tamu undangan.
''Sah.''
''Sah.''
''Sah.''
''Alhamdulillah.'' Pak penghulu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, diikuti oleh yang lainnya.
__ADS_1
Juwita dan Mama nya merasa begitu bahagia, begitu juga dengan Mama, Papa serta kakak Rama. Mereka juga mengusap wajah mereka seraya berucap syukur.
Lagi-lagi Rama menoleh ke arah Tasya, senyuman nya terbit melihat sang istri yang juga tengah tersenyum.
''Kamu kenapa sih, melihat ke arah Tasya terus!'' lirih Juwita berdecak kesal.
''Mas senang saja melihat Tasya yang sudah bisa menerima kehadiran kamu. Mas harap setelah ini kita bertiga akan hidup rukun, tentunya Mas akan merasa sangat bahagia,'' balas Rama dengan senyum mengembang.
Juwita lalu menyalami dan mencium dengan takzim punggung tangan Rama. Rama balas mengecup kening Juwita dengan lembut. Mereka tampak sangat berbahagia.
Lalu setelah itu Tasya berdiri dari duduknya, Tasya mengeluarkan sesuatu dari tas nya, ia rasa sekaranglah saatnya, tak perlu ditunda-tunda lagi supaya semuanya jelas.
Bersambung.
Hai teman-teman ku sayang, kalau berkenan kasih vote dan hadiah nya juga ya. Supaya aku semakin semangat melanjutkan novel ini.
__ADS_1