Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Talak


__ADS_3

''Kamu mau bicara apa, Mas?'' tanya Juwita penasaran. Juwita berdiri dibelakang Rama yang memunggunginya, lalu perlahan Juwita semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh sang suami, setelah itu dia memeluk Rama dengan erat dari belakang, menyandarkan kepalanya pada punggung tegap sang suami. Namun, tanpa dia sangka, Rama malah melepaskan tangan yang melingkar diperut, dia pun semakin memajukan tubuhnya. Tatapan mata Rama fokus melihat keluar jendela. Sedari tadi susah payah dia menahan amarah agar tangannya tak bergerak melukai Juwita.


Mendapati perlakuan dingin dari sang suami, membuat Juwita tak terima, karena tidak biasanya Rama bersikap begini. Saat Juwita hendak protes, tiba-tiba Rama bersuara lebih dulu.


''Cio anak siapa?'' tanya Rama penuh penekanan.


Mendengar itu, mendadak Juwita menjadi ketar-ketir, tapi sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.


''Ya ... Dia anak kamu lah, Mas. Kamu kok nanya nya aneh aneh begitu,'' balas Juwita sembari mengatur tarikan nafas agar tetap tenang.


''Sekali lagi aku bertanya, Cio anak siapa Juwita?!'' kali ini Rama berteriak membentak. Dia membalikkan tubuhnya sehingga kini dia dan Juwita sudah berdiri saling berhadapan.


Dan barulah Juwita sadari, wajah Rama tampak memerah dengan rahang mengeras.

__ADS_1


''Mas,'' Juwita gelagapan, dia hendak menyentuh pipi Rama, tapi Rama tepis tangannya dengan cepat.


''Apa? Tega kamu membohongi aku Juwita! Aku sudah tahu kalau Cio bukanlah darah daging ku, dia bukanlah anakku. Gara-gara kamu aku rela meninggalkan Tasya. Aku menyesal Juwita, aku menyesal karena telah meninggal Tasya. Semua gara-gara kamu. Mulai malam ini aku talak tiga kamu Juwita!'' Rama berucap lancar mengeluarkan apa yang sedari tadi ingin dia katakan. Setelah mengatakan itu, dia tampak lega.


Berbeda dengan Juwita, dia seketika terduduk dilantai, dia tidak menyangka Rama akan menalaknya dengan begitu mudah dan cepat, padahal dia belum menjelaskan apapun.


Sesak di dada teramat dia rasa, dan beriringan dengan itu, air mata jatuh membasahi pipinya. Dia mendongak menatap Rama.


''Dengan memberikan anak yang bukanlah darah daging ku, kamu pikir aku bahagia? Pantas saja wajah Cio sama sekali tidak ada mirip-mirip sama aku!''


''Mas, tapi caraku lebih baik dari pada Tasya Mas,''


''Lebih baik apanya? Biar bagaimanapun Tasya jauh lebih baik dari pada kamu. Selama menjadi istriku dia tidak pernah sekalipun tidur dengan pria lain, dia juga tidak pernah mengaku hamil anak aku padahal bisa saja dia melakukan kebohongan yang sama seperti apa yang kamu lakukan. Tasya wanita baik-baik, dia rela menyembunyikan aib aku dan membuat dirinya dihina banyak orang termasuk keluarga aku sendiri karena dia yang mengaku bahwa dia yang mandul, tapi nyatanya akulah yang mandul. Aku sudah memeriksa semuanya, kini aku menyesal karena telah memilih wanita licik seperti kamu,'' Rama menggoyangkan kakinya agar Juwita tidak bersimpuh lagi. Karena apapun yang akan dilakukan oleh Juwita tidak akan pernah bisa mengubah keputusan Rama. Rama sudah memikirkan keputusannya matang-matang, dia lebih baik menduda seumur hidup dibandingkan menjalani hidup dengan wanita yang pandai berbohong seperti Juwita.

__ADS_1


''Mas, kasihanilah Cio,'' tangis Juwita semakin menjadi-jadi. Bahkan pembantu rumah tangga mengintip dari pintu yang terbuka kecil, pembantu tersebut merasa penasaran apa yang terjadi kepada sang majikan.


''Tidak ada yang perlu dikasihi. Aku yakin Ayah kandung Cio pasti masih hidup, lebih baik kamu bawa Cio bertemu dengan Ayah kandung nya, karena hal itu jauh lebih baik,''


''Mas, aku tidak bisa melakukan itu. Aku mencintaimu Mas, aku tidak ingin kita pisah,''


''Berdirilah, aku akan segera mengantarkan kamu ke rumah orang tua mu. Aku akan menjelaskan semuanya kepada Mama dan Kak Jack, agar tidak terjadi kesalahpahaman, aku tidak mau disalahkan karena telah menalak kamu,''


''Aku tidak mau!'' jerit Juwita histeris.


Rama tetap memaksa dengan menarik tangan Juwita, sehingga tiba-tiba saja tubuh Juwita terkulai di atas lantai, dia tidak sadarkan diri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2