Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Part 16


__ADS_3

Pagi hari yang cerah.


Rama terbangun dari tidurnya, matanya masih ia pejamkan, kesadarannya belum terkumpul sempurna.


Satu tangannya meraba-raba tempat tidur di sebelah, ia ingin merasakan hadirkan seseorang di sana, ingin memeluk. Namun, tak ia rasakan apa-apa selain kasur empuk yang datar.


''Sayang, kamu di mana?'' gumamnya dengan mata masih terpejam.


Lalu setelah beberapa detik. Ia langsung duduk di atas kasur dengan mata ia buka perlahan, kesadaran nya sudah terkumpul sempurna.


''Tasya,'' lirih Rama dengan wajah tak bersemangat. Begitu ia melihat ke samping, ternyata tak ada tanda-tanda seseorang tidur di sana tadi malam.


''Ternyata semuanya bukanlah mimpi. Kamu benar-benar telah pergi meninggalkan aku Sayang, menyisakan rasa sakit yang teramat sangat di sudut hati,'' ucap Rama dengan suara serak. Netra nya berkaca-kaca saat ia teringat dengan peristiwa kemarin saat ia menjatuhkan talak kepada Tasya, ia menyesal melakukan itu. Kalau tidak di desak oleh Juwita dan orang tuanya, tak mungkin kata talak itu terucap.


Lama Rama duduk di atas kasur, ia melamun, ingatan nya tertuju kepada masa lalu, masa lalu yang penuh perjuangan.


Iya, dulu untuk mendapatkan Tasya, Rama juga harus menentang kedua orangtuanya. Namun kini, semua perjuangan itu terasa sia-sia, karena kesalahannya telah menghadirkan wanita lain di antara mereka, sehingga menyebabkan hancurnya impian mereka dulu yang pernah berjanji untuk tetap bersama, menua bersama.


''Bodoh!'' teriak Rama, lalu ia melempar bantal ke dinding untuk melampiaskan kekesalannya.


Setelah di rasa puas mengenang masa lalu, Rama mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, begitu ponselnya menyala, banyak notifikasi panggilan dan pesan masuk.


Juwita berulangkali menghubungi dirinya, mengirim pesan, meminta agar ia kembali ke Hotel. Rama tak memperdulikan tentang Juwita, karena ternyata dari pukul 12 tadi malam, pengingat di ponselnya terus berdering nyaring, pengingat yang sengaja ia atur agar dirinya tidak pernah lupa hari kelahiran Tasya.


''Selamat ulang tahun Sayang. Mas rindu. Semoga kamu bisa kembali ke pelukan Mas. Mas sungguh tak rela kalau sampai kamu berhubungan dengan pria lain. Mas tidak rela, karena kamu hanya milik Mas. Sampai kapanpun kamu hanya milik Mas!'' tegas Rama seraya menatap layar ponselnya yang menyala menampilkan foto Tasya yang tampak begitu anggun. Ia hanya mampu menatap foto, karena ia tak bisa lagi mengirim pesan kepada Tasya, karena Tasya sudah memblokir nomor nya.


Dengan lesu Rama berjalan ke kamar mandi, ia akan membersihkan dirinya lalu kembali ke Hotel. Rama sudah bisa menebak, Juwita pasti sudah mengadu kepada Mama dan Papa nya tentang dirinya yang tidak tidur di Hotel tadi malam. Rama sudah pasrah kalau kedua orangtuanya marah kepadanya.


Dan benar saja, di Restoran yang ada di Hotel, wajah Juwita begitu murung, berulangkali ia hanya membolak-balik makanan yang ada di dalam piring di hadapannya, ia tak bernafsu makan karena Rama telah mengabaikan dirinya dari semalam.


''Sayang, di makan dong, biar kamu dan bayi yang ada di dalam kandungan mu sehat,'' kata Jeni, sang Mama mertua.


''Makanya Jeng, nasehatin tuh Si Rama, supaya ia tidak membuat Juwita kesal dan sedih, kalau Rama terus begini, bisa-bisa cucu kita tumbuh dengan tidak sehat karena Ibu nya tak bahagia. Lagak nya bilang mau punya anak, tapi tega ninggalin istri sendiri di kamar Hotel karena masih memikirkan wanita mandul yang bernama Tasya itu,'' ujar Santi, Mama Juwita.


''Maafkan atas kelakuan Rama Jeng, nanti saya akan menasehati nya,'' kata Jeni lagi.


Setelah itu tak ada percakapan apa-apa lagi, mereka semua yang tengah duduk mengelilingi meja bundar menyantap makanan mereka dalam diam.

__ADS_1


Jack yang juga ikutan duduk di sana merasa tidak suka mendengar Mama nya mengatakan kalau Tasya adalah wanita mandul. Karena menurutnya nasib seseorang ke depannya tidak ada yang tahu, mungkin saat ini Tasya memang tidak bisa mengandung, tetapi entah suatu saat nanti, kalau Allah sudah berkehendak, apa pun akan terjadi.


***


Di tempat berbeda, setelah selesai sarapan bersama kedua orangtuanya, Tasya pamit ingin mengunjungi Butik miliknya yang ada di pusat kota.


''Kalau sempat, kamu mainlah ke perusahaan Papa, kamu harus mulai mempelajari tentang pekerjaan yang ada di perusahaan, karena kamu adalah anak satu-satunya Papa, kamu yang akan menggantikan posisi Papa selanjutnya Sayang,'' kata Andi. Kini mereka bertiga tengah berdiri di teras. Andi akan berangkat ke perusahaan.


''Iya, Pa,'' jawab Tasya singkat, karena ia sadar, hanya dirinya seorang yang dapat Papa nya andalkan. Tasya jadi menyayangkan kenapa dulu Mama dan Papa nya tidak memberikannya seorang adik, seorang saudara kandung yang bisa menjadi temannya berunding dan berbagi tugas dalam mengelola harta kekayaan sang orang tua yang tidak lah sedikit.


''Ya sudah, kalau begitu Papa berangkat dulu. Hari ini Papa tugaskan Jonas untuk menemani kamu, takutnya nanti Si Rama itu menemui mu di Butik,'' kata Andi lagi.


''Baiklah. Papa juga hati-hati ya,'' Tasya menyalami dan mencium punggung tangan sang papa. Di ikuti oleh Mama nya juga. Setelah itu mobil yang membawa Andi meluncur meninggalkan halaman rumah.


Selanjutnya giliran Tasya menyalami tangan Mama nya.


''Jaga diri mu baik-baik Sayang,'' pesan Bella, dan Tasya mengangguk kecil. Setelah itu Tasya masuk ke dalam mobil. Lalu mobil meluncur meninggalkan halaman rumah menuju Butik miliknya.


Setibanya di halaman Butik, Jonas juga ikutan keluar dari dalam mobil, karena ia harus terus memastikan sang nona muda dalam keadaan aman. Sesuai dengan yang diperintahkan oleh Andi.


''Tidak biasanya seperti ini! Ada apa ini? Mama orang-orang?'' ucap Tasya di dalam hati.


Namun saat Tasya masih merasa heran melihat suasana Butik, tiba-tiba saja Lala menghampiri dirinya, lalu Lala menarik tangan Tasya agar menuju lantai atas. Tasya bertanya kepada Lala, ada apa di lantai atas? Tetapi Lala tak menjawab.


Setibanya mereka di lantai tiga yang memang sebagian masih kosong, tiba-tiba Tasya di buat begitu terkejut dan terharu.


"Suprise . . .'' teriak para karyawan dan juga seorang pria tampan. Ruangan lantai tiga itu telah di sulap menjadi ruangan yang penuh dengan balon serta poster yang bertuliskan selamat ulang tahun Anastasya.


Tasya masih diam di tempat semula, Sean menghampiri dirinya dengan buket bunga yang ada di tangannya.


''Ini untuk mu, selamat ulangtahun, semoga hari-hari ke depannya kebahagiaan selalu membersamai mu wanita istimewa dan wanita spesial di hati ku,'' ucap Sean tanpa malu. Ia menatap Tasya lekat.


Semua kejutan yang ada memang ide dari Sean, Sean selalu berusaha untuk membuat Tasya merasa bahagia.


Tasya menerima buket bunga yang diberikan oleh Sean, lalu ia mengecupnya.


''Terimakasih Sean, dari dulu kamu memang yang terbaik,'' ucap Tasya dengan netra berkaca-kaca. Ia tidak menyangka ternyata masih banyak orang-orang yang peduli dan menyayangi nya.

__ADS_1


Sean mengangguk kecil, lalu ia meminta agar Tasya meniup lilin yang terdapat di atas kue tart berukuran cukup besar, di atas kue tersebut tidak hanya ada lilin, tetapi juga terdapat angka 26, iya, saat ini usia Tasya sudah dua puluh enam tahun.


Tasya meniup lilin dengan perasaan begitu bahagia, hiruk pikuk suara karyawan terdengar menyanyikan lagu selamat ulang tahun, para karyawan yang sudah dianggap nya seperti saudara nya sendiri, tidak ada batasan di antara mereka, karena Tasya menganggap semua manusia sama. Ia tidak memilih-milih dalam berteman.


Sean melirik ke arah Jonas, Sean tidak suka melihat Jonas yang terus membuntuti Tasya. Dari tadi Sean merasa penasaran, siapa Jonas sebenarnya? Karena Sean belum mengetahui kalau Tasya sudah kembali ke rumah orang tuanya.


''Siapa dia?'' tanya Sean kepada Tasya.


''Perkenalkan, nama nya Jonas, asisten pribadi Papa,''


''Oh, jadi kamu sudah kembali ke rumah orang tua mu?''


''Iya, tadi malam,'' ucap Tasya. Tasya lalu menjelaskan semuanya kepada Sean.


Setelah itu Tasya tampak sibuk dengan para karyawan nya. Dan saat itu pula, Sean dan Jonas mengobrol kecil.


''Mari kita bersaing dengan sehat,'' ucap Jonas.


''Apa maksud mu? Jadi kamu juga menyukai Tasya?''


''Ya begitulah, siapa yang tidak menyukai wanita secantik dan sebaik Non Tasya,''


''Heh sadarlah, kamu itu hanya babu, kamu saja memanggilnya dengan sebutan Non, jadi jangan bermimpi untuk mendapatkan nya,'' ucap Sean.


Mendengar itu Jonas tak membalas lagi. Ia lalu berjalan menghampiri Tasya, ia berdiri di sisi kanan Tasya. Ternyata Sean tidak mau kalah, Sean juga ikutan menghampiri Tasya, ia berdiri di sisi kiri Tasya.


Dua pria tampan tersebut siap melindungi dan menjaga Tasya.


Hingga bertepatan dengan itu juga, tiba-tiba seorang pria muncul di hadapan mereka.


Pria itu adalah Rama.


Rama merasa sangat cemburu melihat Tasya berdiri dengan diapit oleh dua pria gagah lagi tampan.


''****! Apa-apaan ini!'' Rama bergumam dengan gigi terdengar bergemeletuk.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2