Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Part 7


__ADS_3

Seperti biasa, setiap paginya Rama selalu menjemput Juwita untuk pergi ke kantor bersama-sama. Dan Mama nya Juwita selalu menyambut kedatangan Rama dengan senyuman mengembang. Berbeda dengan jack yang selalu memasang wajah masam saat dirinya dan Rama tidak sengaja bertemu di teras rumah, karena sesekali Rama dan Jack terkadang bertatap muka saat Jack hendak berangkat ke bengkel miliknya.


''Kakak kamu kenapa sih Sayang? Setiap kali dia melihat Mas, dia selalu membuang muka atau memasang wajah yang begitu tidak enak di pandang, Mas menjadi sungkan kerena nya,'' Rama berkata saat dirinya dan Juwita sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah jalanan.


''Kakak aku memang gitu, aneh. Mungkin efek karena kelamaan menjomblo kali, udah, enggak usah dipikirkan Sayang, enggak usah di ambil hati,'' Juwita merebahkan kepalanya pada bahu tegap Rama, ia juga mencium pipi Rama sekilas.


''Kakak Jack masih jomblo?'' tanya Rama.


''Iya, enggak laku dia,''


''Wah padahal usianya lebih tua dari Mas, tapi masih betah aja menjomblo. Sedangkan Mas, sudah mau punya dua istri yang cantik-cantik,'' Rama membanggakan dirinya, senyuman nya terbit saat berkata seperti itu.


''Kamu bisa saja Sayang,'' Juwita tersenyum tipis mendengar perkataan sang kekasih.


''Mungkin karena itu kali dia selalu memandang Mas dengan tatapan tak suka, mungkin dia iri karena Mas sudah mau punya dua istri, ck!'' celoteh Rama pagi.


''Udah ah, enggak usah ngomongin Kak Jack lagi. Oh ya, gi mana? Kamu sudah katakan kepada Tasya kalau kita akan ke butik dia nanti?''


''Sudah,''


''Terus bagaimana tanggapan dia?''


''Ya begitu, dia masih tetap bersikap dingin dan kekanakan-kanakan, tapi dia setuju kok kalau kita ke sana nanti,''


''Dasar egois, udahlah kamu ceraikan saja dia Mas. Enggak ada gunanya juga dia jadi istri kamu, enggak bisa punya anak dan tidak bisa melayani kamu dengan baik,'' dari dulu Juwita selalu mendesak Rama agar Rama menceraikan Tasya, tapi Rama tidak mau.


''Mas masih belum bisa menceraikan dia, Mas masih mencintai dia,''


''Selalu saja begitu jawaban kamu,'' wajah Juwita cemberut.

__ADS_1


Setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara sepasang kekasih tersebut. Rama tidak berniat untuk membujuk Juwita, karena biasanya Juwita tidak akan tahan berlama-lama diam-diaman sama Rama, Rama sudah tahu kekurangan sang kekasih, Rama sudah tahu kalau Juwita begitu bucin dengan dirinya.


Tidak lama setelah itu mereka tiba di tempat tujuan, mereka memasuki gedung bertingkat tersebut dengan bergandengan tangan.


Para karyawan yang bekerja dengan Rama sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh Rama, mereka menganggap Rama begitu bodoh karena telah mendua kan Tasya dengan Juwita, mereka pun sama, mereka merasa kalau dibandingkan dengan Tasya, Juwita tidak ada apa-apa nya.


***


Setelah berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya, akhirnya Juwita dan Rama meninggalkan Perusahaan, mereka akan segera mampir ke Restoran sebentar untuk mengisi perut mereka yang telah lapar, habis itu mereka akan mengunjungi Butik milik Tasya.


Setibanya di depan Butik, Juwita menatap kagum bangunan tiga tingkat yang ada di hadapannya, bangunan yang dari luar bisa terlihat pakaian yang begitu bagus-bagus tergantung pada manekin dan hanger serta banyaknya pengunjung yang ada di dalam, karena bangunan itu menggunakan kaca transparan.


''Ayo masuk,'' ajak Rama. Juwita pun mengangguk kecil.


Mereka memasuki Butik dengan begitu percaya diri, bahkan tangan Juwita selalu menggandeng tangan Rama.


''Mana Bu Tasya?'' tanya Rama kepada sang kasir.


''Bu Tasya belum masuk hari ini Pak Rama,'' jawab sang kasir wanita dengan sopan.


''Apa?! Ke mana dia?'' tanya Rama, ia kaget mendengar Tasya tidak ke Butik hari ini, padahal tadi pagi Tasya mengatakan akan pergi ke Butik.


''Saya tidak tahu juga, Pak,'' Jawab Lala apa adanya.


Setelah itu Rama dan Juwita memasuki ruangan Tasya, setibanya di sana, benar saja, tidak mereka lihat kehadiran wanita yang cantik jelita itu.


Lagi-lagi Juwita di buat kagum melihat ruangan milik Tasya yang luas dan terasa begitu nyaman, rasanya Juwita juga kepengen memiliki Butik yang sama seperti Tasya.


Sedangkan Rama, fokusnya tertuju kepada meja kerja Tasya, ia merasa heran melihat foto dirinya sudah tidak terpajang lagi di atas meja, karena setahunya dulu, Tasya pernah meletakkan beberapa foto yang di bingkai di atas meja, tapi kini tak ada lagi, yang ada hanya foto Tasya sendiri. Rama merasa kesal mengetahui itu, ia pun tahu, Tasya pasti sengaja menyingkirkan foto foto dirinya.

__ADS_1


''Mas, besok setelah kita menikah, kamu belikan atau buatkan Butik seperti ini untuk aku, ya,'' tutur Juwita penuh harap. Kini Rama sudah duduk di kursi kebesaran Tasya, lalu Juwita duduk di atas Rama. Rama pun memeluk Juwita, tangannya mengelus perut Juwita yang masih datar.


''Hm,'' jawab Rama singkat.


''Kamu kok jawabnya cuma gitu doang,''


''Iya, Sayang. Tapi kamu tahu tidak, Butik ini bisa berdiri seperti ini semuanya murni karena usaha Tasya sendiri, tanpa ada bantuan dana sedikit pun dari, Mas. Dulu, awalnya Tasya hanya berjualan online dari rumah, tapi semakin lama jualannya itu semakin laku dan banyak peminatnya, dan uang tabungan Tasya pun sudah banyak, dan pada akhirnya dia meminta izin kepada Mas untuk membangun Butik, Mas pun mengizinkan nya, sekarang tidak terasa, Tasya sudah memiliki enam anak cabang Butik di beberapa titik di pusat kota ini,'' jelas Rama membanggakan Tasya, mendengar itu semakin besarlah rasa iri yang dirasakan oleh Juwita terhadap Tasya.


''Tasya sih emang hebat untuk urusan berbisnis, tapi dia tidak bisa mengandung,'' ledek Juwita.


''Iya, kamu benar, dan sekarang dia juga sudah jadi istri yang pandai berbohong, tadi pagi katanya dia mau ke Butik, tapi ternyata . . . Ah, dasar Tasya, dia bikin kepala Mas pusing saja karena memikirkan dia,'' ucap Rama.


***


Di tempat berbeda, di dalam kafe yang ada di pinggir kota, saat Tasya baru selesai ketemuan dengan seseorang untuk membicarakan sesuatu hal, tiba-tiba saja ponselnya yang ada di atas meja berdering nyaring menandakan ada panggilan masuk, Tasya pun mengangkat panggilan tersebut dengan segera.


''Iya, ada apa Lala?'' tanya Tasya.


''Bu, di Butik ada Pak Rama,''


''Oh, sekarang masih di sana?''


''Iya, Bu. Pak Rama kini sedang berada di ruangan Ibu bersama dengan seorang wanita,'' jelas Lala pelan.


''Baiklah, kalau begitu sekarang juga aku akan segera ke sana,'' ucap Tasya, lalu panggilan ia akhiri.


"Jadi juga ternyata,'' gumam Tasya, lalu ia meninggal kafe. Kini penampilan Tasya sedikit berbeda dari tadi pagi, karena Tasya sudah memotong sedikit rambut nya, ia juga mengubah warna rambutnya yang dulu bewarna sedikit kecoklatan kini sudah ia ubah menjadi warna hitam pekat, sehingga wajahnya yang putih mulus semakin terlihat bersinar. Tasya siap bertemu dengan Juwita.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2