
''Beraninya kamu!'' Rama sudah berdiri, ia menatap Sean dengan wajah yang memerah dengan satu tangan berada di pipi dan satu tangan mengepal erat.
Sean pun sama, rasanya ia ingin menambah lagi pukulan di pipi Rama. Apalagi saat ia melihat kedekatan antara Rama dan Juwita, rasanya Sean ingin menghajar Rama lagi dan lagi. Sean paling tidak suka dengan pria buaya, tak bisa setia dengan satu wanita.
''Kalau kamu tidak bisa membahagiakan Tasya, maka lepaskan dia, biar aku yang akan membahagiakan nya!'' ucap Sean yakin dengan gigi terdengar bergemeletuk, ia tak peduli kalau pada akhir nya Tasya tahu tentang perasaan yang sesungguhnya, yang ia mau saat ini adalah dirinya ingin menjadi sandaran ternyaman bagi Tasya, memberikan ketenangan saat Tasya merasakan sakit. Melihat orang yang dicintai disakiti, sungguh sakit rasanya. Sean tak menyangka Rama tega menduakan wanita sempurna seperti Tasya.
''Cih! Jangan harap! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan Tasya. Dasar pengemis cinta, dari dulu aku sudah tahu kalau kau memendam rasa suka kepada istriku. Dasar menyedihkan!'' balas Rama dengan begitu angkuh.
Bug.
Sean memukul Rama lagi, ia tak dapat membendung emosi mendengar apa yang dikatakan oleh Rama tentang dirinya. Sean paling tidak suka dengan pria yang lemas mulutnya.
Tanpa dapat melakukan perlawanan, Rama berteriak minta ampun, Juwita berulangkali mendorong tubuh tegap Sean agar berhenti memukul Rama, tapi tenaga yang di miliki nya tak ada apa-apa kalau di bandingkan dengan tenaga Sean. Hingga tubuh Juwita pun ikut terjatuh karena dorongan Sean.
Beberapa orang yang ada di Butik sudah menjadikan mereka sebagai tontonan.
Begitu juga dengan Tasya, ia hanya melihat saja keributan yang terjadi, setitik pun tak Tasya rasakan lagi rasa kasihan terhadap Rama saat Sean memukul nya secara bertubi-tubi.
Kali ini Tasya memilih abai, karena hatinya jauh lebih sakit mendengar apa yang Rama dan Juwita katakan kepada nya tadi.
Dan untuk pernyataan Sean, sebenarnya Tasya juga sudah tahu, bahwa selama ini CEO tampan itu menyukai dirinya, tetapi Tasya sudah menganggap Sean seperti kakak nya sendiri, tak ada perasaan khusus, yang ada hanya perasaan sayang dan nyaman sebagai seorang saudara dan sahabat.
Setelah beberapa detik berlalu, Rama dan Juwita meninggalkan Butik dengan perasaan teramat kesal, wajah Rama babak belur karena ulah Sean, ketampanan nya jadi berkurang, Juwita selalu setia berada di sisi nya. Juwita terus menangis kecil melihat apa yang terjadi kepada sang calon suami.
Sedangkan Sean dan Tasya, setelah orang orang bubar, mereka berbicara. Duduk di sofa yang sama dengan tetap menjaga jarak.
''Kenapa kamu tak menceritakan apa-apa kepada ku, Tasya?'' tanya Sean akhirnya setelah beberapa saat diam.
''Masalah pribadi tak baik di umbar-umbar, aku bisa melewati semua nya sendiri,'' balas Tasya.
__ADS_1
''Tapi Rama sudah begitu keterlaluan! Kenapa kamu masih tahan menjadi istri nya?''
''Siapa yang masih tahan? Aku sudah mengurus surat gugatan cerai, tidak lama lagi surat itu akan keluar, dan proses perceraian akan di lakukan,'' jelas Tasya berusaha kuat, ia tak ingin menunjukkan air matanya di depan Sean.
''Baguslah, akhir nya kamu bisa berpikir dengan jernih. Percayalah Tasya, ada banyak lelaki yang mau menerima kamu apa adanya, akan banyak lelaki yang mampu membuat mu tersenyum bahagia setelah lepas dari Rama,'' Sean menatap paras ayu yang ada di sampingnya dalam-dalam. Cantik, kecantikan itu tak pernah pudar, malah semakin hari semakin bertambah cantik saja.
''Aku tak butuh banyak, satu saja cukup. Em mungkin setelah lepas dari Rama, aku tak mungkin menikah lagi terlalu cepat, aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri, untuk mendewasakan diriku.''
Sean mengangguk kecil, ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tasya. Sean meyakinkan diri nya, kalau dirinya sanggup menunggu Tasya sampai kapanpun. Sebesar itu rasa cinta Sean terhadap Tasya, begitu tulus tanpa tuntutan yang ia tunjukkan kepada Tasya.
***
Beberapa hari berlalu, hari ini hari Minggu.
Pagi hari, baik Tasya maupun Rama sama sama masih tetap berada di rumah. Mereka masih tinggal di bawah atap yang sama, tetapi hubungan mereka semakin hari semakin dingin, Rama tak berniat meminta maaf kepada Tasya perihal kejadian waktu itu, pun Tasya, ia tak pernah menunjukkan perhatian nya lagi kepada Rama. Semua berjalan dengan begitu hambar.
''Sudahlah, aku malas ribut. Ini masih terlalu pagi.'' Tasya mulai membereskan meja makan.
''Tapi . . . Ah, lama-lama aku bingung sendiri harus bagaimana menghadapi kamu, menghadapi sikap keras kepala mu. Ayolah Tasya, bekerja sama lah dengan baik, aku hanya ingin menghadirkan anak kecil di rumah ini, meskipun anak itu bukan berasal dari rahim mu, tapi anak itu merupakan anak aku, darah daging ku. Jadi terima lah,'' Rama berusaha membujuk Tasya.
''Aku tidak bisa, karena aku tidak yakin kalau anak yang dikandung oleh Juwita adalah anak mu,''
''Tasya! Kamu membuat aku muak saja dengan kecurigaan mu itu terhadap Juwita! Pusing aku melihat kamu!'' wajah Rama memerah menahan amarah, ia memegang kepalanya.
''Kalau begitu jatuhkan saja talak mu kepada ku saat ini juga, sepertinya antara kita memang tidak ada lagi yang perlu di pertahankan. Kamu muak dengan diriku begitu juga aku,'' Tasya tersenyum sinis.
''Tasya, aku masih mencintaimu,''
''Omong kosong, cinta tak akan menyakiti dan mendua.''
__ADS_1
Tasya membawa piring bekas makan dirinya dan Rama ke wastafel, ia akan mencuci piring itu.
Rama mengikuti langkah kaki sang istri, lalu saat Tasya sedang mencuci piring, Rama memeluk nya dari belakang, hal itu berhasil membuat Tasya kaget.
''Lepaskan!'' Tasya berusaha melepaskan tangan Rama yang melingkar di pinggang nya.
''Ayolah, hari ini kamu layani aku Sayang,'' lirih Rama seraya mencium tengkuk Tasya.
''Sana, kamu minta dilayani sama Si Juwita saja.''
''Mas pengen nya kamu, Mas sudah begitu rindu dengan tubuh mu yang putih mulus serta dengan dua gundukan kenyal milik mu, dan Mas juga sudah rindu ingin merasakan jepitan lobang milik mu,'' Rama berkata dengan begitu vulgar. Tasya semakin marah karenanya, Tasya akhir nya menginjak ujung kaki Rama dengan cukup keras, hingga pelukan Rama terlepas.
''Dasar gila!'' Tasya berlari meninggalkan Rama, ia berlari ke arah kamar. Tasya akan mengurung dirinya di sana.
''Kamu tidak akan bisa kabur Sayang,'' Rama mengejar Tasya dengan cepat.
Hingga saat Tasya ingin mengunci pintu kamar dari dalam, Rama bisa mendorong pintu itu, dan kini, mereka berdua sudah berada di dalam kamar yang sama.
"Hahaha . . . Kali ini kamu tidak bisa menghindar dari aku Sayang. Kamu akan tetap menjadi milikku selamanya,'' senyum Rama melebar.
''Mas, jangan!'' wajah Tasya begitu panik saat Rama mulai mendekati nya.
''Ayolah, hari ini kita habiskan hari berdua dengan tetap berada di dalam kamar. Karena besok, tiga hari lagi Mas akan menikah dengan Juwita, anggap saja sekarang ini sebagai hadiah terindah atas pernikahan aku dan Juwita yang kau berikan. Layani suami mu ini dengan baik, hanya itu yang aku mau Sayang,'' Rama tersenyum penuh kemenangan. Setelah hampir dua Minggu dirinya tak menyentuh sang istri, rasanya hasratnya itu begitu membara melihat sang istri yang begitu cantik dengan tubuh yang begitu indah dan molek.
Rama mulai menarik paksa piyama yang dipakai oleh Tasya, Tasya memukul dada bidang Rama dengan kuat, tetapi hal itu sama sekali tidak membuat Rama menghentikan aksinya.
Tapi saat Rama mulai menciumi bibir ranum milik Tasya, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang memanggil dirinya. Dan hal itu berhasil mengalihkan fokusnya.
Bersambung.
__ADS_1