
Beberapa hari terlewati, Rama tidak pernah lagi menemui ataupun mengganggu Tasya, karena ia ingin menjaga perasaan Juwita. Ia takut Juwita mengamuk lagi lalu nekat ingin menggugurkan kandungannya.
Sementara ini, mereka masih tinggal di rumah lama Rama dan Tasya. Entah kenapa Juwita tidak mau beranjak dari rumah itu. Rama sudah mengajak Juwita untuk pindahan ke rumah lain, ia mengatakan kalau rumah yang mereka tempati sekarang adalah rumah Tasya, rumah yang ia beli atas nama Tasya. Tapi Juwita tetap tidak mau. Ia mengatakan kalau ia sudah merasa nyaman tinggal di rumah itu.
Siang hari, Juwita tampak sibuk, ia menurunkan satu persatu foto pernikahan Rama dan Tasya yang tergantung di dinding. Ia menggantikan dengan foto pernikahan dirinya dan Rama.
Setelah selesai mengerjakan semuanya, Juwita lalu membawa foto-foto Rama dan Tasya yang terlihat begitu romantis ke halaman belakang. Ia membakar semua foto tersebut.
''Akhirnya, semua tentang mu lenyap juga dari rumah ini Tasya! Aku harap secepatnya perasaan Mas Rama juga hilang pada mu, biar aku bisa menguasai semuanya, menguasai Mas Rama, menguasai harta nya, dan menguasai rumah ini juga,'' gumam Juwita lirih. Ia berdiri di depan api yang berangsur padam, karena foto-foto tadi sudah habis terbakar. Kini, tersisa hanyalah abu hitam.
Juwita masuk ke dalam rumah, ia duduk bersantai di sofa ruang keluarga sambil menyaksikan televisi yang tengah menyala serta menikmati segelas jus jeruk dan cemilan berupa kue brownies coklat.
Juwita merasa sangat bahagia sekarang, karena sekarang ia bisa duduk bersantai di rumah tanpa dipusingkan lagi dengan urusan pekerjaan.
Bahkan tadi pagi, Juwita meminta agar Rama mencarikan seorang pembantu untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Sungguh, kali ini Juwita ingin segera menjadi seorang Nyonya.
Juwita mengelus perut buncitnya, ''Kehadiran kamu membuat Mama merasa begitu beruntung dan bahagia Sayang. Meskipun Mama harus berhubungan dengan pria lain untuk menghadirkan kamu di rahim Mama, tapi biarlah semuanya menjadi rahasia kita. Karena suami Mama sudah begitu percaya kalau kau adalah benar-benar anak nya. Besok saat kau lahir, Papa Rama pasti akan sangat bahagia dan pastinya juga, ia akan sangat menyayangi kamu, dan kamu akan menjadi pewaris semua harta kekayaan nya. Mama akan terus menyembunyikan rahasia ini sendiri dari siapapun,'' ucap Juwita dengan senyuman mengembang.
***
Di tempat berbeda, karena sudah beberapa hari tidak melihat Tasya, membuat Rama merasa amat rindu.
__ADS_1
Saat jam makan siang, Rama memutuskan untuk makan di Restoran yang ada di dekat Butik milik Tasya. Ia berharap bisa melihat wajah cantik Tasya walaupun hanya sekilas. Untuk mengobati rasa rindunya yang sudah menggunung.
Begitu sudah sampai di depan Restoran, Rama mengalihkan pandangannya ke samping, karena letak Restoran berada tepat di depan Butik milik Tasya. Berseberangan jalan.
Lama Rama memandang Butik tersebut, tapi tidak ada tanda-tanda Tasya keluar dari sana. Akhir nya Rama memutuskan untuk masuk ke Restoran, ia harus segera mengisi perut nya yang sudah sangat lapar. Karena pagi tadi, Rama belum sarapan, ia hanya meneguk air putih saja. Juwita sangat tidak dapat diandalkan, ia sama sekali tidak menyiapkan sarapan pagi untuk Rama. Saat Rama hendak berangkat kerja, Juwita masih betah bergelung di bawah selimut. Ia beralasan, kalau dirinya masih lemas karena efek mengandung.
Setibanya Rama di dalam Restoran, ia langsung saja memesan beberapa jenis makanan dan minuman.
Tanpa ia duga, saat dirinya tengah menunggu pesanan nya datang, ia melihat Tasya berjalan masuk ke dalam Restoran, Tasya tidak sendirian, ada Sean di sampingnya.
Mereka berdua terlihat begitu bahagia, mereka berbicara diselingi tawa kecil.
Melihat itu, entah kenapa Rama merasa sangat marah. Rasa cemburu masih amat kentara ia rasa. Ia masih tidak rela melihat Tasya berbahagia dengan pria lain. Apalagi saat ini Tasya terlihat semakin cantik.
Tidak lama setelah itu pesanan nya datang, Rama menyantap makanan nya dengan tidak bersemangat, karena ia harus melihat pemandangan yang menyakitkan di depannya. Hubungan Tasya dan Sean terlihat semakin dekat, bahkan sesekali Sean mengusap pucuk kepala Tasya.
Dengan terburu-buru Rama menghabiskan makanannya, ia tak bisa berlama-lama berada di dalam restoran, karena semakin lama dia di sana semakin terbakar cemburu rasa hatinya. Sakit, sungguh sakit ia rasa di sudut hatinya.
Rama meninggalkan meja saat makanan sudah habis, lalu, bukannya langsung membayar makanan nya ke kasir, tapi Rama malah berhenti tepat di depan meja Tasya dan Sean.
Melihat kehadiran Rama, membuat Tasya dan Sean merasa terkejut.
__ADS_1
''Bagus, ya, Tasya. Ternyata karena pria ini hingga membuat kamu begitu keukeh ingin bercerai dari aku. Aku yakin sekali, pasti saat kamu masih menjadi istriku, kamu juga telah diam-diam berselingkuh di belakang ku dengan pria ini! Dasar wanita murahan kamu Tasya!'' ucap Rama lantang. Karena lagi emosi, membuat dia berkata secara asal tanpa adanya bukti yang jelas dari ucapnya itu.
Mendengar tuduhan yang tak mendasar itu, membuat Tasya sangat marah, begitu juga Sean. Mereka berdiri, lalu . . .
Plak!
Tasya menampar pipi Rama dengan keras. Sean ingin menambah dengan sebuah pukulan lagi, tetapi Tasya melarangnya, karena saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian pengunjung Restoran lain.
Tasya takut, karena hal ini, kasusnya malah semakin rumit, takutnya Sean dilaporkan ke kantor polisi dengan laporan penganiayaan.
''Aku benar-benar merasa begitu beruntung karena sudah terbebas dari mu pria brengsek! Pria bermulut lemas! Jangan pernah kamu ganggu hidup ku lagi, terserah aku ingin berhubungan dengan siapa saja, itu bukan lagi urusan mu. Kau tak berhak lagi ikut campur kehidupan aku!'' Tasya berucap geram dengan jari telunjuk menunjuk wajah Rama.
Rasanya Tasya tak sabar lagi ingin mendengarkan ketukan palu di persidangan, ia ingin benar-benar segera terbebas dari Rama baik secara agama maupun secara hukum.
Besok sidang pertama mereka akan di gelar. Tasya akan menunjukkan semua bukti perselingkuhan Rama dan Juwita yang telah ia kumpulkan selama ini kepada hakim. Agar proses perceraian nya bisa di percepat tanpa adanya mediasi.
Rama keluar dari Restoran dengan langkah kaki tergesa-gesa, sungguh, ucapan Tasya telah berhasil membuat dada nya terasa sesak.
''Argh! Kenapa semua jadi begini?'' Rama memukul setir mobilnya berulangkali untuk melampiaskan rasa kesalnya.
''Oke, baiklah. Setelah ini aku berjanji tidak akan mengganggu kamu lagi Tasya. Aku akan belajar untuk benar-benar menerima Juwita sebagai istri ku. Lagian aku yakin sekali, besok saat kamu sudah menikah dengan pria lain, pernikahan kamu tak akan pernah langgeng dan bahagia, karena kamu tak bisa hamil. Kamu wanita mandul Tasya. Sementara aku, aku akan bahagia hidup bersama Juwita dengan kehadiran buah hati kami,'' gumam Rama tersenyum kecut.
__ADS_1
Bersambung.