
Dua minggu berlalu, di dalam sebuah mobil yang terparkir di parkiran rumah sakit, seorang pria ******* ***** kertas lalu setelah kertas itu sudah berubah menyerupai lingkaran dia membuang kertas tersebut dengan kasar serta secara asal di dalam mobil nya, hingga kertas tersebut terjatuh disekitar kakinya. Pintu serta jendela mobil dia tutup, sengaja, supaya tidak ada satu orang pun yang melihat betapa kacau nya kondisi nya saat ini.
"Argh! Kenyataan ini sungguh menyakitkan bagi ku!'' Rama menangis di dalam mobil, dia memukul setir mobil berulangkali untuk melampiaskan kekesalannya, tapi sayang nya kekesalannya malah semakin menjadi saat dia teringat dengan bayang bayang wajah cantik Tasya.
''Aku adalah pria paling bodoh di dunia ini. Padahal Tasya selama ini sudah berusaha untuk menutupi kekurangan ku, tapi aku dengan tidak tahu diri malah ikut-ikutan menghina nya dengan menyebut nya sebagai wanita mandul. Sekarang ketahuan sudah, bukan Tasya yang mandul, tapi aku. Huhuhu ....,'' tangis Rama semakin menjadi. Kini, kedua telapak tangannya menutup wajah.
Sesak di dada teramat sangat dia rasa, apalagi saat dia tahu kalau Juwita sudah membohongi nya habis-habisan. Iya, Rama sudah melakukan tes DNA terhadap baby Cio, selain itu dia juga melakukan tes kesuburan, dan semua hasil tersebut sudah keluar, dan Rama sudah tahu semuanya. Semua kenyataan yang sebenar-benarnya.
Lama Rama menangis di dalam mobil, kali ini merupakan tangis nya yang benar-benar menguras air mata dan perasaan, dia teringat dengan semua kesalahan yang pernah dia lakukan kepada Tasya dulu. Kini, dia ingin sekali bertemu dengan Tasya dan meminta maaf dengan sesungguhnya. Kalaupun masih diberi kesempatan, ingin sekali dia mengajak Tasya rujuk dengan nya, tapi semua itu tak mungkin terjadi, karena Tasya sudah bahagia dengan suami barunya.
Saat Rama masih duduk di dalam mobil dengan pandangan lurus ke depan, tiba-tiba dia melihat sebuah mobil berhenti tepat di samping mobil nya, lalu seorang pria dan wanita keluar dari mobil tersebut.
__ADS_1
Berdebar dada Rama melihat wanita dan pria tersebut.
Apalagi dia juga bisa mendengar dengan jelas suara wanita dan pria tersebut saat berbicara.
''Mas, aku sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui apakah janin yang ada di perut ku sudah bisa dilihat melalui USG,''
''Kita coba dulu, ya, Sayang. 'kan kata Dokter usia kandungan kamu sudah hampir memasuki usia empat bulan, siapa tahu saja sudah bisa dilihat dedek bayi nya,'' timpal Sean. Ternyata Sean dan Tasya berkunjung ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Tasya yang sudah mulai membesar.
''Ya sudah, ayo kita masuk,''
''Mau,''
__ADS_1
''Ayok,'' Sean duduk, lalu mempersilahkan Tasya naik ke punggung nya.
''Enggak jadi ah, malu,'' tolak Tasya, dia meminta Sean berdiri lagi.
''Ya sudah, kalau begitu kamu jalan nya hati-hati, pegangan sama Mas,'' Sean membimbing tubuh Tasya dengan satu tangan menggenggam erat tangan Tasya.
''Kamu memang suami yang baik,'' puji Tasya dengan senyum mengembang. Senyum yang tampak manis sekali. Setelah itu langkah kaki mereka semakin menjauhi area parkir.
Rama hanya mampu menatap sepasang suami istri tersebut dengan perasaan begitu miris.
Lalu dia menangis lagi.
__ADS_1
Mengetahui Tasya hamil, Sean semakin ketat menjaga sang istri. Dia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemani sang istri setiap waktu. Alhasil, akhir akhir ini, Papa nya lah yang menggantikan jabatan nya di perusahaan.
Bersambung.