Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Part 8


__ADS_3

Wanita cantik nan anggun tersebut berjalan berlenggak-lenggok memasuki Butik miliknya, sepatu hak tinggi yang ia pakai sama sekali tidak membuat nya kepayahan saat melangkah.


Para karyawan menunduk hormat disertai senyum simpul ketika melihat sang bos datang. Tasya pun melempar senyuman yang sama kepada mereka, karena selama ini Tasya memang begitu baik dan ramah kepada para karyawan, maka dari itu para karyawan merasa betah bekerja dengan dirinya.


Tasya langsung berjalan menuju ruangan nya, ia masuk begitu saja tanpa permisi, karena itu ruangannya sendiri, jadi untuk apa ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada orang lain.


Begitu Tasya sudah tiba di dalam ruangannya, langkah kakinya berhenti sejenak saat ia melihat pemandangan yang tak pernah di duga-duga sebelumnya.


Ia melihat Rama dan Juwita sedang berciuman mesra, dengan Juwita berada di atas pangkuan sang suami. Rok Juwita yang sepaha semakin tersingkap ke atas karena ulah Rama, hingga membuat Tasya merasa begitu jijik melihatnya. Tasya mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


Tasya menekan dada nya, rasa sesak dan sakit itu masih ia rasa, tapi air matanya tak mau keluar lagi, sebisa mungkin Tasya bersikap biasa saja. Sungguh ia tak ingin terlihat lemah dihadapkan pria dan wanita yang menjijikkan, belum menikah tapi sudah merasa bebas berciuman dan bermesraan tidak tahu tempat. Tasya kali ini benar-benar muak melihat wajah Rama, rasa cinta yang dulu teramat dalam pada sang suami kini telah berubah menjadi rasa benci.


''Ta-tasya . . .'' Rama gelagapan saat ia menyadari kehadiran Tasya. Dengan gerakan repleks Rama mendorong tubuh Juwita, hingga Juwita terjatuh terduduk di atas lantai.


Rama berdiri dari duduknya, lalu ia menghampiri sang istri.


Rama ingin menyentuh kedua tangan Tasya, tapi dengan cepat Tasya menepis.


"Ta-tadi itu, kami ... Em,'' Rama terlihat salah tingkah dengan wajahnya yang pias.


''Enak?'' tanya Tasya singkat tersenyum sinis.

__ADS_1


Juwita berdiri dengan cepat, lalu ia mengibaskan rok nya yang terkena debu lantai. Juwita merasa sangat kesal dengan apa yang dilakukan Rama, tapi senyuman terbit di wajahnya, karena ia merasa menang, ia merasa telah berhasil membuat Tasya marah.


Rama tak menjawab pertanyaan Tasya, mulutnya seakan kelu untuk berkata-kata. Ia merasa malu dan perasaan bersalah menghinggapi dirinya, ia menyesali dirinya yang tak bisa menahan diri saat Juwita mengajak dirinya berciuman tadi.


''Enaklah, kenapa? Kamu kepengen juga?'' Juwita kini telah berdiri di samping Rama, ia akan menggandeng tangan Rama, tapi dengan cepat Rama menghindari nya. Rama rasa Juwita kali ini bersikap begitu lancang dengan tak menghargai perasaan Tasya.


Mereka berdua berdiri tepat dihadapan Tasya.


''Kalau mau berbuat maksiat jangan di ruangan ku, nanti Butik milikku malah ketiban sial karena ulah kalian!'' ucap Tasya penuh penekanan. Tasya berjalan dengan langkah kaki yang begitu anggun, lalu ia duduk di atas sofa. Rama pun mengikuti nya dari belakang.


''Kami ke sini ingin melihat gaun pengantin,'' ujar Juwita lagi dengan tak tahu malu, ''Pernikahan kami akan diadakan seminggu lagi, jadi kami harap kamu bisa menyiapkan semuanya dengan baik,'' sambung Juwita dengan kedua tangan bersedekap di dada.


Tasya tak langsung membalas perkataan Juwita, kini, tatapan matanya melihat penampilan Juwita dari ujung kaki hingga kepala, Tasya pun menggeleng pelan, tak ia lihat ada yang istimewa dari Juwita, bahkan penampilan Juwita terlihat begitu norak, pun dengan make up nya yang cukup menor, lipstik merah merona serta bulu mata yang cetar membahana, ''Cih, serendah ini ternyata selera Si Rama,'' ucap Tasya di dalam hati.


Mendengar itu, membuat Juwita meradang tak terima.


''Beraninya kau! Dasar wanita mandul tak berguna. Percuma cantik tapi tidak bisa menghasilkan anak!'' Juwita menunjuk wajah cantik Tasya dengan jari telunjuknya. Rama jadi serba salah melihat wanita wanita nya yang sedang berbalas argumen, Rama tidak tahu harus membela siapa, alhasil ia hanya diam, memilih menjadi pendengar saja.


''Aku tidak bisa punya anak? Ada buktinya? Yang aku tahu aku sehat-sehat saja, masa subur ku selalu datang setiap bulannya dengan lancar. Em . . . Aku jadi curiga, jangan-jangan Si Rama yang tak bisa punya anak, dan kamu . . . Kamu seperti nya telah bermain dengan pria lain agar kamu bisa menjebak Rama supaya Rama mau menikahi mu wanita ******!'' ucap Tasya pelan tapi berhasil membuat wajah Rama dan Juwita memerah.


''Diamlah, Tasya! Jangan banyak bicara lagi kamu!'' Rama tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Tasya tentang dirinya, karena dari dulu Rama juga selalu menganggap bahwa dirinya subur, dan Tasya lah yang bermasalah, pun Rama tak terima dengan tuduhan yang Tasya jatuhkan kepada Juwita, karena setahu Rama, selama ini Juwita tidak pernah berhubungan dengan pria manapun selain dengan dirinya. Bahkan saat Rama menyentuh Juwita untuk pertama kali nya satu tahun yang lalu, Juwita masih perawan. Tapi memang, baru saat ini Juwita diberi kepercayaan untuk mengandung, setelah mereka berbuat maksiat berulang-ulang kali tak terhitung lagi.

__ADS_1


''Beraninya kamu! Iri bilang saja iri, enggak usah pakai acara menuduh orang juga kali!'' kini Juwita yang bersuara, ''Mas, aku tidak terima Tasya mengatakan yang tidak-tidak tentang anak kita,'' rengek Juwita berpura-pura sedih. Ia menggandeng tangan Rama, Rama pun balas mengecup pucuk kepalanya.


''Sudah, jangan kamu dengarkan apa yang dikatakan oleh Tasya, namanya juga orang sakit hati, pasti omongannya suka ngelantur,'' Rama tersenyum mengejek Tasya. Mendengar dan melihat itu, Tasya benar-benar sudah tidak bisa membendung emosi nya, tangannya terangkat ingin menampar wajah Rama, tapi dengan cepat Rama menangkap tangan nya.


''Berhentilah menjadi istri pembangkang, Tasya. Jadilah istri yang penurut, istri yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaan sang suami,'' Rama menggenggam erat pergelangan tangan Tasya, hingga membuat Tasya merasa kesakitan.


''Lepaskan Rama!'' teriak Tasya dengan wajah memerah.


''Aku ini suami mu, jadi bersikap hormat lah! Hargailah setiap keputusan ku!'' Rama lalu melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Tasya, hingga terlihat pergelangan tangan Tasya sudah memerah karenanya.


Juwita merasa begitu senang, ia tersenyum mengembang melihat kesakitan Tasya.


''Ceraikan aku sekarang juga!'' teriak Tasya.


''Jangan mimpi Tasya. Sudah, ayo kita pergi Sayang,'' Rama menarik tangan Juwita, meminta Juwita berlalu dari ruangan Tasya.


''Kasihan deh lo, emang enak,'' ucap Juwita sebelum berlalu dari hadapan Tasya.


Mereka berjalan meninggalkan Tasya yang begitu hancur hatinya.


Tapi saat Rama membuka pintu, tiba-tiba saja dirinya terjengkang jatuh ke lantai dengan pipi yang terasa amat perih, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Juwita menjerit histeris.

__ADS_1


Satu pukulan mendarat keras di pipinya, dan sang pelakunya adalah Sean, sahabat dekat Tasya dan juga pria yang selama ini diam-diam telah memendam perasaan suka terlalu lama terhadap Tasya. Ternyata dari tadi Sean sudah berdiri di depan pintu, mendengar keributan yang terjadi di dalam. Hancur rasanya hati Sean, begitu ia tahu, wanita yang dicintainya telah disakiti oleh pria yang bergelar suami. Pria yang seharusnya menjaga dan melindungi, tapi nyatanya berulangkali menancapkan duri yang begitu tajam.


Bersambung.


__ADS_2