
Setelah beberapa saat Tasya berdiri terdiam kaku dengan perasaan tak menentu, akhir nya ia bersuara.
''Em Tante, aku permisi pulang dulu, ya,'' katanya sedikit terputus.
Tanpa menunggu jawaban dari Mama nya Sean, Tasya langsung saja menarik langkahnya meninggalkan ruang tamu. Entah kenapa, ia tidak bisa melihat Sean dekat dengan wanita lain, karena selama ini, Sean memang tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain dirinya.
Setibanya diluar, Tasya memacu motornya dengan kecepatan sedang. Ia berusaha mengatur tarikan nafasnya agar kembali normal.
''Duh, aku kenapa sih!'' gumam Tasya, lalu tanpa bisa ia cegah, tiba-tiba netra nya berkaca-kaca saat ia mengingat Sean yang tengah duduk dengan wanita lain dengan jarak cukup dekat.
***
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, kini tibalah saatnya sidang gugatan cerai antara Rama dan Tasya akan dilangsungkan. Sidang terakhir dan sidang putusan.
Tasya menghadiri sidang dengan di temani oleh Mama Papa nya, serta Jonas. Sean tak pernah menemuinya lagi sejak hari itu. Sean benar-benar sudah menjaga jarak dari Tasya.
__ADS_1
Sementara Rama datang dengan di temani Mama dan kakak nya serta Juwita. Perut Juwita sudah membesar, hingga membuat pakaian yang ia pakai terangkat.
"Baiklah, setelah melewati beberapa tahap sidang. Akhirnya kami memutuskan mulai hari ini, pernikahan antara Tuan Rama serta Nyonya Anastasya telah berakhir secara hukum dan agama. Kedua belah pihak tak dapat bersatu lagi melanjutkan pernikahan mereka karena pihak lagi-lagi telah terbukti berselingkuh dan pihak perempuan tidak bisa menerima itu. Untuk harta gono-gini selama pernikahan, semuanya jatuh kepada pihak perempuan. Dengan pernyataan ini, saya yang selalu ketua hakim menyatakan sidang selesai dan di tutup.'' Pak Hakim berkata lalu memukul palu.
Mendengar itu, Tasya beserta kedua orangtuanya berucap syukur. Akhirnya, sekarang Tasya sudah benar-benar terbebaskan dari pernikahan nya yang tak sehat.
Keluarga Rama tidak merasa senang, mereka merasa sedikit dongkol di hati karena Tasya mendapatkan harta gono-gini yang tidak lah sedikit.
Rama sudah mengikhlaskan semua harta yang ia kumpulkan selama pernikahan untuk Tasya.
Karena itu semua memang hak Tasya. Pikir nya.
Tetapi mulai saat ini ia harus belajar untuk melupakan Tasya, dan ia juga harus belajar untuk lebih mencintai Juwita yang berstatus sebagai istri nya sekarang.
"Senang, ya, habis morotin harta adik aku,'' kata Dira saat Tasya dan keluarga akan memasuki mobil.
__ADS_1
''Ya pastinya senanglah,'' balas Tasya tersenyum sinis. Tasya tak mau lagi mengalah dari Dira. Sudah cukup selama ini ia mengalah.
Mendengar itu, Dira merasa amat murka, wajahnya memerah menahan amarah.
''Dasar keluarga gila harta,'' kali ini Jeni yang bersuara.
''Iya, betul banget,'' timpal Juwita.
''Udah, mending lu diam aja Juwita. Enggak usah banyak bacot. Yang harus sering lu ucapkan sekarang adalah istighfar dan sholawat nabi, agar lu di beri kelancaran saat melahirkan,'' balas Tasya lagi.
''Hahaha, lu iri ye, karena sebentar lagi gue akan melahirkan,'' balas Juwita.
''Gue enggak iri sama sekali tuh, karena gue juga bisa hamil, gue juga bisa mengandung,'' ujar Tasya seraya menatap Juwita sinis. Setelah berkata seperti itu, ia masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu. Mobil yang membawanya lalu melaju meninggalkan parkiran kantor pengadilan, meninggalkan Rama dan keluarganya yang masih ngoceh membicarakan Tasya.
''Hahaha dasar wanita gila! Mimpi dia itu bisa mengandung. Sampai kiamat pun dia tidak akan pernah bisa mengandung,'' ucap Dira seraya tertawa lepas.
__ADS_1
Juwita yang mendengar pun pura-pura tertawa.
Bersambung.