
Malam hari, setelah melewati semua prosesi akad serta pesta pernikahan yang melelahkan namun begitu menyenangkan, akhir nya sepasang pengantin baru tersebut beristirahat di kamar pengantin yang dihiasi sedemikian rupa.
Di atas kasur serta di lantai bertaburan kelopak mawar merah, wanginya yang khas tercium semerbak menusuk indra. Begitu menenangkan.
Sean dan Tasya bersikap malu-malu, mereka berdua sudah membersihkan diri, kini mereka sudah memakai piyama tidur.
Tasya duduk di pinggir kasur, begitu juga Sean. Mereka baru selesai melaksanakan sholat Isya serta sholat sunah malam pertama.
Keduanya sama-sama diam, bingung harus berbicara apa dan memulai dari mana.
Meskipun ini merupakan malam pertama kali kedua nya bagi Tasya, tetapi tetap saja dia merasa gugup. Bahkan, dia merasa saat bersama Sean, dia merasa lebih gugup dibandingkan saat malam pertama bersama Rama dulu.
''Dek,'' Sean bersuara memecah keheningan yang sempat tercipta.
''Dek?'' Tasya tersenyum geli. Panggilan yang baru saja terlontar dari mulut Sean terdengar aneh di telinga nya.
''Eh, habis aku bingung harus manggil kamu apa. Tidak mungkin aku manggil kamu dengan sebutan Tasya, malah terkesan kasar dan tidak romantis,'' Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia salah tingkah dengan wajah sedikit memerah.
''Em, panggil Sayang saja,'' goda Tasya.
''Baiklah Sayang,'' balas Sean gugup dengan jantung hendak copot rasanya.
Sean mulai bergerak pelan semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh sang istri. Dia mengelus rambut Tasya dengan lembut, Tasya hanya bisa pasrah saat Sean menyentuh nya.
__ADS_1
Tanpa mereka tahu, ternyata di depan pintu kamar, berdiri Mama Sean beserta Mama Tasya. Mereka berharap malam pertama Sean dan Tasya berhasil, agar Tasya bisa membuktikan kepada orang-orang yang menghina dirinya, kalau sebenarnya dia tidak mandul. Dia bisa hamil dan menjadi seorang Ibu.
Jarak rumah yang berdekatan, memudahkan Mama Sean berkunjung ke rumah orangtua Tasya kapan saja dia mau.
''Sepertinya sudah mau mulai, Jeng. Semoga saja berhasil, ya,'' bisik Mama nya Tasya.
''Iya, Jeng. Amin,''
Senyum kedua wanita yang masih cantik di usia mereka tak lagi muda tersebut mengembang. Lalu beranjak dari depan pintu kamar dengan penuh harapan baik.
Di dalam kamar, Sean berjalan lalu menekan seklar lampu, seketika kamar tersebut menjadi temaram. Hanya lampu tidur yang menyala.
Setelah itu Sean mendekati Tasya lagi, lalu dia meminta izin kepada sang istri, ''Sayang, bolehkah Mas menyentuh mu malam ini?'' kata Sean lembut yang berhasil membuat bulu kuduk Tasya meremang. Perlakukan lembut yang selalu Sean tunjukkan padanya membuat dirinya merasa grogi dengan detak jantung berpacu cepat.
Sean lalu menyentuh dagu Tasya, mengangkat paras sempurna tersebut, setelah itu, jarak wajah mereka semakin dekat, dan hidung mancung keduanya sudah saling menempel. Lalu . . .
Cup!
Sean mengecup bibir ranum Tasya dengan penuh rasa. Rasa cinta dan yang lebih dominan rasa grogi. Dia tidak menyangka, setelah sekian lama, akhir nya dia bisa berada satu kamar dengan wanita yang di cintai dan saat ini dia bisa merasakan betapa lembut dan nikmat nya bibir ranum sang wanita pujaan hati.
Mereka berpagutan cukup lama dengan nafas memburu. Mereka yang awalnya sama-sama merasa malu, kini malah semakin berani. Bahkan tubuh keduanya sudah berbaring di atas kasur dengan kedua pakaian sudah terlepas.
Malam ini akan menjadi malam panjang bagi Tasya dan Sean. Mereka akan menghabiskan malam dengan keringat bercucuran serta saling menyalurkan rasa nyaman dan rasa nikmat sebagai sepasang suami istri.
__ADS_1
* * *
Di tempat berbeda, di saat Juwita dan Cio sudah terlelap, Rama malah duduk di pinggir kasur dengan perasaan gelisah. Entah apa yang dia pikirkan sehingga membuat malam ini dirinya merasa tak tenang.
Rama menatap wajah Cio yang tengah terlelap di samping Juwita, dia semakin merasa kalau Cio tidak ada mirip-mirip nya sama sekali dengan dirinya dan Juwita. Ikatan batin antara dia dan Cio pun tak dia rasa, rasanya hanya hambar saja. Sejak Cio lahir ke dunia, Rama sudah belajar untuk menyayangi Cio dengan sepenuh hatinya, tapi tetap saja dia merasa ada rasa yang berbeda saat dirinya memandang baby Cio. Di tambah lagi, rata-rata, teman, kerabat dekat, serta keluarga nya banyak yang mengatakan kalau baby Cio memang tidak ada mirip-mirip sama sekali dengan dirinya, bahkan ada juga salah satu temannya yang meminta agar Rama melakukan tes DNA terhadap Cio. Tapi Rama tidak mau melakukan hal itu, karena takut menyinggung perasaan Juwita.
''Tapi, sepertinya aku memang harus membuktikan sendiri semuanya agar jelas, agar aku merasa tenang dan tidak dilanda rasa dilema lagi,'' ucap Rama di dalam hati. Rama lalu mengambil gunting dari laci, setelah itu dia menggunting beberapa helai rambut Cio. Dia akan melakukan tes dengan menggunakan rambut, dia harap semua praduga nya selama ini tidak benar. Dia harap Cio memang anak kandungnya, supaya dia tidak merasa malu dan bersalah kepada Tasya, karena selama ini dirinya sudah begitu keterlaluan dalam menghina Tasya.
Setelah melakukan itu, Rama memasukkan rambut Cio ke dalam plastik kecil.
Lalu dia berjalan ke luar dari dalam kamar, dia memilih duduk di ruang keluarga sembari menikmati secangkir kopi.
Dia kira setelah menikah dengan Juwita dan memiliki anak, akan membuat hidup nya jauh lebih baik, tapi yang ada, dia merasa hidupnya jauh lebih bahagia saat dia berumah tangga dengan Tasya.
''Hm, mungkin saat ini Tasya dan Sean sedang memadu kasih di atas ranjang,'' lirih Rama tersenyum kecut dengan rasa nyeri menjalari sudut hati.
Rama dan keluarganya memilih tidak datang ke pesta pernikahan Tasya, padahal mereka di undang.
Rama tidak datang karena dia merasa tidak siap melihat kebahagiaan Tasya bersama pria lain.
Sedangkan keluarga Rama memilih tidak datang karena mereka tidak senang melihat Tasya yang tengah berbahagia.
Bersambung.
__ADS_1