
Pagi Minggu Tasya memilih tetap di rumah saja. Duduk bersantai di balkon kamarnya sembari membaca novel kesukaan dengan di temani segelas teh serta cemilan berupa kue kering.
Setelah selesai membaca dua bab novel, ia memilih berhenti sejenak. Meneguk teh, lalu menikmati kue kering cokelat. Kini, Tasya berdiri di balkon kamarnya, pandangan nya menyapu ke segala arah, menatap halaman rumah yang luas.
Dan pada saat itu pula, samar-samar ia melihat Sean berdiri di dekat gerbang. Karena kamar Tasya berada di lantai tiga, wajar saja pandangannya bisa menjangkau tempat yang lebih jauh.
Tasya menghela nafas kasar, lalu bergumam lirih.
''Sean, maafkan aku, karena aku tak merespon pesan dari mu. Kamu itu pria yang sangat sangat baik, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Wanita yang masih virgin dan juga cantik. Aku ini apalah, janda menyedihkan,'' Tasya tersenyum getir.
Lama ia memandang Sean yang masih berdiri di dekat gerbang, lalu setelah itu Sean berlari kecil meninggalkan gerbang.
Sebenarnya ada rasa kasihan yang Tasya rasakan saat ia melihat Sean begitu berharap pada nya. Tapi, lagi-lagi Tasya merasa minder kalau harus menjalin cinta dengan pria setampan dan sebaik Sean serta masih perjaka pula. Sebagai orang yang telah lama mengenali Sean, Tasya ingin yang terbaik untuk Sean, sang sahabat.
***
Siang harinya, pukul satu.
Pak Andi baru pulang dari luar kota, beliau membawa oleh-oleh yang cukup banyak. Selalu begitu, beliau selalu menyempatkan diri membeli oleh-oleh dari daerah yang ia kunjungi. Seperti saat ini, beliau membawa keripik sanjai, keripik khas oleh-oleh dari kota Padang. Keripik yang berbahan dasar singkong dibaluti cabai dan lain-lain. Selain itu ada juga dodol, serta keripik pisang.
''Wah banyak benget, Pa,'' ucap Tasya, ia membuka keripik sanjai lalu langsung menyantap nya.
''Papa sengaja beli banyak, karena Papa tahu kamu sangat menyukai keripik sanjai, Sayang,'' kata Pak Andi.
__ADS_1
''Ah, Papa so sweet banget sih. Ingat aja apa yang aku suka,'' puji Tasya. Bella yang duduk di samping sang putri tersenyum simpul. Bella merasa begitu bahagia sekarang, karena keluarga kecilnya sudah kembali utuh, berkumpul bersama seperti dulu.
''Oh ya, itu, sebagian keripiknya tolong kamu antar ke rumah Sean sekarang, ya. Sean kan juga suka banget sama keripik sanjai,'' kata Pak Andi lagi.
''Suruh Jonas aja yang anter, Pa,''
''Kamu saja Tasya. Sekalian kamu main ke rumah Sean dan ketemu sama Mama Papa nya. Mereka sudah kangen banget tauk sama kamu, mereka pasti senang begitu tahu kamu sudah tinggal di rumah ini lagi,'' ucap Bella.
''Oke, baiklah kalau begitu. Aku ke rumah Sean naik motor aja,'' sahut Tasya.
''Iya, hati-hati di jalan, Nak,''
Tasya berjalan menuju garasi dengan satu tangan menenteng plastik yang cukup besar berisi keripik.
Setelah mengendarai motor tidak terlalu jauh, akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Ia berhenti tepat di depan teras rumah.
Tasya heran, melihat sebuah mobil bewarna hitam mengkilap terparkir di depan teras, setahu Tasya itu bukanlah mobil Sean, dan bukan juga mobil Mama Papa Sean.
''Apa lagi ada tamu di dalam, ya,'' gumam Tasya.
Lalu ia berjalan menuju pintu utama. Tasya berseru memanggil sang pemilik rumah.
Tidak lama setelah itu, Mama nya Sean tampak muncul dari balik pintu. Beliau menyambut Tasya dengan ramah dan mereka juga berpelukan beberapa saat.
__ADS_1
''Ya ampun, kamu semakin cantik saja Sayang,'' kata Sarah, Mama nya Sean. Sarah memang sudah menganggap Tasya seperti anaknya sendiri. Kedua tangan nya menangkup pipi Tasya.
''Ah, tante bisa saja. Ini aku mau kasih ini sama Tante. Oleh-oleh yang di bawa Papa dari kota Padang,'' Tasya menunjuk plastik yang ia pegang.
''Duh, makasih banyak lo, Papa dan Mama kamu itu dari dulu memang baik banget sama keluarga Tante. Masuk dulu, yuk,'' Sarah mengambil alih plastik tersebut.
''Enggak usah Tante, aku cuma mau nganterin ini aja kok,'' tolak Tasya. Tasya tidak ingin bertemu dengan Sean, karena ia ingin menjauhi Sean.
''Kok gitu sih. Ayo masuk sebentar, kebetulan Sean lagi ada di dalam. Ia sedang mengobrol sama calon istrinya,'' kata Sarah, lalu merangkul tubuh Tasya.
''Uhuk uhuk, apa? Calon istri?'' perkataan Sarah barusan berhasil membuat Tasya kaget luar biasa.
''Iya, setelah selama ini Sean selalu menolak saat Tante jodohkan, akhir nya kali ini ia nurut juga. Katanya wanita yang Tante pilih sekarang, cantik,'' ucap Sarah lagi. Mendengar itu, Tasya hanya bengong saja dengan perasaan tak menentu.
''Udah yuk masuk, kok kamu malah bengong,''
Akhirnya Tasya berjalan berdampingan dengan Sarah memasuki rumah. Saat sudah berada di ruang tamu, benar saja, Tasya melihat Sean tengah duduk di sofa yang sama dengan seorang wanita cantik dan anggun. Mereka terlihat tertawa kecil saat sedang mengobrol.
Entah kenapa, melihat itu, mendadak Tasya merasa ada yang sakit di salah satu sudut hatinya. Ia merasa cemburu. Tapi ia menyangkal rasa yang tak seharusnya itu. Ia mencoba bersikap biasa saja dan ia juga harus terlihat bahagia karena Sean sudah menemukan tambatan hati.
Bersambung.
Masih tentang Tasya dan Sean ya. Part selanjutnya kita bahas tentang Rama dan Juwita lagi.
__ADS_1