
Jeni, Mama nya Rama mengambil alih bayi merah tersebut dari dekapan Rama.
Matanya berkaca-kaca ketika bayi tersebut sudah ada di dalam dekapannya. Ia merasa begitu terharu.
Dira yang ada di sampingnya juga turut senang.
Mereka menatap bayi itu lekat.
''Kok anaknya Rama warna kulit nya gelap, ya? Padahal Rama waktu bayi hingga sekarang memiliki warna kulit putih cerah,'' Jeni berkata di dalam hati.
''Ah, mungkin karena cucu saya ini masih bayi, makanya kulit nya gelap, serta hidungnya pesek. Atau jangan-jangan saat Juwita kecil, dia memiliki kulit yang gelap. Ah, iya. Mungkin saja,'' lagi, Jeni berkata di dalam hati.
Dira yang berdiri di samping sang mama juga menatap heran wajah anak nya Juwita yang tidak ada mirip mirip nya sama anggota keluarga mereka. Tetapi ia hanya diam, dia berpikir mungkin saja bayi Rama dan Juwita mirip dengan Juwita waktu masih bayi.
Setelah itu, bayi merah itu berpindah tangan lagi kepada Mama nya Juwita serta Jack.
''Lho, kok cucu saya enggak ganteng mirip papa nya, ya, dan tidak mirip sama Juwita juga,'' kata Santi di dalam hati, lalu ia menoleh sebentar kesamping, menatap wajah Jack.
''Tuh 'kan, tidak mirip Jack juga, Jack mah hidupnya mancung lalu kenapa cucu saya . . . Em, sedikit jelek,'' lagi, Santi berucap di dalam yang hati.
Setelah itu bayi tersebut di letakkan di dada Juwita, sesuai petunjuk dari Dokter. Bayi tersebut akan diajarkan bagaimana cara mencari ****** susu sang ibu, ia akan diberikan asi pertama yang bernama kolostrum, kolostrum sangat bermanfaat untuk menjaga kekebalan tubuh bayi.
''Syukurlah, akhir nya aku bisa melahirkan dengan selamat. Selamat datang di dunia anakku, semoga saja orang-orang tidak mencurigai mu. Mencurigai siapa Ayah kandung kamu sebenarnya.'' Ucap Juwita di dalam hati dengan tangan mengelus punggung sang bayi, ia tengah menikmati hisapan pertama sang bayi pada pucuk payudara nya yang berair.
* * *
Sebulan berlalu, bayi Juwita di beri nama Cio.
__ADS_1
Cio tumbuh dengan sehat, pipinya bulat dan menggemaskan.
Sekitar pukul sembilan pagi, Juwita memotret wajah sang bayi dari jarak cukup dekat, lalu ia mengirimkan foto hasil jepretan nya kepada Rama. Rama tengah berada di kantor.
''[ Jagoan kita ganteng banget ya, Mas, ]'' tulis Juwita di bawah foto tersebut di sertai emot love dan emot bayi.
Rama yang tengah duduk di kursi kebesarannya, begitu tahu Juwita mengirim pesan di aplikasi WA, langsung saja membuka pesan tersebut.
Begitu terbuka, ia menatap lekat foto Cio yang yang mangap.
Menurut Rama, semakin besar, wajah Cio semakin tidak ada mirip-mirip sama sekali dengan dirinya.
Ekspetasi dia selama ini ternyata salah besar, ia kira ia akan memiliki anak yang tampan rupawan, tetapi tidak. Kenyataan nya, Cio memiliki wajah biasa saja. Tak ada yang spesial.
''Ah, kok gua malah galau begini?'' gumam Rama lirih.
Rama tak membalas pesan dari Juwita. Entahlah, dia merasa malas mengatakan kalau Cio ganteng, karena itu tak sesuai kenyataan nya. Sama saja dengan berbohong.
Rama lanjut lagi menandatangani beberapa berkas dan memeriksa laporan tentang perkembangan perusahaan.
Setelah berkutat dengan pekerjaan hampir setengah hari lamanya, akhir nya jam makan siang datang juga.
Rama berjalan ke kantin perusahaan dengan di temani sang asisten pribadi nya.
Setibanya di kantin, mereka langsung saja memesan makanan serta minuman.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Sang asisten yang bernama Deri, mengeluarkan sesuatu dari balik jas nya.
__ADS_1
''Bos, ini, gua tadi lupa kasih ke elo,'' katanya seraya memberikan selembar undangan kepada Rama. Hubungan Rama dan sang asisten memang cukup dekat, mereka sudah berteman dari lama, sehingga kalau lagi istirahat ataupun di luar, mereka biasa memanggil dengan sebutan elo gue.
''Undangan pernikahan siapa ini, Der?'' tanya Rama.
''Buka saja,'' kata Deri lagi.
Rama lalu membuka undangan yang terlihat elegan tersebut, begitu terbuka, Rama di buat kaget dengan foto prewed yang terpampang pada undangan.
Beberapa detik Rama menatap lekat foto Tasya yang terlihat begitu cantik dengan gaun serta make up natural. Di sebelahnya, berdiri Sean, yang tampak begitu tampan. Sangat serasi dengan Tasya.
''Udah, ngeliat nya biasa saja kali. Iya, gua tahu, mereka berdua memang sama-sama good looking, serasi banget,'' goda Deri.
Mendengar itu, wajah Rama tampak memerah, entah kenapa, ia tidak suka mendengar perkataan Deri. Masih ada rasa cemburu yang di rasakan oleh Rama di sudut hati terdalam nya.
''Palingan pernikahan mereka tidak akan bertahan lama. Beberapa tahun setelah pernikahan mereka berjalan Sean pasti akan mencari wanita lain, wanita yang bisa memberikan nya seorang anak. Tasya sih emang cantik, tetapi mandul,'' ujar Rama tersenyum getir.
''Selalu saja itu bahan olokan yang lho dan keluarga lho katakan tentang Tasya. Tiati aja kalian, bagaimana kalau saat bersama Sean, Tasya bisa mengandung, ck, jangan nyesel lho. Karena biar bagaimanapun, Tasya jauh lebih segala-galanya dari Juwita,'' timpal Deri lagi.
Mendengar itu, tiba-tiba emosi Rama terpancing.
Rama menarik kerah baju Deri, lalu berkata, ''Gua tidak suka ya, kalau lho terus belain Tasya. Dan omongan lho barusan, juga tidak akan pernah terjadi. Mandul tetap saja mandul,'' kata Rama, lalu melepaskan pegangan tangan nya dengan kasar dari kerah baju Deri. Rama sudah terhasut dengan omongan Mama serta anggota keluarga nya yang lain, yang selalu mengatai Tasya mandul. Sebenarnya, jauh di dasar lubuk hatinya, ia masih sangat mencintai Tasya. Andai, selama ini ia tidak terhasut dengan omongan keluarga nya, mungkin rumah tangganya dan Tasya masih bertahan.
Deri menggeleng mendengar perkataan Rama, sebenarnya selama ini diam- diam Deri berpihak kepada Tasya.
Bersambung.
Kira-kira bagaimana wajah asli Ayah kandung Cio ya?
__ADS_1